
Mahira terbangun di pagi hari dan menyadari bahwa ia dalam keadaan tak berbusana. Ingatannya membawa kembali ke kejadian malam tadi. Ia dan Edmond hampir saja berhubungan intim namun digagalkan oleh suara panggilan dari Edewina. Setelah itu Mahira lama menunggu dan akhirnya ia tak kuasa menahan rasa mengantuk sampai akhirnya tertidur.
Ia pun tersenyum mengingat kejadian semalam. Dengan penuh rasa penasaran mengapa Edmond tak membangunnya semalam, ia turun dari ranjang dan mengenakan lagi bajunya setelah itu keluar kamar. Waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi.
Saat Mahira masuk ke kamarnya, ia menemukan pemandangan yang membuat hatinya haru. Edewina tidur sambil memeluk Edmond dengan erat. Mereka berdua terlihat sangat nyenyak. Perlahan ia ke kamar mandi, mencuci mukanya sebentar lalu segera ke dapur untuk membuatkan sarapan.
Baru saja Mahira akan menyiapkan bumbu nasi goreng, Edmond sudah bangun dan memeluknya dari belakang.
"Good morning, baby." ujarnya sambil mencium tengkuk Mahira membuat Mahira dengan cepat menyiku pinggang Edmond dan melepaskan diri.
'"Ed, kamu mengangetkan aku saja." Mahira memegang dadanya karena ia memang merasa kaget dengan pelukan dan ciuman Edmond.
"Maafkan aku, sayang." Edmond nampak menyesal. "Aku membuat kau kaget."
"Mana Wina?"
"Masih tidur."
"Aku buat sarapan dulu ya?"
"Aku bantu?"
Mahira menggeleng. "Kamu siap-siap saja. Kan mau ke kantor."
Edmond memeluk Mahira lagi dari belakang. "Aku nggak mau ke kantor. Di rumah saja sambil menunggu Wina pulang sekolah. Kepala ku sakit." Edmond meletakan dagunya di bahu Mahira.
"Minum obat. Aku punya obat sakit kepala di kotak obat. Aku ambilkan?" Mahira melepaskan pisau yang dipegangnya dan hendak pergi namun Edmond menahan Mahira dengan tak melepaskan pegangannya di pinggang Mahira. Ia kemudian membalikan badan istrinya sehingga kini berhadapan dengannya.
"Aku nggak butuh obat penghilang sakit kepala. Nggak akan berguna. Karena obatnya adalah kamu." ujar Edmond sambil membelai pipi Mahira dengan punggung tangannya.
Mahira menelan salivanya. Ia bisa melihat mata Edmond yang berkabut gairah. "A....aku mau buat sarapan, Ed." Ia hendak membalikan badannya lagi namun Edmond sudah melingkarkan tangannya di leher Mahira dan sebelum Mahira bisa menghindar Edmond sudah mencium bibirnya dengan keras dan menuntut.
Edmond berhasil memegang kendali atas diri Mahira. Sampai akhirnya......
"Mami....!"
Mahira dengan cepat mendorong tubuh Edmond dan mengunci kembali kancing gaun bagian depannya yang sudah dibuka oleh Edmond.
"Mami di dapur sayang." kata Mahira dengan napas yang masih belum stabil.
Edmond terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Selamat pagi mami, selamat pagi om Edmond. Kita mau buat pancake bareng kan?" ujar Edewina dengan wajah bahagianya.
"Mami akan buat nasi goreng, Wina sama om Edmond akan buat pancake. Ok?" ujar Mahira lalu segera melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
Suasana dapur pun berubah menjadi hangat. Sikap Edewina yang lucu membuat Edmond sejenak melupakan keinginannya untuk menyentuh Mahira.
Saat sarapan pun jadi menyenangkan karena mereka juga harus berburu waktu dengan Edewina yang hampir terlambat ke sekolah. Untuk Melly datang telat waktu dan segera membawa Edewina ke sekolah.
"Aku mau mandi dulu, Ed. Aku hampir terlambat ke kantor." ujar Mahira yang baru selesai mencuci piring. Ia segera melangkah ke kamar namun Edmond menghadang langkahnya.
"Hari ini ijin saja ya?"
