
Bel pintu kamar Teddy berbunyi. Apakah itu Mahira?
Teddy membukanya dan satu bogem mentah langsung melayang ke wajahnya. Teddy hampir saja terjatuh ke lantai kalau ia tak berpegang pada gagang pintu.
"Jauhi istriku!" teriak Edmond dan siap memukul Teddy lagi namun kali ini Teddy berhasil menghindar.
Teddy mundur sambil memegang wajahnya yang terasa panas dan sakit. Di tatapnya Edmond dengan tatapan tajam. Tak ada rasa takut walaupun Edmond terlihat sangat marah.
"Aku akan mendapatkan kembali apa yang pernah menjadi milikku." Kata Teddy sambil tersenyum mengejek.
"Tak ada lagi cinta untukmu! Mahira sudah mencintaiku!" kata Edmond sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Oh, ya? Apakah benar ia telah mencintaimu? Kalau begitu apa yang telah kau lakukan padanya sehingga ia bisa sakit dan pingsan tadi? Dia terlihat menderita dan sedang tertekan oleh masalah yang berat. Kamu memang brengsek, Edmond Moreno. Kamu tak pantas berada di sisi Mahira."
"Lalu kamu pikir kalau dirimu pantas?" Edmond maju lagi dan hendak memukul Teddy namun anak buah Edmond yang berdiri di belakangnya langsung menahan Edmond.
"Bos, nyonya sudah ada di tempat parkir. Namun nyonya sepertinya sakit. Ia masih duduk dan belum menjalankan mobilnya."
Edmond menahan dirinya untuk tak memukul Teddy lagi. Setengah berlari ia segera menyeberangi jalan pembatas antara hotel dan mall. Saat ia tiba di tempat parkir, Mahira masih duduk di balik kemudi sambil memijat pelipisnya.
"Ayo pindah!" Edmond tiba-tiba membuka pintu mobil dan membuat Mahira terkejut.
"Edmond?" .
"Biar aku yang membawa mobilnya."
Mahira pun turun dari mobil lalu berpindah ke jok sebelah kiri. Edmond masuk ke dalam mobil sambil membanting pintu mobilnya. Wajahnya merah, menahan emosinya yang hampir meledak namun ia berusaha menahannya karena melihat wajah Mahira yang sedikit pucat.
Mobil itu pun meninggalkan pelataran parkir mall.
Namun saat melihat mobil tak berbelok ke arah rumah mereka, Mahira menjadi bingung. "Kita mau kemana, Ed?"
"Ke tempat lain dimana Wina tak akan mendengar pertengkaran kita." Jawab Edmond sambil memukul stir mobil untuk melampiaskan emosi yang ada dalam dirinya. Rasa cemburu telah membakar hatinya.
Mahira diam. Ia sesungguhnya tak pernah melihat Edmond seperti ini. Karena sejak pertama ia mengenal Edmond, dia adalah lelaki yang baik hati dan sangat lembut. Mahira sendiri tak pernah melihat Edmond memarahi Wina.
Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, keduanya tiba di tepi pantai. Kawasan pantai yang sudah sepi karena menjelang magrib. Saat mobil berhenti, Mahira pun membuka pintu mobil dan segera turun untuk mencari udara segar. Suasana dalam mobil terasa panas dan menegangkan.
Edmond pun ikut turun. Ia berdiri di hadapan Mahira yang sedang bersandar di pintu mobil karena sesungguhnya Mahira merasa agak pusing.
"Mengapa kamu bertemu dengan Teddy, Ra?" tanya Edmond.
"Aku tak bertemu dengannya. Dialah yang datang menemui aku saat sedang minum kopi di cafe." kata Mahira sambil membuang muka. Ia tak mau berhadapan dengan Edmond.
"Lalu mengapa sampai kamu berada di kamarnya? Apa yang kalian lakukan di sana? Bernostalgia?"
Mahira tak bisa menahan dirinya. Ia menampar Edmond dengan sangat keras. "Aku memang bukan perempuan suci saat kau nikahi tapi bukan berarti aku tak bisa menjaga martabat Ki sebagai seorang istri."
Edmond memegang pipinya yang terasa panas. "Maafkan aku, sayang." Edmond berusaha meraih tangan Mahira namun istrinya itu dengan cepat menepis tangan Edmond. "Sudah ku katakan supaya kamu jangan menyentuh aku lagi."
