RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Papi Terbaik


__ADS_3

"Ayo ikut ke mess. Mulai besok pekerjaanku banyak. Kami harus persiapan untuk membuat laporan akhir tahun." kata Edmond pagi ini saat ia keluar dari kamar mandi dan Mahira sedang membereskan tempat tidur.


Semalam, mereka kembali tidur bertiga dengan Edewina.


"Aku nggak mau!" ujar Mahira dengan sikap dinginnya.


Edmond nampak menarik napas panjang. "Lalu kamu mau apa di sini? Ikutlah bersamaku!"


"Tidak!"


"Mahira!" Edmond terlihat mulai emosi.


"Aku bilang tidak ya tidak! Kamu takut aku berselingkuh dan hamil lagi? Silahkan taruh anak buah mu sebanyak mungkin di sekitar rumah ini. Pasang kamera pengawas di setiap sudut rumah ini agar tahu semua aktivitas ku." Mahira menyelesaikan pekerjaannya. Ia akan keluar kamar namun Edmond dengan cepat menahan tangannya.


"Aku mencintai kamu, Ra. Walaupun sakit harus mengetahui kenyataan kalau kamu hamil namun aku memaafkan mu. Ayo kita bangun kembali hubungan pernikahan ini dengan baik."


Mahira menarik tangannya. "Selama kau terus menyangka kalau aku hamil dengan orang lain, maka tak ada kata damai diantara kita. Selama kau terus menyembunyikan hubunganmu dengan Monalisa, maka jangan salahkan aku jika rasa cinta yang aku miliki untukmu akan hilang." Lalu Mahira pergi meninggalkan Edmond sendiri. Hatinya sakit. Terluka karena dikhianati dan terluka karena tak dipercayai.


"Selamat pagi mami!" Sapa Edewina yang sudah siap dengan seragam PAUD nya.


"Selamat pagi, sayang. Siap ke sekolah?" tanya Mahira lalu mendekati putrinya dan memberikan satu kecupan di puncak kepala Edewina.


"Iya. Bibi Lita sudah siap mengantar aku juga."


Sekolah PAUD jaraknya sangat dekat dari rumah ini. Edewina dan Lita hanya jalan kaki saja untuk sampai ke sana.


Edmond pun masuk ke ruang makan. Ia sudah siap dengan baju kerjanya.


"Selamat pagi papi sayang."


"Selamat pagi, nak." Edmond pun mendekati Edwina dan mengecup pipi montok anaknya itu. "Wina sudah siap?"


"Sudah. Nih susu nya sudah habis."


"Pintar anak papi." Edmond mengangkat jempolnya.


"Papi, kata ibu guru, kita harus membuat puisi tentang papi. Karena sebentar lagi ada pertanyaan hari ayah dan anaknya."


"Puisinya sudah Wina buat?" tanya Edmond lalu duduk di samping putrinya.


"Sudah. Bibi Lita yang menuliskannya namun Wina sudah menghafalnya."


"Boleh papi dengar?"


"Nggak boleh. Nanti saja besok dalam perayaan hari ayah dan anak. Papi dan mami akan datang kan?"


"Jam berapa acaranya?" tanya Edmond sambil mengingat kalau besok ia ada rapat penting.


"Jam 9 pagi."


Edmond berpikir sejenak. "Boleh. Papi akan hadir. Apa sih yang nggak buat Wina?"


Edewina tersenyum bahagia. Hati Mahira bertambah galau. Entah bagaimana ia harus mengatakan pada Edewina bahwa ia ingin minta cerai dari Edmond.


************


Jumlah anak-anak yang sekolah di PAUD ini ada 27 anak. Namun ada beberapa anak yang tak mau berpuisi.


Kini giliran Edewina yang berdiri di panggung. Ia tersenyum saat melihat papi dan maminya ada di sana. Mahira sedang mengarahkan ponselnya ke panggung karena di Spanyol opa dan Oma Moreno sedang menonton juga.


"Papi, kau adalah cahaya hidupku. Aku bahagia memilikimu. Kau sangat baik, selalu mengajariku dengan sabar, dan tak pernah marah padaku. Jika aku menangis, papi selalu menghiburku. Jika aku tertawa, papi juga ikut tertawa bersamaku. Aku bersyukur Tuhan memberikan papi yang luar biasa untukku. Aku tak mau papi yang lain seumur hidupku. Hanya papi Edmond Moreno." Di ujung puisinya itu, Edewina meneteskan air matanya.


Air mata Edmond menetes tanpa bisa ditahannya. Kalimat sederhana yang diucapkan Edewina sungguh menyentuh hatinya. Mahira pun sangat terharu. Namun ia berusaha untuk tak menangis.


"Oh cucuku yang luar biasa!" terdengar suara Rahel dari seberang sana.


Tepuk tangan terdengar. Edewina pun sedikit berlari turun dari panggung dan langsung memeluk Edmond.


