RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Akhirnya Tahu


__ADS_3

Mahira kembali ke ruangan Edmond dengan hati yang perih. Mungkinkah karena ia sudah jatuh cinta pada pria itu sehingga apa yang dikatakan Sofia tadi sangat menyakitkan hatinya.


"Sayang, ada apa?" tanya Edmond saat. melihat Mahira yang masuk dengan wajah yang berbeda.


"Tidak. Tiba-tiba saja kangen Oma. Hanya sekali aku pulang ke Manado yaitu saat Putri menikah. Itu berarti sudah hampir 2 tahun lebih aku tak pernah pulang. Karena tiap kali liburan, kita pasti ke Spanyol."


Edmond keluar dari balik meja kerjanya lalu mendekati Mahira yang sedang duduk di atas sofa. "Sayang, kamu ingin kita ke Manado?" tanya Edmond lalu duduk di samping Mahira.


"Iya."


"Kapan?"


"Kita pergi?"


"Iya."


"Tunggu sampai aku temukan siapa dalang dibalik penggelapan uang perusahaan. Walaupun mungkin uang satu miliard nggak berarti untuk kamu dan Lerry namun jika terus dibiarkan maka itu akan menjadi jumlah yang sangat banyak."


Edmond memegang tangan Mahira lalu menciumnya dengan lembut. "Baiklah. Aku akan menyiapkan waktuku untuk menemanimu ke Manado kapan saja kau merasa siap untuk pergi ke sana."


Mahira mengecup bibir Edmond. "Terima kasih, sayang." Dasar kau munafik, Ed. Kalau benar kau masih berhubungan dengan Monalisa maka kau adalah aktor terbaik.


"Apapun untukmu, sayang."


"Sekarang aku kerja dulu, ya?" Mahira langsung melepaskan diri dari pelukan Edmond. Entah mengapa membayangkan Edmond memeluk Monalisa, Mahira menjadi jijik jika harus berdekatan dengan suaminya ini.


Edmond pun beranjak dari tempat duduknya dan membiarkan Mahira sendiri di depan laptopnya yang sudah terbuka.


*************


3 hari kemudian...


Lerry dan Edmond terkejut saat membaca laporan Mahira.


"Sofia?" ujar Lerry tak percaya.


"Iya. 350 juta masuk ke rekening Sofia dan 350 juta ke rekening Monalisa dan sisanya dibagi ke kepala divisi keuangan dan beberapa kaki tangannya termasuk juga Angel. Ia menerima dana itu walaupun hanya sedikit."


"Dari mana kau tahu? Bukankah rekening Sofia selalu berhubungan dengan aku?" Lerry nampak bingung


"Mereka pintar. Uang itu pertama-tama mereka kirim ke rekening Pak Wilyo sang kepala divisi keuangan setelah itu pak Wilyo mentransfer ke rekening mereka. Untung saja Putri mau membantu aku dengan mengecek rekening koran tabungan mereka masing-masing. Dan Sofia punya rekening lain. Yaitu rekening atas nama adiknya."


"Sofia brengsek! Kurang apa dia sampai mau menggelapkan keuangan perusahaan! Selain gajinya yang besar di perusahaan ini, ia juga sering mendapatkan uang dariku. Dan Ica? Bukankah perusahaan ini juga ia yang ikut membangunnya? Mengapa juga ia harus menggelapkan uang perusahaan?" Lerry mengebrak meja yang ada di depannya. Wajahnya terlihat marah. Ia kemudian mengangkat gagang telepon yang ada di sampingnya.


"Kamu mau apa, ***?" tanya Edmond. Ia terlihat cemas. Mahira memang sudah memperhatikan dari tadi kalau Edmond tak bereaksi marah seperti Lerry.


"Mau apa lagi? Aku mau meminta polisi untuk menangkap Sofia, Mulyo, Ica dan antek-anteknya."


Edmond menekan tombol telepon sehingga panggilan itu terputus.


"Jangan libatkan Ica, ***."

__ADS_1


"Apa?" tanya Lerry terkejut.


"Maksudku, Ica adalah teman kita yang sama-sama membangun perusahaan ini dari nol. Kita tanya dulu mengapa sampai Ica dan Sofia melakukan ini."


Lerry menggeleng. "Aku tak mau bertanya kepada mereka. Biar polisi saja yang bertanya. Aku akan tetap melaporkan mereka." Lerry melepaskan gagang telepon dari tangannya karena Edmond masih menekan tombolnya. Ia kemudian mengambil ponselnya.


"Lerry, please!" Edmond memegang tangan Lerry yang sudah membuka layar ponselnya.


"Mau kamu apa, Ed? Kita membangun perusahaan ini dengan susah payah! Apakah kita akan membiarkan seorang pencuri mengambil keuntungannya secara perlahan. Mungkin di matamu jumlah itu tak seberapa. Namun bagiku itu sangat banyak. Orang tuaku juga memiliki perusahaan. Yang lalu aku harus menyusahkan waktu untuk perusahaan itu karena papaku sangat bersedih ada yang membobol sistem pengolahan keuangannya sehingga membuat papa menderita kerugian yang sangat banyak. Aku tak mau hal yang sama terjadi di tempat ini. Aku mencintai perusahaan ini, Ed!" Kata Lerry tegas.


"Please, ***! Apakah tidak sebaiknya kita selesaikan ini secara intern perusahaan?"


"Tidak! Aku akan menjebloskan mereka penjara dan aku akan memecat Sofia dan Ica. Akan ku beli saham Ica yang ada di sini!"


