
Saat keluar dari lift, Mahira mendengar suara pertengkaran dari kamar Lerry dan Sofia. Kamar mereka memang hanya bersebelahan. Sebenarnya Mahira tak mau menguping pembicaraan itu, namun saat nama Edmond dan dirinya disebut, Mahira pun menghentikan langkahnya. Pintu kamar itu terbuka sedikit.
"Enough, Sofia. I'm tired of your childish attitude (cukup Sofia, aku lelah dengan sikapmu yang kekanakan.)" terdengar suara Lerry yang nampak membanting sesuatu.
"Oh, ya? Apakah kau juga akan membuang aku seperti Edmond yang menyingkirkan Ica demi Mahira?"
"Don't connect our problems with Esmond's wedding. Yang aku maksudkan adalah kebiasaan mu yang selalu mabuk setiap kali kita bertengkar. Kamu tak tahu bagaimana khawatirnya aku mencari mu semalam? Aku bahkan harus meminta bantuan Edmond. Dan karena itu, Edmond dan Mahira bertengkar."
Sofia terdengar tertawa lalu menangis. "Sampai kapan hubungan kita akan begini, Lerry?"
"I'm not ready to get married."
"Aku merasa bahwa kau mungkin tertarik dengan gadis lain."
"Kau selalu menuduhku. Sebaiknya aku tinggalkan kau sendiri. Kau masih mabuk."
Mahira langsung masuk ke kamarnya sebelum Lerry keluar. Apa yang dikatakan oleh Sofia tadi sangat mempengaruhinya. Apakah Edmond meninggalkan Monalisa demi untuk bersamaku? Apakah aku telah berbahagia di atas penderitaan perempuan lain?
Dengan perasan yang gelisah, Mahira pun membereskan pakaian mereka. Ia memisahkan baju kotor dan baju bersih lalu memasukan semuanya ke dalam koper. Mereka memang hanya membawa satu koper.
Mahira sudah bertekad untuk menanyakan tentang Monalisa pada Edmond. Ia tak mau kalau sampai hubungannya dengan Edmond menyakiti orang lain.
Satu jam kemudian, Edmond kembali ke kamar. Ia melihat Mahira yang sedang berdiri di balkon kamar dan tak menyadari kedatangannya.
"Kita pergi!" kata Edmond.
Mahira membalikan badannya.
"Aku mau kita bicara dulu, Ed." kata Mahira.
"Nanti saja kalau sudah di rumah." Edmond masih menunjukan sikap dinginnya.
"Aku ingin sekarang, Ed!" kata Mahira tegas membuat Edmond menatapnya tak percaya. Mahira yang manis, penurut dan selalu mengalah tidak ada lagi.
"Kalau mau bicara tentang Teddy, aku tak mau mendengarnya." Edmond melangkah ke dekat kemari. Ia meraih koper dan siap menariknya.
"Aku mau bicara tentang Monalisa."
Edmond menoleh dengan kaget. Tangannya yang memegang tarikan koper dilepaskannya.
Mahira mencoba membuat dirinya tenang. Ia ingin berbicara tanpa melibatkan emosi.
Ia duduk di tepi ranjang dan memandang Edmond yang masih berdiri di dekat lemari.
"Ed, kamu memang pernah bilang kalau tak ingin membicarakan masa lalu mu dan juga masa laluku. Aku minta maaf untuk semua yang sudah kamu dengar dalam percakapanku dengan Putri tadi pagi. Aku tahu kalau aku sudah menyakitimu. Aku juga tak mau membicarakan tentang Monalisa yang sebenarnya sejak hari pertama aku ada di Samarinda, aku sudah tahu tentang dia walaupun aku tak tahu yang mana orangnya. Tadi, secara tak sengaja aku mendengarkan Lerry dan Sofia bertengkar. Pintu kamar mereka terbuka dan aku mendengar semuanya. Sofia mengatakan kalau aku berbahagia di atas penderitaan Monalisa. Demi menikah dengan aku, kau mengahiri hubunganmu dengan Monalisa. Apakah benar, Ed? Apakah pernikahan kita terjadi di atas penderitaan gadis bernama Monalisa?"
__ADS_1
"Begitu kah tanggapan mu mengenai aku?"
"Aku ingin tahu kebenarannya, Ed."
Edmond mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia menghubungi Lerry.
"Lerry, tolong datang ke kamarku. Kamu bersama Sofia dan jelaskan pada istriku apa yang kalian ucapkan tadi saat bertengkar."
"Ed, mengapa kamu menghubungi Lerry? Nanti mereka berpikir kalau aku sengaja menguping pertengkaran mereka." Mahira jadi tak enak.
"Mungkin kamu tak percaya dengan semua yang akan ku katakan padamu. Sebagaimana juga kamu tak percaya dengan semua kata-kata yang sudah pernah aku ucapkan padamu."
"Bukan seperti itu, Ed. Aku.....!" Kalimat Mahira terhenti melihat Lerry dan Sofia masuk ke kamar mereka.
"Ada apa ini?" tanya Lerry.
Edmond menatap Sofia. "Tadi, Mahira tak sengaja mendengar pertengkaran kalian karena pintu kamarnya terbuka. Sofia, tolong jelaskan apa maksud kamu mengatakan bahwa aku meninggalkan Monalisa hanya karena ingin bersama Mahira?"
