
"Jangan ceritakan pada mommy, Ra. Mommy nanti jadi takut." Kata Edmond sebelum mereka turun dari mobil.
"Iya, Ed."
Saat mereka masuk, rumah nampak sepi. Ternyata Eduardo, mommy Rahel dan Edewina sedang pergi ke taman. Mahira pun masuk ke kamar. Peristiwa tadi sungguh membuatnya sangat ketakutan.
"Sayang, aku keluar dulu sebentar ya?" ujar Edmond setelah meletakan semua belanjaan di dapur.
"Kamu mau kemana?" tanya Mahira.
"Mau menemui pihak berwajib. Tadi mereka mau meminta keterangan, tapi karena kamu sangat ketakutan di sana, jadi aku membawamu pulang dulu."
"Jangan pergi!" Mahira menahan tangan Edmond. "Kamu sendiri kan belum begitu sehat. Biar saja polisi yang kesini!"
Edmond duduk di samping Mahira. "Sayang, aku janji begitu selesai akan langsung ke sini."
"Aku takut sendiri, Ed." Mahira langsung memeluk lengan Edmond membuat Edmond menjadi senang. Sudah lama Mahira tak bermanja-manja dengannya.
"Baiklah. Aku tak akan pergi sekarang. Tunggu saja mommy dan Eduardo kembali dari taman agar kamu ada temannya." Edmond mencium puncak kepala Mahira dan membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. Ada rasa bahagia bisa mendekap Mahira sedekat ini.
Edmond mengambil air dan meneteskan sedikit obat tidur tanpa sepengetahuan Mahira. Ia meminta istrinya itu untuk meminum habis air yang ia bawa.
Mahira memejamkan matanya. Ia berusaha menenangkan rasa ketakutan atas maut yang baru saja dilewatinya. Ketakutan terbesarnya, jika ia mati, bagaimana dengan Wina? Apakah Edmond akan kembali bersama Monalisa? Akankah anaknya dibesarkan oleh perempuan gila itu?
Tangan Mahira semakin erat memeluk lengan Edmond sampai akhirnya Edmond merasakan kalau pegangan tangan istrinya menjadi kendor dan Mahira pun terlelap. Edmond segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh Mahira. Ia tahu pengaruh obat itu akan membuat Mahira tertidur selama 2 atau 3 jam. Makanya ia bergegas pergi ke apartemen Monalisa.
************
"Sayang.....!" Monalisa langsung memeluk Edmond saat melihat pria itu ada di depan pintu apartemennya.
"Brengsek kamu, Ica!" Edmond mendorong tubuh Monalisa dengan sangat keras. "Kamu mau membunuh Mahira?"
"Aku hanya menggertak kamu saja, Ed." Monalisa yang terjatuh di lantai perlahan bangun. Ia memegang pantatnya yang sakit.
"Mengertak katamu? Kalau aku tak mendorong istriku, maka peluru itu pasti sudah bersarang di kepalanya. Sudah ku katakan jangan mengusik Mahira dan Edewina jadi hubungan kita akan baik-baik saja."
"Baik-baik saja katamu? Kau mengacuhkan aku. Menelpon saja tak pernah. Apa kau lupa, aku juga terluka dan butuh perhatian. Kau bahkan tak pernah lagi menyentuhku semenjak menikah dengan gadis pelakor itu."
"Jangan sebut Mahira pelakor!"
"Lalu aku harus menyemburnya apa?"
__ADS_1
"Ingat Ica, kamu yang tak mau menikah denganku secara resmi. Pernikahan kita bukan pernikahan yang sebenarnya. Itu hanya sekedar foto dan perayaan bodoh. Jadi, kamu bukan istriku. Mahira adalah istriku yang sebenarnya."