Mahira mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"
"Nggak perlu ke kantor."
"Tapi.....!"
"Kita kencan seharian. Tadi aku sudah telepon dokter Rani. Dia memberi jadwal pada Wina untuk datang ke tempat prakteknya jam 7 malam. Tadi sebelum Melly pergi, aku sudah bilang kalau pulang sekolah, ajak Wina untuk bermain di mall. Aku sudah memberikan uang untuk Melly pakai."
Mahira menelan salivanya. Ia tak menyangka kalau di Edmond akan bergerak cepat hari ini.
"Ed, aku akan membahas proyek untuk..."
__ADS_1
Edmond membuat Mahira tak meneruskan kalimatnya karena ia dengan cepat langsung mencium bibir Mahira. "Aku masih sakit kepala." ujarnya sensual saat mengahiri ciumannya di sudut bibir Mahira.
"Tapi aku mau mandi, Ed."
"Aku juga mau mandi." Kata Edmond dengan tatapan menggoda.
"Aku mandi sendiri....!" Mahira langsung mundur beberapa langkah.
"Aku mau memandikan kamu!" kata Edmond sambil maju mendekati Mahira.
"Aku nggak mau!" Mahira mundur lagi.
"Aku mau!" Edmond pun maju lagi.
"Edmond!" Mahira jadi kesal karena kini punggungnya sudah menyentuh pintu kamar yang masih terkunci.
"Ya sayang...!"
"Kamar mandi nya kecil. Nggak kayak di rumah kamu."
"Masih boleh untuk kita berdua."
"Tapi...."
Edmond tersenyum. "Kita hanya akan mandi di sana, Ra."
"Janji ya? Jangan main sentuh-sentuh sembarangan." Mahira memperingatkan karena ia tahu kalau Edmond suka jahil kalau mereka mandi bersama.
"Janji!" Edmond mengangkat jari tunjuk dan jari tengahnya.
Akhirnya mereka pun mandi bersama. Mahira mandi dengan sangat cepat karena Edmond memang sesekali masih menggodanya dengan menyentuh bagian-bagian tubuhnya dengan sengaja.
Selesai mandi, mereka pun keluar dari kamar mandi bersama. Namun, sebelum Mahira berhasil membuka pintu lemari untuk mengambil pakaiannya, Edmond dengan cepat mengangkat tubuh Mahira membuat perempuan itu berteriak kaget. Edmond dengan perlahan meletakan tubuh Mahira di atas tempat tidur.
"Ed, mau ngapain? Ini masih pagi." Mahira menahan handuk di tubuh ya agar tidak terbuka. Namu. Edmond sudah menempatkan dirinya di atas Mahira.
"Bagaimana kalau ada yang datang?"
"Mereka kan tahu kalau jam segini kamu sudah di kantor." kata Edmond sambil mengendus leher Mahira.
"Tapi, aku....aku belum siap, Ed."
"Aku akan buat kau siap seperti tadi malam." Edmond menarik handuk yang melilit tubuhnya membuat wajah Mahira menjadi merah. Jantungnya berdetak cepat.
"Ed, aku ....." Mahira memejamkan matanya saat Edmond sudah menarik handuk di tubuh Mahira.
"Kau sudah siap sayang." Bisik Edmond dengan senyum kebahagiaan lalu mulai mencumbu istrinya itu.
***********
Keduanya hanya saling berpandangan ketika ronde yang kedua itu selesai. Kerinduan, rasa cinta semuanya menyatu dalam balutan gairah yang akhirnya bisa disalurkan.
"Aku mencintaimu." ujar Edmond sambil membelai wajah Mahira.
Mahira hanya memejamkan matanya. Ada rasa damai di hatinya. Ia akan mencoba melupakan semua yang berhubungan dengan masa lalu Edmond yang penuh rahasia untuknya.
"Kamu capek sayang?" tanya Edmond saat dilihatnya Mahira tak membuka matanya. Ada rasa khawatir dalam hatinya mengingat Mahira yang sedang hamil dan Edmond sudah memaksakan 2 ronde pagi ini. Namun Edmond melakukannya dengan sangat lembut karena ia tak ingin menyakiti bayi yang ada di perut Mahira.
"Sedikit."
"Tidurlah."
