RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Dia Masih Istriku


__ADS_3

Putri yang datang ke kantor Mahira siang ini tersenyum melihat dua paket bunga yang indah itu.


"Wah...wah....., bule Ed punya saingan Oppa Jun. Dua-dua ganteng, sama tajirnya dan sama romantisnya."


Mahira hanya cemberut melihat sahabatnya itu tertawa.


"Tapi aku lebih setuju seandainya kau kembali bersama Edmond. Dia mencintaimu, Ra. Kalau Oppa Jun, kamu kan belum tahu aslinya bagaimana. Memangnya kamu nggak mencintai Edmond lagi? Nggak takut Edmond jatuh hati dengan wanita lain? Pasti banyak wanita yang mengincarnya setelah ia jadi duda."


"Aku masih mencintai, Ed. Namun jika aku mengingat kembali bagaimana kami mengawali hubungan ini, apa yang telah menimpah Wina, rasanya aku ingin sendiri saja."


"Atau kau ingin kembali pada Teddy?"


Mahira menggeleng. "Teddy sudah sadar kok. Ia hanya sesekali mengirim pesan. Menanyakan tentang perkembangan Wina. Apakah ingatan Wina sudah kembali atau belum. Pokoknya Teddy sudah banyak berubah. Dia memang pernah mengutarakan keinginannya untuk kembali bersama ku. Namun aku bilang ke Teddy kalau rasa cintaku padanya sudah hilang."


"Syukurlah kalau Teddy akhirnya mengerti. Namun ia tak menuntut hak nya atas Wina kan?"


"Entahlah. Untuk saat ini sih belum. Mudah-mudahan setelah itu Nggak lagi. Mungkin suatu saat nanti, jika Wina sudah menikah dan mengerti akan arti hidup ini, aku akan menceritakan segalanya. Entahlah. Kita lihat saja nanti."


"Kita makan siang, yuk!" ajak Putri.


"Memangnya kamu nggak masuk kerja?"


"Aku sudah berhenti dari bank. Sekarang aku mengurus perusahaan milik orang tua suamiku. Aku menjadi manager keuangan. Menurutku lebih baik kami kerja bersama. Setahun yang lalu, suamiku kayaknya pernah selingkuh dengan sekretarisnya. Aku juga tak punya banyak bukti untuk menuduhnya. Kami sering bertengkar, aku bahkan sempat berpikir untuk minta cerai. Namun akhirnya kami saling introspeksi diri dan aku memutuskan resign dari bank. Sekretarisnya itu berhenti saat aku mulai bekerja di sana. Sekarang hubungan kami baik-baik saja walaupun sebenarnya aku belum 100% percaya pada suamiku."


'Kalau begitu, mari kita pergi makan. Aku juga sudah lapar. Dede di perut meronta-ronta ingin makan juga."


Keduanya tertawa bersama lalu mereka meninggalkan ruangan Mahira. Namun saat tiba di lobby kantor, Jun sudah berdiri di sana.


"Hai Mahira!" sapamya.


"Eh, Jun. Perkenalkan ini sahabatku, Putri!"


Putri dan Jun saling berjabat tangan.


"Kalian mau kemana?" tanya Jun.


"Kami mau makan siang." Putri yang menjawab.


"Wah, kebetulan sekali. Aku mau mengajak Mahira makan siang." ujar Jun.


"Tapi aku sudah janji dengan Putri." Mahira ingin menolak secara halus.

__ADS_1


"Nggak masalah. Putri dapat ikut dengan kita. Ayolah, hari ini aku ulang tahun." Mohon Jun sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Mahira jadi tak enak. Ia menatap Putri. Berharap sahabatnya itu akan menolak. Namun Putri justru tersenyum. "Ok. Jangan menyesal ajak aku ya? Karena aku makannya sangat banyak."


"Siapa takut?" Ujar Jun. Ia segera meminta sang sopir untuk membuka pintu bagi kedua wanita cantik itu. Saat mereka sudah masuk, mobil Edmond pun memasuki halaman kantor. Ia masih sempat melihat Mahira dan Putri yang masuk ke dalam mobil.


"Sial....!" Edmond memukul stir mobilnya. "Kalah cepat aku. Namun aku tak akan mengalah." Edmond segera mengikuti mobil itu.


Mobil Jun berhenti di depan sebuah restoran Perancis yang ada di kawasan MTC. Restoran mewah yang baru saja di buka sebulan yang lalu. Jun turun lebih dulu dan membukakan pintu bagi Putri dan Mahira. Mereka bertiga pun masuk ke dalam dan saat Jun menyebutkan namanya, sang resepsionis segera mengantar mereka ke sebuah meja yang memang sudah disiapkan.


"Pilihlah makanan apa yang kalian inginkan." ujar Jun.


Putri dan Mahira pun mememilih beberapa jenis makanan yang mereka inginkan. Setelah itu Jun meminta anggur.


"Ini anggur tanpa alkohol. Sangat aman untuk ibu hamil." ujar Jun sambil menuangkan anggur itu di gelas yang sudah tersedia di sana.


Saat Mahira akan meneguk anggur itu, gelas yang dipegangnya tiba-tiba saja diambil oleh seseorang. Mahira pun mendongak dan menemukan Edmond sudah berdiri di dekatnya.


