RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Bertahan untuk Wina


__ADS_3

Edewina sudah tertidur dalam dekapan papinya. Begitulah caranya gadis kecil itu jika sakit, atau manjanya datang. Ia meminta tidur bersama mereka dan memeluk papinya.


Mahira sendiri masih duduk di sofa. Pikirannya sedang kalut. Ia butuh untuk berbicara dengan seseorang. Menelepon Putri rasanya tak mungkin. Sahabatnya itu baru saja selesai melahirkan seminggu yang lalu. Mahira tak mau membuatnya ikut berpikir. Tentu itu tak baik untuk kesehatannya.


Perlahan Mahira meninggalkan kamar. Ia merasakan dadanya sesak.


Ia menuju ke dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan botol minuman yang berisi air putih. Mahira menuangkan isinya di dalam gelas dan meminum nya sampai habis.


Setelah itu Mahira melangkah menuju ke teras samping dan duduk di sana. Ia mengingat kembali bagaimana tegangnya ia saat melihat Edmond yang memegang pistol. Ia tak pernah tahu kalau benda itu ada di tangan Edmond. Sungguh Mahira merasa tertipu dengan sikap manis Edmond yang selama ini ditunjukan oleh suaminya itu. Apakah benar yang dikatakan Teddy kalau Ed adalah seorang mafia? Ya Tuhan, apakah pernikahan ini sebuah kesalahan? Aku bahkan sudah sangat mencintainya.


Ponsel Mahira yang ada di tangannya berdering. Ternyata itu dari Chris.


"Hallo, Chris."


"Ra, kok kamu nggak ada di bandara? Putri meminta aku untuk menjemputmu." terdengar suara Chris yang sangat khawatir.


"Aku nggak jadi berangkat, Chris."


"Kenapa? Aku memang mendengar kalau penerbangannya ditunda selama 2 jam karena hujan dan badai."


"Iya. Karena badai jadi aku membatalkan perjalananku. Wina juga terlihat kurang nyaman untuk melakukan penerbangan. Maaf ya sudah merepotkanmu."


"Apakah terjadi sesuatu yang lain?"'


"Nggak, Chris. Aku baik-baik saja. Tolong sampaikan pada Putri permohonan maaf ku. Aku tak jadi mengunjungi dirinya. Mudah-mudahan di lain kesempatan ya?"


"Ok. Bye.....!"


Mahira meletakan ponselnya di atas pangkuannya.


"Sayang......!"


Mahira tak ingin menoleh mendengar panggilan itu. Ia sudah tahu siapa itu.


Edmond mendekat kemudian ia berjongkok di depan Mahira. "Kenapa di sini? Ayo masuk! Udaranya dingin. Kan masih gerimis." Edmond menyentuh tangan Mahira namun perempuan itu menepiskan nya.


"Sayang.....!" Edmond nampak tak putus asa. Ia memegang tangan Mahira kembali. Sekuat apapun Mahira berusaha melepaskan kedua tangannya dari genggaman Edmond, ia tetap tak bisa. Edmond selalu dapat meraih tangan Mahira kembali dan membawanya ke dalam genggamannya.


"Tinggalkan aku sendiri, Ed!"


"Ra, tolong percaya padaku. Aku tak mengkhianati mu! Aku mencintaimu, sayang."


Mahira menatap Edmond dengan tatapan tajam. "Mencintaiku? Kau...." Kalimat Mahira terhenti. Ia ingin membeberkan kebenaran tentang Monalisa yang masih sering ke mess saat mereka sudah menikah. Namun Mahira tak ingin melibatkan Juminten.


"Sayang, aku dan Monalisa....."


"Kalian masih menjalin hubungan, Ed! Tadi, saat Lerry begitu ingin menjebloskan mereka ke penjara, kamu mati-matian membela Monalisa. Ada apa? Apakah karena kamu begitu takut kalau ia akan di penjara? Sangat jelas terlihat kalau kamu begitu mencemaskan dia."


"Bukan seperti itu, Ra. Aku....." Edmond menghentikan kalimat nya. Ia terlihat bingung.


Mahira dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Edmond. Ia kemudian berdiri dan bermaksud akan pergi namun Edmond dengan cepat memeluknya dari belakang.