"Jadi kalau kamu disentuh oleh Teddy boleh? Teddy mengatakan kalau kamu pusing dan ia membawamu ke kamar. Sekarang kamu keluar dari kamarnya sudah menggunakan baju lain. Kamu membuat aku gila karena cemburu, Ra." Edmond mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun sebagai tanda emosinya yang mulai tak terkontrol.
"Kata Teddy bajuku kotor karena tertumpah kopi."
"Dia yang menggantinya?" teriak Edmond. Andai saja Teddy ada di depannya, entah sudah berapa banyak pukulan yang ia berikan pada pria itu.
"Pelayan hotel." jawab Mahira berbohong. Karena tadi Teddy mengatakan bahwa ia sendiri yang mengganti baju Mahira.
"Jauhi dia, Ra."
__ADS_1
"Ya. Aku akan menjauhi Teddy dan juga dirimu!"
"Aku suami mu!"
"Suami yang berkhianat. Apakah pantas dipertahankan?"
"Mahira! Aku tak ada hubungan dengan Monalisa lagi. Dia itu gila karena terlalu terobsesi ingin terus bersamaku. Bagaimana aku bisa meyakinkan dirimu kalau aku sama sekali tak pernah mengkhianati mu?"
"Jangan bohongi aku lagi, Ed!"
"Aku nggak bohong! Aku berani bersumpah atas nama mommy ku, kalau setelah menikah, aku dan Monalisa tak pernah berhubungan intim selain ia yang menciumiku di ruang rapat. Memang benar hubungan kami sebelumnya sudah sangat intim layaknya suami istri. Tapi semua itu benar-benar sudah berakhir."
"Kenapa kamu membela dia dan tak mengijinkan Lerry melaporkannya untuk kasus penggelapan uang perusahaan?"
"Karena aku ingin kami bertiga sebagai pendiri perusahaan ini duduk berbicara secara kekeluargaan. Mungkin saja Monalisa ada keperluan mendesak sehingga ia harus menggunakan uang perusahaan. Monalisa anak orang kaya. Apalah arti uang 350 juta baginya? Aku tahu Lerry orangnya sangat menjunjung tinggi arti sebuah kejujuran. Makanya ia tak ingin hal itu terjadi di perusahaan kami."
"Aku tak tahu mana yang harus ku percaya. Kamu, Teddy atau apa yang telah ku lihat." Mahira memegang kepalanya.
"Sayang, kamu merasa pusing lagi?"' Edmond mendekat namun tak berani menyentuh Mahira karena istrinya itu kembali menjauh.
"Aku mau pulang!" Mahira membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam. Ia menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya. Semua persoalan ini menguras semua energi yang ada dalam tubuhnya.
Edmond mengalah. Ia juga ikut masuk ke dalam mobil. Lalu perlahan mobil itu meninggalkan kawasan pantai itu.
************
Edmond Pov
Hari ini, mommy meminta aku ke Singapura. Kebetulan sedang libur dan aku juga kangen dengan kakakku. Ia bekerja di sini.
Sudah 2 tahun Edewina bekerja di sini. Kakakku itu memang sangat mandiri. Seperti juga aku, ia pun belum ingin mengolah perusahaan milik keluarga.
Saat turun dari taxi, aku melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan lobby apartemen. Lalu kulihat Edewina turun dari mobil. Karena malam hari, aku tak terlalu jelas melihat wajah pengemudinya. Namun wajah itu terasa familiar denganku.
"Kak.....!" panggilku saat mobil itu sudah pergi.
Edewina yang baru saja akan masuk segera menoleh. "Ed?" Ia langsung berlari dan memelukku.
"Ini kejutan, Ed!" Edewina memegang pipiku dan menciumnya lembut. Dapat kulihat mata Edewina sembab dan ada bekas memar di dekat matanya.
"Kak, siapa yang melakukan ini padamu?" tanya ku sambil memegang wajahnya.
"Aku jatuh di kamar mandi, Ed. Ayo masuk!" Edewina segera menggandeng tanganku dan masuk ke dalam apartemen.
Setelah berada di dalam unit milik Edewina, kakakku itu segera membuatkan kopi untuk aku dan dia. Setelah itu kami duduk bersama.
"Mommy kangen. Dia meminta aku untuk ke sini dan menjenguk kakak. Kenapa tak pernah pulang ke Manado?"
"Aku sibuk, Ed."
