
Pemberkatan Nikah berjalan dengan lancar. Setelah saling mengenakan cincin di jari manis masing-masing, Edmond pun mencium bibir Mahira untuk yang pertama kali. Ciuman singkat yang membuat Mahira cukup terkejut karena tak menyangka kalau Edmond akan menciumnya di sana.
Semua yang hadir merasakan kalau memang mereka pasangan yang cocok. Teman-teman di tempat Mahira bekerja, semuanya nampak heboh saat berebut ingin mengabdikan momen itu dengan berfoto bersama.
Wajah oma Yohana pun basah karena rasa haru yang tak tertahankan lagi. Yang nampaknya kurang berbahagia di sana adalah tante Wulan dan kedua putrinya. Mereka merasa iri dengan Mahira yang mendapatkan suami kaya dan tampan. Sekalipun pernikahan ini hanya dihadiri oleh sekitar 150 orang, namun kemewahan pesta ini dan makanan yang disajikan menunjukan kelas sosial sang pemilik pesta.
Selesai acara pemberkatan, resepsi dilangsungkan di halaman belakang hotel itu. Bunga-bunga yang diatur sungguh indah. Demikian juga dengan panggung kecil yang disiapkan sebagai pelaminan bagi sang mempelai. Kue pengantinnya juga sangat indah dan megah. Semuanya bernuansa putih.
Untuk sesaat, Mahira larut dalam nuansa romantisnya pesta pernikahannya itu. Ia bahkan tertawa dengan begitu lepas. Apalagi saat penyayi favorit nya Gealova muncul dan menyanyikan lagu kesukaan Mahira yang berjudul "Cinta Sejati", Mahira menjadi sangat senang. Ia menatap putri yang mengangkat kedua jempolnya. Mahira yakin kalau Putri yang mengatakan ini semua pada Edmond. Lagu itu pun menjadi lagu yang mengiringi dansa mereka selaku pasangan pengantin baru.
Gealova menyanyikan 4 buah lagu di pesta pernikahan itu. Mahira pun mendapatkan kesempatan berfoto sebanyak mungkin dengan penyayi kesayangannya itu.
Semakin malam, suasana pesta semakin meriah.
"Mahira, saat Putri memberikan undangan pernikahanmu, kami pikir kalau mempelainya lelakinya adalah Teddy. Siapa yang sangka kalau mempelai prianya lebih tajir dan lebih tampan dari Teddy?" ujar Siska, teman kerjanya yang memang terkenal sedikit matre.
"Pestanya mewah, makanannya enak. Tema pestanya ini sungguh menunjukan kelasnya sebagai salah satu keluarga terkaya di kota ini." Sambung Yola.
"Mahira, sebentar lagi kalian akan menikmati malam pengantin yang romantis. Aku yakin kalau Edmond orangnya perkasa. Duh, berapa ronde kau akan digempur malam ini?" Anita, yang baru saja menikah dua minggu yang lalu segera membuka percakapan yang berbau mesum.
Semua tertawa. Mahira pun pura-pura tertawa pada hal hatinya resah. Akankah dia dan Edmond melewati malam ini dengan sukses? Bagaimana dengan keadaan dirinya yang tak lagi perawan dan mungkin juga sekarang sedang hamil?
"Jangan khawatirkan soal rasa sakitnya. Karena pasti punya nya si bule gede. Nikmati saja enaknya yang akan datang kemudian."
Anita kembali mengangkat topik pembicaraan yang membuat mereka terus tertawa.
Edmond mendekati Mahira yang sedang duduk bersama teman-temannya itu.
"Selamat malam semuanya. Ini teman-teman kerjanya Mahira ya?" sapa Edmond dengan senyum manis yang selalu menggoda.
"Iya tampan. Duh, kami tak menyangka kalau Mahira akan berjodoh dengan seorang bule tampan yang tajir ini." ujar Siska membuat yang lain ikut tertawa.
"Aku bukan sepenuhnya bule. Mamaku asli orang Manado. Tapi mungkin gen ku yang lebih kental ikut papa."
"Hati-hati ya, bule. Teman kami ini malah perawan. Jangan sampai kau secara brutal menyerangnya" imbuh Anita membuat Mahira melotot ke arah sahabatnya itu.
Edmond tersenyum. Ia berdiri di belakang Mahira yang sedang duduk. Kedua tangannya ia letakan di bahu istrinya itu. "Dia istimewa karena aku sudah menunggu hari ini selama 6 tahun. Makanya, aku pasti akan memperlakukannya dengan istimewa juga. Akan ku buat malam pengantin kami menjadi malam yang tak terlupakan." Edmond menunduk lalu mencium bahu Mahira yang terbuka. "Sayang, aku menyapa tamu-tamu yang lain dulu ya?" Pamit Edmond lalu segera melangkah meninggalkan Mahira dan teman-temannya.
