
Sepanjang malam Edmond tak bisa memejamkan matanya. Dia ingat bagaimana Edewina yang mengusap perut maminya dan menciumnya sambil tersenyum.
Mahira pasti hamil. Tapi mengapa ia tak mengatakan padaku? Ah, aku ingat dengan kejadian sore itu. Apakah percintaan kami yang membuat Mahira terluka itu telah membuat Mahira hamil? Aku kan tidak mandul seperti yang Monalisa katakan. Ya, Tuhan, aku akan punya anak. Darah daging ku sendiri. Mahira pasti tak mau mengatakan padaku karena ia takut aku tak percaya kalau itu adalah anakku.
Edmond bangun dan turun dari atas ranjang. Ia menuju balkon kamarnya dan menatap langit yang mulai memerah karena fajar yang sebentar lagi menyingsing. Aku akan meluluhkan hatiku lagi, Ra. Dan aku akan membuat Edewina mengingat aku lagi. Aku janji.
************
Mahira menghadap cermin, lalu membuka handuk yang melingkari tubuhnya. Ia tersenyum menatap perutnya yang mulai kelihatan. Kehamilannya sudah memasuki minggu ke-14. Dokter mengatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Detak jantungnya bahkan terdengar sehat.
Teman-teman Mahira di tempat kerja semuanya memperhatikan Mahira. Mereka diberitahu oleh Mahira bahwa sebentar lagi ia akan bercerai karena tak ada kecocokan dengan suaminya.
Kehamilan kali ini tak merepotkan Mahira. Mual dan muntah hanya di bulan kedua saja. Itu pun tak berlebihan. Hanya sesekali saja. Kini Mahira bahkan tak merasa mual lagi. Ia makan semua makanan dengan baik.
Setelah puas melihat perutnya dari pantulan kaca, Mahira segera mengganti pakaiannya untuk ke tempat kerja. Edewina sudah berangkat ke sekolah di temani oleh Melly. Mahira bersyukur karena bisa menemukan orang seperti Melly. Hanya butuh satu minggu bagi Melly untuk membuat Edewina suka padanya.
Selesai ganti baju, Mahira hendak merapikan tempat tidur. Sampai akhirnya ia melihat keempat boneka barbie itu. Mahira mengambilnya dan meletakkan boneka itu di atas bantal yang ada. Semalam, Mahira terkejut saat Edewina menyebutkan nama-nama boneka itu yang sama.denhwn nama-nama bonekanya yang ada di Samarinda.
Setelah kamar itu rapi dan bersih, Mahira segera mengambil tasnya dan bergegas meninggalkan kamar. Ia.mengunci semua pintu dan jendela. Melly memiliki kuncinya sendiri.
Saat Mahira menutup pintu pagar, ia terkejut melihat mobil Edmond sudah ada di sana dan Edmond langsung keluar dari mobilnya saat melihat Mahira.
"Selamat pagi!" sapa Edmond.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara Mahira terdengar ketus.
"Menjemputmu untuk ke tempat kerja."
"Jangan pedulikan lagi dengan kehidupanku. Bukankah kita akan bercerai?"
Edmond tersenyum. "Aku tak akan pernah menceraikan mu, Mahira! Kau dan Wina adalah napasku sendiri."
Mahira sebenarnya bergetar mendengar kata-kata Edmond. Namun saat mengingat bagaimana kejadian penculikan Wina dan semua hal yang hampir membuat Wina celaka, Mahira berusaha menguatkan hatinya. Ia kemudian menghentikan sebuah angkot yang lewat dan langsung masuk ke dalamnya tanpa memperdulikan Edmond yang tertegun melihatnya.
Edmond merasakan hatinya sakit sekaligus kesal. Mahira sedang hamil dan harus duduk berdesakan dengan mereka yang ada di dalam angkot sementara mobilnya yang luas dan sejuk tak mau dinaiki oleh istrinya itu.
Mahira yang sudah berada dalam angkot merasa tak enak sebenarnya. Ia melihat wajah Edmond yang kecewa ketika Mahira memilih untuk naik angkot.
Saat ia tiba di kantor, salah satu temannya nampak senyum-senyum.
"Ada apa?" tanya Mahira
"Masu saja ke ruangan mu." Ujar Sella.
Mahira masuk ke ruangannya. Di atas meja, ada buket bunga mawar merah yang sangat indah. Mahira mengambil kartu nama yang ada di bunga itu.
__ADS_1
Senyum mu mengguncang duniaku. Jun.
Jun? Mahira terkejut saat mengetahui siapa lelaki yang mengirimkan bunga untuknya. Jun adalah mitra kerja bos Mahira. Ia adalah pengusaha keturunan Indonesia-Korea. Usianya sudah 33 tahun dan katanya ia masih jomblo.
"Duh, yang mendapat bunga dari bos Jun." goda Sella yang sudah berdiri di depan ruangan Mahira.
"Siapa yang mengantar kan ini?"
"Sopirnya bos Jun."
"Sopir bos Jun?"
