RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Berpisah Itu Menyakitkan


__ADS_3

Lerry dan Edmond baru selesai dengan rapat kerja awal bulan. Ini adalah bulan ke-2 semenjak peristiwa penembakan itu.


Keluarga Monalisa menerima kematian putri mereka dengan sedih hati. Mereka percaya dengan rekaman yang Edmond berikan bahwa Monalisa mengurung diri di rumahnya, ia mendapatkan serangan panik dan akhirnya mengahiri hidupnya.


Secara tegas Edmond juga menyatakan putus hubungan dengan keluarga itu dan seluruh ikatan dengan mafia. Edmond juga sudah memberanikan semua bodyguard nya kecuali Ifan yang menjadi sopirnya.


Mommy Rahel sampai saat ini belum bisa dihubungi. Edmond bahkan pergi ke Madrid saat hari natal. Namun mommy Rahel justru memilih liburan keliling Eropa dengan suaminya. Kenyataan yang diketahuinya bahwa Edmond pernah terlibat dalam dunia hitam mafia sangat menyakitkan hatinya. Apalagi dengan semua peristiwa yang menimpah Edewina.


Menenggelamkan diri dalam pekerjaannya itulah pilihan Edmond. Perusahaan yang dikelolanya bersama Lerry semakin maju dan terkenal bahkan mendapatkan penghargaan dari menteri perekonomian sebagai salah satu perusahaan yang perkembangannya paling baik.


"Pek Edmond, maaf menganggu!" Santi, sekretaris perusahaan yang menggantikan Angel berdiri di depan pintu ruangannya yang memang tak dikunci.


"Ada apa, Santi?"


"Ada pak Leo. Seorang pengacara dari Manado. Katanya ia pengacara Nyonya Mahira Moreno."


"Persilahkan masuk!"


Santi mempersilahkan lelaki berusia sekitar 50an itu untuk masuk, kemudian ia menutup pintunya.


"Selamat sore pak Edmond. Perkenalkan saya Leo Worotikan. Pengacara istri anda. Nyonya Mahira Moreno." Leo menjabat tangan Edmond sebelum duduk di depan pria itu.


"Ada apa ya, pak Leo?"


Leo menyerahkan sebuah map file berwarna merah. "Ini adalah berkas permohonan perceraian yang dibuat oleh istri anda. Dia ingin bercerai."


Edmond merasakan jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Sejuta sembilu seakan menusuk hatinya dan membuatnya tak mampu bergerak.


"Ber..... cerai?" lidah Edmond terasa keluh. Apa yang ia tak pernah ia bayangkan kini terjadi. Saat Mahira pergi tanpa pamit padanya, saat Mahira meninggalkan pesan agar Edmond jangan mengejarnya, Edmond pikir kalau Mahira hanya butuh waktu untuk sendiri.


"Iya, pak. Nyonya Mahira tak meminta apapun dalam proses perceraian ini. Dia hanya ingin agar semuanya berjalan lancar tanpa ada hambatan. Dia juga tak ingin sidangnya berlarut-larut. Pak Edmond bisa diwakili oleh pengacaranya tak perlu datang ke Manado."


Edmond tersenyum kecut. Bahkan untuk melihatnya pun Mahira tak mau. Sungguhlah tak ada lagi rasa cinta untuknya?

__ADS_1


"Aku akan ke Manado. Kebetulan ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di sana. Sidang perdananya 2 minggu lagi kan?"


Leo mengangguk. "Kalau begitu, aku pamit pulang. Selamat sore pak Edmond."


"Selamat sore pengacara Leo."


Setelah pengacara itu pergi, Edmond kembali menatap map file yang berisi berkas perceraiannya. Edmond membuka lembar demi lembar. Alasan utama Mahira meminta cerai adalah karena tak ada lagi kecocokan dalam pernikahan mereka.


Edmond membuka galeri fotonya. Melihat-lihat kenangan mereka saat masih hidup bersama. Tangan Edmond bergetar saat melihat foto Edewina. Ah, sayang, papi merindukanmu. Mengapa semua ini terjadi dan harus memisahkan kita?


**********


Dari jauh, Edmond melihat wanita yang sangat dicintainya turun dari sebuah angkot. Ia terlihat sangat cantik dengan dress putih yang membungkus tubuh mungilnya. Mahira terlihat lebih kurus dibandingkan dua bukan yang lalu.


Dari Putri, Edmond tahu kalau Mahira sudah 2 minggu bekerja di sebuah kantor notaris. Perempuan yang pintar dan hebat seperti Mahira pasti tak akan sulit mendapatkan pekerjaan.


Ingin rasanya Edmond turun dari mobilnya dan memeluk Mahira. Edmond rindu. Sangat rindu. Makanya, ia datang ke Manado 3 hari setelah menerima gugatan cerai dari Mahira.


