
Setelah tangisnya rendah, Edmond melepaskan pelukannya. Ia menatap Mahira. Wanita yang menjadi cinta pertamanya. Wanita yang tak bisa membuatnya move on setelah bertahun-tahun berpisah. Edmond memang dekat dengan beberapa gadis sebelum akhirnya ia terikat dengan Monalisa. Semua gadis yang Edmond dekati semuanya memiliki kemiripan dengan Mahira. Apakah matanya, rambutnya, kulitnya, pokoknya Edmond akan tertarik pada semua gadis yang punya kemiripan dengan Mahira.
Mendapat tatapan seperti itu dari Edmond membuat Mahira membuang pandangannya di tempat lain. Ia tak mampu melawan tatapan mata Edmond. Karena sekarang Mahira tak mengerti apakah tatapan itu adalah tatapan cinta ataukah kepalsuan.
Edmond meraih tangan Mahira dan mengecupnya lembut. "Aku punya masa lalu yang kelam, Ra."
Perlahan Mahira menengok ke arah Edmond.
"Aku pernah membunuh orang." Edmond mengucapkan kalimat itu secara perlahan.
Mata Mahira terbelalak. "Membunuh?"
"Ya. Pembunuhan yang membuat aku harus terikat pada Monalisa. Pembunuhan yang membuat aku akhirnya menjadi bagian dari kelompok mafia."
"Ma...mafia?"'Jantung Mahira berdetak kuat. Ia menarik tangannya yang ada dalam genggaman Edmond. Sesaat ia teringat dengan apa yang dikatakan Teddy padanya.
Hati Edmond merasakan sakit saat Mahira perlahan menarik tangannya. Namun dia berusaha tegar untuk menceritakan semuanya.
Secara perlahan, Edmond menceritakan semuanya. Bagaimana ia bertemu dengan Monalisa sampai akhirnya mereka menjalin hubungan. Edmond juga menceritakan tentang keterlibatannya dengan dunia mafia.
"Awalnya aku menolak untuk melakukan pekerjaan ini. Marky, kakaknya Monalisa terus memaksaku. Dari awalnya menolak, aku akhirnya masuk semakin dalam dalam. Aku memang tak pernah membunuh orang secara langsung. Namun aku setuju saat anak buahku mengatakan bahwa mereka harus menghabisi siapa saja yang menghalangi bisnis kami. Aku mendapatkan keuntungan yang besar melalui perdagangan senjata dan narkoba walaupun jauh di lubuk hatiku, aku tak mau melakukan itu."
Edmond menarik napas panjang, menyeka keringat yang ada di wajahnya, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Namun, saat Putri menelepon ku dan meminta aku untuk menolong mu, aku jadi berpikir untuk berhenti. Aku tak pernah lagi mengirim senjata atau narkoba. Aku beralasan pada Marky bahwa polisi sudah menetapkan aku sebagai DPO, sehingga aku tak mau lagi melakukan kesalahan. Aku berhenti karena ingin membangun hubungan yang baik bersamamu. Walaupun awalnya, aku berpikir bahwa pernikahan kita terjalin karena aku ingin memenuhi keinginan mommy untuk memiliki cucu, namun saat pertama melihatmu, aku sadar kalau aku tak pernah berhenti mencintaimu."
Mahira merasakan dadanya sesak mendengar cerita Edmond. Namun ia berusaha menguatkan hatinya untuk mendengarkan secara tuntas.
"Seperti yang pernah kukatakan padamu, aku bersama Ica karena ia sering mengalami serangan panik. Ia juga sering mengancam aku terkait pembunuhan suaminya. Bahkan ia mengancam aku untuk menceritakan semuanya pada mommy Rahel. Aku tak ingin keluargaku menjadi korban akibat kebodohan ku di masa lalu. Makanya selama ini aku berusaha memenuhi keinginan Ica untuk bertemu. Seperti saat kamu mengikuti mobil Lerry yang aku bawa. Kami ke rumah itu karena Ica mengancam akan memberikan foto-foto kegiatan ku sebagai mafia kepadamu. Aku ingin membujuknya namun salah satu anak buah ku menelepon dan mengatakan bahwa aku diikuti olehmu. Aku cepat meninggalkan Ica karena aku tak mau kalau kamu semakin curiga."
