RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Memaafkan


__ADS_3

Tawa Edewina sudah tak terdengar lagi. Itu sebagai tanda gadis kecil itu sudah terlelap setelah bermain dengan papinya.


Sudah 2 hari mereka pindah ke rumah orang tua Edmond. Edewina begitu bahagia karena sekarang ia punya kamar sendiri. Lita juga sudah ada di rumah ini untuk menemani Edewina. Sedangkan bibi Juminten akan datang minggu depan karena ia masih harus membereskan beberapa barang yang ada di rumah Samarinda.


"Sayang.....!"'Edmond mendekat dan memeluk Mahira yang sementara membuat susu hamilnya di dapur.


"Ada apa, Ed?"'


Edmond memeluknya dari belakang. "Nggak. Hanya ingin manja-manja saja." jawab Edmond sambil mengecup puncak kepala Mahira. Tangannya sudah membelai perut Mahira.


"Nanti di lihat Lita."


"Lita pasti sudah tidur. Dia kan baru saja sampai tadi sore." Edmond membalikan tubuh Mahira. "Aku bahagia akhirnya kita tinggal di sini."


"Aku juga bahagia, sayang. Kamu nggak makan lagi?" Mahira bertanya sambil berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana sambil sesekali menyesap susu hamilnya.


"Aku kenyang. Tadi saat menyuapi Edewina, ikut makan juga." Edmond duduk di samping istrinya. "Dokter bilang apa?"


"Bisa saja melakukan perjalanan asalkan aku beristirahat selama di pesawat."


"Syukurlah. Aku sudah tak sabar ingin menunjukan pada mommy kalau kita sudah baikan. Apalagi saat mommy tahu kalau Edewina sudah sembuh."


"Ed, haruskah kita menyembunyikan identitas Wina yang sebenarnya?"


Edmond membelai wajah Mahira. "Wina adalah anakku. Darah daging ku. Aku memiliki darah yang sama dengannya walaupun sumbernya adalah Teddy. Jangan pernah membahas ini lagi, sayang."


'Bagaimana jika Teddy kembali dan mengatakan pada Wina saat ia dewasa nanti?"


Edmond tersenyum. Ia meraih kedua tangan istrinya lalu menciumnnya secara bergantian dengan sangat lembut. "Seandainya Teddy mengatakan kebenaran itu suatu saat nanti pada Wina, mungkin awalnya ia akan sedih sedikit. Namun ia akan tetap meyayangi ku sebagai papinya. Aku sangat yakin."


Mahira mengangguk. Ia pun setuju dengan Edmond.


"Habiskan susumu. Setelah itu kita ke kamar." kata Edmond sambil mengecup pipi Mahira.


"Sudah mengantuk?"


Edmond menatapnya dengan penuh cinta. "Sejak aku pulang dari Samarinda, rasanya kita belum pernah berhubungan intim lagi. Papinya kangen menjenguk baby-nya."


Wajah Mahira menjadi merah. Ia tahu apa maksud perkataan suaminya itu. "Satu ronde saja ya?"


Edmond menggeleng. Ia langsung mengangkat tubuh Mahira ala bridal style saat istrinya itu menghabiskan susunya. "Aku nggak janji jika hanya satu." bisiknya dengan gaya sensual sambil melangkah menuju ke kamar mereka.


***********


Persiapan pernikahan Eduardo Moreno terlihat hampir rampung. 2 hari lagi pria tampan itu akan menikahi gadis pujaan nya. Seorang guru SD yang membuat Eduardo tergila-gila.


Pesta pernikahan itu, seperti keinginan Eduardo dan kekasihnya akan dilaksanakan secara sederhana di halaman belakang rumah mereka. Para tamu undangan hanyalah keluarga dan teman-teman dekat mereka.


"Ed, sudah kau minum vitaminnya?" tanya Rahel saat melihat anaknya itu menuruni tangga.


"Sudah, mom. Apakah kak Edmond akan datang?"


Rahel terlihat sedih. Sejujurnya ia sangat rindu dengan anaknya itu. Namun mengingat semua yang sudah terjadi apalagi sampai Edewina melupakannya, Rahel membunuh semua rasa rindunya itu.


