
Monalisa POV
"Ada apa, Ed?" tanya ku sambil bangun dan melihat Edmond yang sudah mengenakan pakaiannya kembali. Satu jam yang lalu aku tertidur setelah lelah saling memuaskan raga selama beberapa jam.
"Aku harus pergi."
"Kakakmu lagi?" tanya ku sedikit kesal karena dalam sehari ini sudah 6 kali Edewina menghubunginya. Pada hal baru semalam aku tiba dari Amerika karena rindu dengan Edmond yang sudah 3 hari berada di sini. Seharusnya kami masih bermesraan karena disaat Edmond pergi, aku sementara datang bulan sehingga boleh dikata sudah satu minggu lebih kami tak bercinta.
"Iya. Edewina menelepon. Katanya anak dari kekasihnya datang ke apartemennya dan membuat kekacauan di sana. Kakakku sangat tertekan. Aku mungkin tak akan pulang dan menginap di apartemennya."
"Aku ikut, Ed." Bergegas aku turun dari tempat tidur dan memakai gaun tidur ku. Lalu aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diriku sebentar.
20 menit kemudian, aku dan Ed sudah berada di apartemen kakaknya yang letaknya memang tak jauh dari hotel tempat kami menginap.
Edewina langsung memeluk Ed sambil menangis sekeras-kerasnya. "Aku malu, Ed. Teddy ke sini dan menghinaku habis-habisan."
Edmond terlihat sangat menyayangi kakaknya. Apalagi beberapa bukan yang lalu, kakaknya itu sempat keguguran. Aku juga tak mengerti mengapa Edewina yang cantik, boleh tergoda dengan suami orang.
"Tenang, kak."
"Teddy meneriaki ku sebagai pelakor. Itu karena proses perceraian orang tuanya sudah putus di pengadilan. Teddy bahkan mendorong aku dengan sangat keras dan bersumpah akan menghancurkan aku dengan mengirim foto-foto mesra bersama papanya. Aku takut, Ed."
"Kak sebaiknya kakak tinggalkan dulu Singapura. Jika situasinya sudah aman, minta Terdi untuk menyusul kakak. Aku dan Monalisa bersama Lerry sudah membeli sebuah perusahaan di Kalimantan. Tinggallah bersama kami." ujar Edmond membuat aku sock mendengarnya. Edewina mau tinggal bersama kami? Bukankah itu sangat merepotkan?
"Kau mau membawa aku ke Indonesia?"
"Ya." Edmond mengusap punggung kakaknya. "Biar semuanya beres baru kita bicara dengan mommy. Namun sebelumnya, aku ingin bicara dengan Terdy."
Edewina mengangguk. Aku semakin kesal dengan Edmond. Tak seharusnya ia lebih memperhatikan kakaknya itu. Aku ke sini karena ingin bersenang-senang dengan Edmond bukannya mengurus masalah kakaknya.
1 jam kemudian, kami bertemu dengan lelaki yang menjadi kekasih Edewina. Usianya memang sudah tak mudah lagi. Mungkin akhir 40an. Namun wajahnya tampan dan terlihat masih segar dengan badan yang atletis. Ia terlihat begitu menyayangi Edewina.
__ADS_1
"Nak Edmond, aku sangat mencintai kakakmu. Dia bukan penyebab aku dan istriku berpisah. Hubungan ku dengan mamanya Teddy sebenarnya sudah lama tak harmonis. Mungkin karena kami menikah masih sangat muda. Aku sangat sedih karena Edewina keguguran beberapa bulan yang lalu. Pengacaraku di Manado sementara mengurus perceraian kami. Aku juga mohon maaf karena anakku Teddy sempat menghina dan mengancam Edewina."
Aku kesal melihat Edewina begitu dicintai oleh pria itu. Rasanya tidak menyenangkan. Mereka terlihat saling menyayangi. sangat berbeda dengan sikap Edmond padaku yang hanya hangat jika kami berada di atas ranjang.
Jika Edewina benar-benar akan ikut aku dan Edmond, bukankah itu akan menyita waktu Edmond bersamaku?
Dan tanpa disangka-sangka, Teddy menelpon Edmond sore itu. Ia mengatakan bahwa Edmond dan kakaknya adalah orang-prang jahat karena telah membuat mamanya menderita. Ia mengancam akan membeberkan hubungan Edewina dan papanya jika kedua orang tuanya benar-benar bercerai.
Aku pun menyusun strategi. Ku telepon jaringan mafia kakakku yang ada di Singapura. Kini saatnya untuk menyingkirkan kecoa dalam hubunganku dengan Edmond.
"Buat seperti dia bunuh diri."