"Tunggu dulu....., aku mau bertanya." Yola berdiri. "Tadi si bule bilang kalau dia sudah menunggu hari ini selama 6 tahun? Memangnya kalian sudah saling mengenal jauh sebelumnya?"
"Edmond sudah menyatakan cinta pada Mahira semenjak Mahira ada di semester satu dan Edmond di semester akhir. Namun saat itu Mahira menolaknya berkali-kali. Ia lebih memilih Teddy. Saat Edmond tahu kalau Mahira dan Teddy sudah putus, Edmond langsung melamar Mahira. Untungnya si gadis keras kepala ini akhirnya menerima lamaran Edmond." Putri langsung mengambil alih pembicaraan agar Mahira tak salah bicara.
"Wuih.....beruntung banget kamu, Ra. Tapi aku sedih juga kamu nggak jadi dengan Teddy. Dia kan juga tampan. Sudah punya pekerjaan yang mapan. Anak orang kaya juga." Anita berkata lirih.
"Itulah namanya jodoh. Kita tak akan pernah tahu dengan siapa kita akan menikah." ujar Agnes lalu mengangkat gelas minumnya. "Mari kita berdoa untuk kebahagiaan Edmond dan Mahira!"
"Chress.....!" teriak mereka bareng.
Rahel mendekati putranya. "Sayang, jangan menunda untuk memiliki anak ya? Kamu kan tahu kalau mommy sakit."
__ADS_1
Edmond memeluk mamanya. "Tenang saja, mom. Aku percaya semua harapan mommy pasti akan terwujud."
"Ah.....andaikan kakakmu masih ada. Pasti sekarang dia juga sudah menikah dan memiliki anak. Sayangnya, dia mengahiri hidupnya dengan cara yang tak baik tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia sedang hamil."
"Sudahlah, ma. Kakak sudah tenang di atas sana. Orang yang menyebabkan dia bunuh diri pasti akan menerima akibatnya. Aku tak akan membuat kematian kakakku sia-sia."
Rahel menghapus air matanya. "Mommy pikir kalau kau akan menikah dengan Monalisa. Kalian kan sudah cukup lama pacaran."
"Jangan bicarakan Monalisa, mom. Mahira orangnya agak pencemburu. Sekarang mommy doakan saja semoga pernikahan kami bahagia."
"Pastilah. Mommy suka Mahira. Dia cantik dan terlihat gadis yang baik."
"Dia memang baik."
***********
Malam semakin larut. Para tamu banyak yang sudah pulang. Mahira berdiri di dekat pintu masuk hotel sambil membelakangi teman-temannya dan para undangan yang belum menikah.
"Siap ya? Satu.....dua....... tiga!" teriak Mahira lalu melemparkan bunga itu.
"Yes....aku dapat!" teriak Sinta sambil melompat kegirangan.
Mahira tersenyum ke arah teman-temannya. Ia melambaikan tangan ke arah mereka. Edmond sudah berdiri di sampingnya dan merangkul pinggang gadis itu.
"Selamat berbulan madu.....!" teriak mereka.
Mahira hanya tersenyum dan tanpa di duga, Edmond justru mengangkat tubuhnya seperti bridal style dan melangkah masuk ke dalam hotel. Terdengar seruan manja dan sorak-sorak teman-temannya.
"Beginilah yang bisa dilakukan pasangan pengantin."
"Kak, aku malu." Mahira menyembunyikan wajahnya di dada Edmond.
"Jangan malu. Kita kan pasangan suami istri."
"Kak, aku berat ."
"Siapa bilang kamu berat. Badan seringan ini."
Mahira memilih diam. Bahkan saat mereka ada dalam lift, Edmond tak mau menurunkannya. Nanti setelah lift berhenti di lantai paling atas hotel ini, Yasmin diturunkan oleh Edmond.
Saat pintu lift terbuka, barulah Edmond menurunkan Mahira. Dan gadis itu langsung terbelalak saat. melihat di sisi kanan lorong menuju ke kamar mereka, lampu sengaja dimatikan namun lilin aroma terapi menyalah. Ada taburan kelopak bunga mawar putih di sepanjang jalan menuju ke kamar itu.
"Kau suka? Ini semua di atur oleh Putri dan adikku ." Kata Edmond sambil menggenggam tangan Mahira.
Mahira hanya bisa mengangguk.
