RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Cinta Pertama Edmond (part 2)


__ADS_3

Aku pergi meninggalkan Mahira setelah aku melamarnya di depan om dan tantenya. Pekerjaanku banyak di perusahaan dan aku harus mengatur segala sesuatunya sebelum kembali ke Manado untuk pernikahan kami.


Saat aku tiba di mess, aku terkejut melihat Monalisa ada di sana. Dia kelihatan kacau dengan mata yang sembab karena kebanyakan menangis. Ia juga terlihat sangat lemah. Mungkin karena ia tak makan selama aku pergi ke Manado. Itulah yang dikatakan bibi Juminten padaku.


"Ed, kamu harus percaya bahwa aku tak sengaja melakukan itu. Aku dijebak, Ed." Monalisa menangis.


"Sudahlah, Ica. Mungkin hubungan kita cukup sampai di sini. Kita masih tetap menjadi rekan kerja namun tidak lagi sebagai pasangan." kataku berusaha tegas. Jujur saja, aku paling tak bisa melihat wanita menangis. Dan Monalisa tahu itu.


" Tidak, Ed. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Monalisa memelukku. Aku berusaha melepaskan diri darinya namun ia tiba-tiba saja pingsan. Aku langsung membawanya ke kamar dan meminta bibi Juminten untuk memanggil bidan yang tinggal di rumah susun. Namanya bidan Rina.


"Nyonya sangat lemah karena ia sepertinya belum makan. Tubuhnya juga hampir kehilangan cairan. Tekanan darahnya sangat rendah. Sebaiknya ia dibawa ke rumah sakit, tuan." kata bidan Rina setelah selesai memeriksa Monalisa.


Aku pun membawa Ica ke rumah sakit terdekat. Ia langsung diberikan cairan infus untuk menopang tubuhnya yang hampir kekurangan cairan. Setelah diberikan suntikan, tak lama kemudian Ica bangun. Ia kembali menangis.


"Kenapa kau membawa aku ke sini, Ed? Biarkan saja aku mati." Monalisa kembali memberontak. Jarum infus itu bahkan terlepas dari tangannya. Jika sudah begini, hanya aku yang bisa menenangkan Monalisa. Aku membujuknya dan membuatnya mau meminum obatnya.


Selama beberapa hari, Monalisa dirawat. Akhirnya dokter mengijinkan Monalisa pulang. Aku meminta bibi Juminten untuk membersihkan rumah yang kami sewa sebelum mess di perusahaan selesai. Aku bahkan belum menghubungi Mahira karena waktuku sangat tersita untuk pekerjaan dan juga untuk menjaga Ica. Apalagi jika di perusahaan, nomor yang kupakai untuk menghubungi Mahira, sering tak aktif karena jangkauan towernya yang jauh dari perusahaan. Aku memiliki nomor yang lain. Namun aku tak ingin memberikan nomor itu pada keluarga ku apalagi Mahira. Karena nomor itu hanya khusus untuk menghubungi anak buahnya dan juga beberapa jaringan mafia.


"Ica, kita harus bicara." kataku pada Monalisa, dua hari setelah kepulangannya dari rumah sakit.


Monalisa hanya menatapku tanpa ekspresi. "Kamu mau apa sih, Ed?"


"Aku akan menikah."


"Apa?" Monalisa terkejut.


"Aku dan gadis itu secara tak sengaja ketemu di hotel Bali saat aku berkunjung ke sana sebulan yang lalu. Aku salah masuk kamar. Dan akhirnya aku memperkosa gadis itu karena mabuk. Dan sekarang, dia hamil." Aku pun mengarang cerita. Sebab jika ku katakan yang sebenarnya, Monalisa pasti tak akan terima.


"Nggak mungkin!"


Aku berusaha meyakinkan Monalisa. "Ica, itu adalah anakku. Aku harus bertanggungjawab."


"Bohong! Apakah kamu yakin kalau itu adalah anakmu? Dia bisa saja menipumu, Ed."


"Aku adalah lelaki pertama untuknya."


Monalisa menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kamu adalah milikku, Ed. Aku akan membunuh perempuan itu! Aku juga akan melaporkanmu. Biarkan saja para mafia itu membunuh daddy mu, mommy, Eduardo dan Edina. Aku tak perduli."

__ADS_1


"Ica!"


"Kau hanya akan menikah dengannya sampai anak itu lahir, Ed. Setelah itu, kau akan kembali bersama ku. Kita akan kembali menjalani hari-hari indah kita. Kau dengar itu, Ed?"


"Tidak, Ica." Aku menolak. Bagiku menikah dengan Mahira bukanlah sebuah permainan. Aku sungguh-sungguh ingin menjalani hidupku bersamanya.


"Harus, Ed!"


"Hubungan kita sudah berakhir!"


"Tidak.....!" Monalisa tiba-tiba saja mengambil pisau yang ada di hadapannya. "Aku bersumpah, Ed! Aku akan memotong nadiku. Dan keluargaku pasti tak akan tinggal diam..


"Ica!" Aku jadi panik. Aku tahu Monalisa orangnya sangat nekad. Dia bisa saja melakukan apa yang sekarang ia katakan. "Letakan pisau itu!"


"Berjanjilah bahwa kau hanya mencintaiku! Kau menikah hanya untuk anak itu. Namun kau akan kembali padaku ketika anak itu lahir!"'