"Mommy nggak perduli ia akan datang atau tidak." Rahel menahan sakit di hatinya saat mengucapkan kalimat itu.


"Oma.....!"


Rahel terkejut. Ia membalikan badannya. "Edewina....?"


Edewina yang berdiri di depan pintu segera berlari dan memeluk Rahel. "Wina kangen sama Oma."


Air mata Rahel mengalir. Ia berjongkok sambil menangkup kedua pipi cucunya itu. "Wina sudah ingat sama Oma?"

__ADS_1


"Wina ingat semuanya. Oma, opa, uncle Eduardo l, aunty Edina. Semuanya."


Rahel tersenyum bahagia. Ia mencium pipi Edewina dengan gemas. Lalu kembali memeluk cucunya itu dengan hati yang melimpah dengan kebahagiaan.


Eduardo menatap Edmond dan Mahira. Ia pun bahagia karena kakaknya itu akhirnya datang ke pernikahannya. Mata Eduardo membulat saat melihat perut Mahira yang sudah kentara.


"Again?" tanyanya sambil membuat gerakan wanita hamil.


Edmond mengangguk senang.


Rahel berdiri lalu menatap anak dan menantunya. Ia pun terkejut saat melihat Mahira yang sudah berbadan dua. Ia mendekati menantunya dan memeluknya erat.


"Edewina akan punya adik?" tanya Rahel.


Mahira melepaskan pelukannya. "Iya, mom. Anak ini hadir dan mempersatukan lagi aku dan Ed. Aku memaafkan semua rahasia yang Edmond simpan di masa lalunya. Aku yakin Edmond sudah berubah dan akan menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anak kami nanti."


Hati Rahel menjadi haru. Ia menatap Edmond yang juga sedang menatapnya dengan tatapan kerinduan. Rahel merentangkan tangannya. "Ke sini anak bandel!"


Edmond langsung memeluk mamanya. Matanya bahkan berkaca-kaca karena ia begitu bahagia mamanya sudah memaafkan dia.


Edewina pun tersenyum. "Oma, mana opa?"


Rahel menghapus air matanya. Ia menatap cucunya. "Opa ada di kamar. Ayo kita buat kejutan untuk opa." Rahel menggenggam tangan Edewina dan mereka pun menaiki tangga bersama.


Edmond dan Mahira saling berpandangan. Mereka pun bahagia karena semuanya baik-baik saja. Edmond memeluk adiknya.


"Terima kasih karena kau mau datang, kak." ujar Eduardo dengan rasa bahagia.


"Mana mungkin aku tak hadir di pesta pernikahanmu?"


Mahira menarik napas lega. Ia bahagia karena memilih kembali bersama Edmond dan ikut merasakan kebahagiaan hari ini.


*************


"Sayang, bagaimana menurutmu kamar bayinya?" tanya Edmond. Ia baru saja selesai mandi setelah mengatur kamar bayi mereka bersama Edewina.


"Bagus. Aku suka. Tapi kenapa warna biru semuanya? Kita kan belum tahu jenis kelaminnya apa?"


Edmond mendekat lalu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya sambil menjaga jarak dengan perut Mahira yang semakin membesar itu. "Semuanya Edewina yang tentukan. Dia yang memilih box bayinya. Dia yang menentukan wallpaper nya. Dia juga yang memilih lemarinya. Aku hanya ikut dia saja sayang."


"Kalau adiknya perempuan bagaimana?"


"Warna biru kan nggak identik dengan cowok sayang. Aku baru tahu kalau Edewina ternyata menyukai warna biru dan putih. Pada hal dia anak cewek."


Mahira terdiam seketika. Warna biru dan putih adalah warna kesukaan Teddy.


"Ada apa sayang?" tanya Edmond melihat istrinya melamun.


"Nggak ada apa-apa." Mahira tersenyum.


"Warna biru juga kesukaanku. Aku bersyukur karena Wina mengikuti seleraku." ujar Edmond lalu membelai perut istrinya. "Nggak tahu juga anak ini nanti akan seperti apa. Namun aku ingin dia memiliki sifat mu yang lembut, baik hati. Namun tidak dengan sifat yang agak keras kepala."


Mahira tertawa. Ia mencium.bibir Edmond dengan sangat lembut. "Aku mencintaimu, Ed!"