Sofia terkejut. "Aku.....!"
"Kamu memang sahabat Monalisa. Kamu tahu sendiri apa yang terjadi sebelum aku menikah dengan Mahira. Tolong katakan dengan jelas. Sekarang Mahira merasa bersalah karena berpikir bahwa kami berbahagia di atas penderitaan Monalisa."
Sofia menatap Lerry. Cowok bule itu mengangkat tangannya. "Kamu yang jelaskan karena kamu sendiri yang mengucapkan kata-kata itu."
"Maafkan aku, Mahira. Aku sahabatnya Monalisa. Makanya aku sangat membela Monalisa. Hubungannya dengan Edmond sudah berakhir sebelum kalian menikah. Monalisa saja yang merasa tak terima kalau Edmond sudah menikah." Kata Sofia sambil tertunduk.
"Mereka putus karena Edmond menemukan Monalisa dengan lelaki lain di kamarnya."
Mahira terkejut. Ia merasa sangat bersalah. Edmond ternyata terluka karena Monalisa mengkhianati nya.
"Terima kasih, Sofia. Sekarang kalian berdua boleh pergi." kata Edmond masih dengan sikap dinginnya.
Lerry menepuk pundak Edmond sebelum meninggalkan kamar itu. Sofia sempat melirik ke arah Mahira lalu ia menatap Edmond. Entah apa arti tatapannya itu. Sofia akhirnya meninggalkan kamar itu juga.
"Ed.....!" Mahira mendekat namun Edmond justru mundur beberapa langkah.
"Sudah ku katakan sebelum kita menikah. Jangan mengusik masa lalu, Ra. Aku tak mau membicarakan Monalisa denganmu karena bagiku dia hanya sebagai teman sekerja. Tak lebih."
"Aku minta maaf, Ed. Aku janji tak akan mengusik cerita tentang Monalisa lagi. Aku juga janji akan melupakan Teddy selamanya dalam hidupku. Aku mohon maafkan aku." kata Mahira dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mendekati Edmond. Tangannya melingkar di pinggang Edmond.
Edmond menatap mata Mahira tanpa berkedip. Melihat mata gadis itu yang basah, tangan Edmond terulur dan menghapus air di sudut mata Mahira.
"Aku cemburu, Ra. Emosiku tersulut karena kamu masih menanyakan Teddy. Apakah terlalu sulit bagimu untuk percaya bahwa aku mencintaimu? Aku....."
Cup!
__ADS_1
Kalimat Edmond terhenti karena Mahira sudah mencium bibirnya. "Maafkan aku ya, sayang? Berikan aku kesempatan untuk membuka hatiku selebar-lebarnya agar cintamu bisa tumbuh di sana."
Edmond kali ini yang mencium Mahira. Penuh hasrat dan gairah yang tak bisa dibantahkan. Mahira pun membalas ciuman itu dengan gairah yang sama. Tubuh mereka tak bisa bohong kalau mereka sama-sama saling menginginkan.
***********
Minggu pagi, mereka kembali ke Samarinda. Juminten sudah menunggu di rumah dengan hidangan makan siang.
"Bagaimana liburannya, nyonya?" tanya Juminten.
"Menyenangkan, bi. Edmond juga menikmati acara diving nya. Sebenarnya kami pulangnya nanti sore namun Edmond ingin beristirahat di rumah sebelum akhirnya kembali bekerja esok hari."
"Nyonya mau ke mess lagi?"
"Minggu ini belum karena ada jadwal kunjungan ke dokter kandungan."
Juminten tersenyum. "Aku istirahat dulu ya, bi."
Juminten mengangguk. Mahira pun menuju ke kamar. Ia pikir Edmond ada di kamar, namun kamarnya kosong. Di kamar mandi juga Edmond tak ada.
Ed kemana ya?
Mahira keluar kamar untuk mencari Edmond. Dan dia melihat suaminya itu sedang menelepon di teras samping. Mahira sebenarnya memutuskan untuk kembali ke kamar dan menunggu Edmond di sana. Namun matanya menatap hp yang dipegang Edmond. Bukankah hp Edmond berwarna hitam? Kenapa yang dipegangnya berwarna putih? Apakah Edmond mengganti silikonnya?
Mahira kembali ke kamarnya. Ia tak mau lagi curiga apapun pada Edmond.
Sesampai di kamar, Mahira mengganti bajunya dengan daster rumahan. Ia ingin tidur siang. Tak lama kemudian Edmond masuk.
"Sayang.....!" panggil Edmond lalu ikut naik ke atas ranjang.
"Ed, aku mau tidur siang."
"Aku juga." Edmond memeluk Mahira dari belakang.
Mahira tersenyum lalu memeluk tangan Ed yang melingkar di perutnya.
"Apakah anak kita tak bergerak?" tanya Edmond sambil mengusap perut Mahira.
"Nggak. Mungkin dia juga bobo siang."
Edmond mencium bahu Mahira dengan lembut. Ia kemudian mengambil hp nya dari dalam kantong celananya dan meletakan di atas nakas yang ada di samping Mahira. Perempuan itu tercengang. Hp itu memang berwarna hitam . Lalu yang digunakan oleh Edmond saat menelepon hp yang mana?
*************
Selamat sore....
__ADS_1
salam sehat untuk semuanya
Jangan lupa dukung emak ya guys ???