"Papi sangat bangga padamu, nak."


Edewina mencium pipi Edmond. "I love you, papi."


"Love you too my baby."


Mahira mengarahkan kamera ponselnya ke arah Edmond dan Edewina. Rahel yang melihatnya semakin terharu. "Oma juga mencintaimu, Wina."

__ADS_1


Edewina menoleh ke arah ponsel maminya. "Love you too Oma. Yo te amo!"


Selesai acara di sekolah, Edmond pamit untuk pergi ke perusahaan karena para tamu sudah ada. Rut, sekertaris yang baru, sudah beberapa kali menelepon Edmond.


Namun ia berjanji pada Edewina untuk kembali sebelum jam 7 malam dan menemani putrinya itu ke pasar malam sebagai hadiah karena Edewina sudah mendapatkan juara 1 lomba puisi itu.


**********


Edewina sudah siap dengan celana jeans dan jaket Jeansnya. Rambutnya dikepang dua.


"Mami, kok papi lama sih?" Tanya Edewina. Ia terlihat mulai bosan karena sudah setengah jam yang lalu disiapkan oleh maminya untuk pergi.


"Tunggu sedikit lagi, sayang. Papi pasti sudah dalam perjalanan pulang."


"Ayo telepon papi."


Mahira pun dengan terpaksa menghubungi Edmond. Namun kedua nomor Edmond tak aktif.


"Sayang, ponsel papi nggak bisa dihubungi. Bagaimana kalau mami yang antar Wina ke pasar malam?"


"Nggak mau, Wina maunya papi."


"Papi mungkin masih banyak pekerjaan, nak."


"Pokoknya Wina mau papi!"


Mahira langsung memeluk putrinya. "Baiklah. Tunggu sedikit lagi."


"Papi sudah janji, ma. Pasti papi akan datang. Selama ini papi kan nggak pernah bohong ke Wina."


Papi mu selalu bohong ke mami, sayang. Ucap Mahira dalam hati.


Jam setengah sembilan malam, Edewina sudah tertidur so sofa ruang tamu. Namun Edmond tak juga datang dan belum menelepon. Mahira menghubungi Lerry.


"Edmond sudah pulang sejak pukul setengah enam sore. Katanya ia janji akan membawa Wina ke pasar malam. Seharusnya ia tiba pukul setengah delapan kan?" Tanya Lerry dari seberang.


"Dia belum ada, Lerry. Aku hubungi ponselnya namun tak aktif."


"Tadi Edmond bilang kalau ponselnya hampir kehilangan daya. Ia lupa membawa charger karena buru-buru dari sekolahnya Wina."


Mahira mengahiri percakapannya dengan Lerry. Entah di mana Edmond berada. Apakah ia bersama Monalisa?


Terdengar suara klakson mobil dari luar. Lita langsung berlari ke luar untuk membukakan pagar.


Mahira mengintip dari balik jendela kaca. Namun bukan mobil Edmond yang masuk melainkan sebuah mobil polisi.


Mata Mahira langsung terbelalak melihat Edmond turun dari mobil itu dengan keadaan terluka. Ia segera membuka pintu.


"Selamat malam. Nyonya Moreno?"'tanya polisi itu.


"Iya."


"Kami mengantar tuan Moreno. Beliau mengalami kecelakaan tadi. Dokter sebenarnya hendak menahannya untuk rawat nginap di rumah sakit namun tuan Moreno memaksa untuk pulang."


Mahira terkejut melihat keadaan Edmond. Ada beberapa memar di wajahnya. Bibirnya juga luka. Di pelipisnya ada perban. Tangannya juga terlihat memar.


"Ed ....!" Mahira hampir saja menangis.


"Aku merasa baik. Makanya aku minta pulang." Kata Edmond berusaha untuk tersenyum.


Mahira mengucapkan terima kasih kepada polisi yang mengantar Edmond. Ia kemudian menuntun Edmond untuk masuk ke dalam rumah.


"Kasihan, Wina. Pasti dia sudah menunggu aku dengan rasa kecewa." ujar Edmond saat melihat Wina yang tertidur di atas sofa.


"Duduklah. Atau kamu mau langsung ke kamar?" tanya Mahira.


"Aku di sini dulu. Mungkin sedikit lagi pusingnya akan hilang dan aku bisa membawa Wina ke pasar malam."


"Ini sudah hampir jam 9, Ed. Pasar malam tutupnya jam 10. Lagi pula kamu sakit."


Juminten yang diberitahukan oleh Lita, langsung datang ke ruang tamu."Duh Gusti, tuan. Kenapa sampai begini?" Juminten hampir menangis.


"Bibi, tolong bawa Wina ke kamarnya. Pelan-pelan agar dia tak bangun. Aku akan membawa Ed ke kamar untuk ganti pakaian." Mahira membantu Edmond untuk bangun. Edmond melingkarkan tangannya di pundak Mahira lalu keduanya melangkah bersama menuju ke kamar.