"Sayang, anggur tak baik untukmu." ujar Edmond lalu meminum isi gelas yang dipegangnya.


"Maaf. Itu anggur tanpa alkohol yang aman untuk ibu hamil. Anda siapa ya?" tanya Jun terlihat tak senang.


Jun sedikit terkejut namun ia dengan cepat menguasai dirinya. "Oh...., sebentar lagi akan menjadi mantan suami kan?" ujar Jun.


"In your dream, sir!" ujar Edmond lalu menarik sebuah kursi kosong yang ada di depan Mahira, atau tepatnya di samping Jun.


"Boleh aku bergabung kan?"


"Edmond!" Mahira terlihat mulai tak nyaman.


"Tak apa, Ra. Biarkan saja tuan Edmond Moreno ini makan siang dengan kita." Tanpa di duga, Jun tenyata menyetujui permintaan Emdond untuk gabung bersama mereka. Ia bahkan memanggil seorang pelayan untuk meminta gelas dan alat makan agar ditambahkan di depan Edmond.


Putri tersenyum melihat Edmond yang nampak nekad ada diantara mereka.


"Hai, Putri! Apa kabarmu?" tanya Edmond.


"Baik, Ed. Dan kau, apa kabarmu? Kelihatannya kamu sedikit kurus saat ini."


"Ya. Aku kurus karena banyak pikiran. Namun semuanya bisa ku atasi. Karena sekarang aku sudah tinggal di kota yang sama dengan istriku. Iya kan, sayang?" Edmond menyentuh tangan Mahira yang ada di atas meja membuat Mahira dengan spontan menarik tangannya.


Jun tahu kalau Edmond dalam mode cemburu berat. "Mahira, bagaimana dengan proyek kita di Makassar?"

__ADS_1


"Semua ijinnnya sudah keluar. Pengerjaan proyeknya sudah bisa di mulai minggu depan."


"Wah, kamu memang luar biasa Mahira. Pintar dan sangat cekatan dalam bekerja. Aku tak sabar ingin berangkat ke Makasar bersamamu nanti." Jun menyesap anggur di gelasnya.


Edmond menatap Mahira dengan tajam. Mereka akan pergi ke Makassar?


"Jika kamu pergi, bagaimana dengan Wina sayang? Aku nggak mau kamu meninggalkan Wina sendirian dengan pengasuhnya. Bagaimana kalau kita pergi bersama sambil mengajak Wina pergi jalan-jalan ke Makassar. Kan mulai minggu depan Wina sudah libur." Edmond berusaha bersikap semanis mungkin pada hal tangannya sudah tak tahan ingin menampar Oppa Korea di sampingnya ini.


"Kita akan bicarakan itu nanti, Ed." Mahira berusaha menahan juga rasa jengkelnya. Menurut dia, sikap Edmond sedikit reseh dan kekanak-kanakan.


"Baiklah, kita bicarakan nanti malam sebelum tidur ya, sayang."


Mahira menginjak kaki Edmond dari bawa meja. Namun Jun terlihat biasa saja. Pria itu begitu dewasa menanggapi semua, berbeda dengan Edmond yang terlihat sangat cemburu.


Untungnya makanan pesanan mereka sudah datang. Mereka pun makan tanpa banyak bicara. Edmond saja yang terlihat sibuk memberikan lauk di piring Mahira dan lain sebagaimana nya.


Saat mereka sudah selesai makan, Jun memanggil pelayan untuk meminta tagihan makanan mereka. Namun sebelum Jun mengeluarkan kartu kreditnya, Edmond terlebih dahulu meletakan kartu kreditnya di atas baki kecil itu. Jun menatap Edmond dengan heran.


"Anggaplah aku dan istriku yang mentraktir kalian." ujar Edmond dengan wajah sok polosnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Mahira.


Dan ketika mereka akan pulang pun, Edmond dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Mahira. "Ayo sayang....!" Ia menarik Mahira ke arah mobilnya yang ternyata di parkir bersebelahan dengan mobil Jun.


"Pak Edmond, ibu Mahira datang bersamaku. Seharusnya dia juga akan pulang bersamaku." ujar Jun masih dengan sikap sopannya.


"Maaf ya tuan Jun. Mahira adalah istriku, maka sudah sepatutnya dia pulang bersama ku." Edmond membuka pintu mobil bagi Mahira. "Ayo naik, sayang!"


Mahira jadi serba salah. Ia terlihat bingung. Putri pun langsung menengahi mereka. Ia tahu kalau Mahira bingung.


"Pak Jun, kita pulang berdua saja ya? Mungkin ada sesuatu yang haru Mahira dan Edmond selesaikan." ujar Putri. Jun pun langsung mengangguk.


"Sampai jumpa lagi, Mahira."Jun dengan sengaja menepuk bahu Mahira membuat mata Edmond menyala. Tak rela istrinya disentuh orang lain.


Mahira hanya mengangguk. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil dengan senyum kemenangan dari Edmond.


*********


Selamat sore.....


kekanakan nggak ya sikap Edmond?


Beri komentar yang banyak ya guys

__ADS_1


__ADS_2