"Lerry! Dengarkan aku dulu!" Edmond merampas ponsel Lerry. Keduanya kini saling menatap tangan yang terkepal. Masing-masing kelihatan berusaha menahan emosinya.


Mahira pun berdiri. "Aku sudah melaksanakan tugasku dengan menemukan siapa pencuri di perusahaan ini. Aku sebaiknya pulang. Silahkan jika kalian saling aduh jotos. I don't care!" Mahira segera meraih tasnya. Ia kesal dengan tindakan Edmond yang begitu membela Monalisa. Hati Mahira menjadi semakin sakit.


"Sayang.....!" Edmond menjadi tak enak. Ia dapat melihat wajah Mahira yang cemburu. "Tolong tunggu aku di ruangan ku."


Mahira menarik tangannya yang ditahan oleh Edmond. Ia kemudian meninggalkan ruangan Lerry. Tapi bukannya ke ruangan Edmond, Mahira memilih untuk pulang ke rumah.


"Bi, tolong siapkan keperluan Wina. Kita akan ke kota hari ini." kata Mahira begitu pulang ke mess. Ia pun menyiapkan barang-barangnya yang biasa ia bawah saat datang ke mess. Kemudian ia menelepon taxi online.


**********


Edmond terkejut saat pulang ke mess dan menemukan bahwa tempat itu kosong. Ia segera menelepon Mahira namun ponsel Mahira tak aktif. Nomor yang satu pun tak aktif.


Dengan kesal, Edmond menelepon penjaga gerbang.


"Iya tuan. Sekitar 3 jam yang lalu, ada taxi online yang datang menjemput mereka."


"Brengsek!" Edmond membanting ponselnya ke atas kursi. Ia tak suka jika Mahira menjadi pembangkang seperti ini. Pergi tanpa meminta ijin padanya.


Edmond kemudian mengambil kembali hpnya dan menghubungi ponsel Juminten.


"Ada apa, tuan?" tanya Juminten.


"Mana nyonya. Aku mau bicara!"


"Nyonya...., nyonya sudah pergi ke bandara, tuan. Katanya nyonya mau pulang ke Manado."


"Apa?" Edmond terkejut. Ia segera mengambil kunci mobilnya lalu pergi dengan menginjak pedal gas sedalam mungkin.


Sepanjang perjalanan, Edmond kembali menghubungi ponsel Mahira namun tak aktif. Ia kemudian menelepon anak buahnya untuk mencegat Mahira di bandara. Hati Edmond menjadi sakit membayangkan ia akan jauh dengan Wina dan Mahira. Ia tahu mengapa Mahira pergi.


Hujan pun turun dengan sangat deras.


*********


"Mami, kita mau ke mana? Mengapa papi tak ikut?" tanya Wina. Gadis itu terlihat gelisah.

__ADS_1


"Papi nanti menyusul sayang! Papi kan masih banyak kerja."


"Kita mau ke mana, mami?"


"Kita akan ke Manado, sayang. Ketemu dengan Tante Putri. Tante Putri baru saja melahirkan seorang bayi tampan. Wina pasti suka."


Pengumuman dari pihak bandara terdengar. Penerbangan ditunda sampai hujan dan angin reda. Mahira pun terlihat kesal namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Memang sangat beresiko melakukan penerbangan seperti ini. Akhirnya mereka pun duduk di ruang tunggu.


1 jam lebih mereka menunggu namun hujan tak juga reda. Wina yang duduk di pangkuan Mahira, terlihat hampir tertidur namun ia tiba-tiba melompat dari pelukan ibunya.


"Papi......!"


Mahira terkejut saat melihat Edmond yang sudah memeluk Mahira dan berjalan ke arahnya. Wajah Edmond terlihat menyimpan amarah. Sangat jelas terlihat di pancaran matanya.


"Papi datang menyusul kami? Kata mami, papi masih banyak kerja." ujar Wina.


"Iya sayang. Papi memang masih banyak kerja. Mami dan Wina tidak jadi pergi karena cuacanya jelek. Penerbangan ke Manado dibatalkan."


Mahira ingin protes karena ia tak mau Edmond membohongi Wina.


"Wah, kita nggak jadi pergi. Namun Wina senang. Soalnya Wina bisa bersama papi." Wina melingkarkan tangannya di leher ayahnya lalu mencium pipi Edmond. "Wina sayang papi."


"Papi juga sangat sayang pada Wina. Seperti papi juga sayang pada mami."


Boolshit! Maki Mahira dalam hati. Ia ingin meledakan seluruh kemarahannya pada Edmond namun tak mungkin di depan Wina. Edmond sangat tahu kelemahannya.


"Ayo kita pulang! Anak buah ku akan mengurus bagasi kalian." ujar Edmond lalu tangannya yang bebas, langsung menarik tangan Mahira. Tak ada pilihan bagi Mahira selain mengikutinya.


**********


Dari makan malam, sampai akhirnya Wina tidur, Mahira tak bicara dengan Edmond karena ia tak ingin terpancing amarah.


Saat ia masuk ke kamar, Edmond terlihat sudah menunggunya.


"Sayang, mengapa kamu pergi tanpa memberitahukannya kepadamu?"


Mahira menjauh dari Edmond. "Aku ingin cerai."


"Mahira, jangan bicara tentang perceraian!"


"Aku punya bukti yang kuat untuk meminta cerai dari kamu, Edmond Moreno!"


"Bukti apa?"


"Bukti perselingkuhan mu dengan Monalisa."


Edmond terlihat kaget sekaligus wajahnya langsung menjadi pucat.


************


Selamat pagi guys

__ADS_1


semangat terus yang berpuasa.


jangan lupa dukung emak


__ADS_2