RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Jenis Kelamin Baby


__ADS_3

Waktu pemeriksaan pun tiba. Mahira tak mau mengusik lagi masalah hp Edmond yang berbeda warna. Ia belajar menahan dirinya untuk tak mengusik sesuatu yang akan memperburuk hubungannya dengan Edmond. Mahira cukup merasa bersyukur karena Edmond menerima dirinya apa adanya.


Dokter Nana seperti biasa menanyakan beberapa pertanyaan kepada Mahira sebelum akhirnya melakukan USG.


"Dok, apakah jenis kelaminnya sudah bisa diketahui?" tanya Edmond.


"Bisa. Tuan Moreno punya keinginan khusus untuk jenis kelaminnya?"


Edmond memegang tangan Mahira. "Bagi kami sama saja, dok. Mau laki-laki atau perempuan, kami akan menerimanya dengan senang hati. Hanya saja jika disuruh untuk memilih, aku inginnya anak perempuan. Katanya, kalau yang tua adalah perempuan, maka ia bisa menjadi kakak yang baik bagi adik-adiknya."


Dokter Nana mengangguk. "Sepertinya doa tuan Moreno terkabul. Anak ini jenis kelaminnya adalah perempuan."


"Benarkah?" Mata Edmond langsung berkaca-kaca. Ia terlihat sangat senang. "Sayang, kita akan punya baby girl." Edmond mengecup dahi Mahira, membuat istrinya itu sedikit tersipu karena ada dokter Nana di sana.


"Nyonya harus banyak makan ya? Berat badan bayinya masih terlalu kecil. Nanti saya resepkan vitamin."


"Tapi anaknya sehat kan dok?" tanya Edmond.


"Sehat. Detak jantungnya juga bagus."


Edmond bernapas lega. Ia membantu Mahira untuk bangun dan menolongnya juga untuk turun dari tempat tidur.


Ketika keduanya keluar dari tempat praktek dokter Nana, Edmond nampak bahagia. Ia menggenggam tangan Mahira.


"Ada apa?" tanya Mahira sambil melirik ke arah Edmond.


"Aku bahagia. Sangat bahagia sampai rasanya mau menangis. Tak sabar ingin melihat kelahiran anak kita."


"Masih 3 bulan lagi, Ed."


Edmond mengusap perut Mahira. Beberapa orang yang melihat mereka ikut terharu dan merasakan bahwa pasangan itu terlihat saling mencintai.


Dari dokter, mereka mampir di sebuah restoran. Edmond memaksakan Mahira untuk makan yang banyak sesuai dengan anjuran dokter. Ia bahkan menyuapi Mahira. Hati Mahira menjadi semakin terharu dengan semua perhatian Edmond untuknya.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." kata Mahira saat keduanya sudah tiba di rumah. Bibi Juminten hari ini tak ada karena pulang melihat cucunya yang sakit.


"Apa itu?" tanya Edmond sambil duduk di dekat Mahira. Edmond baru saja selesai membuatkan segelas susu hamil untuk Mahira.


"Jika anak ini lahir, bibi Juminten pasti akan tahu kalau saat hamil, aku sudah mengandung."


Edmond meraih kedua tangan Mahira dan menggenggamnya erat. "Sudah ku katakan jangan pikirkan itu. Biar semuanya aku yang akan mengaturnya. Pokoknya kamu jalani saja masa kehamilan ini dengan tenang dan senang agar anak kita juga dapat tumbuh dengan baik di dalamnya."


"Tapi, bagaimana jika wajahnya ternyata mirip...., mirip...."


Edmond membawa Mahira ke dalam pelukannya. "Aku sangat yakin kalau anak ini akan mirip kita berdua."


Mahira langsung menangis dalam pelukan Edmond. "Apakah sebaiknya aku tinggal di kota lain saja? Aku selalu dihantui ketakutan saat membayangkan wajah anak ini, Ed."