Mata Edmond membulat saat mendengar itu. Kata yang sangat jarang Mahira ucapkan. "Aku juga sangat mencintaimu!" Edmond langsung mencium kembali bibir istrinya dengan penuh rasa cinta yang mendalam. Keduanya saling membalas ciuman itu yang akhirnya mulai membakar tubuh mereka.


"Sayang, ini masih sore." Mahira berusaha melepaskan diri dari Edmond namun suaminya itu tak mau melepaskannya.


"Kenapa memangnya kalau masih sore?"


"Nanti Edewina bangun."


"Edewina akan bangun menjelang magrib. Dia pasti kelelahan karena dari pagi sudah membantu papinya menyiapkan kamar adiknya." Edmond membuka kancing gaun hamil istrinya. "Supaya persalinannya lancar kata dokter harus sering dijenguk adiknya."

__ADS_1


Mahira hanya tertawa. Tak lama kemudian keduanya pun larut dalam kemesraan.


2 jam kemudian......


Mahira dan Edmond sama-sama keluar kamar sambil bergandengan tangan.


Namun saat mereka menuruni tangga, mereka terkejut melihat Edewina sedang berbincang dengan Teddy.


Saat melihat Mahira dan Edmond mendekat, Teddy langsung berdiri. "Selamat malam."


"Selamat malam." Edmond berusaha bersikap ramah walaupun sejujurnya ia tak suka melihat Teddy dekat dengan Edewina.


"Papi, Wina bilang ke papa Teddy kalau Wina sebentar lagi akan memiliki adik. Kamar bayinya sudah ada." kata Edewina dengan bangganya.


"Edewina sudah makan?" tanya Mahira.


"Belum."


"Edewina ke dapur dan minta makan sama bibi Juminten." ujar Mahira.


"Baiklah. Papa Teddy, Wina ke dapur dulu ya?" pamit Edewina.


"Baik, nak. Makan yang banyak ya?"


Edewina mengangguk dan segera ke dapur.


Mahira duduk di depan Teddy sedangkan Edmond di sampingnya.


"Teddy, aku harap jika kau ingin datang, beritahukan kepada kami dulu." ujar Mahira.


"Maaf. Aku begitu rindu dengan Wina dan sangat senang saat tahu kalau dia sudah sembuh." Teddy terlihat menyesal.


"Aku berharap kalau kamu tak akan pernah melanggar apa yang menjadi perjanjian kita." Kata Edmond mengingatkan Teddy.


"Tentu aku tak akan lupa. Aku tahu Edewina akan lebih bahagia bersamamu, Ed. Aku tak akan merampas hak mu sebagai ayah Wina. Hanya saja seperti yang pernah ku katakan bahwa sesekali, ijinkan aku menemui Wina." Kata Teddy.


"Tentu saja kau boleh menemui Wina namun harus seijin kami dulu." Edmond mengatakannya dengan tegas.


"Aku mengerti. Oh ya, aku ke sini untuk mengantarkan undangan pernikahanku. Minggu depan aku akan menikah dan pernikahannya akan dilaksanakan di sini." Teddy meletakan sebuah undangan berwana biru putih di atas meja.


"Wah, selamat Teddy. Semoga kau berbahagia dengan istrimu dan segera dikaruniakan anak-anak dalam hidup kalian." kata Mahira tulus.


"Terima kasih. Calon Istriku seorang dokter. Kami kenalan beberapa bulan yang lalu dan memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, kami akan pindah ke Singapura. Aku harap kalian bisa datang."


"Kata akan datang." kata Edmond dengan penuh keyakinan.


"Teddy, apakah istrimu tahu tentang Wina?" tanya Mahira terlihat cemas.


"Tidak. Dan aku tak akan pernah mengatakannya. Karena Edewina adalah keluarga Moreno dan bukan keluarga Kandow."


Teddy pun permisi pulang. Mahira dan Edmond saling berpandangan. Mereka hanya saling melempar senyum dan segera ke ruang makan.


************


Hallo semua....


selamat liburan ya....


Sebentar lagi kisah ini akan tamat


jangan lupa ngintip novel emak yang baru


JANDA MUDA DIKEJAR OM BULE

__ADS_1


__ADS_2