
Edmond baru saja mengabari kalau ia sudah tiba di Jakarta. Ia bahkan meminta Mahira untuk Videocall dengan baby Wina sampai ia tiba di hotel dan masuk ke kamar. Dengan cara itu, Mahira tahu kalau Edmond ada di hotel mana.
"Apakah kegiatannya akan dilaksanakan di hotel itu?" tanya Mahira.
"Iya, sayang. Besok jam 9, kami para produsen minyak goreng akan bertemu. Membahas beberapa hal menyangkut produksi minyak goreng. Pertemuannya akan dilaksanakan selama 2 hari. Setelah itu kami akan bertemu dengan beberapa pengusaha dari luar negeri yang akan menjalin kerja sama dengan kami. Sebenarnya ini tugasnya Lerry namun Lerry sedang mengurus perusahaan orang tuanya dulu yang sedang ada masalah di Australia."
"Oh, gitu ya? Sudah makan?"
Edmond mengangguk. "Di bandara tadi aku makan."
"Ya sudah. Tidur saja. Ini kan sudah hampir jam 11 malam."
"Nggak tahu apakah bisa tidur nyenyak atau tidak. Ini kali pertama semenjak Edewina lahir dan aku harus jauh darinya. Aku pasti akan sangat merindukan anak kita."
"Memangnya denganku nggak akan rindu? Atau karena di sana ada yang manis-manis? " tanya Mahira.
"Pasti rindu dong. kalau saja saat ini kamu ada di dekat aku, pasti sudah kucium dan langsung menarik gaun tidurmu itu."
Mahira tertawa. "Memangnya service semalam nggak cukup?"
Edmond menatapnya dengan tatapan menggoda. "Mana pernah cukup jika bersamamu? Aku ingin lebih dan lebih lagi. Namun aku suka dengan gayamu semalam. Aku suka jika kamu yang berinisiatif menggodaku. Kamu yang menguasai permainan. Duh, rasa ingin terbang lagi ke Samarinda saat ini."
Mahira kembali tertawa. "Sudah ya, Ed? Nanti kamu jadi benar-benar ingin. Nih, Wina sudah terlelap sambil memegang kaos bekas mu semalam. Tadi sih ia sempat rewel mencari papinya."
"Ok, deh. Mimpi yang indah ya sayang? Mimpikan aku juga. I love you. Bye...." pamit Edmond lalu segera mengahiri panggilan Videocall nya yang berlangsung selama hampir 2 jam.
Mahira pun meletakan kembali ponselnya. Ia menatap putrinya yang kini tertidur di tempat tidurnya. Haruskah aku pergi? Bagaimana caranya?
Mahira membuka dompetnya. Ia memiliki 2 kartu ATM yang keduanya memiliki saldo yang banyak karena setiap bulan Edmond selalu mentransfer uang di kedua rekeningnya itu. Ia juga memiliki satu kartu. Black card yang baru diberikan oleh Edmond sebulan yang lalu. Mahira belum pernah menggunakan kartu unlimited itu. Semenjak memiliki anak, Mahira memang jarang belanja.
Aku harus ke sana. Untuk membuktikan bahwa Monalisa tak lagi menjadi penganggu dalam pernikahan kami.
************
Mahira turun dari taxi bandara yang telah membawa dirinya dan baby Wina dari bandara ke hotel bintang tujuh ini.
Ada rasa syukur dalam hati Mahira karena selama perjalanan dari Samarinda ke Jakarta, anaknya itu tidur tanpa sedikitpun rewel.
Dari bandara, Mahira sudah menghubungi ponsel Edmond. Namun ponsel Edmond sedang tak aktif. Begitulah Edmond jika bekerja. Ia selalu lupa waktu untuk menelepon Mahira. Pada hal sekarang sudah jam 8 malam.
Dengan jantung yang berdebar, Mahira segera masuk ke dalam hotel. Ia tak perlu bertanya pada resepsionis karena ia tahu nomor kamar Edmond saat mereka Videocall 2 hari yang lalu.
Baby Wina masih terlelap dalam alat gendongan bayinya. Jadi Mahira pun dengan santai menarik koper kecilnya menuju ke lift untuk menuju ke lantai 5 tempat kamar Edmond berada.
