RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Kegilaan Monalisa


__ADS_3

Prang!


Sofia terkejut saat Ica membanting pintu kamar apartemen.


"Ada apa?" tanya Sofia


"Aku kesal! Seminggu sudah berlalu semenjak kecelakaan itu namun Edmond tak pernah menghubungiku."


"Sabar, Ca. Edmond kan juga terluka."


"Aku nggak bisa sabar lagi. Aku juga butuh perhatian Edmond. Segera kamu cari tahu apa yang dia lakukan di sana. Kalau nggak, aku yang akan pergi ke sana."


Sofia menarik napas panjang. Sebenarnya ia sudah tak tahan dengan Monalisa namun perempuan itu royal padanya. Sofia butuh uang. Apalagi ia tak bekerja di perusahaan. Makanya ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Edmond setelah terlebih dahulu membeli buah sebagai buah tangan.


Sementara itu di rumah Edmond, pria itu sudah merasa mulai membaik. Ia bahkan berencana 2 hari lagi akan masuk kerja karena ada rapat pemilik saham.


Edmond juga bersyukur, sekalipun Mahira belum perhatian seperti dulu, namun semalam, saat Edmond memeluknya, Mahira tak melepaskan tangannya lagi walaupun tubuh istrinya itu hanya diam tanpa reaksi. Pada hal Edmond sangat ingin menciumnya. Apalagi mereka sudah hampir 2 bulan tak pernah berhubungan intim.


"Papi, apakah sebentar sore kita sudah bisa pergi ke pasar malam?" tanya Wina yang langsung naik ke pangkuan papanya.


"Bisa."


"Luka papi sudah sembuh ya?" tanya Wina sambil memegang bekas luka di pelipis Edmond.


"Sudah sayang."


"Walaupun ada bekas lukanya namun papi ku tetap ganteng." ujar Wina membuat Edmond menjadi gemas dan langsung mencium pipi montok Wina.


"Ganteng mana papi Edmond sama uncle Eduardo?" tanya Eduardo yang duduk di samping kakaknya.


"Lebih ganteng papi Ed dong."


Eduardo jadi cemberut.


"Tapi uncle Eduardo manis dikit." ujar Wina sambil tersenyum manis pada Eduardo. Mereka pun tertawa melihat tingkah laku Wina yang sangat lucu itu.


Mahira datang membawa cemilan untuk mereka.


"Jadi, kau akan pulang besok?" tanya Edmond pada adiknya itu.


"Iya. Pekerjaan ku banyak. Makanya kakak segera ambil alih tugas di perusahaan Daddy agar aku punya waktu luang untuk jalan-jalan." Kata Eduardo.


"Nanti. Jika semua yang di sini sudah stabil dan Lerry bisa mendapatkan orang kepercayaan yang baik, aku pasti akan segera menangani perusahaan Daddy."


Bel pintu berbunyi. Mahira yang membukanya karena ia tahu bibi Juminten dan Lita sedang sibuk di dapur.


Senyum di wajah Mahira sedikit dipaksa saat melihat siapa yang berdiri dibalik pintu.


"Selamat pagi, Mahira."


"Selamat pagi Sofia. Ayo masuk!" ajak Mahira sambil melebarkan daun pintu.


Sofia pun terlihat kikuk saat melangkah masuk. Apalagi menerima tatapan dingin dari Edmond.


Wina sudah ke halaman belakang dengan omanya. Sedangkan Eduardo saat melihat ada yang datang segera ke kamarnya untuk menelepon pacarnya.


"Aku datang untuk mengunjungimu, Ed. Aku baru tahu kalau kamu kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?" tanya Sofia sambil melirik ke arah Mahira yang sedang menuju ke dapur.

__ADS_1


"Sudah mulai membaik."


"Ed, aku mohon hubungi Ica. Aku tak mampu lagi menanganinya. Dia selalu mengancam akan datang ke rumah ini. Dia stres karena kamu tak memberi perhatian padanya disaat ia terluka." .


