RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Wajahnya Mirip Siapa?


__ADS_3

Selama satu minggu Mahira menjalani perawatan di rumah sakit. Edmond tak pernah meninggalkannya. Ia sangat setia menjaga dan menemani Mahira.


Hari ini dokter sudah mengijinkan Mahira pulang. Bayi Edewina pun sudah bisa dibawa pulang dengan beberapa perlakuan khusus yang harus dilakukan oleh Mahira dan Edmond.


Mahira hampir saja menangis saat ia bisa menggendong putrinya untuk yang pertama kali. Edmond yang membawa kendaraan pun tak henti-hentinya menatap bayi mungil itu yang ada dalam pelukan Mahira.


Begitu tiba di rumah, Juminten menyambut mereka dengan wajah yang gembira. Ia senang melihat ibu dan anak itu akhirnya bisa diijinkan untuk pulang.


Saat Mahira memasuki kamar mereka, ia sangat terkejut melihat dinding sebelah kanan kamar itu sudah dilapisi dengan wallpaper berwarna merah mudah dan ada gambar boneka-boneka lucu. Ada sebuah box bayi dengan kelambu berwarna merah mudah juga. Ada meja tempat perlengkapan bayi dan tempat untuk menggantikan pakaian atau popok bayi.


"Ed, kamu mengerjakan semua ini?" tanya Mahira.


"Iya, sayang. Kemarin aku ijin ke kamu untuk pergi kan? Aku mengerjakan ini semua dengan bantuan bibi Juminten. Kita kan baru membeli pakaian bayi. Untung saja box bayi yang kita pesan lewat online datang 3 hari yang lalu. Bagaimana, kau suka?"


"Sangat suka." Mahira akan meletakan anaknya di atas kasur namun Edmond mencegahnya.


"Boleh aku memeluknya? Sebentar saja. Dokter memang mengatakan pada kita bahwa Edewina jangan terlalu sering dipeluk. Namun aku belum pernah memeluknya semenjak ia lahir." kata Edmond dengan wajah yang memelas.


"Tentu saja boleh." Mahira menyerahkan Edwina ke dalam gendongan Edmond.


"Hallo sayang, ini papi, nak. Senang sekali rasanya memeluk kamu." Edmond mengecup pipi Edewina dengan gemas. Setelah puas memeluk anaknya itu, ia pun meletakan Edwina ke dalam box bayinya.


"Sayang, kamu istirahat saja. Nanti aku bangunkan jika sudah jam makan malam."


Mahira mengangguk. "Aku mau mandi dulu."


"Jangan berendam. Lukanya kan belum kering."


"Tenang saja. Lukanya di berikan plester anti air."


"Tetap saja aku takut, sayang."


"Nggak apa-apa, Ed. Aku mandi dulu ya?" Mahira langsung ke kamar mandi. Edmond pun kembali ke dekat box bayi. Menatap baby Edewina yang nampak sangat terlelap. Ada sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Rasa takut saat semua yang selama ini disimpannya rapat akan terbongkar.


Hp Edmond berdering. Ia terkejut melihat nomor mommy yang muncul di layar.


"Hallo mommy?"


"Ed, mommy dan daddy sudah di bandara. Alamat rumahmu di mana?"


"Mommy ada di Samarinda? Astaga, kenapa nggak memberitahu kalau mommy akan datang?"


"Kalau bilang mau datang pasti kamu nggak akan ijinkan."


"Mommy kan masih dalam proses pengobatan."


"Sakit mommy tiba-tiba saja sudah sembuh saat mendengar kalau menantu mommy sudah melahirkan. Ayo kirim lokasimu." .


Edmond mengirimkan lokasi rumahnya. Setelah itu ia segera keluar kamar dan meminta bibi Juminten untuk membuatkan makan malam lebih karena orang tuanya akan datang. Setelah itu ia kembali ke kamar. Mahira baru saja selesai mandi.


"Sayang, mommy dan daddy sudah ada di Samarinda. Mereka mau ke sini."


"Duh, Ed. Bagaimana ini? Aku harus masak untuk....."


