RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Sentuhan Itu...


__ADS_3

Punggung Mahira sudah menyentuh dinding kamar. Ia tahu kalau tak ada lagi tempatnya untuk berlari dan menghindari Edmond. Apalagi tubuh besar Edmond telah memerangkap tubuhnya diantara kedua tangannya. Jarak mereka begitu dekat sehingga harum tubuh Edmond yang selama ini Mahira sukai, seakan mulai menghipnotis tubuhnya. Tatapan mata pria setengah bule itu sanggup memporak-porandakan hatinya.


"Aku mau....." Kalimat Mahira terhenti saat ibu jari Edmond menyapu permukaan bibir Mahira.


"Aku sangat merindukan bibir tipis mu ini." Kata Edmond.


"Jangan macam-macam, Ed!" kata Mahira berusaha terlihat dingin pada hal ia merasa ada senyar aneh di kulitnya.


"Kenapa memangnya kalau aku banyak macam?"


"Wina.., Wina bisa saja bangun!" kata Mahira sambil menoleh ke arah putrinya.


"Wina sudah meminum obat ramuan yang biasa kubiarkan jika dia demam. Dan kamu pasti belum lupa kalau ia akan tidur nyenyak sampai pagi." kata Edmond lalu melangkah lagi satu langkah sehingga jarak diantara mereka tak ada lagi. Edmond menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Mahira lalu dengan lembut ia mencium dahi Mahira, turun ke matanya, lalu ke pipinya, dan berakhir di bibirnya.


Mahira memejamkan matanya. Tangannya yang tadi memegang pinggiran dasternya kini memegang kaos yang Edmond kenakan. Sangat jelas terlihat kalau mereka begitu saling menginginkan sentuhan ini. Tak ada kata penolakan yang ada hasrat untuk saling memuaskan.


Saat ciuman mereka terlepas, Mahira berusaha mengembalikan kesadaran dirinya yang telah dikuasai oleh gairah. Apalagi tangan Edmond sudah menyusup masuk dan mengangkat dasternya ke atas.


"Kau juga menginginkan aku!" ujar Edmond dengan suara sensual. Ia mengecup ujung hidung Mahira.


"Ti...., tidak....!" Mahira menggeleng. Ia akan pergi namun Edmond menahan tangannya lalu kembali menciumnya dengan keras. Mahira kembali takluk dalam kendali Edmond. Namun saat Edmond akan melakukannya sambil berdiri, seperti yang biasa mereka lakukan saat Wina tidur di kamar mereka, Mahira mendorong Edmond sambil menggeleng.


"Ed, aku sedang hamil."


Edmond ingat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha membunuh rasa yang hampir meledak dalam dirinya.


"Maafkan aku, sayang." Edmond mengecup dahi Mahira dan mengenakan kembali celananya dengan cepat. Ia pun keluar dari kamar untuk menenangkan kembali dirinya.


Mahira memperbaiki juga dasternya. Ia menarik napas lega. Ia bersyukur, Edmond tak menariknya untuk ada di kamar lain.


Ia pun segera ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Setelah itu ia langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping anaknya.


Namun sudah satu jam ia membaringkan tubuhnya, ia tak bisa tertidur. Mahira menjadi sangat gelisah. Ia memikirkan Edmond. Pasti pria itu menahan sakit di tubuhnya.


Perlahan Mahira pun bangun dan keluar kamar. Ia tak menemukan Edmond ada di ruang tamu. Apakah Edmond sudah pulang?


Mahira membuka tirai jendela. Mobil Edmond masih ada di halaman rumahnya. Lalu, dimana Edmond?


Hati Mahira menjadi gelisah. Ia pun segera mencari Edmond ke ruangan yang lain dan menemukan pria itu sedang duduk di depan pintu dapur yang sengaja dibukanya. Mahira melihat ada kepulan asap di sana. Edmond pasti sedang merokok.


"Ed....!" panggil Mahira.


"Jangan mendekat. Nanti kamu menghirup asap rokok ini." Edmond membuang sisa rokok di tangannya. Ia kemudian berdiri dan menutup pintu dapur. Pandangannya bertemu dengan Mahira. Lalu ia mencuci tangannya di tempat cuci piring.


"Aku akan tidur di sofa ruang tamu. Kau tidurlah. Ini sudah hampir jam 12 malam."


"Kamu dapat tidur di kamar tamu. Namun kamarnya kecil. Kamar mandinya juga nggak ada."


Edmond tersenyum. "Kenapa tadi tak kau katakan kalau ada kamar lain?"

__ADS_1


Mahira pun tersenyum. "Ayo tidur! Di kamar itu nggak ada AC. Hanya ada kipas angin. Selamat malam." Mahira langsung melangkah ke kamarnya. Entah mengapa ia merasa senang karena Edmond tak pulang.


**********


Saat pagi hari, Wina yang lebih dulu terbangun. Ia mencium Mahira.


"Selamat pagi, mami."


"Selamat pagi sayang." Mahira langsung memeriksa suhu tubuh Wina. "Kamu sudah sehat sekarang?"


"Iya. Wina boleh sekolah kan?"


"Boleh."


"Om Edmond kemana?"


"Om Edmond tidur di kamar sebelah."


