
Angel mendengar teriakan Teddy yang terdengar sampai ke luar ruangan. Ia segera membereskan barang-barang nya dan keluar dari perusahaan itu. Ia langsung menelepon Sofia.
"Kirim foto itu Angel. Kamu tahu nomor hp nya Mahira kan? Perempuan itu sungguh brengsek. Kenapa juga dia masuk campur urusan di perusahaan? Aku harus menjauh dulu dari Lerry."
Angel membuka galerinya. Ia kemudian mengirim foto itu di salah satu nomor rahasianya lalu mengirim kembali ke nomor Mahira.
***********
Mahira berusaha tak menangis di hadapan anaknya. Ia hanya ingin menjauh dari Edmond karena sangat jelas terlihat kalau Edmond membela Monalisa. Edmond tak ingin Lerry melaporkan Monalisa ke pihak berwajib. Ada ketakutan yang nampak jelas di mata Edmond.
Mobil sudah meninggalkan kompleks perumahan. Mahira mengeluarkan ponselnya untuk dinonaktifkan. Ia melihat ada pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Saat Mahira membuka isi pesan itu, ia langsung sock. Dadanya semakin sesak saat melihat foto itu adalah foto Edmond yang berciuman dengan Monalisa. Sangat jelas terlihat bagaimana bibir mereka yang saling bersentuhan. Mahira tahu kalau itu di ruang rapat.
"Mami, ada apa?" tanya Wina.
"Nggak sayang. Wina mau tidur?" Mahira membelai kepala anaknya.
"Mami, papi mana? Kenapa kita nggak pulang dengan papi?"'
"Papi masih ada pekerjaan, sayang."
Juminten dan Lita saling berpandangan. Sekuat apapun Mahira menyembunyikannya, kedua art itu tahu kalau nyonya mereka sedang ada masalah. Namun mereka tak berani bertanya karena tak ingin Wina menjadi curiga.
Mahira menghubungi nomor Chris. Ia meminta agar sahabatnya itu menyiapkan tiket untuk ke Manado. Dan setengah jam kemudian, Chris mengabarkan kalau ia sudah mendapatkan penerbangan untuk Mahira dan putrinya. Mahira pun langsung mentransfer sejumlah uang untuk biaya pembelian tiket.
Begitu sampai di rumah kontrakan, Mahira bergegas ke kamar. Ia mengeluarkan satu koper saja agar tak merepotkan dirinya di bandara. Dengan terburu-buru ia memasukan pakaian mereka ke dalam koper. Mahira kemudian memanggil Juminten untuk datang ke kamarnya sementara Lita menjaga Wina.
"Bi, jangan bohongi aku lagi. Tolong katakan padaku, sedekat apa hubungan Edmond dengan Monalisa. Tolong jangan bohong, bi. Aku tak mau hidup dalam bayang-bayang masa lalu Edmond."
Bibi Juminten nampak ketakutan."Nyonya, aku takut tuan Ed akan marah."
"Bi, apakah bibi tega melihat aku dibohongi terus?"
"Memangnya mereka masih berhubungan?"
Mahira mengambil ponselnya dan menunjukan foto yang dikirimkan kepadanya. Juminten menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Duh Gusti. Tuan kok tega ya....."
"Katakan padaku, bi!" Mohon Mahira sambil memegang kedua tangan Juminten. "Aku tak akan pernah mengatakan kalau bibi yang memberitahukannya padaku. Aku mohon, bi."
"Tapi nyonya jangan minta cerai ya? Aku melihat kalau tuan sudah banyak berubah semenjak menikah dengan nyonya." Juminten sebenarnya tak akan pernah mau mengatakannya karena ia sudah berjanji pada Edmond. Namun ia juga tak tega dengan Mahira yang selama ini sudah begitu baik padanya. Mahira adalah nyonya rumah yang tak pernah kasar bahkan selalu memperhatikan kebutuhkan para pekerja. Lita saja tak mau pindah bekerja di tempat lain karena merasa nyaman dengan kebaikan Mahira.
"Katakan saja, bi."
"Aku bekerja dengan tuan Ed, setelah mess itu selesai dibangun. Tuan dan nona Ica langsung tinggal di sana. Kami mengenal mereka sebagai pasangan suami istri. Namun kehidupan mereka tak seperti kehidupan nyonya Ira dan dan tuan Ed. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Dan mereka biasanya saling pukul. Aku melihat secara langsung bagaimana tuan Ed menampar nona Ica. Dan nona Ica pun tak jarang membalas tamparan tuan Ed. Namun setelah itu mereka akan berbaikan kembali dan menjadi mesra."
"Menurut bibi, mereka beneran menikah atau?"