__ADS_1
Mahira memejamkan matanya. Kecurigaannya tentang hari itu ternyata benar. Edmond sudah tahu kalau Mahira mengikutinya sehingga ia cepat kembali dan menyusul Mahira ke minimarket.
"Ra, aku akan berusaha mencari jalan keluar bagaimana untuk lepas dari Ica. Aku takut Marky akan marah sehingga akhirnya mencelakai dirimu, Wina dan juga keluargaku."
Secara perlahan Mahira akhirnya menatap Edmond. Menatap pria yang awalnya dia kira sebagai pahlawan sejati yang menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang wanita yang ditinggalkan oleh kekasihnya. Namun kini, secara tak langsung, Edmond sudah mendorongnya untuk masuk dalam lingkaran hitam hubungannya dengan Monalisa.
"Ra......!" Edmond menyentuh tangan Mahira. Tangan yang lembut itu. Tangan yang ternyata berlumuran darah karena dirinya adalah seorang mafia.
"Aku.....!" Mahira turun dari atas ranjang. Ia menarik napas panjang beberapa kali. "Aku butuh udara segar." katanya lagi lalu segera meninggalkan kamar.
Dada Edmond seperti dihantam batu yang sangat besar. Mahira terlihat takut padanya. Walaupun istrinya itu tak mengatakannya namun pancaran mata perempuan itu tak bisa berbohong. Inilah yang Edmond takutkan. Ia sudah tahu kalau Mahira adalah perempuan berhati lembut. Mahira tak akan bisa menerima masa lalunya yang kejam dan hitam.
Mahira memilih untuk ke teras samping kanan rumah. Di sana ia duduk sambil menangis. Berusaha agar suara tangisannya tak terdengar.
Eduardo, yang sedang berdiri di dekat jendela kamar Edewina, melihat Mahira yang menangis di sana. Memang Edmond sudah menceritakan kepadanya perihal penembakan di halaman parkir kedai kopi itu. Ia bahkan menyarankan kepada Edmond untuk membawa Mahira dan Edwina ke Madrid karena di sana lebih aman. Eduardo juga yang mendorong Edmond untuk menceritakan segalanya. Hanya Eduardo yang tahu bahwa Edmond merupakan seorang mafia.
Mahira mengangkat kepalanya. Ia menatap Eduardo. Dengan cepat, ia menghapus air matanya. "Kenapa kamu belum tidur?"
"Aku sudah tidur tadi. Namun bangun lagi karena pacarku menelepon. Maaf jika aku menganggu mu. Aku paling tak bisa melihat wanita menangis."
Mahira berusaha tersenyum. Ia memang sudah terbiasa menyembunyikan luka hatinya. Seperti saat oma nya masih ada. Mahira selalu tersenyum agar omanya tak tahu kalau ia sedang disakiti oleh tante dan sepupunya.
"Aku dan Ed bertengkar sedikit."
Eduardo mengangguk. "Kakakku itu memang penuh misteri. Namun pada dasarnya ia baik. Ia hanya berada dalam kisah masa lalu yang buruk. Hanya saja, soal perasannya padamu, aku sangat yakin kalau itu bukan suatu kebohongan. Karena aku tahu bagaimana pertama ia jatuh cinta padamu. Setiap hari dia meminta aku untuk menceritakan tentang dirimu. Aku juga tahu ia sangat patah hati saat kamu menolaknya sampai empat kali. Dan saat aku mendengar kalau kalian akhirnya menikah, aku bahkan ingin menangis karena bahagia karena kakakku menikah dengan cinta sejatinya."