Edmond yang sudah tahu dengan maksud kedatangan Sofia terlihat sedikit kesal. "Mommy ku ada di sini. Aku tak bisa sembarangan keluar. Lagi pula hp ku rusak. Dan aku belum membeli hp yang baru. Keluar rumah saja aku belum pernah."


"Kamu kan sudah agak sehat sekarang. Tak dapatkah kamu menghubungi dia?"


"Baiklah. Aku akan menghubunginya. Tapi nanti. Di saat tak ada orang di rumah."


"Terima kasih, Ed. Oh ya, bagaimana kabarnya Lerry?"


"Baik. Dia sudah jarang tinggal di mess semenjak aku tinggal di kota. Dia ada di apartemennya."


Sofia nampak menunduk sedih. "Apakah.....dia sudah punya pacar baru?"


"Setahu aku, belum. Kenapa kamu tak mencoba berbicara dengannya?"


"Lerry sudah memblokir nomorku. Dia bahkan sudah mengganti password di pintu apartemennya."


"Kenapa sih kamu sampai menggelapkan uang perusahaan?"


"Aku butuh uang, Ed. Ayahku terlilit hutang pada rentenir dan bunganya sudah mencapai ratusan juta. Ibuku stres karena ketakutan dengan ancaman rentenir itu yang akan mengambil adikku yang masih berusia 19 tahun untuk menjadi simpanannya."


"Kenapa kau tak mencoba pinjam pada Lerry atau padaku?"


"Aku malu, Ed. Selama ini Lerry sudah banyak membantu keluargaku. Aku harus bagaimana lagi?"


Mahira datang membawakan minuman untuk Sofia. Saat Mahira akan pergi, Edmond justru menahan tangannya. "Sayang, ayo duduk di sini. Temani kami berbincang."


Sofia nampak kurang nyaman saat Mahira duduk di samping Edmond.


"Sayang, maukah kau menemani aku keluar? Aku ingin membeli hp baru. Aku juga ingin mengecek mobilku yang ditangani oleh pihak asuransi."


"Kenapa tak kau ajak Eduardo untuk menemanimu?"


"Dia tadi pamit untuk menelepon pacarnya. Dan membutuhkan waktu berjam-jam sampai akhirnya percakapan itu selesai."


"Baiklah. Aku siap-siap dulu."


"Aku juga." Edmond mengikuti langkah Mahira menuju ke kamar.


"Sayang, tolong ambilkan celana jeans dan kaos putih untukku ya?" kata Edmond sambil membuka kaos rumah dan celana training yang dipakainya.


Mahira yang berada di walk in closet, segera keluar sambil membawa baju yang Edmond minta. Wajahnya langsung memerah saat melihat suaminya yang nyaris polos itu.


"Ini." Kata Mahira dan meletakkannya di atas tempat tidur. Sementara ia sendiri memutuskan untuk ganti pakaian di kamar mandi. Namun sebelum ia melangkah, Edmond tiba-tiba memeluk nya dari belakang.


"Sayang, aku merindukanmu."


Mahira memejamkan matanya saat merasakan hangatnya napas Edmond yang menyentuh tengkuknya. Buku kuduknya bahkan berdiri.


"Sampai kapan kau akan menghukum aku untuk tidak menyentuhmu?"


"Bukankah kau menuduh aku berselingkuh?"


Edmond memegang pundak Mahira dan memutar tubuh istrinya itu untuk menghadap kepadanya. "Lupakan masa lalu. Mari kita bangun hubungan kita seperti dulu, Ra."

__ADS_1


"Percuma jika tak ada rasa percaya darimu."


"Sayang. Aku percaya padamu. Namun pemeriksaan lab membuktikan bahwa aku mandul."


"Sudahlah!" Mahira mendorong tubuh Edmond lalu segera ke kamar mandi. Saat ia keluar, ia sudah menggunakan celana jeans dan kemeja berwarna peach. Mahira kemudian mengikat satu rambutnya dan berdandan sedikit.


Edmond memerhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya. Jujur, hatinya bergetar. Ia rindu ada di belakang Mahira saat istrinya itu duduk di depan kaca. Dulu, Ed suka membantu Mahira dengan menyisir rambutnya.


