
Edewina menahan tawanya saat melihat Lusiana yang keluar dari kamarnya menggunakan gaun yang panjang melewati betisnya.
"Tumben nggak pakai rok mini?" tanya Edewina
"Nggak bisa. Pahaku merah karena tersiram teh panas. Untung saja tak sampai melepuh. Mungkin 2 atau 3 hari lagi baru sembuh."
"Tapi mba terlihat sangat cantik dengan gaun ini. Ya kan, Pi?" tanya Edewina sambil menggoyangkan tangan papinya. Edmond nampak asyik menelepon Mahira.
"Kenapa, nak?" tanya Edmond sambil menyimpan hp nya di kantong celananya.
"Mba Lusi terlihat cantik dengan gaun panjang itu kan?" tanya Edewina.
Edmond hanya mengangguk membuat Lusi merasa senang.
Mereka bertiga akan makan malam di restoran yang ada lobby hotel. Edewina menggenggam tangan papinya dengan erat, sementara Lusi berjalan di belakang mereka.
Saat mereka sementara makan, Edewina sudah tahu kalau Lusiana sangat alergi dengan udang. Nasi goreng yang dipesannya adalah nasi goreng seafood yang ada udangnya.
"Mba Lusi, coba deh nasi goreng ini. Enak." ujar Edewina.
"Tapi.....!" Lusiana menatap makanannya yang masih banyak.
"Ah......!" Edewina meminta Lusi membuka mulutnya.
Merasa tak enak dengan Edmond pun menerima suap Edewina.
"Enak kan?"
Lusi mengangguk. Ia ingin menunjukan pada Edmond bahwa ia menyukai anak-anak.
"Satu kali lagi, mba." Lusiana kembali memberikan suapan pada Lusi, membuat perempuan itu akhirnya menerimanya.
Begitu seterusnya sampai setengah dari nasi goreng Edewina sudah masuk ke dalam perut Lusi.
"Edewina, kasihan mba Lusi nya nanti kekenyangan."
"Biar saja, pak. Aku suka kok." Lusiana beruswha tersenyum manis.
__ADS_1
Selesai makan malam, Edmond akan berjumpa dengan Lerry.
"Papi, bolehkah mba Lusi bermain dengan Edewina saja?" mohon Edewina.
Edmond sebenarnya membutuhkan Lusi untuk mencatat semua hasil percakapan mereka. Namun ia juga tak mau Edewina sendirian di kamar. Akhirnya Edmond setuju. Edewina bersorak gembira namun tidak dengan Lusi. Ia tahu kalau Edmond dan Lerry akan berjumpa di cafe. Sebenarnya Lusi ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjebak Edmond dengan parfum yang menurut Wina seperti yang dipakai maminya. Lusi juga sudah menyiapkan obat perangsang untuk membuat Edmond ke kamar nya. Namun si kecil Edewina nampaknya tak mau kalau Lusi berdua saja dengan papinya.
Sesampai di kamar, Lusi berusaha membuat Edewina tertidur. Ia membuat susu, dan memberikan sedikit obat tidur di sana. Edewina yang sudah dipesankan oleh maminya untuk tak sembarangan menerima minuman atau makanan dari Lusi pun berpura-pura kalau susu itu masih panas. Dan ketika Lusi masuk ke kamar mandi, Edewina langsung membuang susu itu dari jendela kamar.
"Wina sayang, kau sudah habiskan susunya?" tanya Lusi.
"Sudah. Terima kasih yang mba Lusi."
Edewina pun duduk sambil bermain game di ponselnya. Lusi menunggu dengan sabar karena ia kini akan meneteskan obat perangsang itu di botol air minum yang biasa Edmond minum. Kalau ia tak bisa menjebak Edmond di cafe, bukankah sebaiknya ia lakukan saja di kamar ini? Sebentar lagi Edewina pasti tertidur.
"Wina nggak mengantuk?" tanya Lusi.
"Belum."
Lusi terlihat tak sabar. Ia melirik arlojinya yang sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Sebentar lagi Edmond pasti datang.
Tak lama kemudian Lusi melihat kalau Edewina sudah tertidur. Ia pun menggoyangkan tubuh Edewina.