Mahira menatap Eduardo. Apakah pria itu tahu tentang status anak mereka Edewina?
"Edmond terdengar sangat bahagia saat mengatakan kalau kamu hamil. Dan ketika ia mengirim video saat Wina lahir, aku melihat kakakku itu sangat bahagia. Dia menangis saat mengatakan kalau ia sudah menjadi ayah."
__ADS_1
Mahira mengangguk. "Aku tahu. Wina adalah segalanya bagi, Ed. Tapi, andai saja Edmond jujur sebelum pernikahan kami, pasti cerita rasanya tak akan sesakit ini."
"Jika Edmond jujur sebelum pernikahan kalian, maka aku pastikan kalau kau akan menolaknya dan Wina tak akan pernah hadir dalam kehidupan kalian." Eduardo berdiri. "Aku sangat menghargai keputusanmu, Ra. Aku mengerti dengan semua isi hatimu. Aku tak akan memaksamu untuk tetap bersama kakakku atau menyuruh mu pergi menjauhinya. Semua keputusan ada di tanganmu. Aku tidur dulu ya? pesawat ku berangkatnya jam 8 pagi."
Mahira mengangguk. Ia senang karena Eduardo menjadi adik ipar yang baik dan tak pernah menekannya. Dan kini, apa yang harus Mahira lakukan? Bagaimana ia bisa bersama Edmond saat tahu bahwa bahaya bisa saja mengancam dirinya dan Edewina. Andai saja dulu, Mahira tak mengikuti saran Putri untuk meminta pertolongan Edmond, pasti ia sekarang bahagia bersama Edewina. Mungkin keluarga bibinya akan membuangnya namun Mahira yakin kalau dia akan baik-baik saja kalau Wina ada bersamanya. Lagi pula, jika benar Teddy datang kembali saat itu, bukankah mereka akhirnya akan bahagia?
Menyesali masa lalu tak ada gunanya. Karena memang penyesalan tak akan pernah hadir di depan. Penyesalan selalu datang di belakang. Saat hati Mahira sudah untuk Edmond, ia justru menerima kenyataan yang menyakitkan hatinya. Mahira sebenarnya tak ingin hidup dengan bergelimpangan harta. Ia hanya ingin menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Demi Edmond, Mahira sudah meninggalkan pekerjaan yang sejak kecil sudah ia idam-idamkan. Menjadi seorang karyawan bank. Kini, dapatkah ia kembali bekerja? Mahira ingin pergi jauh dari Edmond, namun bagaimana dengan Edewina? Bagaimana dengan mommy Rahel yang sangat menyayangi nya?
Malam terus berlalu, saat pagi sebentar lagi datang, Mahira kembali ke kamar. Edmond masih duduk di atas ranjang, seperti saat Mahira meninggalkannya tadi. Mahira dapat melihat kalau mata Edmond nampak sembab. Sepertinya Edmond banyak menangis.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 4 pagi. Rasa kantuk itu sudah hilang entah kemana.
Saat melihat Mahira, pandangan mata Edmond terlihat penuh harap agar wanita itu datang mendekatinya. Namun Mahira mengambil bantal dan selimut dari dalam walk in closet.
"Aku mau tidur sebentar. Jangan ganggu aku. Karena aku harus bangun jam 6 pagi dan menyiapkan sarapan untuk Eduardo sebelum ia kembali ke Madrid." kata Mahira sebelum membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Edmond menarik napas panjang. Ia berusaha menahan sesak di hatinya. Namun ia tak mau menganggu Mahira saat ini. Edmond berusaha sabar demi mendapatkan kembali cinta Mahira.
***********
Selamat sore...
Maaf ya emak up nggak diwaktu yang tetap
maklumlah masih liburan guys
happy reading
jangan lupa dukung emak terus
__ADS_1