
Mulai hari ini, Mahira berjanji tidak akan bertanya pada Edmond sampai ia menemukan rahasia yang tersembunyi. Mahira yakin kalau kesabaran akan membuahkan hasil yang manis. Ia tak mau terburu-buru apalagi langsung menunjukan rasa marahnya pada Edmond. Apalagi Edmond sangat mudah bisa membaca isi hati Mahira.
Mahira mencoba menghubungi ponsel Edmond namun ponselnya tak aktif. Beginilah Edmond jika jauh darinya. Terkadang ponselnya tak aktif. Apakah di tambang batubara juga nggak ada jaringan selular yang sesuai dengan nomor Edmond?
Dalam keadaan hati yang galau dan penuh dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Mahira pun mencoba untuk tenggelam dengan pekerjaannya. Dan ternyata bisa bisa konsentrasi.
Edmond akhirnya kembali. Tapi bukan 2 jam seperti yang ia janjikan melainkan 3 jam lebih.
"Sayang, kok masih di sini? Ini sudah hampir jam setengah lima sore." Ucap Edmond saat membuka pintu dan menemukan kalau istrinya masih di ruangannya.
"Aku terlalu asyik bekerja sampai lupa waktu." Mahira berusaha tersenyum semanis mungkin. Menekan kalimat yang hampir keluar dari mulutnya yang ingin bertanya tentang hp yang ada di laci meja kerja Edmond juga Lerry yang sebenarnya harus pergi ke tambang dan bukan Edmond.
"Lain kali, kalau sudah jam 3 pulang saja. Aku tak mau Wina kesepian karena sering kita tinggal."
"Iya."
Edmond mengecup puncak kepala Mahira. "Kita pulang, yuk! Aku capek banget."
Mahira mengangguk dan segera membereskan pekerjaannya. "Apakah Lerry masih ada di ruangannya? Aku mau memberikan hasil akhir laporan keuangan. 2 hari lagi kalian ada rapat pemegang saham kan?"
"Lerry malah ada di tambang tadi saat aku meninggalkan tambang."
Oh, jadi Ed beneran pergi ke tambang dan ketemu Lerry? Apakah aku sudah terlalu curiga dan menuduh Ed ketemu Monalisa?
"Ada apa sayang? Kok bengong?"
Mahira menggeleng. Ia segera melingkarkan tangannya di lengan Edmond. "Ayo pergi! Nanti aku telepon Lerry untuk mengambil laporan itu di mess."
"Baiklah sayang."
Sesampainya di rumah, Wina nampak sedikit cemberut.
"Mami perginya lama. Wina jadi kangen."
Mahira langsung menggendong anaknya. "Maafkan mami ya? Mami janji jika pergi lagi akan pulang cepat. Tapi Wina nggak nakal kan? Nggak membuat bibi Juminten repot?"
"Nggak. Wina makan banyak. 2 kali tambah." kata Wina dengan bangganya. Mahira menatap Juminten. Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk.
"Wuih...., hebat dong anak papi. Kalau begitu mau minta belikan apa?" Edmond mengambil Wina dari pelukan Mahira.
"Kue keju yang waktu itu, papi."
"Kue keju?" tanya Edmond sedikit bingung.
"Yang papi bawah kan waktu itu."
"Mungkin maksudnya kue keju yang kita beli di salah satu minimarket yang ada di dekat sini, Ed." ujar Mahira.
"Wah, kalau begitu besok saja ya? Papi capek, sayang."
"Nggak mau. Wina maunya sekarang!"
"Wina, jangan gitu...." Kalimat Mahira terhenti saat Edmond menatapnya sambil menggeleng.
__ADS_1
"Biarkan saja, sayang. Wina sudah ingin makan kue itu. Papi mandi dulu, setelah itu kita pergi beli bersama." Kata Edmond membuat pancaran mata Wina nampak berbinar.
"Benarkah? Wina boleh ikut?" tanyanya kurang yakin.
"Iya, sayang. Wina boleh ikut. Mami mau ikut juga?" tanya Edmond.
"Aku di rumah saja bantu bibi siapkan makan malam."
"Ok kalau begitu, papi mandi dulu ya?" Edmond segera melepaskan Wina dari pelukannya setelah itu ia segera masuk ke kamar.
Mahira melihat bagaimana Edmond sangat memanjakan Wina. Bagaimana Edmond selalu berusaha membuat Wina sedang. Sikap Ed yang manis itulah yang kadang membuat Mahira enggan mencari kebenarannya.
Setelah Edmond dan Wina pergi, Mahira pun segera mandi. Ia ingin membantu Juminten di dapur. Namun saat ia menuju ke dapur, ia terkejut melihat Lerry yang sedang duduk di meja pantry Sambil menikmati secangkir
kopi yang terlihat masih hangat.
'***, Kapan kau datang?" tanya Mahira.
"Saat kamu baru mandi. Makanya langsung ke dapur minta bibi buatkan kopi. Ed dan Wina lagi pergi ya?"
"Iya. Wah, kebetulan. Aku sudah mencetak hasil pemeriksaan keuangannya. Tinggal kalian bawah saja ke rapat pemegang saham. Dan sesuai dengan prediksi ku, Kepala bagian keuangan salah satu yang menggelapkan uang perusahaan."
Lerry membawa kopinya. "Kita bicara di ruang tamu saja. Masakan bibi menggodaku untuk segera makan dan tak akan konsentrasi untuk membaca."
Bibi tersenyum. "30 menit lagi selesai, tuan."
"Maaf ya, bi. Aku tak bisa membantu." kata Mahira dengan wajah menyesal.
"Nggak apa-apa, nyonya."
"Ra, sebaiknya kamu bekerja saja di perusahaan. Kami butuh orang seperti kamu untuk mengolah keuangan perusahaan. Nanti kamu bekerja nggak seperti pegawai yang lain. Jam kerjanya kamu yang atur sendiri sehingga tidak menganggu Wina." kata Lerry.
"Ingin juga bekerja. Tapi tanya Edmond dulu. Soalnya Wina juga lagi butuh perhatian lebih."
"Aku akan membujuk, Ed."
Mahira tersenyum. Ia memang ingin berada di perusahaan karena ingin mengawasi Edmond lebih lama.
"Bagaimana perkembangan tambang batubara nya?" Mahira memulai aksinya untuk bertanya.
"Baik. Hanya saja perlu ada pengawasan. Aku agak kesal dengan Monalisa karena tak bekerja dengan baik di sana."
"Ed bilang kalau Monalisa yang bertanggungjawab di sana ya?" ujar Mahira walaupun sebenarnya Edmond tak pernah mengatakannya.
"Iya. Tadi saja saat aku pergi, dia entah kemana. Nanti kembali saat sudah hampir jam setengah lima."
"Ed bilang kamu tadi kelihatannya kesal."
"Iya. Saking kesalnya sampai aku tak menyadari kalau Edmond ada di sana. Memangnya jam berapa ia pulang? Aku sudah tak melihat mobilnya tadi ketika meninggalkan lokasi tambang."
"Jam setengah lima ia tiba di perusahaan."
"Oh, gitu ya?"
__ADS_1
Mahira kembali menahan bibirnya untuk tak bertanya. Ia tak ingin Lerry mendapat kesan kalau ia sedang menyelidiki Edmond.
"Di mana Sofia?"
"Ke kota. Dia nggak terlalu suka di sini. Sepi katanya."
"Kenapa kalian tak menikah saja? Usiamu kan tak beda jauh dengan Ed?"
Lerry tersenyum penuh ironi. "Aku belum siap menikah. Sofia juga tahu saat akan memulai hubungan denganku. Aku akan menikah bukan karena emosi sesaat namun karena aku benar-benar siap."
"Prinsip hidup yang kuat."
"Edmond beruntung karena mendapatkan istri sepertimu. Apalagi dengan Wina yang lucu dan menggemaskan. Terkadang saat melihat Wina, ingin juga punya anak. Tapi aku mau calon mama anakku benar-benar bisa menyatu dengan ku secara jiwa dan raga. Karena bagiku menikah hanya satu kali. Seperti kedua orang tuaku yang saling menyayangi sampai sekarang."
"Ya. Itu memang benar."
Terdengar suara mobil Edmond. Wina masuk bersama papinya dengan wajah bahagia. Ia menceritakan apa saja yang sudah dibelinya. Mahira langsung membawa anaknya itu ke ruang makan untuk makan lebih dulu. Setalah Wina selesai makan, Juminten menemaninya dan Ed, Lerry serta dirinya makan bersama.
Mahira sesekali menatap suaminya yang makan sambil berbincang dengan Lerry. Haruskah ia meragukan cinta Edmond padanya?
Selesai mereka makan, Mahira segera menidurkan Wina di kamarnya sementara Ed dan Lerry kembali membahas masalah keuangan.
Wina pun akhirnya tertidur. Mahira menutup pintu kamar anaknya dan bibi Juminten pamit pulang ke rumah susun karyawan.
Mahira pun masuk ke kamar tidur. Ia membuka keranjang baju kotor dan mengambil pakaian yang Edmond pakai tadi. Mencari sesuatu. Mungkin ada yang tertinggal dari bekas pertemuan Ed dengan Monalisa.
Saat Mahira mencium bau parfum di kemeja Edmond. Ia merasa bahwa parfum itu berbeda dengan yang biasa Edmond gunakan. Ada 3 jenis parfum yang secara bergantian Ed pakai. Mahira sudah sangat hafal baunya. Apakah ini parfum Monalisa yang menempel di baju Ed?
"Sayang....!" Edmond masuk ke kamar dan Mahira dengan cepat memasukan kembali baju kotor Ed ke dalam keranjang pakaian.
"Lerry sudah pulang?" tanya Mahira berusaha bersikap biasa pada hal hatinya sedang galau.
"Iya. Dia tak pamit karena pikirnya kamu sudah tidur. Oh ya Lerry tadi meminta ijin padaku untuk mengerjakan mu sebagai konsultan keuangan di perusahaan. Aku sih setuju saja. Namun aku tak mau kalau Wina sampai terabaikan."
Mahira mendekatkan dan melingkarkan tangannya di leher Edmond walaupun hatinya sebenarnya tak ingin mereka dekat seperti ini.
"Aku janji nggak akan mengabaikan Wina. Waktu kerjanya sesuai dengan keinginan aku. Boleh ya?"
Edmond tersenyum. "Baiklah sayang."
Mahira langsung mencium Edmond dengan gaya sensual. Edmond menyambut ciuman itu dengan antusias. Namun tak lama kemudian Edmond mengahiri nya. "Ayo kita tidur. Aku capek." Lalu Edmond mencium dahi Mahira. Ia membuka celana jeans yang dipakainya, demikian juga dengan kaos yang menempel di tubuhnya. Edmond memang memiliki kebiasaan tidur hanya menggunakan boxer kecuali jika Wina tidur bersama mereka.
Hati Mahira bertanya. Pernahkah Edmond tak menginginkannya setelah mereka berciuman seperti tadi? Pada hal mereka sudah dua malam tak menghangatkan ranjang mereka karena Mahira sibuk dengan laporan keuangan. Apakah Edmond capek karena tadi siang bersama Monalisa?
Hati Mahira menjadi cemburu. Namun ia sekali lagi menahan dirinya untuk bertanya. Akan ada saatnya Mahira akan mengungkapkan siapa Edmond yang sebenarnya.
***********
Good morning
semangat puasa....
Selamat menjelang Paskah bagi yang merayakannya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung emak ya guys