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Ra. Bukankah kita selalu berdoa bersama agar anak ini bisa lahir dengan sehat? Itu dulu yang kita perjuangkan bersama. Soal wajah nanti belakangan. Sepupuku di Spanyol mengambil seorang anak angkat. Seorang anak turunan Italia. Kini anak itu berusia 10 tahun. Dan orang-orang mengatakan bahwa wajahnya adalah perpaduan antara sepupuku dan suaminya. Jadi kamu jangan khawatir. Jangan pikirkan itu. Aku percaya anak ini akan mewakili wajah juta berdua."


Mahira mengangguk dalam dekapan Edmond. Ia bersyukur karena Edmond selalu memberikannya kekuatan. Selalu menunjukan perhatian dan cinta kasih yang besar kepadanya. Mahira selalu merasa istimewa. Sekalipun masalah hp itu masih menjadi pertanyaan baginya, namun Mahira berusaha untuk tak bertanya. Ia ingin menikmati semua cinta yang diberikan Edmond padanya.


"Sayang, jika nanti anak kita lahir bolehkah aku memberikan dia nama Edewina? Seperti nama kakak Perempuanku." Tanya Edmond sambil membelai punggung Mahira. Perempuan itu masih ada dalam dekapannya.


"Soal nama, aku serahkan semua di tanganmu, Ed. Berikan dia nama yang terbaik menurutmu. Aku pasti akan setuju."


Edmond tersenyum. "Terima kasih, sayang." Lalu ia mengecup puncak kepala Mahira. Ia sesaat membayangkan wajah kakaknya. Kakak yang sangat menyayanginya namun harus mengahiri hidupnya dengan cara yang tragis.


*************


Perut Mahira semakin membesar. Sudah memasuki bulan ke-8. Ia dan Edmond juga sudah belanja baju hamil seminggu yang lalu.


Sejak kemarin, Mahira ikut Edmond ke tempat kerjanya. Suaminya itu sedang banyak pekerjaan dan Mahira merasa sayang melihat Edmond yang harus bolak balik dari rumah ke perusahaan dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Apalagi Edmond tak mau menggunakan sopir.


Pagi ini, keduanya jalan bersama keliling kompleks. Mahira cukup lega karena para ibu tak lagi memandangnya dengan sinis. Mungkin karena ada Edmond di sampingnya atau juga karena mereka sudah terbiasa melihat Mahira ada di sini.


Tanpa Mahira ketahui, Juminten yang selalu mengatakan kepada para tetangga mengenai sikap Mahira yang baik. Juminten yang selama ini melihat sendiri dan merasakan kelembutan gadis itu merasa terpanggil untuk membersihkan nama Mahira yang selama ini dicap sebagai perempuan pelakor yang matre.


"Capek?" tanya Edmond saat keduanya sudah sampai kembali ke mess.


"Lumayan." jawab Mahira sambil mengambil handuk kecil yang dibawahnya untuk menyeka keringat di wajahnya.


"Selamat pagi tuan, nyonya." sapa Juminten yang sementara menyapu ruang tamu.


"Selamat pagi, bi." Balas keduanya lalu masuk tanpa melepaskan pegangan tangan diantara mereka.


"Sayang, aku buatkan susu hamil ya?" ujar Edmond.


"Dan aku akan membuatkan kopimu. Kau mau sarapan apa pagi ini?"


"Roti gandum saja. Perasan badanku agak naik. Beberapa celana kerjaku kayaknya agak ketat di pinggangku saat ku pakai." Kata Edmond sambil memegang pinggangnya.


"Memang begitu, tuan. Jika istri hamil anak perempuan, suami sering naik badan. Sama seperti mendiang suamiku dulu. Setelah 5 tahun menikah dan memiliki 2 anak perempuan, berat badannya bahkan naik sampai 10 kg." ujar Juminten.


Edmond ingat dengan suami Juminten. "Waduh, jika aku sampai gemuk dengan perut gendut, apakah kamu akan tetap suka padaku, sayang?" tanya Edmond sambil melirik Mahira yang sedang mengaduk kopi yang dibuatnya.