Begitu tiba di kamar, Mahira segera menyiapkan air hangat di sebuah loyang kecil. Ia juga membawa handuk kecil. Setelah itu membuka kemeja Edmond secara perlahan.

__ADS_1


"Celananya juga harus dilepas, Ed. Ini kotor dan sudah sobek."


Edmond yang sedang duduk di tepi ranjang membuka sabuknya.


"Biar aku saja." Ujar Mahira saat dilihatnya Edmond nampak kesulitan membuka sabuknya.


Saat Mahira membuka kancing celana Edmond, ia merasa sangat kaku karena sudah lama mereka tak pernah sedekat ini. Sudah sebulan lebih mereka tak pernah berhubungan intim. Tangan Mahira sedikit gemetar saat menurunkan resleting celana Edmond lalu ia menarik celana itu turun setelah Edmond mengangkat pinggulnya sedikit.


Keduanya terlihat sangat kaku. Edmond yang hanya menggunakan ****** ******** juga terlihat agak kikuk.


"Aku bersihkan dulu tubuhmu karena masih ada darah kering di beberapa tempat." ujar Mahira lalu mulai mengambil handuk basah itu dan membasuhnya ke tubuh Edmond.


Setelah dirasa bersih, Mahira pun mengambil pakaian Edmond dan memakaikannya pada pria itu.


"Terima kasih." ujar Edmond lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Ada apa?" tanda Mahira saat melihat Edmond meringis sambil memegang perutnya.


"Aku lapar."


"Kamu belum makan? Sebentar aku ambilkan makanan tapi sebaiknya kamu makan sesuatu yang lembut karena bibirmu juga luka. Aku buatkan bubur saja?"


"Jika tak merepotkan mu."


Mahira segera ke dapur dan membuatkan bubur untuk Edmond. Lita membantunya untuk mengaduk bubur sementara Mahira memperhatikan obat yang dibawa oleh Edmond tadi.


Juminten keluar dari kamar Edewina.


"Bagaimana Wina, bi?" tanya Mahira.


"Dia tidur dengan nyenyak. Namun aku sudah tak mengganti pakaiannya, soalnya takut nanti Wina terbangun."


Mahira hanya mengangguk. "Edmond lapar. Karena bibi nya terluka, makanya aku membuat bubur saja. Sudah matang?" tanda Mahira pada Lita.


"Sudah nyonya."


Mahira memasukan bubur itu di dalam piring lalu mengupas telur yang sudah direbusnya. Selanjutnya ia membuatkan teh manis hangat lalu membawanya ke kamar.


Perlahan, Mahira menyuapi Edmond. Keduanya diam tanpa suara. Pikiran Mahira berkecamuk dengan rasa bersalah. Mungkinkah Edmond kelelahan sehingga akhirnya kecelakaan? Edmond selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Wina. Apakah karena ia berpikir bahwa ia tak bisa memiliki anak berdasarkan hasil pemeriksaan dokter? Makanya ia mencurahkan seluruh Kasih sayangnya pada Wina? Apakah hanya karena anak ini maka Edmond menikahi ku?


Setelah Edmond selesai makan, pria itu pun langsung membaringkan tubuhnya karena ia merasa lelah dan mengantuk. Mungkin juga karena pengaruh obat, Edmond akhirnya terlelap.


***********


Di ruangan sebuah rumah sakit, Sofia baru saja membantu Monalisa dari kamar mandi. Wajah wanita itu pun memar dan tangannya di perban.


"Kamu istirahat saja, Ica."


Monalisa mengangguk. "Kamu sudah melihat bagaimana keadaan Edmond?"


"Edmond sudah pulang ke rumah."


"Apa? Lukanya juga banyak kan?"


"Dokter sudah menahannya namun Edmond memaksakan diri untuk pulang."


Monalisa mendengus kesal. "pasti dia tak tahan jika sehari saja tak melihat perempuan itu. Ah, Sofia, kapan Edmond akan meninggalkan perempuan itu?"


"Sabar, Ica."


"Aku sakit. Seharusnya dia ada di sini bersamaku. Bukan pulang ke rumah dan berada dalam pelukan perempuan itu."


"Edmond hanya menyayangi Edewina. Ia tak menyayangi Mahira."


Monalisa menyandarkan punggungnya. Ia meringis menahan sakit di pinggangnya. "Aku akan menghancurkan Mahira. Teddy sepertinya terlalu lemah untuk bisa merebut Mahira kembali. Aku yang harus bertindak untuk menghancurkan Mahira."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Membunuh Mahira. Seperti aku membunuh yang lain."


***********


Selamat pagi...


semangat terus yang masih puasa

__ADS_1


jangan lupa dukung emak terus ya?


__ADS_2