Monalisa menampar Edmond dengan keras. "Begitu ya? Setelah kamu mendapatkan anak yang kamu inginkan, sekarang kamu mau mencampakkan aku? Ingat Edmond, aku bisa saja memberitahukan mantan keluarga suamiku tentang penyebab kematiannya..Dan kau tahu, mereka belum akan membunuhmu. Namun mereka akan menghancurkan keluarga mu satu persatu baru baru akhirnya mereka akan membunuhmu. Aku pastikan kalau mereka akan memperkosa Mahira, adikmu Edina dan mungkin si kecil Edewina di depan matamu sendiri."
"Cukup, Ica! Berhentilah mengancam keluargaku. Mereka tak ada hubungannya dengan semua kebodohan yang aku lakukan bersamamu."
Monalisa tersenyum. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi mommy Rahel saat tahu kalau anaknya adalah salah satu mafia pengedar senjata ilegal dan juga narkoba. Aku ingin tahu bagaimana tanggapan istrimu yang sok suci itu saat tahu bahwa tanganmu Bermandi darah agar memuluskan semua perdagangan itu."
"Aku sudah lama.berhenti, Ica."
"Oh ya? Aku punya semua bukti kejahatan mu, Edmond Moreno. Kalau kau berani menyingkirkan aku dari hidupmu, maka aku akan menghancurkan semua yang kau sayangi. Dan kau tahu kalau aku tak pernah main-main." Kata Monalisa dengan. penuh ancaman.
"Monalisa.....!" Edmond mendorong tubuh Monalisa ke tembok sementara tangannya mencekik leher wanita itu. "Aku akan membunuhmu!"
Monalisa terkejut karena Edmond berani mencekiknya. "Le....paskan.....!" Monalisa menjadi panik karena ia hampir kehabisan napas.
"Jangan ganggu keluargaku!" Edmond melepaskan tangannya dari leher Monalisa.
"Ceraikan Mahira!" Monalisa terbatuk-batuk namun masih bisa menyampaikan permohonan nya itu.
"Aku tak bisa."
Monalisa menatap Edmond. "Kalau begitu, bersiaplah untuk kehilangan mereka satu persatu. Aku tahu kalau hatimu sudah terikat dengan Mahira, Ed. Aku baru tahu dari Teddy kalau sejak dulu kau memang mencintai Mahira. Akan ku buat perempuan itu meninggalkanmu. Dan kau pasti akan kembali padaku di akhir dari kisah kita ini."
************
Sejak makan malam, Mahira dapat merasakan kalau ada yang berbeda dengan Edmond. Ia bahkan makan hanya sedikit. Setelah makan, ia mengurung diri di ruang kerjanya.
Dan kini, sudah jam 1 dini hari. Namun Edmond belum masuk juga ke kamar. Mahira pun tak merasa mengantuk karena tadi ia tidur sangat lama. Ia sendiri heran mengapa bisa tertidur sangat lama sehingga harus dibangunkan oleh Edewina karena hari sudah malam.
Teringat kembali percakapan mereka di meja makan.
"Mahira, Edewina sebentar lagi akan berusia 4 tahun. Apakah kau tak ingin program hamil lagi?" tanya Rahel setelah Edewina meninggalkan meja makan.
Mahira melirik ke arah Edmond. Dia membiarkan Edmond yang menjawabnya. Masih terbayang peristiwa saat ia keguguran dan keraguan Edmond atas anak yang sempat ada dalam rahimnya.
"Tunggu Edewina masuk SD dulu, mom. Dia kan terlalu manja untuk jadi kakak." ujar Edmond.
"Siapa bilang? Tadi saja di taman ia merengek supaya aku dan Eduardo membujuk kalian agar ia boleh mendapatkan adik. Wina sudah siap menjadi kakak. Jangan ditunda lagi. Supaya mommy bisa melihat cucu-cucu mommy yang banyak. Eduardo juga akan segera menikah supaya mommy juga punya kesempatan untuk melihat anaknya."
Wajah Eduardo dan Edmond terlihat sedih. Mereka bisa membayangkan apa maksud dibalik kata-kata mommy Rahel. Wanita tegar itu pasti sudah tahu tentang penyakitnya.
__ADS_1
Perlahan Mahira membuka pintu kamar. Ia bermaksud akan bicara dengan Edmond mengenai kejadian penembakan tadi sore di cafe.