"Sayang, jangan seperti ini. Kau membuatku gila jika mengacuhkan aku."


"Lepaskan, Ed!"


"Aku mohon, sayang. Jangan tinggalkan aku!"

__ADS_1


Mahira melepaskan tangan Edmond yang melingkar di pinggangnya lalu setelah itu ia membalikan tubuhnya. "Aku akan memaafkan setiap kesalahan yang kau lakukan, Ed. Namun tidak dengan pengkhianatan. Semua fakta yang kutemui membuat aku sakit. Dan jangan salahkan aku jika rasa sakit ini perlahan akan membunuh semua rasa cinta yang kumiliki untukmu." Mahira kemudian meninggalkan Edmond. Ia kembali ke kamar sebelum Edmond melihat air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


****************


Entah jam berapa Mahira tertidur, yang pasti ia tahu kalau itu sudah hampir subuh. Dan entah jam berapa Edmond masuk ke kamar. Pagi ini Mahira bangun dengan tubuh yang sakit semuanya. Edewina sudah tak ada di sampingnya.


Dengan gerakan cepat Mahira turun dari ranjang dan segera mencari anaknya di luar. Langkahnya terhenti melihat Edmond dan Wina sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Wina yang sedikit cerewet dengan antusias menceritakan tentang film kartun kesukaannya ini. Sedangkan Edmond terlihat begit sabar dan penuh perhatian mendengarkan cerita Wina.


Memangnya Ed tak masuk kerja?.Inikan sudah jam tujuh lewat? Batin Mahira.


Tak ingin menganggu kesenangan mereka, Mahira memilih kembali ke kamar. Ia membereskan tempat tidur lalu segera mandi.


Selesai ganti pakaian, pintu kamar diketuk.


"Masuk....!" kata Mahira.


"Nyonya......!" ternyata Juminten yang masuk.


"Ada apa, bi?"


"Tuan sudah menunggu untuk sarapan bersama."


"Baiklah."


Juminten menatap Mahira sebelum melangkah pergi. "Nyonya baik-baik saja? Wajah nyonya sedikit pucat."


"Aku baik-baik saja, bi. Oh ya, tolong buat catatan bahan dapur yang sudah habis. Selesai sarapan, aku ingin ke toko."


"Baik, nyonya."


"Selamat pagi, mami." sapa Wina yang sudah duduk di meja makan bersama Edmond.


"Selamat pagi, sayang." Mahira mendekat, lalu mencium pipi putrinya, kemudian ia duduk di samping putrinya sementara Edmond duduk di kepala meja.


"Mami kok nggak mencium papi?" tanya Wina membuat Mahira tersentak. Kebiasaan yang mereka lakukan di meja makan ternyata diperhatikan oleh putrinya.


"Eh ....!" Mahira menatap sekilas ke arah Edmond yang juga sedang menatapnya.


"Mami sama papi marahan ya? Tadi pagi saat Wina bangun, papi tidurnya di sofa."


Lagi-lagi Mahira tak bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh anaknya. Wina adalah gadis yang pintar.


"Nggak sayang. Mami dan papi nggak bertengkar. Semalam papi tidur di sofa karena papi nggak mandi." Edmond berdiri dan mendekati Mahira. "Selamat pagi mami sayang." lalu ia mengecup pipi Mahira.


"Selamat pagi, papi." Mahira berusaha tersenyum walaupun hatinya masih terluka. Ia ingin pergi dari kehidupan Edmond. Namun Wina sepertinya tak bisa jauh dari Edmond. Mahira menjadi dilema.


Wina menyelesaikan sarapannya lebih cepat dan segera meninggalkan meja makan. Ia mengajak Lita untuk menemaninya bermain sepeda.


Juminten pun meninggalkan ruang makan. Ia ingin memberikan ruang bagi majikannya untuk bisa berbicara.


"Sayang, jangan seperti ini padaku. Sungguh aku tak bisa kau mendiami ku." kata Edmond sambil memohon.


Mahira menatap Edmond. Wajah Edmond juga terlihat sedikit pucat dan ada lingkar hitam di bawa matanya. Sepertinya Edmond tak tidur.