"Bibi percaya saja, nyonya. Kan ada foto pernikahannya. Kata nona Ica mereka menikah di Amerika. Waktu itu ada beberapa foto yang di gantung di dinding. Sampai akhirnya sebelum tuan Ed pulang ke Manado, suatu malam disaat bibi baru saja akan pulang ke rumah susun, terjadi pertengkaran diantara mereka yang sangat hebat. Nona Ica melemparkan banyak barang di kamar. Bibi nggak tahu bagaimana selanjutnya karena bibi langsung pulang. Saat bibi kembali esok paginya, mess sudah bersih. Entah siapa yang membersihkannya. Mungkin tuan Ed. 2 hari sesudah pertengkaran itu, tuan pergi ke Manado dan kembali lagi ke sini. Selama tuan ke Manado, nona Ica datang dan membereskan barang-barangnya. Bibi sempat bertanya, dia bilang kalau Edmond memaksanya untuk pergi karena Edmond harus menikahi orang lain. Nona Ica mengatakan kalau gadis itu telah menjebak Edmond di kamar hotel dan memaksanya untuk menikah dengan Edmond. Nona Ica juga bilang kalau gadis itu adalah perempuan matre yang tega memaksakan pernikahan ini setelah tahu kalau tuan Edmond orang kaya. Itulah sebabnya ketika Nyonya datang untuk pertama kali, banyak yang tidak menyukai nyonya karena dianggap pelakor. Gosip itu pun perlahan reda setelah mereka melihat kebaikan hati Nyonya. Apalagi usul nyonya untuk membangun sekolah Paud dan TK, bahkan tambahan makanan bergizi buat anak-anak Balita membuat pandangan miring mereka kepada nyonya perlahan hilang."
"Bi, setelah Edmond melamarmu, dia datang kembali ke sini selama hampir 1 bulan. Apakah Ica juga masih datang ke sini?"
Juminten mengangguk. "Beberapa kali."
"Menginap?"'
Juminten mengangguk.
__ADS_1
"Bahkan, setelah kabar pernikahan tuan Edmond sudah terdengar, nona Ica pun masih sering menginap di sini." lanjut Juminten membuat hati Mahira bagaikan disayat dengan pisau yang sangat tajam. Sakit dan rasanya hancur.
Mahira mengingat bagaimana sulitnya dulu mereka berkomunikasi. Ternyata karena Monalisa masih ada di sini.
"Tapi tuan mengatakan padaku, kalau dia menyayangi nyonya. Makanya ia meminta aku untuk tak menceritakan apapun mengenai nona Ica. Mungkin itulah sebabnya saat renovasi mess, tuan memindahkan kamar utama. Kalau dulu, kamar yang biasa ditempati tuan dan nona Ica sekarang sudah menjadi kamar nian Wina."
Mahira memeluk Juminten. "Terima kasih ya, bi. Bibi sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri. Bibi merawat aku dengan penuh kasih sayang saat aku hamil dan setelah melahirkan." Mahira yang jarang menangis di depan banyak orang akhirnya menangis juga saat memeluk Juminten.
'Nyonya, jangan seperti ini. Kenapa aku merasa kalau nyonya sepertinya sedang berpamitan padaku?"
Mahira melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya lalu segera ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Aku hanya ingin menyendiri dengan pulang ke Manado, bi." Kata Mahira sambil tersenyum walaupun sebenarnya ia sudah bertekad untuk pergi dari Edmond selamanya.
Saat taxi pesanannya datang, Mahira pun pergi. Juminten terlihat menangis. Ia merasa luka hati sang nyonya membuatnya tak akan kembali. Namun Juminten juga tak mau menyembunyikan nya lagi. Mahira butuh tahu yang sebenarnya.
Dalam perjalanan ke bandara, ponsel Mahira kembali berbunyi. Dan ia mendapatkan kiriman foto lagi. Foto Monalisa sedang duduk di ruangan tamu rumah kontrakan tempat Mahira tinggal di Samarinda. Ada keterangan tanggal di sana dan Mahira terkejut karena itu adalah seminggu yang lalu. Mahira ingat, Edmond pernah pamit hari itu ke kota karena ada urusan katanya. Mahira tak lupa karena itu adalah ulang tahun Lita yang sengaja Mahira rayakan.
Foto itu diambil sendiri oleh Monalisa. ia nampak hanya menggunakan kain penutup aset kembarnya. Apakah Edmond berduaan dengan Monalisa di rumah mereka? Ya Tuhan, sungguh aku merasa bodoh dikhianati oleh Edmond.
"Mami, ada apa?" pertanyaan Edewina membuyarkan lamunan Mahira. tangan kanannya mengusap kepala putrinya dan tangan kirinya menekan tombol dipinggiran hp nya untuk membuat ponselnya off.
***********
"Aku ingin cerai."
"Mahira, jangan bicara tentang perceraian!"
"Aku punya bukti yang kuat untuk meminta cerai dari kamu, Edmond Moreno!"
"Bukti apa?"
Edmond terlihat kaget sekaligus wajahnya langsung menjadi pucat. "Mana buktinya?"'