Saat keluar dari lift, Mahira langsung menuju ke kamar 5002, sebagaimana yang ia lihat saat Videocall dengan Edmond.
Ia pun berhenti di depan kamar itu dan membunyikan bel nya. Namun pintu tak juga dibuka. Mahira mengambil ponselnya lalu kembali menelepon Edmond. Kali ini panggilannya tersambung namun Edmond belum juga mengangkatnya. Mahira kembali menghubunginya dan akhirnya Edmond menjawabnya.
__ADS_1
"Sayang, maaf ya, aku baru selesai mandi. Ada apa?" tanya Edmond.
"Kamu di dalam kamar?"
"Iya."
"Nggak dengar bunyi bel pintu?"
"Bel pintu? Maksudnya apa?"
Mahira memencet bel pintu lagi.
"Bel pintu maksudnya apa?" Edmond terdengar masih bingung.
Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan bule yang cantik dan tinggi keluar. Ia hanya menggunakan jubah handuk dan kepalanya juga dibungkus dengan handuk putih. Sepertinya perempuan itu baru selesai mandi.
Mahira terkejut. Ia menatap perempuan itu dengan jantung yang berdetak sangat cepat.
"Eh, aku.....!"
"Sayang......!"
Mahira menoleh ke samping. Nampak Edmond berdiri di depan kamar 5012. Kamar yang hampir berhadapan dengan kamar tempat Mahira berdiri sekarang. Mahira menjadi bingung. Ia menatap Edmond dan perempuan itu secara bergantian. Edmond hanya menggunakan handuk putih yang melilit pinggangnya.
"Maaf." Mahira akhirnya bisa bicara. Ia segera membalikan badannya dan berjalan ke arah Edmond yang juga sedang melangkah ke arah mereka.
"Ayo masuk!" Ujar Edmond. Ia masih sempat menoleh ke arah kamar nomor 5002. Perempuan itu masih berdiri dan memandang Edmond dengan tatapan dingin.
Saat Mahira dan Edmond sudah ada dalam kamar, Edmond langsung menutup pintu.
"Kenapa datang dan tidak memberitahu aku? Aku kan bisa menjemput kalian di bandara." kata Edmond lalu membantu Mahira melepaskan alat gendong bayi. Edmond sendiri langsung membawa Edewina dalam pelukannya. "Oh, anak papi. Apakah kamu tak rewel di jalan?"
"Dia tidur terus." Mahira menggerakan badannya, karena otot punggungnya terasa kaku menggendong Edewina. "Aku mau buat makanan Edewina dulu." Mahira segera menyalahkan mesin pemanas air dan mengeluarkan makanan Edewina dari dalam koper.
Edewina sudah bangun dan ia langsung tersenyum melihat Edmond. Tangannya memegangi wajah papinya dan ia tertawa.
"Kangen papi ya? Senang ya ketemu dengan papi?" Edmond mulai bercanda dengan putrinya. Ia melepaskan Edewina di atas tempat tidur.
Mahira menyiapkan makanan anaknya tanpa bicara. Ia ingin bertanya tentang kamar Edmond yang pindah. Pada hal 2 hari yang lalu ia sangat jelas melihat ketika mereka Videocall, Edmond masuk di kamar 5002.
Siapa perempuan itu? Apakah itu Monalisa? Mengapa ia berada di kamar yang seharusnya kamar Edmond?
"Sayang, ada apa?" Edmond memeluk Mahira dari belakang. Ia baru saja mengenakan kaos dan celana rumahan berbahan kain.
Mahira yang sementara mengaduk makanan baby Wina, membalikan badannya. Ia menatap Edmond. "Saat kamu Videocall dengan aku ketika tiba di Jakarta, aku melihatmu masuk ke kamar 5002 dan bukan 5012."
"Benar. Aku baru pindah ke kamar ini kemarin." jawab Edmond sambil menyingkirkan anak-anak rambut Mahira yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa pindah?"
"Karena Monalisa tak mau kamar yang menghadap gedung. Ia ingin kamar yang menghadap ke laut."
"Oh, jadi perempuan itu Monalisa? Hebat ya, kalian bisa mandi disaat yang bersamaan? Dan lebih hebatnya lagi, kamu mau mengalah, pindah kamar agar mantan pacarmu itu merasa nyaman. Seharusnya aku memang tidak datang." Mahira tak dapat menahan rasa cemburu dalam hatinya. Ia mendorong tubuh Edmond dengan sedikit kasar, mengambil tempat makanan baby Wina lalu mendekati ranjang. Anaknya itu sudah menangis karena ia memang sudah lapar.
Edmond mendekati Mahira yang duduk di tepi ranjang. Baby Wina sudah duduk sambil disandarkan pada bantal.
"Sayang.....!" Edmond memegang bahu Mahira. Namun Mahira menepiskan tangan Edmond. "Jangan ganggu aku. Wina sudah sangat lapar."
Edmond mengalah. Ia duduk di sofa sambil menunggu Mahira selesaikan memberikan Wina makan.
Ketika Wina selesai makan, Mahira segera membuka pakaiannya, meninggalkan kaos dalam dan popoknya saja. "Tolong jaga Wina, aku mau menyiapkan air mandinya."
"Apakah tidak sebaiknya besok saja?"
"Aku tak mau anakku tidur dengan badan yang kotor." Mahira melangkah ke kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air yang hangat. Setelah itu ia membuka koper dan mengeluarkan sepasang piyama untuk Wina lalu ia segera membawa anaknya ke kamar mandi.
Edmond berdiri di depan pintu kamar mandi sambil sesekali memanggil nama Wina. Gadis itu memang sangat suka mandi.
"Kamu sudah makan?" tanya Edmond setelah Mahira selesai memakaikan pakaian untuk Wina.
"Aku tak lapar." jawab Mahira dengan sikap yang dingin. Hati Mahira sangat sakit. Ia merasa kalau Monalisa masih memiliki arti yang sangat penting di hati Edmond.
"Sayang, kamu harus makan." Edmond mengambil daftar makanan yang ada di restoran milik hotel. Ia memilih beberapa jenis makanan yang ia tahu Mahira pasti akan menyukainya. Ia kemudian menelepon pihak restoran melalui layanan telepon yang tersedia di kamar.
"Aku mau mandi." Mahira menyerahkan Edewina ke pelukan Edmond. Ia kemudian mengambil pakaian dari dalam koper dan segera ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Mahira tak dapat menahan air matanya. Ia memang tak akan pernah mau menunjukan air matanya di depan laki-laki. Dengan Teddy saja, Mahira hanya menangis ketika ia dan Teddy selesai berhubungan intim pertama kali. Selebihnya, sekalipun ia sering bertengkar dengan Teddy karena Teddy begitu ingin mengajak Mahira ke Singapura dan Mahira tak bisa karena ia tak mau meninggalkan omanya sendiri.
Kini hati Mahira sudah ia buka untuk Edmond. Ia bahkan merasa bahwa ia sungguh-sungguh telah jatuh cinta pada Edmond. Ketulusan Edmond apakah selama ini palsu?
"Sayang, kenapa mandinya lama sekali? Wina sudah menangis meminta susu." Edmond mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya." Mahira mempercepat mandinya. Setelah gadis pakaian, ia keluar dari kamar mandi. Ia sengaja tak memakai gaun tidur. Mahira menggunakan kaos rumahan dan celana jeans selutut. Ia tak mau kesannya menggoda Edmond dengan gaun tidur yang tipis itu.
Mahira segera membuat susu untuk baby Wina, selanjutnya Edmond yang memberikan anaknya itu susu.
Mahira mengambil ponselnya. Ia menelepon seseorang. "Selamat malam, Chris. Tolong siapkan penerbangan untukku kembali ke Samarinda. Kalau boleh jam 10 pagi supaya aku tak terlalu terburu-buru. Ok. Makasi ya. Kalau sudah selesai, aku akan transfer. Bye."
Edmond menatap Mahira. "Kamu akan pulang besok?"
"Ya. Agar aku tak menganggu kebersamaan mu dengan Monalisa." kata Mahira pelan namun sangat membuat Edmond emosi. Wajah Edmond terlihat merah. Siapa pria bernama Chris? Ia berusaha tak mengeluarkan suara karena tak ingin menganggu Wina yang sedang menikmati susunya.
**********
Jeng....jeng....apakah perang akan dimulai?
__ADS_1
Tunggu jawabannya besok ya?