"Cintaku akan sebesar berat badanmu, sayang." jawab Mahira tanpa menoleh ke arah Edmond.


"Benarkah?"' Ada sesuatu yang membuat Edmond bahagia. Kata "cinta" yang Mahira ucapkan.


Mahira meletakan gelas berisi kopi yang ada di tangannya di atas meja makan.


"Iya."


Edmond langsung memeluk Mahira membuat perempuan itu sedikit terkejut. "Ed, ada bibi." Mahira mendorong tubuh Edmond.

__ADS_1


"Biar saja. Bibi tahu kalau aku sedang bahagia." ujar Edmond diikuti anggukan kepala wanita parubaya itu. Bibi Juminten memang sudah tahu kalau Edmond pria romantis. Walaupun dulu dengan Monalisa, Edmond jarang bersikap mesra seperti pada Mahira.


Selesai Edmond sarapan, ia pun berangkat ke tempat kerja. Lerry sedang ada tugas di Surabaya. Biasanya jika tahu Mahira ada, Lerry akan ikut sarapan dan makan siang di sini. Sayangnya, Mahira tak pernah melihat Sofia ikut datang ke Mess mereka.


"Nyonya, selesai masak, bolehkah bibi pergi sebentar? Hari ini cucu bibi ulang tahun. Bibi mau belanja untuk perayaan kecil-kecilan sore ini. Nanti selesai belanja, bibi balik lagi." ujar Juminten.


Mahira yang baru selesai mandi setelah memasak mengangguk. "Bibi nggak usah balik. Nanti saja sekalian esok pagi."


"Bolehkah?"


"Iya. Sampaikan selamat ulang tahun untuk cucu nya. Tunggu sebentar." Mahira masuk ke dalam kamar lalu kembali lagi dengan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.


"Ini untuk bibi."


"Tapi kan ini belum tanggal gajian, nyonya."


"Siapa bilang ini gaji bibi Juminten? Aku memberikan ini untuk tambahan belanja acara ulang tahun cucu bibi."


"Ya Allah, nyonya. Ini terlalu banyak."


Juminten menerimanya dengan perasaan haru. "Kalau nyonya berkenan, maukah datang ke rumah susun?"


"Akan ku usahakan, bi. Aku harus minta ijin sama Edmond dulu."


Juminten mengangguk. Ia pun segera pamit dan pergi ke pasar untuk belanja.


Setelah bibi pergi, Mahira membiarkan saja pintu depan terbuka karena sekarang sudah jam 11 lewat. Sebentar lagi Edmond akan pulang. Mahira masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil karet dan mengikat rambutnya karena udara agak dingin.


Sementara menyisir rambutnya, Mahira mendengar ada suara di luar kamar. Ia buru-buru keluar karena berpikir kalau itu adalah Edmond.


"Ed....!" panggil Mahira. Ia melihat keluar dan tak menemukan orang. Ia akhirnya melangkah ke belakang. Namun di sana juga tak ada orang .


Mahira akan kembali ke ruang tamu saat menyadari bahwa pintu dapur terbuka. Ia dengan pun berjalan untuk menutup pintu itu kembali.


"Ah.....!" Mahira berteriak kaget saat menyadari bahwa lantai itu licin. Ia tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya ia jatuh dan kepalanya terbentur di lantai keramik.


**********


"Sayang.....!" panggil Edmond saat memasuki mess. Pintu depan tak dikunci.


Edmond membuka pintu kamar. Namun Mahira tak ada di sana. Ia lun melangkah ke belakang.


"Mahira.....!" Edmond langsung menjerit histeris saat melihat tubuh Mahira yang terbaring di lantai. Mahira tak membuka matanya namun ada darah segar yang mengalir di betisnya.


*************


Selamat pagi.....

__ADS_1


selamat persiapan puasa ya.....


Semoga dilancarkan puasanya tahun ini


__ADS_2