Besok pagi, saat Edmond dan aku akan menemui Edewina dan mengajaknya ikut dengan kami ke Kalimantan, Edmond terkejut saat melihat Edwina sudah gantung diri di kamar apartemennya. Sungguh pagi yang menghebohkan. Aku pun ikutan menjerit histeris melihat Edmond yang nampak sangat terpukul melihat kakaknya yang gantung diri. Pria yang berjanji akan menikahinya pun nampak sangat terpukul. Apalagi saat tahu kalau Edewina sedang hamil 6 minggu saat ia diotopsi.
Karena tak ada jejak apapun yang ditemui maka kematian Edewina dinyatakan murni bunuh diri.
Keluarga Moreno sangat terpukul. Makanya jenasah Edewina dikremasi dan abunya di bawa ke Spanyol. Aku senang karena menjadi satu-satunya orang yang dapat menghibur Edmond. Kematian Edewina membuat Edmond menjadi semakin lengket padaku. Ia bahkan mengatakan rasa terima kasihnya padaku karena selalu ada menghiburnya.
Kini, disaat hubunganku dengan Edmond semakin baik, Edmond justru tak sengaja menghamili perempuan itu. Janji Edmond tinggal janji. Dan tak akan ku biarkan mereka bahagia dibalik penderitaanku.
Setelah anak buahku mengabarkan bahwa Edmond dan Mahira keluar bersama dan nampak mesra di mall, hatiku menjadi panas. Aku pun berencana untuk mengacaukan hubungan mereka dengan mengatakan kebenaran bahwa kedai kopi itu adalah favorit kami. Namun Mahira justru mampu mengeluarkan kata-kata yang membuat aku Marah dan langsung pergi. Edmond bahkan tak mengatakan apapun padaku.
Saat aku kembali ke mobil, ku keluarkan pistolku. Aku ingin menyelesaikan urusan Edmond dengan perempuan itu. Segera kusembunyikan mobilku di tempat yang aman sehingga tak ada CCTV yang dapat menangkap gambarku sambil menunggu mereka keluar.
***********
Edmond dapat merasakan ada sesuatu yang lain saat ia dan Mahira keluar dari kedai kopi itu. Pengalaman nya menjadi bagian dari keluarga mafia membuat instingnya semakin kuat untuk merasakan ada sesuatu yang tak beres.
Mata Edmond dengan awas langsung melihat bagian-bagian tersembunyi di kawasan kedai kopi itu. Dan benar saja. Ia melihat Monalisa secara sembunyi sedang membidik pistolnya ke arah Mahira sehingga Edmond dengan cepat mendorong tubuh Mahira sehingga istrinya itu rebah di atas aspal dan tubuh Edmond ada di atasnya dengan sikap melindungi.
Teriakan panik orang-orang menimbulkan kekacauan di sana.
__ADS_1
"Sayang, kamu tak apa-apa? Maaf ya aku mendorong kamu. Aku melihat ada gerakan yang mencurigakan di pagar bunga itu."
Mahira tak menjawab namun tubuhnya gemetar. Ia dapat merasakan kalau ada peluru yang melewati wajahnya sesaat setelah Edmond mendorongnya.
"Sayang......!"
Mahira langsung bangun dan memeluk Edmond. "Aku takut, Ed!"
"Tenang sayang. Tidak ada yang terjadi."
"Aku merasakan ada peluru yang melewati wajahku, Ed. Jika kamu tak mendorongku, pasti peluru itu sudah mengenai aku." Mahira masih memeluk Edmond dengan tubuh yang gemetar. Edmond segera membawa Mahira ke dalam mobil.
Brengsek kau Monalisa. Kau mau main-main denganku? Umpat Edmond dalam hati. Ia tahu kalau ini adalah perbuatan Monalisa.
"Ayo kita pulang, Ed!" panggil Mahira karena Edmond masih berdiri di luar mobil.Edmond pun masuk.
Setelah sampai di rumah, Mahira langsung masuk ke kamar. Ia butuh mandi untuk menyegarkan lagi pikirannya. Kesempatan itu dipakai Edmond untuk menelepon Monalisa.
"Apa mau mu, Ica?"
Monalisa tertawa. "Tinggalkan istri dan anakmu. Ingat, kau berjanji padaku kalau akan meninggalkan Mahira setelah ia selesai melahirkan."
"Mamaku sakit. Jadi aku belum bisa menceraikan Mahira. Mama sangat sayang pada Mahira."
"Aku tak sabar menunggunya, Ed. Kau bukan hanya mengabaikan aku tapi juga semakin menjauh dariku.Aku tunggu kamu besok datang di aparteme ku. Kalau tidak, aku akan selalu meneror Mahira." Monalisa mengahiri percakapan mereka. Edmond mengusap wajahnya kasar. Ia jadi kesal namun belum bisa mengambil tindakan besar karena Mahira dan Edewina. Monalisa orangnya sangat nekat dan Edmond takut sesuatu terjadi pada istri dan anaknya.
*********
Selamat malam....
selamat Idul Fitri
__ADS_1
dukung emak terus ya