Pintu kamar pun terbuka. Mereka langsung berhadapan dengan ruang tamu bernuansa putih dengan cahaya lilin merah beraroma terapi tersebar aman di setiap bagian ruangan itu. Lalu keduanya menuju ke kamar utama. Lampu kamar pun sengaja hanya di pasang yang ada di sudut kiri dan kanan tempat tidur. Lilin berwarna putih ada di beberapa titik ruangan itu. Di atas ranjang yang dialasi seprei putih, ada kelopak bunga mawar merah yang dihiasi berbentuk buah hati di bagian tengahnya.
Jantung Mahira berdetak sangat kencang. Ia tak menyangka kalau Putri dan adiknya Edmond bisa menyiapkan ini dengan sangat sempurna. Membuat seolah-olah pernikahan ini dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai.
__ADS_1
"Eh, kak Ed, aku mau cuci muka dulu. Aku tak biasa tidur tanpa membersihkan wajahku." Kata Mahira dengan sedikit terbata-bata.
Edmon tersenyum. "Kamar mandinya di sana." Edmond menunjuk sebuah pintu kaca bercorak bunga tulip.
Mahira mengangguk. Ia melepaskan sepatu hak tinggi yang dipakainya lalu melangkah ke sana. Tapi di depan pintu, langkahnya terhenti.
"Ada apa?" tanya Edmond sambil mendekat.
"Eh......" Mahira menoleh dengan wajah merah menahan malu. "Gaun ini, aku ingin mandi juga. Tapi gaun ini...."
"Aku akan bantu melepaskannya." Edmond mendekat lalu langsung berdiri di belakang Mahira. Perlahan ia menurunkan resleting gaun itu. Mahira memejamkan matanya karena napas hangat Edmond yang menyentuh tengkuknya. Tangan Mahira menahan gaun itu di dadanya agar tak jatuh.
"Sudah." kata Edmond sambil menelan salivanya. Punggung mulus Mahira sungguh menggodanya sehingga ia ingin mencium di sana. Tapi Edmond harus menahannya.
"Terima kasih." kata Mahira lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
Edmond hanya tersenyum lalu segera menuju ke minibar yang ada di ruang tamu. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya yang tegang.
Di dalam kamar mandi, Mahira segera mengeluarkan gaun pengantin itu dari tubuhnya. Ia kemudian membuka semua asesoris yang menempel di tubuhnya. Mahira juga membuka mahkota yang dipakainya lalu membuka rambutnya yang di gulung. Ia ingin mandi untuk menenangkan pikirannya.
************
Edmond membuka jas hitam yang membungkus tubuhnya. Ia juga mengeluarkan dasi dan membuka dua kancing kemejanya. Tangannya menggulung kemeja putihnya sampai di siku lalu ia menuangkan sebotol anggur merah dengan alkohol yang sangat rendah ke dalam gelas minumnya. Edmond tak ingin Mahira mencium bau alkohol yang tajam saat mereka berdekatan nanti.
Hampir setengah jam berlalu dan Mahira akhirnya keluar dengan rambut yang basah. Ia mengenakan jubah handuk putih.
"Kamu keramas di jam seperti ini?" tanya Edmond sambil mendekat.
"Aku nggak suka dengan bau hairsray di rambutku. Aku juga tak bisa tidur kalau rambutku agak kaku dan keras."
"Keringkan rambutmu. Itu ada hairdryer." Edmond menunjuk pengering rambut yang tergantung di samping kaca meja rias.
"Kak, Ed. Aku lupa memindahkan bajuku ke sini."
Edmond tersenyum. "Ada baju di lemari itu untukmu. Aku mandi dulu ya?" pamit Edmond lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Mahira mengeringkan rambutnya dengan cepat. Setelah dirasa cukup, ia membuka lemari pakaian.
"What?" Mahira terlena karena hanya menemukan sepasang baju dalam dan sebuah lingre warna merah yang tergantung di sana.
"Putri.....!" desis Mahira menahan geram di hatinya. Ia mengambil baju dalam dan memakainya. Ia juga mengambil lingre itu dan mengenakannya. Seumur hidup, Mahira tak pernah memakai baju seperti ini. Ia akan melepaskannya lagi namun bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Mahira menyambar jubah handuk itu dan memakainya lagi.
Edmond keluar menggunakan jubah mandi juga dan tangan kanannya sementara menggosok rambutnya dengan sebuah handuk putih kecil.
Mahira memalingkan wajahnya. Ya Tuhan, bagaimana ini?
***********
Dapatkan mereka melewati malam pengantin dengan baik???
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys