
Mahira bangun dan tubuhnya merasa segar. Jamu yang diberikan oleh bibi Juminten ternyata sangat berkhasiat untuknya. Ia ingin mandi dan makan karena perutnya merasa sangat lapar. Sejak pagi, Mahira hanya makan sepotong roti dan segelas teh hangat.
Selesai mandi, ia segera ganti pakaian dan hendak keluar kamar. Namun bunyi hp nya menghalangi langkahnya untuk keluar kamar. Dan saat melihat nomor yang masuk, Mahira tahu kalau itu nomor Teddy sekalipun ia tak menyimpan nomor itu.
"Hallo Teddy, kamu mau apa lagi menghubungi aku?"
"Aku belum puas berbicara dengan kamu, Ra. Aku ingin kita ketemu lagi. Kalau boleh malam ini."
"Tidak....! Aku tak bisa keluar malam ini, Teddy. Aku merasa tak enak badan."
"Jangan beralasan tak enak badan. Kita harus bertemu untuk membicarakan tentang Edewina. Aku sangat yakin kalau dia adalah anakku. Kau katakan saja akan pergi ke mini market. Aku janji tak akan menyita waktumu. Hanya satu jam saja."
"Teddy, Edmond bisa curiga padaku. Lagi pula aku memang benar sedang tak enak badan. Sudah cukup apa yang kita lakukan tadi. Aku tak mau terulang lagi. Jangan menghubungi aku dulu, dan jangan mendekati Edewina di sekolahnya. Aku mohon!"
"Aku akan terus mendekati Edewina sampai hasil DNA membuktikan bahwa Edewina bukan anakku."
"Teddy, jangan seperti itu. Lupakan keinginanmu itu."
"Aku hanya meminta supaya kita bertemu satu kali saja, Ira. Aku sudah mendapatkan rambut Edewina. Aku akan ke Jakarta dan melakukan tes untuk membuktikan apakah Edewina anakku atau anaknya Edmond"
"Baiklah....! Aku akan menemui mu nanti. Bye....!" Mahira melepaskan hp nya di atas meja. Ia sock saat mendengar kalau Teddy sudah memiliki bukti di tangannya untuk mendapatkan hasil yang diinginkannya. Mahira harus mencegahnya. Makanya ia setuju untuk bertemu dengan Teddy.
Saat ia membalikan badannya, ia terkejut melihat Edmond yang berdiri di depan pintu kamar dengan mata yang menyala dan rahang yang sudah mengeras.
"Edmond?"
Edmond mendekat membuat Mahira mundur beberapa langkah namun ia terhenti karena punggungnya sudah menyentuh dinding kamar.
"Jadi, kau bertemu dengan Teddy tadi?" tanya Edmond lalu memenjarakan tubuh Mahira diantara tangganya yang terangkat sampai menyentuh dinding.
"Iya. Aku baru akan menceritakannya padamu."
"Jadi, kau mengakui bahwa kau selingkuh dengannya?" tanya Edmond dengan mata yang menyalah. Sangat jelas terlihat ada bara api di sana yang siap menyalah.
"Jaga ucapan mu, Ed! Sudah ku katakan jangan menuduh aku melakukan sesuatu yang tak kulakukan."
"Lalu untuk apa kau pergi berdua dengannya? Apa yang kalian lakukan sampai mobil itu bergoyang?"
"Apa maksud kamu, Ed?"
Edmond mengambil hp nya dan menunjukan video yang dikirimkan kepadanya.
__ADS_1
"Jadi kamu berpikir aku berbuat mesum di dalam mobil? Waktu itu aku marah, Ed. Teddy mengakui bahwa ia menaruh obat perangsang dalam minumanku sehingga ia bisa menyentuhku saat itu. Aku menyerangnya dengan membabi buta."
"Jangan bohongi aku, Mahira!" teriak Edmond dengan rasa frustasi yang semakin dalam.
"Jadi kamu pikir aku bohong?" Mahira merasakan dadanya sakit. Edmond kembali meragukan kesetiannya.
"Ayo kita buktikan kalau memang kalian tak melakukan sesuatu di mobil itu."
"Mau kamu apa? Apa yang harus aku buktikan?"
Edmond menjauh. Ia kemudian mendekati pintu kamar dan menguncinya. Ia membuang kunci itu secara sembarangan. Setelah itu ia menelepon bibi Juminten.
"Ada apa, tuan?"
"Aku tak ingin pembicaraanku dengan Mahira diganggu oleh siapapun. Jangan mendekati kamar ini termasuk juga Edewina dan mommy ku. Bibi mengerti?"
"Baik, tuan."
Edmond melemparkan ponselnya begitu saja di atas lantai yang dialasi oleh karpet yang lembut. Ia membuka kaos yang dipakainya, begitu juga dengan celananya. Ia kemudian menutup tirai jendela kaca sehingga keadaan kamar menjadi agak gelap. Lampu baca yang ada di atas nakas secara otomatis langsung menyala.
Mahira menjadi takut. Ia bermaksud akan keluar namun pintunya sudah dikunci oleh Edmond. Perempuan itu berusaha menjaga jarak dengan Edmond.
"Buka bajumu!" kata Edmond setengah memerintah.
"Jadi kamu hanya mau disentuh oleh Teddy? Itukah sebabnya ia menelepon mu? Kalian ingin bertemu lagi di belakangku?" Edmond mendekat. Emosi dan cemburu sudah membutakan batinnya. Rasa cinta itu telah membuat Edmond menjadi sangat posesif dan tak rela jika Mahira disentuh oleh orang lain
Apalagi jika itu adalah Teddy.