Edewina tak bergeming. Perempuan itu pun segera mengambil tas nya dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi obat perangsang. Ia meneteskan 3 kali ke dalam botol minuman Edmond, setelah itu ia segera ke kamarnya untuk ganti gaun tidur yang seksi. Namun saat Lusi pergi, Edewina bangun dan membuang air yang ada di dalam botol minuman papinya, ia kemudian menggantikannya dengan air yang diambilnya dari botol air mineral yang ada di dalam kulkas. Setelah itu ia pun kembali tidur.
Tak lama kemudian Lusi kembali sambil memakai gaun tidur yang seksi. Namun ia menutupnya dengan kimono dulu karena ia berpikir bahwa nanti obat perangsang itu sudah bekerja barulah ia akan membuka kimono itu dan menunjukan lingre Seksi yang sudah dipersiapkannya.
Jam 10, Edmond kembali ke kamar. Seperti biasa, ia meminum air yang ada di botol minumannya.
"Terima kasih sudah menjaga Wina. Kau sudah boleh kembali ke kamarmu." ujar Edmond.
"Eh, pak, saya menunggu bapak untuk konfirmasi masalah jadwal di Jakarta." Lusi membicarakan pekerjaan sambil menunggu obat itu bereaksi.
Keduanya pun membahas pekerjaan. Lusiana mulai tak sabar saat ia melihat kalau Edmond biasa saja. Bahkan bosnya itu terlihat mulai mengantuk.
"Lusi, nanti kita sambung besok ya? Aku sudah mengantuk."
"Baik, pak." Lusi sebenarnya belum ingin pergi. Namun ia merasa heran saat merasakan kalau kulitnya mulai terasa panas.
__ADS_1
Edmond pun segera menutup pintu dan mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos rumahan. Ia naik ke atas tempat tidur lalu memeluk putri kecilnya dengan hati yang bahagia. Setelah itu, ia menelepon Mahira karena sebenarnya ia sudah merindukan istrinya dan kedua anaknya di sana.
Sementara itu di kamarnya, Lusiana sudah membuka pakainnya. Ia terkejut saat melihat kalau kulitnya mulai memerah dan terasa gatal. Bahkan rasa gatal itu sudah menjalar ke wajahnya.
Apakah nasi goreng yang kumakan tadi adalah nasi goreng seafood? Oh Tuhan, bisa batal aku ke Jakarta.
Edewina yang tidur sambil memeluk papinya pun tertawa. Miss you, mami.
***********
Edmond menatap Lusiana yang berdiri di hadapannya menggunakan mantel dan celana panjang. Wajah perempuan itu terlihat merah dan ada bentol-bentolnya.
"Mba, maaf ya, aku nggak tahu kalau mba alergi udang." ujar Edewina.
"Berapa lama merah-merah ini akan hilang?" tanya Edmond.
"3 atau 4 hari, pak."
"Kalau begitu, sebaiknya kamu pulang saja ke Manado dan cuti selama 1 minggu. Aku akan meminta pak Alan menemani aku di Jakarta."
Edewina menahan senyumnya. Ia dapat melihat kalau Lusiana hampir saja menangis. Gadis itu pun segera ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.
Di lobby hotel, Edmond dan Lerry sedang membicarakan bisnis sambil menikmati kopi. Sedangkan Edewina baru saja selesai Videocall dengan maminya.
"Lusi pulang, mami. Sebenarnya kasihan juga melihat wajahnya. Tapi dia punya niat jahat sama papi. Makanya Wina nggak suka. Wina akan jaga papi dari gadis-gadis jelek yang akan menganggu papi."
Mahira tersenyum senang. "Mommy love you, honey."
"Love you too mommy." Wina menyimpan hp nya ke tas punggung yang dibawanya. Tanpa ia sadari, sepasang mata biru itu menatapnya sambil tersenyum.
"Tuan, apakah kita akan pergi sekarang?" tanya asistennya.
"Tunggulah sampai gadis kecil itu pergi. Karena setelah ini, aku mungkin akan sangat lama baru bisa melihatnya lagi. Tempatkan orang kita di Manado. Sekecil apapun masalah yang di hadapannya, aku harus tahu dan aku harus mendampinginya. Tak akan kubiarkan siapapun menyakitinya. Orang yang membuatnya terluka akan menerima ganjaran dariku. Ingat itu. Edewina Carensia Moreno harus menjadi milikku."
*********
Selamat sore semua .....
__ADS_1
jangan lupa bahagia
dukung emak terus ya guys