Aku menyesap kopi buatan kakakku. "Kak, kamu ada masalah? Kok bandan mu menjadi kurus?"
Edewina tersenyum. "Karena aku banyak pekerjaan." Edewina tiba-tiba saja memejamkan matanya lalu menyandarkan punggungnya.
"Ada apa, kak?"
"Hanya sedikit pusing."
Aku memijat pelipisnya. Namun Edewina menempelkan tangannya ke mulutnya. "Aku mual dan ingin muntah." Ia berlari ke kamar dan aku menyusulnya. Edewina masuk ke kamar mandi dan aku mendengar suara ia muntah di sana. Perasaanku jadi tak enak.
__ADS_1
Saat Edewina keluar, aku membantunya untuk berbaring di ranjang.
"Kak, kamu hamil?" tebak ku.
Edewina menangis. Ia tak jadi membaringkan tubuhnya melainkan duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Kak.....!"
Edewina memegang tanganku. "Tolong jangan kasih tahu, mommy. Aku akan mengatasi masalah ini."
"Memangnya pacar kakak tak tahu kalau kakak hamil?"
"Tahu."
"Lalu?"
Edewina tertunduk. "Dia pria beristri, Ed."
Aku terkejut. Kakakku yang cantik, yang pendiam tapi sangat pintar ini mengapa bisa memiliki hubungan dengan pria beristri?
"Kak, kok bisa dengan pria beristri? Apakah di Singapura ini kakak tak bisa mendapatkan pria lain?"
Tangis Edewina semakin dalam. "Aku dan dia sudah kenal semenjak dari Manado. Awalnya dia secara tak sengaja menabrak mobil ku saat sedang parkir di kawasan mall. Di situlah kami berkenalan. Dia sangat mempesona walaupun usianya jauh di atas ku. Setelah itu kami pun saling ketemu. Awalnya ia hanya curhat masalah rumah tangganya dengan istrinya yang tak lagi harmonis karena mereka menikah di saat usia masih sangat muda. Istrinya 17 tahun dan dia 18 tahun. Lama kelamaan kami saling jatuh cinta. Lalu ia pindah ke sini. Aku pikir mungkin ini jalan bagi kami untuk berpisah. Ternyata, dia sudah menyiapkan pekerjaan bagiku di sini. Itulah sebabnya mengapa aku datang ke sini."
Aku menggelengkan kepalaku. "Mommy akan kecewa jika tahu masalah ini, kak."
"Aku tahu, Ed. Namun kita tak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. Dia baik, Ed. Dia berjanji akan mengurus perceraiannya dengan istrinya dan menikahi ku."
"Siapa dia? Apakah aku mengenalnya? Bukankah tadi kakak mengatakan kalau dia juga berasal dari Manado?"
Edewina menarik napasnya. Ia memegang tanganku. "Terdi Kandow."
Aku terkejut. "Papa dari Teddy?"
"Ya. Papa dari Teddy dan Tiana."
Aku kesal mendengar nama Tiana. Gadis itu memang pernah dekat denganku. Saking dekatnya Sampai ia mengira kalau kami sudah berpacaran. Tiana memang sangat cantik dan seksi. Namun aku tak tertarik padanya. Lagi pula saat itu ia masih duduk di kelas 2 SMA. Kami hanya beberapa kali jalan dan setelah itu aku menjauh karena kesibukan kuliahku. Siapa yang sangka kalau gadis itu menjadi gila dan terus mengejar ku.
"Kak, jauhi lelaki itu."
"Aku tak bisa, Ed. Aku mencintainya."
"Dia itu suami orang."
"Apakah kau kesal karena anak Terdi berhasil merengut gadis yang kau sukai?"
"Kak, aku sudah melupakan Mahira. Aku sekarang punya pacar di Amerika."
Edewina memelukku. "Tolong dukung aku, Ed. Terdi sementara mengurus perceraian mereka. Aku ingin bersama Terdi. Kami saling mencintai."
Aku tak tahu harus bicara apa. Kakakku yang cantik telah jatuh cinta. Namun pada orang yang salah. Aku bingung harus bilang apa ke mommy nantinya. Aku juga sangat menyayangi kakakku. Dapat kulihat kalau cintanya pada Terdi sangat kuat.
Aku kembali pulang ke Amerika tanpa mengatakan apapun pada mommy.
*************
Selamat pagi guys
semangat terus puasanya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung emak ya?