Wina langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar. Ia mengetuk pintu kamar yang ada di samping kamar mereka. Karena tak ada sahutan, gadis kecil itu langsung membukanya namun tak menemukan ada Edmond di sana. Ia pun berlari ke ruang tamu lalu mengintip ke luar jendela. Tak ada mobil Edmond ke sana. Dengan wajah sedih, Wina kembali ke kamar. Mahira yang sementara membereskan tempat tidurnya mengentikan kegiatannya itu.


"Ada apa, sayang?"


"Om Edmond sudah pulang. Mobilnya sudah nggak ada."


"Om Edmond kan harus kerja, sayang. Sore nanti pasti kembali. Sekarang kita buat bekal Wina untuk ke sekolah." Mahira meraih tangan putrinya dan sambil bergandengan tangan, mereka menuju ke dapur. Namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat di atas meja sudah ada sarapan yang tersedia.


"Mami, kayaknya kita pernah makan makanan yang seperti ini. Tapi di mana ya?" tanya Edewina saat melihat ada pancake dengan toping keju coklat di atasnya, susu dan roti bakar. Kebiasaan Edmond jika mereka ada di mess adalah menyiapkan ini bagi mereka.


"Ayo kita sarapan!" Mahira pun merasa lapar saat melihat makanan itu.


Ibu dan anak itu sarapan dengan bahagia. Lalu mereka mandi bersama dan segera ganti pakaian.


Biasanya, Wina akan diantar oleh Melly namun pagi ini Melly tak datang. Saat Mahira menutup pintu dan akan mengantar Wina ke sekolahnya, mobil Edmond sudah terparkir kembali di depan rumah.


"Om Edmond!" Wina nampak senang.


"Selamat sayang." Edmond membuka pintu mobil dan mempersilahkan Wina naik. Ia juga sudah membuka pintu bagian depan untuk Mahira.


"Om mau mengantar Wina ke sekolah?" tanya Wina senang.


"Iya, sayang. Nanti tante Melly yang akan menjemput Wina." ujar Edmond lalu mulai menjalankan mobilnya.


"Melly bilang kalau ia akan datang? Kalau nggak biar aku saja yang menunggu sampai Wina pulang dan membawanya ikut ke kantor." tanya Mahira.


"Aku yang meminta Melly agar pagi ini jangan menjemput Wina. Biar aku yang mengantarnya."


"Jadi sekarang Melly sudah berurusan denganmu?"


Edmond tersenyum. "Melly tahu kalau aku sedang berusaha memenangkan hatimu lagi, sayang."


"Dasar!"

__ADS_1


"Mami sama om Edmond kok bertengkar?" tanya Wina.


"Nggak sayang." Secara spontan Edmond dan Mahira menjawab.


"Ih....jawabannya kompak." ledek Wina. Ia senang melihat maminya akrab dengan Edmond.


Mereka pun tiba di sekolah Wina yang jaraknya memang tak jauh dari rumah. Wina turun di temani Edmond karena itu yang Wina inginkan. Sementara Mahira menunggu di mobil.


"Wina, ini siapa?" tanya Rani, teman sekelasnya.


"Papiku." jawab Wina sambil mengedipkan sebelah matanya pada Edmond.


Edmond mengangguk. Ia tahu kalau Wina belum mengingatnya sebagai papi yang sebenarnya. Namun ia senang karena Wina memperkenalkannya sebagai papinya.


"Wah, papimu tampan. Kayak bule." ujar Rani sambil tersenyum manis.


"Papi Ed memang tampan."


Edmond mencium anaknya. "Ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi tante Melly pasti datang. Nanti sore kita ketemu lagi ya."


Wina mengangguk dan segera masuk ke kelas. Edmond pun kembali ke mobil dengan senyum penuh kebahagiaan. Ia segera mengantar Mahira ke kantornya.


"Pulang nanti, aku jemput ya?" ujar Edmond.


"Aku bisa pulang de..."


"Kan sudah janji." Edmond menyela kalimat Mahira membuat perempuan itu akhirnya mengangguk. Ia membuka sabuk pengamannya. Namun sebelum ia turun, Edmond menahan tangannya.


"Ra, boleh aku menyapanya?" tanya Edmond sambil menunjuk perut Mahira.


"Eh...." Mahira jadi bingung. Namun. Edmond sudah menunduk dan mencium perutnya.


"Selamat pagi, sayang. Jangan rewel di perut mami ya?" Ia kemudian meraih tangan Mahira dan menciumnya lembut. "Jangan terlalu capek bekerja."


Mahira pun segera turun dengan dada yang bergemuru. Ia bagaikan ABG yang kembali merasakan bagaimana manisnya jatuh cinta atas semua perlakuan Edmond padanya.


Ketika mobil Edmond akhirnya berlalu, Mahira langsung masuk ke dalam kantor. Ketika ia sudah berada di ruangannya. Matanya kembali menatap 2 buket bunga.


Yang satu bertuliskan :Selamat pagi cantik. Aku masih setia menunggumu. Jun


Yang satu lagi bertuliskan : Bolehkah kita mengulang lagi yang semalam? Ed


Mahira menjadi gemas membaca pesan di kartu Edmond. Dasar mesum !


***********


Apakah malam ini akan terulang lagi?


Hallo semua


semoga suka dengan bab ini

__ADS_1


jangan lupa dukung emak ya


__ADS_2