
Teddy Pov
Aku tersenyum senang saat mendengar bunyi pintu apartemenku yang dibuka dari luar. Aku sangat yakin kalau itu adalah Mahira. Dan benar saja. Ia muncul dengan senyum manisnya yang selalu membuat aku mabuk kepayang. Hari ini ia tampil sangat cantik dengan rambut yang diikat satu dan gaun berwarna biru laut.
"Sayang.....!" Begitulah Mahira memanggilku. Aku langsung menyambutnya dengan pelukan hangat lalu mencium bibirnya yang selalu menjadi candu bagiku.
"Aku merindukanmu." bisik ku sambil mengusap bibirnya yang baru saja kucium.
"Ted....!" Mahira tersipu. Begitulah dia, masih saja malu walaupun sudah 4 tahun kami menjalin hubungan.
Aku sebenarnya bukan tipe pria romantis. Namun hari ini aku akan bersikap sangat romantis karena aku ingin Mahira menjadi milikku seutuhnya. Jujur saja, aku sangat capek harus bolak-balik Singapura-Manado hanya untuk melepaskan rinduku padanya. Mahira juga sangat berat harus berpisah dengan Oma Yohana. Namun harus bagaimana lagi? Hanya ini caranya agar ia bisa bersama denganku ke Singapura.
"Bagaimana pekerjaanmu, Ra?" tanyaku sambil mengajaknya untuk duduk di ruang tamu.
"Baik-baik saja."
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Sayang, aku ingin kita segera menikah."
"Aku juga mau menikah denganmu. Tapi aku ingin kita tinggal di sini. Aku tak bisa meninggalkan oma."
Aku menahan kesal dalam hati. Aku akui kalau oma Yohana sangat penting bagi Mahira. Tapi bukankah ia tak seharusnya mengambil tanggungjawab itu? Om Frans adalah anak Oma Yohana. Dialah yang seharusnya menjaga dan merawat mamanya.
"Kamu mau minum?" tanyaku.
"Aku bisa buat sendiri, Ted."
Aku mencium tangannya yang ada dalam genggamanku. "Aku saja yang buatkan. Kamu suka es jeruk?"
"Boleh juga."
Aku tersenyum. Lalu segera ke dapur untuk membuatkan es jeruk baginya. Tanganku sedikit bergetar karena harus meneteskan obat ini. Obat yang aku tahu akan mengubah prinsip hidup yang Mahira pegang selama ini, yaitu tak akan berhubungan intim sebelum menikah.
Sebenarnya aku sangat bangga karena Mahira adalah sosok wanita yang sangat menjaga kesucian dirinya. Selama 4 tahun kami pacaran, aku hanya diijinkan menciumnya tanpa menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Bukannya aku tak pernah mencoba. Bagaimanapun aku adalah lelaki dewasa dan Mahira ada sosok perempuan yang menurut banyak pria memiliki bentuk tubuh yang nyaris sempurna. Namun bukan itu yang membuat aku bertahan dengannya selama 4 tahun ini. Mahira memiliki hati yang tulus yang membuat kecantikan itu memancar dari dalam. Aku selalu merasa damai saat menatap mata indahnya yang dipayungi oleh bulu mata lentiknya.
Karena itulah, demi mendapatkan cinta Mahira, aku siap melakukan apa saja, termasuk menyingkirkan Edmond Moreno yang terkenal sebagai lelaki yang tak pernah ditolak wanita.
Dan saat Mahira akhirnya memilihku, aku merasa di atas awan karena bisa menyingkirkan Edmond yang telah membuat adik perempuan yang sangat ku sayangi patah hati.
"Sayang, ini minumannya." kataku sambil meletakan gelas berisi es jeruk yang sudah dicampur dengan Zat yang akan membangkitkan sesuatu dalam diri Mahira.
Saat Mahira memegang gelas itu, ada dorongan dalam diriku untuk mencegahnya minum. Sungguh, jauh di dalam hatiku, aku tak ingin mencurangi Mahira. Namun hanya ini satu-satunya cara agar Mahira akan ikut denganku. Rasa cinta yang dia miliki untukku dan prinsip hidupnya yang menjaga dirinya hanya untuk satu laki-laki membuat aku yakin kalau rencana ku ini akan berhasil.
"Enak." ujar Mahira saat ia menghabiskan es jeruk itu.
Aku menelan saliva ku. Jantungku berdebar dengan sangat kencang menanti reaksi dari obat itu.
30 menit berlalu.....
Mahira mulai terlihat gelisah. Wajahnya memerah dan ia sudah dua kali ke dapur untuk meminum air dingin.
"Ada apa, sayang?" tanyaku saat ia kembali duduk di sampingku. Aku memegang tangannya lalu mengusap lengannya.