"Wina mungkin sudah pulang sekolah, Ed. Apa yang akan ia katakan saat menemui kita seperti ini?"
"Wina kan sedang bersama Melly. Mereka akan pulang jika aku sudah menelepon." Edmond mengecup perut Mahira. Tak dapat dilukiskan bagaimana bahagianya ia sekarang.
__ADS_1
Mahira membuka matanya. "Tuan pemaksa, aku ingin minum es cendol."
"Boleh, sebentar aku pesankan." Edmond bangun dan segera mencari ponselnya. Ia langsung memesan es cendol seperti yang Mahira inginkan.
"Bangunkan aku jika es nya sudah ada." ujar Mahira sebelum menarik selimut dan menutupi tubuhnya kemudian ia memejamkan matanya.
"Baik sayangku." Edmond mengecup pipi Mahira lalu lalu segera bangun dan melilitkan handuk kembali ke tubuhnya lalu segera menuju ke kamar tamu untuk mengambil pakaiannya.
Saat ia baru saja selesai mengenakan pakaiannya, terdengar suara Wina. Edmond terkejut. Ia membuka pintu kamar.
"Wina?"
Edewina menatap Edmond. "Tante Melly mau mengajak Wina ke mall. Tapi Wina nggak mau memakai baju yang ada di rumah Tante Melly, makanya Wina pulang mau ganti baju" Edewina langsung masuk ke kamarnya sedangkan Melly ke ruang tengah untuk menyimpan peralatan sekolah Edewina.
Edmond pun akan masuk ke kamar tamu lagi sampai ia sadar akan sesuatu dan berlari ke kamar Mahira.
Edewina sudah ada di sana sambil membangunkan maminya.
"Kok mami nggak pakai baju." Ujar Edewina karena selimut yang dipakai Mahira agak tersingkap.
Mahira yang baru terbangun menjadi kelabakan. Ia dengan cepat menahan selimut di dadanya.
"Mami tadi habis dipijat supaya minyaknya meresap, jangan dulu pakai baju kata Tante tukang pijat." ujar Edmond sambil menatap Mahira yang nampak sangat pucat.
"Oh gitu ya. Mami, Wina mau ganti baju."
"Wina sama om saja. Ayo bilang, Wina mau pakai baju yang mana?" Edmond mengajak Wina untuk pergi ke depan lemarinya. Gadis kecil itu pun memilih baju bertema Mini mouse tapi dia tak mau Edmond membantunya berpakaian karena katanya Edmond laki-laki.
Mahira yang masih di atas ranjang tak bisa berbuat banyak karena tak ada baju di dekatnya untuk dia pakai.
Wina berlari ke luar dan meminta Melly untuk membantunya berpakaian.
Melly pun mengganti pakaian Wina sambil menahan senyum karena gadis kecil itu bercerita bahwa maminya tak bisa membantunya berpakaian karena baru habis dipijat dan tak boleh berpakaian. Dalam hati Melly bersyukur. Ia tahu Mahira dan Edmond pasti sudah berbaikan dan ia tak sabar ingin menelepon Putri untuk memberikan kabar bahagia ini.
"Wina sudah pergi?" tanya Mahira.
"Sudah. Aku memesan taxi online untuk mereka."
Mahira yang sudah berpakaian nampak menarik napas lega. "Tuh kan Ed, pagi hari juga tetap ada gangguannya."
"Tapi gangguan nya datang saat sakit kepalaku sudah hilang. Jadi aman."
"Dasar mesum!"
Edmond memeluk Mahira. "Sayang. Aku bahagia sekali hari ini. Bagaimana kalau kita menonton bioskop bersama?"
"Menonton bioskop?"
"Ya. Seperti orang yang kencan."
"Boleh juga. Aku sudah lama tak menonton bioskop."
"Tapi sebelumnya kita ke rumahku dulu ya?"
"Buat apa?"
"Meminta para pelayan untuk menyiapkan rumah karena anak dan istriku akan kembali ke sana."
Mahira terkejut mendengar perkataan. Haruskah ia tinggal di sana?
***********
Hallo semua....
semoga suka bab ini
__ADS_1
ada usul dari salah satu pembaca untuk part manis di pagi hari sebagai pengganti malam yang gagal...., makasih ya