Mahira melemparkan ponselnya ke arah Edmond dan pria itu secara tepat langsung menangkapnya. Saat ia mengusap layar depan ponsel itu, langsung terlihat foto dirinya dan Monalisa yang sedang berciuman.
"Lihat lagi fotonya yang lain."
Edmond mengusap layar itu sekali lagi dan tampaklah foto Monalisa yang hanya menggunakan dalaman saja. Ia duduk di atas sofa ruang tamu.
"Sayang....." Edmond meletakan hp Mahira di atas tempat tidur dan langsung mendekati istrinya.
Mahira mundur. Ia tak mau berdekatan dengan Edmond namun sialnya, punggungnya justru sudah menempel di dinding kamar. Edmond akhirnya memenjarakan tubuh Mahira diantara kedua tangannya. Tatapan mata Edmond sangat tajam. Lelaki itu terlihat kacau.
"Kejadian di foto itu tak seperti kenyataan yang sebenarnya. Monalisa yang mencium aku lebih dulu. Juga foto di ruang tamu itu, aku sendiri terkejut saat pulang ke rumah beberapa hari lalu dan ternyata diikuti oleh Monalisa."
"Aku tak percaya dengan apa yang kau katakan, Ed. Sekarang aku sadar kalau kamu adalah seorang aktor hebat. Sangat pandai bersandiwara. Aku tahu kalau kau punya hp lain, Ed. Aku pernah melihatnya di laci meja kerjamu."
"Soal hp itu, aku akui. Namun itu hp khusus yang ku gunakan dalam bisnis."
Mahira tersenyum sinis. "Lepaskan aku, Ed. Aku ingin kembali ke Manado."
"Aku tak akan pernah melepaskan mu, Mahira. Karena aku tak mau mengingkari sumpah pernikahan kita."
"Sumpah pernikahan? Jangan sok bicara sumpah pernikahan kalau selama ini kamu masih bersama Monalisa. Kalian berhubungan secara diam-diam di belakang aku kan? Aku mau kita bercerai, Ed."
__ADS_1
"Aku tak akan pernah menceraikan mu." Edmond mengangkat tangannya lalu mengusap wajah Mahira. "Apa kau lupa kalau kita punya Wina?"
Mahira dapat merasakan kalau aroma kemarahan yang ditahan nampak dari tatapan mata Edmond.
"Wina bukan anakmu,!"
Mata Edmond menyala. Ia mencengkeram dagu Mahira dengan sangat keras. "Wina anakku! Jangan pernah kamu mengatakan kalau dia bukan anakku."
Mahira menepis tangan Edmond. "Aku akan tetap pergi, Ed."
"Ingat, Ra. Hanya maut yang bisa memisahkan kita."
"Aku tak mau bersama kamu lagi, Ed!" kata Mahira sedikit berteriak.
Edmond mundur beberapa langkah. Ia kemudian berjalan menuju ke lemari pakaian. Di sana ada brangkas yang selama ini tak pernah Mahira tahu apa isinya.
Saat Edmond berbalik, Mahira terkejut melihat Edmond sudah memegang sebuah pistol.
"Kamu mau apa, Ed?"
Edmond membuka pengaman di pistol itu. "Kalau aku mati, maka kau baru bisa bebas dariku." Edmond menaruh ujung pistol itu di kepala.
"Kamu mau apa, Ed?"Mahira langsung mendekat dan memegang pistol itu namun Edmond mendorong tubuh Mahira.
"Ed....!" Mahira yang terjatuh kembali bangun dan mendekati Edmond. "Jangan bertindak bodoh, Ed."
"Aku jadi bodoh karena kau tak mau percaya padaku, Ra."
Terdengar ketukan di balik pintu kamar dan ada suara tangis Wina.
Edmond menurunkan pistol itu dan menyimpannya di laci nakas lalu ia membuka pintu.
"Maaf tuan. Wina bangun dan menangis mau tidur di kamar tuan dan nyonya." kata Lita.
Edmond langsung memeluk Wina. "Sayang, jangan menangis ya?"
Lita pun pergi setelah Edmond menutup pintu kamar.
"Wina kenapa, nak?" tanya Edmond setelah ia duduk di tepi ranjang dan Wina ada di pangkuannya.
"Wina takut."
"Takut kenapa, nak?" Edmond mengusap wajah Wina yang berkeringat.
"Wina takut papi pergi."
"Sayang,anakku yang cantik. Papi ada di sini bersama Wina." Edmon mencium putrinya lalu membekuknya erat.
Tubuh Mahira lunglai. Ia duduk di lantai dengan perasaan yang bingung. *Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lepas dari Edmond?
**********
Hallo semuanya .....
Bagaimana. kisah ini berlanjut?
__ADS_1
Apakah Mahira akan tetap pergi ke Manado atau bertahan?
Berikan tanda sayangmu dan komentari semua ya*....