Ia mencari di ruangan kerja, namun ruangan itu kosong. Mahira mencari ke ruang tamu, Edmond juga tak ada di sana. Ia bingung Ed ada di mana sampai akhirnya ia melihat Edmond yang berdiri di dekat kolam. Di tangannya ada sebatang rokok dan pandangannya jauh ke depan. Mahira baru tahu, setelah mereka menikah 4 tahun lebih, Edmond ternyata seorang perokok.
"Ed....!" panggil Mahira.
Edmond menoleh dengan kaget dan langsung melemparkan rokok yang ada di tangannya. Ia melangkah mendekati Mahira yang sedang berdiri di depan pintu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Edmond.
"Aku belum mengantuk. Tadi aku tidur sore hampir 3 jam. Kenapa belum masuk? Di luar udaranya dingin. Tak baik bagi kesehatanmu. Kamu kan baru saja sembuh."
Ada senyum di wajah Edmond. Perhatian Mahira inilah yang yang selalu membuatnya tak bisa jauh dari Mahira.
"Ayo masuk!" Edmond meraih tangan Mahira, menautkan jari-jari mereka. Mahira tak melepaskan. Keduanya melangkah bersama menuju ke kamar mereka.
Mahira dapat mencium ada bau rokok dari tubuh Edmond. Ia tahu bahwa pasti sudah beberapa batang yang Edmond habiskan sebelum Mahira datang menemuinya.
Sesampai di kamar, Edmond membuka kemeja dan celana jeans yang dikenakannya dan hanya menggunakan boxer, ia menuju ke kamar mandi. Edmond memang belum mandi. Dan Mahira merasa khawatir karena sekarang sudah lewat tengah malam.
Tak lama Edmond ada di sana. Ia keluar dengan menggunakan handuk lalu segera masuk ke dalam walk in closet dan keluar menggunakan celana rumahan dan kaos oblong.
"Ayo tidur. Ini sudah larut!" ajak Edmond lalu mematikan lampu utama dan segera naik ke atas tempat tidur. Mahira yang sejak tadi masih duduk di tepi tempat tidur pun perlahan menggeser tubuhnya. Punggungnya menyentuh kepala ranjang dan matanya menatap punggung Edmond yang tidur membelakangi nya. Mahira tak dapat membohongi hatinya. Ia telah memiliki cinta yang besar terhadap Edmond walaupun ia sering mengalami luka yang dalam atas semua rahasia Edmond yang mulai diketahuinya.
"Kamu punya masalah, Ed?" tanya Mahira tanpa bisa menahan lagi rasa penasaran dalam dirinya.
Edmond membalikan tubuhnya. Lampu baca belum Mahira matikan sehingga wajah istrinya itu terlihat jelas.
"Aku baik-baik saja." Edmond tersenyum lalu menyentuh tangan Mahira.
"Kau tidak baik-baik saja, Ed. Aku merasa kamu sepertinya tertekan dengan banyak masalah. Aku bahkan baru tahu kalau kamu merokok. Aku yakin kamu merokok karena hatimu sedang galau kan?"
Edmond perlahan bangun dan duduk di samping Mahira. Ia kemudian memegang wajah Mahira dengan kedua tangannya. "Satu yang harus kau tahu, Ra. Tak ada lagi rasa yang kumiliki untuk Monalisa. Aku tak pernah lagi menyentuhnya. Karena itu aku mohon kepadamu. Tetaplah di sisiku. Aku hanya takut, jika kau mengetahui tentang masa laluku, maka kau akan pergi dari hidupku. Aku ingin membaginya denganmu namun aku tak tahu harus dimulai dari mana."
"Rahasia apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Ed?"
Edmond langsung memeluk Mahira. Tangisnya pecah saat ia mendekap istrinya itu. Haruskah ia menceritakannya sekarang? Siapkah ia kehilangan Mahira saat masa lalunya terkuak?
***********
Selamat siang all
__ADS_1
semangat di hari libur
jangan lupa dukung emak ya guys