"Iya. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah datang. Bos Jun sedang ke Jakarta. Wah, beruntungnya kamu Mahira. Bos Jun itu sangat tampan, dan masih jomblo."
"Aku masih menikah."
"Sebentar lagi kamu kan bercerai."
"Aku tak cocok dengannya. Dia masih bujang, seorang bos dari beberapa perusahaan, mengapa juga harus menyukai aku dengan seorang wanita yang sudah pernah menikah dan sedang hamil lagi."
"Cinta itu buta. Tak pandang status apapun. Memang sejak pertama bos Jun melihatmu, aku sudah yakin kalau bos Jun tertarik padamu. Kalau kamu tak bahagia dengan mantan suamimu, kenapa tak mencoba kebahagiaan dengan orang lain?"
Mahira tersenyum. "Ini hanya bunga. Bos Jun pasti hanya sekedar kagum. Pasti jika dia tahu kalau anakku akan dua, dia akan .undir dengan perlahan." Mahira mengeluarkan laptop dari tas kerjanya dan langsung menyalakannya untuk memulai aktivitasnya hari ini.
Sella pun meninggalkan ruangan Mahira dan segera kembali ke ruangannya.
Tawa Edewina terdengar saat Edmond menceritakan beberapa cerita lucu padanya.
"Mengapa cerita ini kedengarannya nggak asing ya? Sepertinya cerita ini Wina pernah dengar. Tapi lupa di mana."
Edmond mengusap kepala Wina. Ia percaya bahwa Edewina pasti akan menemukan ingatannya tak lama lagi.
"Om Edmond, mengapa 4 hari ini nggak datang ke rumah? Wina nungguin lho."
"Oh, Wina merindukan om Edmond? Maafkan om ya, sayang. Om ada pekerjaan di Jakarta. Semalam baru saja pulang."
"Oh begitu ya. Terima kasih juga untuk bonekanya. Sekarang boneka Wina sudah ada 8."
Edmond mengangguk. Tak lama kemudian terdengar suara orang mengetuk pintu. Saat Edmond membukanya, ternyata seorang kurir pengantar bunga.
"Rumah Mahira Hamarung?" tanya kurir itu.
Edmond kesal karena Mahira tak menggunakan nama Moreno lagi. Namun ia mengangguk juga.
"Ini ada kiriman bunga dan hadiah."
__ADS_1
"Dari siapa?"
"Ada di kartu nama. Permisi!" pamit kurir itu.
Edmond membawa bunga dan sekotak coklat itu ke dalam. Ia penasaran dan langsung membuka kartu nama itu.
Tak sabar ingin melihatmu lagi. Jun
Dada Edmond langsung terasa panas. Ia merasa cemburu saat membaca kartu nama itu. Kalau tak ada Edewina di hadapannya, mungkin Edmond sudah menginjak-injak bunga dan kotak coklat itu.
"Om Edmond, Wina mau pipis dulu." Wina berlari ke dapur untuk masuk ke kamar mandi yang ada di sana sedangkan Melly, sedang ke rumahnya sebentar karena ada kerabatnya yang dari jauh, mampir ke rumahnya.
Pintu ruang tamu terbuka. Mahira masuk. Ia kaget melihat Edmond yang sudah ada di sana pada hal selama beberapa hari ini Edmond tak datang. Mungkinkah karena sidang perdana mereka akan dilaksanakan besok?
"Ada apa kau ke sini?" tanya Mahira dingin
Ia bermaksud akan ke kamarnya namun langkahnya terhenti melihat bunga mawar merah dan sekotak coklat ada di atas meja ruang tamu.
"Siapa Jun?" tanya Edmond tanpa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Kamu sudah membaca kartunya? Sungguh tidak sopan!"
"Aku berhak tahu siapa yang mengirim istriku bunga mawar merah dan sekotak coklat yang menggambarkan perasaan cinta."
"Hanya teman bos ku."
"Tapi jelas kalau ia menyukaimu."
"Memangnya kenapa kalau dia suka padaku? Apa kamu pikir kalau aku perempuan murahan yang akan mudah suka dengan pria lain?"
Edmond berusaha menahan rasa cemburunya. "Ra, kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu."
"Aku.....!"
"Eh, mami sudah pulang. Apa kabar mommy? Apa kabar dede bayi?" Wina mencium tangan Mahira kemudian perutnya. Mahira nampak tegang. Apalagi saat pandangan Edmond tertuju ke perutnya. Pandangan yang menuntut penjelasan.
"Wina sayang, om Edmond akan pulang. Ucapkan selamat tinggal pada om Edmond." Mahira menemukan cara untuk mengusir Edmond.
Edewina menatap Edmond. "Terima kasih om Edmond. Hati-hati di jalanya....."
Edmond tak bisa menolak keinginan Mahira. Ia terpaksa pulang karena tak ingin menyakiti Wina. Hatinya bertanya, berapa bulan usia kandungan Mahira?
************
Selamat sore semua
__ADS_1
happy reading