"Tapi..."


Monalisa mulai menekan pisau itu ke kulitnya sehingga mulai ada darah yang mengalir.


"Baiklah!" Aku akhirnya mengalah. Untuk saat ini tak ada cara lain yang bisa ku lakukan selain mengikuti keinginan Monalisa.


"Ed......, aku mencintaimu!" Monalisa memelukku sambil menangis. Ia bahkan melemparkan pisau yang ada di tangannya. Aku hanya bisa terdiam. Saat Monalisa memelukku, aku bahkan merasa sudah mengkhianati Mahira.


Setelah hari itu, Monalisa masih saja terus mendatangani ku di mess. Para tetangga yang menyangka kalau kami adalah benar pasangan suami istri pun selalu bersikap baik pada Monalisa karena Monalisa pandai mengambil hati mereka dengan memberikan berbagai hadiah.


Aku terpaksa jarang menghubungi Mahira. Bukan karena aku tak merindukan dia tapi aku tak ingin Monalisa mencium keberadaan Mahira dan menggagalkan pernikahan kami.


10 hari sebelum pernikahan kami, aku terpaksa pergi ke Spanyol. Itu kulakukan agar Monalisa tak mencurigai keberadaan Mahira di Manado.


Saat ku katakan pada mommy kalau gadis yang akan kunikahi adalah gadis yang pernah menolak cintaku sebanyak 4 kali, mommy jadi senang mendengarnya. Namun beliau tak ingin melihat foto Mahira dulu. Katanya ia ingin menemui calon menantunya dan melihat apakah gadis pilihanku sama dengan apa yang dibayangkan nya.


Dan akhirnya, mommy memang bisa menebak siapa Mahira. Aku sangat bahagia karena Mahira disukai oleh keluargaku. Aku sungguh senang karena semua berjalan sesuai dengan keinginanku sampai di malam sebelum pernikahan kami, anak buah ku mengatakan kalau Teddy datang ke Manado.


"Cari keberadaannya dan sembunyikan dia sampai pernikahan kami selesai." kataku pada salah satu anak buah ku. Dan mereka berhasil menyekap Teddy. Maaf Teddy aku terpaksa memakai cara yang licik. Aku tak akan melepaskan Mahira. Aku tahu untuk saat ini hati Mahira masih untukmu namun aku akan membuat Mahira mencintaiku.


Saat kami akhirnya menikah dan mengucapkan janji suci, aku hampir tak bisa menahan air mataku. Sungguh, ini merupakan hari yang sangat membahagiakan untukku. Mahira akhirnya menjadi milikku. Gadis yang menjadi cinta pertamaku kini menyandang nama Moreno.

__ADS_1


Saat kami melewati malam pertama, aku berusaha merayu dan membuat Mahira jatuh dalam sentuhan dan kasih sayangku. Ternyata aku berhasil. Dapat kurasakan kalau Mahira mendapatkan pelepasannya malam itu. Walaupun masih malu-malu, ia akhirnya tidur dalam dekapanku. Aku pun merasakan kepuasan tiada tara saat kami menyatu. Aku yakin apa yang dikatakan Mahira benar. Teddy hanya sekali menyentuhnya karena malam pertama kami, ia masih sempat merasa kesakitan ketika aku memasukinya.


Aku sangat bahagia. Apalagi saat keesokan harinya Mahira melakukan test dan ternyata ia hamil, aku sudah membayangkan bagaimana bahagianya mommy saat mendengar kabar ini.


Memang anak itu mengandung darah Teddy, tapi aku akan menjadikannya milik Moreno. Aku bahkan berharap anak ini berjenis kelamin perempuan agar bisa menyembuhkan luka hati mommy atas kematian Edewina.


**************


"Papi kenapa?"


Suara tangis Edewina membangunkan aku pagi ini. Aku masih merasakan sekujur tubuhku sakit . Perlahan ku buka mataku dan melihat putri kecilku menangis histeris.


"Jangan takut, sayang. Papi hanya jatuh."


Edewina nampak ketakutan. Dan Mahira yang baru keluar dari kamar mandi memeluknya. "Wina jangan takut, ya? Papi akan segera sembuh."


"Papi, lukanya sakit ya? Maafkan Wina ya, pasti papi jalannya cepat-cepat karena ingin segera menemui Wina kan?"


"Nggak sayang." Aku tak tahan melihat wajah polos itu nampak bersalah. "Lukanya juga nggak sakit." Aku tersenyum walaupun sekujur tubuhku merasa sakit."


"Sekarang Wina mandi dulu dan sarapan. Mami akan membantu papi ganti baju dan juga sarapan." bujuk Mahira.


Edewina mengangguk. "Cepat sembuh papi. I love you."


"Love you too baby."


Edewina meninggalkan kamar. Aku menatap Mahira. Ia nampak dingin seperti biasanya.


"Aku mau ke toilet." Kataku lalu berusaha turun dari ranjang. Aku hampir tak bisa berdiri namun Mahira dengan cepat memegang tanganku. Kami saling bertatapan. Sungguh aku menyukai mata indahnya itu. Namun, pancaran mata itu sangat dingin. Seolah tak bersahabat. Jangan seperti ini, Ra.


***********


Selamat siang.....


semangat puasa di hari-hari terakhir


jangan lupa dukung emak ya guys

__ADS_1


__ADS_2