"Kamu penuh dengan rahasia, Ed. Aku bagaikan menikah dengan orang asing." kata Mahira pelan namun sangat menusuk hati Edmond. "Aku merasa pernikahan ini adalah sebuah kesalahan. Seakan aku terjebak diantara kamu dan Monalisa. Aku akan bertahan sebentar demi Wina. Namun aku akan memberikan Wina pengertian sampai akhirnya ia bisa menerima keputusanku untuk menjauh darimu. Untuk sementara aku akan tetap menjadi nyonya Moreno demi Wina. Namun aku tak ingin kau menyentuhku lagi. Aku tak bisa membiarkan tangan, bibir dan bagian tubuhmu yang lain menyentuhku pada saat yang sama kau juga memakainya untuk menyentuh Monalisa." Mahira berdiri. "Aku akan keluar sebentar. Aku butuh udara bersih di luar sana yang jauh dari kebohongan." Mahira mengambil dompetnya yang ia letakan di atas meja ruang tamu. Ia kemudian memanggil Juminten dan meminta daftar bahan dapur yang harus dibelinya. Mahira pergi dengan mobil yang diberikan Edmond padanya setahun yang lalu.


Ia mampir di salah satu mall untuk belanja di sana. Setelah membeli semua keperluan rumah tangga. Mahira pun mampir di sebuah cafe untuk sekedar minum kopi dan menangkan dirinya yang masih diliputi dengan kegalauan.

__ADS_1


"Ira?"


Mahira yang sedang melamun terkejut mendengar panggilan itu. Ia menoleh dengan kaget. "Teddy?"


Teddy menarik kursi yang ada di hadapan Mahira lalu duduk.


"Kamu baik-baik saja?"


"Ya." Mahira berusaha tersenyum. Namun dahi Teddy berkerut.


"Kamu sedang ada masalah?" tanya Teddy lembut.


"Ada masalah atau tidak, itu bukan urusanmu."


Teddy mengangguk. "Aku tahu kalau itu bukan urusanku. Namun hati ini tak bisa ku tahan untuk tak perduli padamu."


Hati Mahira tersentuh. Namun ia langsung menepisnya sambil tersenyum. "Kamu seharusnya mencari gadis lain untuk kau rayu. Jangan padaku! Karena hatiku sudah tak ada namamu lagi."


"Aku sudah mencoba untuk bersama gadis lain. Namun tak ada satu pun yang mampu menggantikan kedudukan mu di hatiku."


Mahira menghabiskan kopinya. "Aku pergi dulu!" Ia berdiri namun tiba-tiba Mahira merasa pusing. Ia duduk lagi.


"Ira, kamu sakit?"


"Aku merasa pusing." Mahira memejamkan matanya saat ia merasakan bahwa semua yang dilihatnya seperti berputar-putar.


"Ira....!" Teddy langsung berdiri dan mendekati Mahira. Namun sebelum Mahira membuka matanya, ia sudah kehilangan kesadarannya.


***********


Hari sudah sore dan Mahira belum juga kembali. Edmond menjadi khawatir sekaligus gelisah. Apalagi hp Mahira tertinggal di kamar.


Ponsel putih Edmond berbunyi.


"Hallo bos, kami menemukan mobil nyonya di salah satu mall. Namun Nyonya tak ada di sana. Kami coba menyusuri semua bagian mall namun tak bisa menemukan Nyonya."


"Cari istriku. Bagaimana mungkin mobilnya ada namun orangnya tak ada?"


"Bos, saya juga mendapat kabar bahwa tuan Teddy Warouw sudah tiba di Samarinda semalam."


"Apa?"


"Dia menginap di hotel xxx. Hotel itu satu gedung dengan mall yang nyonya kunjungi saat ini."


Edmond merasakan kalau darahnya langsung mendidih. Rahang nya mengeras dan matanya menyala. "Cari tahu nomor kamarnya."


"Baik, bos."


Apakah kamu bersama Teddy sekarang? Jangan sampai kau bersamanya Mahira!


**********


Good morning


semangat puasa ya?


Jangan lupa dukung emak

__ADS_1


__ADS_2