"Buktikan padaku kalau kalian memang tidak berhubungan sama sekali. Kau sudah mengabaikan aku selama hampir 2 bulan ini." Edmond kini ada di depan Mahira. Menatap istrinya itu dengan gairah yang berpadu dengan cemburu yang sangat besar.
"Kau mau apa, Ed?"
"Meminta hak ku sebagai suamimu!" Edmond menahan kedua tangan Mahira lalu dengan gerakan yang cepat ia mengangkat tubuh Mahira dan membawanya ke ranjang.
"Edmond, aku tak mau seperti ini." Mahira yang sudah dibaringkan di atas ranjang berusaha bangun. Namun tubuh Edmond yang lebih tinggi dan lebih besar darinya langsung berada di atas perempuan itu.
Sebelum Mahira berkata apapun, Edmond langsung menciumnya secara paksa. Mengendalikan Mahira dalam sentuhan dan rayuannya yang memang sangat ahli.
Sekuat apapun Mahira memberontak, Ia kalah kuat dengan Edmond. Hatinya sakit, merasa tak dihargai, walaupun tubuhnya sedikit merespon apa yang dilakukan Edmond padanya.
Andai saja Edmond lembut seperti biasanya. Andai saja Edmond memintanya secara baik-baik. Mungkin Mahira tak akan merasakan perih di inti tubuhnya dan sakit di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Mahira berusaha tak menangis ketika penyatuan itu terjadi secara paksa. Ia berusaha untuk menikmati walaupun pelepasannya tak juga ia dapatkan. Ia merasa Edmond bagaikan orang kerasukan setan yang melampiaskan rasa cemburunya dengan cara yang berbeda.
Dan ketika Edmond akhirnya menemukan kepuasannya sendiri, perlahan rasa penyesalan itu datang menghancurkan emosi dan cemburu yang telah membutakan matanya. Tak ada tatapan mata sayu Mahira yang malu-malu saat mereka selesai bercinta seperti sebelumnya. Tak ada dekapan hangat Mahira yang berbaring di dada Edmond dan tak ada kecupan manis di pipi Edmond yang membuat Edmond terkadang dengan cepat terbakar lagi gairahnya.
Kali ini, Mahira justru menatapnya dengan mata terluka. Tangan Mahira sedang memegang seprei yang ada dengan cengkraman yang sangat kuat.
"Sudah selesai?" tanya Mahira dengan suara datar tanpa intonasi apapun.
Edmond menyingkir dari atas tubuh Mahira dan dengan cepat perempuan itu bangun dan sedikit berlari, ia kemudian masuk ke kamar mandi. Di sanalah baru tangis Mahira pecah. Namun kedua tangannya menutup mulutnya dengan sangat kuat agar suara tangisnya tak terdengar.
Saat pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Mahira keluar dengan menggunakan jubah mandinya. Ia masuk ke dalam walk in closet tanpa memandang Edmond yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Pria itu sudah memakai lagi pakaiannya.
Mahira sudah menggunakan celana jeans dan kemeja berwarna putih. Rambutnya yang basah dibiarkannya tergerai. Ia memoles wajahnya dengan bedak dan make up yang natural. Ia kemudian mengambil dompetnya, lalu memasukan hp nya di dalam dompet. Barulah kemudian ia menatap Edmond dengan tatapan yang Edmond sendiri sulit untuk mengartikannya. Ia kemudian mencari kunci yang tadi dilemparkan oleh Edmond dan ia berhasil menemukannya.
"Teddy sudah mendapatkan rambut Edewina untuk digunakannya sebagai tes DNA. Itulah mengapa tadi di telepon aku akhirnya setuju untuk bertemu dengannya. Aku hanya berusaha agar Edewina tetap memakai nama Moreno dan bukan Kandow." Lalu ia melangkah. Namun baru beberapa langkah, ia berbalik. Menatap kembali Edmond namun kali ini dengan senyum manisnya. "Ternyata, permainan Teddy di dalam mobil lebih memuaskan bagiku dari pada permainanmu di atas ranjang." Mahira sengaja menyiram bensin ke dalam api. Ia tak perduli lagi. Dengan cepat ia keluar kamar.
Edmond terpaku di tempat duduknya. Perkataan Mahira sebenarnya mengisyaratkan kalau tak ada yang terjadi diantara dia dan Teddy. Edmond kini sadar bahwa Mahira hanya ingin membalas rasa sakit di hati dan tubuhnya dengan mengucapakan kata-kata itu.
Dengan cepat Edmond keluar kamar. Ia ingin menyusul Mahira.
"Mom, di mana Mahira?" tanya Edmond.
"Baru saja pergi dengan mobilnya. Katanya ia ada urusan sedikit di luar. Dan dia membawa Edewina."
"Apa? Kenapa mommy ijinkan?" Edmond takut jika Monalisa akan menyerang mereka.
"Mahira kan mamanya Edewina. Kenapa juga dia harus perlu ijin mommy untuk membawa anaknya sendiri?" Rahel jadi heran.
Edmond mencari kunci mobilnya untuk menyusul Mahira, sampai akhirnya ia sadar kalau mobilnya masih ditangani oleh pihak asuransi.
Sial....!
Edmond berlari ke kamar. Ia hendak menelepon Mahira. Namun sebuah pesan dari Mahira membuat Edmond langsung terduduk dengan tubuh yang seolah tanpa jiwa.
Aku pergi! Kalau mommy tanya katakan saja ada saudaraku di sini yang sakit. Aku mungkin tak akan pulang. Entahlah. Aku hanya ingin menjauh darimu sebelum aku semakin membenci dirimu.
*************
Hallo semuanya
bagaimana menurut kalian?
__ADS_1
jangan lupa komen, like dan vote ya?