Dari Putri juga, Edmond tahu kalau Mahira sekarang tinggal di sebuah rumah kontrakan. Malam ini, Edmond berencana untuk menemui Mahira. Ia akan melakukan apa saja untuk membatalkan gugatan cerai dari Mahira.


Dulu, setiap kali ia dan Mahira datang berziarah, Mahira akan meminta Edmond membelikan bunga Anyelir.


Saat Edmond tiba di malam Oma dan membaca batu nisan nya, Edmond baru tahu kalau hari ini adalah hari kematian Oma Yohana.


"Oma, maafkan aku yang gagal menjaga Mahira sampai akhirnya dia pergi. Masa laluku yang kelam serta caramu mengawali pernikahan kami yang penuh rahasia membuat Mahira akhirnya pergi dariku. Aku tak ingin berpisah dari Mahira, Oma. Aku ingin bersamanya. Aku yakin kalau dia masih mencintaiku. Restui aku untuk bersamanya kembali." Edmond meletakan bunga anyelir itu di atas makam. Ia memanggil penjaga makam untuk membersihkan makam oma yang sudah mulai ditumbuhi rumput. Setelah semuanya bersih, ia pun kembali pulang ke rumah.


************


Pulang kerja, Mahira singgah di toko bunga untuk membeli bunga anyelir. Hari ini adalah peringatan kematian yang sang oma dan ia tahu keluarga pamannya sedang liburan sehingga tak ada yang akan mengunjungi makam Oma selain dirinya.


Namun, alangkah terkejutnya Mahira saat melihat ada setangkai bunga anyelir di atas makam dan makam nampak sudah dibersihkan. Siapa yang datang ke sini dan meletakan bunga ini?


Mahira pun memanggil penjaga kubur dan bertanya.

__ADS_1


"Seorang pria tampan yang tinggi dan baik hati. Kayaknya dia bule. Dia meminta aku untuk membersihkan kubur ini dan memberikan aku uang yang banyak. Ia berpesan supaya aku selalu membersihkan kubur ini dan ia akan datang untuk membayarku." kata penjaga kubur itu.


Pria bule? Tinggi dan tampan? Bukankah itu Edmond? Edmond ada di sini?


Entah mengapa hati Mahira bergetar saat mendengar nama Edmond. Apakah aku merindukannya? Ya Tuhan, mengapa perasaan ini tak kunjung juga berhenti?


Mahira pun meletakan bunganyang dibawah nya, berdampingan dengan bunga yang dibawa Edmond. Lalu ia meninggalkan makam dengan hati yang gelisah. Ada keinginan untuk berjumpa dengan Edmond. Namun sisi hatinya yang lain melarang dia karena Mahira ingin pergi dari kehidupan Edmond.


Ia pun naik angkot menuju ke rumah yang ia sewa. Namun alangkah terkejutnya Mahira, saat ia turun dari angkot dan melihat ada sebuah mobil berwarna putih yang parkir di depan rumahnya. Dan seorang pria tampan yang seolah memang sedang menantinya, berdiri sambil bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Edmond.....!" tanpa sadar Mahira mengucapkan nama pria itu. Keduanya saling berpandangan. Mahira berusaha menguatkan hatinya. Ia tak mau berlari dan memeluk pria itu. Dia harus kuat dengan keputusannya.


Edmond pun terlihat berusaha menekan keinginan hatinya untuk memeluk perempuan yang sangat dirindukannya itu. Ia tersenyum. "Selamat sore, Ra."


Mahira menekan salivanya yang terasa pahit. "Selamat sore."


"Aku datang mengunjungimu."


"Bukankah sudah ku katakan kalau kamu tak perlu datang untuk persidangan nanti?" Mahira melangkah melewati Edmond. Ia membuka pagar kecil rumahnya lalu melangkah masuk. Ia juga membuka pintu rumahnya. Ia sungguh tak menyangka kalau Edmond mengikutinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Aku kan tak memintamu untuk masuk?" tanya Mahira berusaha terlihat ketus namun Edmond dengan cepat menarik tubuh wanita yang masih menjadi istrinya itu ke dalam pelukannya. Ia tak bisa menahan dirinya lagi.


"Aku merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu. Rindu ini sangat menyiksaku." Kata Edmond lalu menenggelamkan wajahnya di antara rambut Mahira. Ia sungguh rindu.


*************


Selamat pagi.....


kok ceritanya langsung melompat ke sini?


tenang ada flashback nanti....


dukung emak dulu dong....

__ADS_1


ayo komen mengapa sampai Mahira meninggalkan Edmond?


Terus Teddy kemana ya???


__ADS_2