"Eh, mengapa kamu yang masak? Kamu kan baru saja melahirkan sayang. Biar bibi Juminten saja yang melakukannya. Aku juga akan mencari asisten rumah tangga dan pengasih bayi untuk membantumu untuk mengurus rumah dan bayi kita."


"Pengasuh nggak usah, Ed. Aku bisa sendiri kok."


"Nanti kamu capek, sayang."

__ADS_1


"Mengurus Oma saja aku sanggup, apalagi bayi sekecil ini?"


"Kalau begitu aku tambahkan satu asisten rumah tangga saja ya?"


"Terserah kamu, Ed. Kasihan juga bibi Juminten sendiri."


Tak sampai satu jam, kedua orang tua Edmond tiba. Rahel Moreno memilih untuk mandi dulu sebelum akhirnya ia menemui cucunya di dalam kamar utama.


"Mahira, dia sangat cantik. Hidungnya mancung, matanya lentik dan kulitnya putih. Wajahnya mirip siapa ya?" tanya Rahel sambil memandang wajah cucunya yang ada di pangkuannya.


"Anak ini nggak mirip kamu, Ed. Dia sama sekali tak memiliki mata biru dan hidung tajam sepertimu. Rambutnya hitam, dan bukan coklat tua sepertimu." kata Rahel sambil memperhatikan wajah cucunya.


"Kayaknya dia lebih mirip Mahira, sayang." Kata Edriges Moreno.


"Bukan, dia kayaknya mirip......." Kalimat Rahel terhenti. Matanya sudah basah.


Jantung Mahira rasanya berhenti berdetak. Ia menatap Edmond dengan ketakutan yang besar. Namun Edmond terlihat tenang.


"Dia mirip Edewina. Bukankah anak tertuaku itu tak mirip bule seperti anakku yang lain? Gadis kecil ini mirip Edewina. Rambut Edewina juga hitam seperti rambutku." Air mata Rahel langsung jatuh.


"Karena itu, dia ku namakan Edewina, mom." Ujar Edmond membuat air mata ibunya semakin deras mengalir. Ia membelai pipi bayi Edewina dengan sangat lembut. Ia bagaikan mengalami Dejavu saat melihat bayi ini.


"Mahira, terima kasih karena setuju dengan Edmond untuk menamai anak ini Edewina." ujar Rahel. Ia memegang tangan Mahira yang duduk di sampingnya. "Tuhan sungguh baik karena memberikan menantu sepertimu untuk ada di keluarga kami. Ini adalah obat terbaik untuk penyakit ku."


Mahira merasa terharu sekaligus juga ada rasa takut dalam hatinya. Bagaimana jika mereka tahu kalau anak ini tak memiliki darah Moreno sedikitpun?


************


"Daddy dan mommy sudah tidur di kamar tamu. Mommy terlihat sangat bahagia." Kata Edmond sambil memeluk Edewina dan memberikan susu.


Mahira yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum. "Iya. Tadi mommy makannya sangat banyak. Kata daddy, di Spanyol mommy bahkan jarang makan. Memangnya mommy sakit apa, Ed?"


Edmond jadi sedih. "Semenjak kakakku Edewina meninggal, mommy jadi sangat terpukul. Setelah itu mommy sering sakit. Hanya aku dan daddy yang tahu kalau mommy mengidap penyakit kanker hati."


"Kanker mommy sudah memasuki stadium 3. Namun menurut daddy sudah ada sedikit perubahan. Mudah-mudahan dengan kelahiran Edewina akan membuat mommy tambah semangat untuk berobat."


"Amin."


Edmond mencium pipi baby Edewina. Ia kemudian mencabut dot susu yang sudah habis itu. Perlahan-lahan ia menepuk punggung Edewina sampai bayi kecil itu bersendawa.


Setelah itu Edmond meletakan baby ke dalam box bayinya.


"Ed, kamu kelihatan sudah nggak kaku lagi menggendong Edwina."


"Iya. Selama di rumah sakit, perawat di sana melatih aku dengan sabar. Akhirnya aku bisa."


"Sayang ya, ASI ku nggak keluar."