"Aku sudah siap 455 hu, Ed." kata Mahira.


"Ayo kita pergi !"


Mahira dan Edmond berangkat ke mall dengan menggunakan mobil Mahira. Sepanjang perjalanan Edmond berusaha untuk membangun komunikasi dengan Mahira. Ia rindu mendengar tawa istrinya itu.


Saat mereka memasuki mall, Edmond dengan cepat meraih tangan Mahira dan menggenggamnya erat. Ia menautkan jari-jari mereka dan ia bersyukur karena Mahira tak melepaskan tangannya.


Ia pun membeli hp dengan dengan gambar apel yang sudah digigit. Setelah itu Edmond mengajak Mahira untuk berbelanja oleh-oleh khas Samarinda karena besok Eduardo akan kembali ke Spanyol.


"Sayang, kita minum kopi di tempat biasa, yuk!" ajak Edmond. Dia memang ingin memiliki waktu lebih lama untuk berdua dengan istrinya karena ia tahu kalau di rumah, interaksinya dengan Mahira selalu terganggu dengan Wina dan mommy nya.


"Bagaimana kalau Wina mencari kita?"


"Kalau ada mommy pasti dia nggak akan mencari kita, sayang."


"Baiklah."


Keduanya pun mampir di salah satu kedai kopi yang biasa mereka kunjungi saat berada di Samarinda.


Setelah memesan kopi, mereka pun duduk di meja yang biasa. Yaitu di dekat jendela.


"Wah....wah....." Monalisa tiba-tiba saja muncul. "Kau juga membawa istrimu di tempat favorit kita, Ed? Tempat duduknya juga. Apakah kalian memesan kopi capuccino dengan cream? Itu juga favorit kita kan, Ed?"


Selesai Monalisa berbicara, belum sempat Edmond atau Mahira menanggapinya, pesanan kopi mereka datang. Kopi capuccino dengan cream.


"Wah, terbakan ku benar. Kalian memesan kopi yang sama. Ed, kau sungguh belum melupakan kebiasaan kita ya?"


"Ed bukannya belum lupa, Monalisa. Namun aku juga suka rasa kopi capuccino dengan cream yang kedai ini siapkan. Aku suka dengan meja yang ada di dekat jendela ini. Pertama kali ke sini, bukan Ed yang mengajak aku tapi akulah yang mengajak dia karena aku mendengar kopi yang ada di kedai ini sangat enak. Jangan terlalu percaya diri karena beranggapan kalau kamu masih istimewa di hati suamiku. Ingat ya? Kamu hanya mantan. Dan sebagai mantan, Ed sudah membuang mu ke tempat sampah." Kata Mahira sambil berdiri dan menatap Monalisa dengan tatapan yang sedikit mengejek.


"Kamu....!" Monalisa mengangkat tangannya dan hendak menampar Mahira. Edmond hendak mencegahnya namun Mahira dengan cepat menangkap tangan Monalisa lalu mendorong Perempuan itu sampai ia terjatuh.


"Jangan pernah menyentuh aku dengan tangan kotor mu itu. Edmond adalah milikku."


Monalisa berdiri lalu menatap Edmond yang hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia kemudian menatap Mahira dengan mata yang menyalah menahan amarah.


"Kau akan menerima akibatnya nanti. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Mahira. Kau juga tidak tahu sehitam apa kehidupan lelaki yang kau nikahi itu." Monalisa kemudian meninggalkan mereka. Untung saja kedai kopi itu dalam keadaan sepi karena hanya Mahira dan Edmond yang minum kopi sore ini.


"Sayang, kau tak apa-apa?" tanya Edmond.


Mahira menggeleng. Ia kemudian meminum habis kopinya. "Ayo kita pulang!"


Edmond pun mengikutinya. Namun saat mereka sudah berada di luar kedai dan sedang berjalan menuju ke tempat parkir, sebuah ledakan pistol terdengar dan Mahira langsung rebah ke aspal.


************


Selamat malam....


semoga suka dengan bab ini

__ADS_1


love you all


dukung emak terus ya guys


__ADS_2