Edmond melingkarkan tangannya di bahu istrinya. "Kata dokter karena Edewina lahirnya lebih cepat dari yang diperkirakan sehingga berpengaruh juga pada produksi ASI nya. Namun bisa di rangsang."


"Caranya?"


"Serahkan pada bapaknya."


"Ih....., Ed, belum bisa. Tunggu dua bulan lagi."


Edmond menarik hidung istrinya. "Sayang, kalau untuk urusan itu aku juga tahu. Yang ku maksud u supaya ASI nya lancar maka peran si bapak sangat dibutuhkan di sini."


"Tapi kalau kamu jadi ingin gimana?" tanya Mahira dengan polosnya membuat Edmond jadi semakin gemas dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Tenang saja. Kalau tiba-tiba aku ingin, akan ku ajarkan cara-cara yang lain."


"Maksudnya?"


Edmond mengecup pipi istrinya. "Tidur saja. Besok aku harus ke perusahaan. Ada rapat pemegang saham."


"Baiklah." Mahira segera naik ke atas tempat tidur. Edmond pun demikian. Ia memeluk tubuh Mahira dari belakang. "I love you." baiknya sebelum memejamkan matanya.


************


Rapat pemegang saham akhirnya selesai. Edmond sudah tak tahan untuk pulang ke rumah. Baru beberapa jam ia meninggalkan putrinya, ia sudah merasa sangat kangen dengan anak itu.


"Ed, kita makan di luar, yuk!" ajak Lerry.


"Maaf. Aku mau pulang."


"Ini kan baru jam 2."


"Orang tuaku datang kemarin."


Lerry terkejut. "Paman sama bibi akhirnya datang ke Samarinda? Apakah Daddy mu akhirnya mau melihat usahamu?"


"Nggak. Mereka datang karena ingin melihat cucu. Kalau hanya melihat aku, mana mau mereka datang."


Lerry tertawa. "Wah....wah...., pesona Edewina sungguh luar biasa."


Di ruangan rapat itu, masih ada Monalisa dan Sofia. Perempuan itu terlihat sangat sedih. Edmond berbicara tanpa memperdulikan perasaannya. Rasanya, Monalisa tak tahan lagi.


"Ed, aku mau bicara." Kata Monalisa melihat Edmond akan pergi.


Lerry dan Sofia langsung keluar dan menutup pintu ruangan rapat itu.


"Ada apa?" tanya Edmond dingin.


"Mahira sudah melahirkan. Mana janjimu?"


"Janji apa?"


"Janji apa katamu? Aku sudah berusaha sabar, Ed. Aku tak mau hubungan kita menjadi begini. Kamu tahu kalau aku mencintaimu."


"Tutup mulutmu, Ica. Jangan berbicara cinta sedangkan kamu sendiri tak tahu dengan apa yang kamu ucapkan."


Monalisa melingkarkan tangannya di leher Edmond. "Apakah kau sudah lupa dengan semua yang pernah kau katakan padaku? Hanya aku yang bisa memuaskan mu di ranjang."


"Lepaskan aku!" Edmond berusaha melepaskan tangan Monalisa dari lehernya namun Perempuan justru mencium bibir Edmond dengan keras.


Angel yang akan mengambil file yang ia lupakan di ruangan rapat, membuka pintu secara perlahan. Namun ia terkejut melihat dua insan yang berbeda jenis itu sedang saling menempel satu dengan yang lain. Dengan cepat Angel mengambil ponselnya, mengabdikan adegan panas itu lalu segera menutup pintu. Saat ia membalikan badannya, ia terkejut melihat Sofia berdiri di hadapannya.


"Apa yang sedang mereka lakukan di dalam?" tanya Sofia.


"Berciuman."


Sofia tersenyum sinis. "Mana bisa Edmond melepaskan bidadari seperti Monalisa?"


Angel menunjukan foto yang diambilnya. "Simpanlah ini. Suatu saat nanti akan sangat berguna bagi kita."


*************


Oh....., apakah Edmond memang tak bisa menjauh dari pesona Monalisa?

__ADS_1


Bagaimana jika foto itu sampai ke tangan Mahira????


Memangnya apa yang dijanjikan Edmond pada Monalisa ?


__ADS_2