"Ted, aku pulang saja ya?" ujarnya sambil menyeka keringat di wajahnya.
"Mengapa pulang? Ini kan baru jam 6 sore. Biasanya juga aku mengantarkan kamu pulang jam 10 malam. Aku baru saja tiba hari ini." Aku sengaja memasang wajah merajuk lalu melepaskan tanganku yang memegang tangannya.
Dan aku tahu ini akan berhasil. 4 tahun bersamanya, aku tahu kelemahan kekasihku ini.
"Ted, bukan seperti itu. Aku...." Mahira melingkarkan tangannya di lenganku. Aku duduk berhadapan dengannya. Ku belai wajahnya dengan gerakan menggoda.
__ADS_1
"Aku rindu, Ra. Sangat merindukanmu." bisik ku lalu mencium bahunya. Dapat kurasakan kalau tubuhnya bergetar.
"Teddy, aku...!" Kalimat Mahira terhenti karena aku sudah mencium bibirnya. Kali ini kurasakan kalau Mahira dengan cepat membalas ciumanku. Bahkan ketika tanganku dengan lembut menyusup masuk dibalik gaun yang dipakainya, Mahira tak menolak. Aku merayunya, membujuknya dan membuatnya mabuk dengan sentuhan. Memang beberapa kali Mahira berusaha melepaskan diri dari ku namun obat yang kumasukkan ke dalam minumannya telah menguasai dirinya dan telah membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Malam ini memang sudah ku rencanakan dengan matang karena aku sudah menghitung masa subur Mahira saat ia menelepon ku dua minggu yang lalu dan mengatakan kalau perutnya sakit karena baru mendapatkan tamu bulannya di hari yang pertama.
Mahira menangis saat aku berhasil merengut kesuciannya. Hatiku juga ikut hancur saat ia menyesali kenapa aku dan dia bisa lupa diri malam itu.
Maafkan aku, Mahira. Aku berharap kalau benihku akan tumbuh di perutmu dan kau akan ikut denganku ke Singapura. Batinku sambil memeluknya erat.
Namun, Mahira ternyata masih bersikeras untuk tak ikut denganku ke Singapura setelah semua yang terjadi. Aku menjadi marah, dan melakukan aksi pergi. Untuk membuktikan kalau aku serius akan meninggalkannya, aku juga menjual apartemenku dan meninggalkan barang-barang pemberiannya. Aku memblokir nomornya dan sosmed miliknya. Aku sangat yakin Mahira akan menyusul ku ke Singapura karena ia tak mungkin akan bersama lelaki lain apalagi jika memang ia hamil anakku.
Tapi, aku sungguh terkejut saat melihat postingan Putri yang berisi undangan pernikahan Mahira dan Edmond. Musuh bebuyutan ku kini akan merebut kekasihku. Tak akan kubiarkan ini terjadi. Sebagaimana dulu aku mencegah kakak Edmond yang akan menghancurkan keluargaku.
Sayangnya usahaku untuk menggagalkan pernikahan itu tak berhasil. Aku lupa kalau Edmond seorang mafia.
**********
Teddy kembali dari lamunan masa lalunya. Ia menatap Mahira yang kini terbaring di kamar hotel tempat ia menginap. Ia datang ke Samarinda karena undangan Monalisa untuk bekerja sama dalam bisnis tambang batubara. Teddy juga datang ke sini karena ingin mencari Mahira. Jika dilihat dari usia anak Mahira, bukankah itu berarti saat menikah dengan Edmond, Mahira sudah hamil?
Takdir ternyata mempertemukan mereka. Teddy ke mall karena ingin makan siang. Siapa yang menyangka kalau ia akhirnya melihat Mahira ada di sana. Namun Mahira terlihat tak baik-baik saja. Dan dugaan Teddy benar. Mahira bahkan pingsan. Tak ada hp dalam dompet yang dibawa Mahira sehingga Teddy memutuskan untuk membawa Mahira ke kamar nya.
Bunyi bel pintu kamarnya membuat Teddy membuka pintu. Tadi ia menghubungi pihak hotel untuk menanyakan apakah ada dokter yang bisa dihubungi.
"Selamat siang!" sapa seorang wanita berusia sekitar 40an. "Saya dokter Dian Oktavia."
"Oh, silahkan masuk, dok!" Teddy melebarkan daun pintu. Dokter Dian masuk sambil membawa tas kerjanya. Ia langsung melihat Mahira yang terbaring di atas tempat tidur.
"Istrimu?" tanya dokter Dian.
"Iya." Jawab Teddy cepat agar dokter itu tak berpikir yang macam-macam.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya dokter Dian sambil mengeluarkan sateskop dan alat pengukur tekanan darah.
Dokter Dian pun segera melaksanakan tugasnya.
"Tekanan darahnya sangat rendah. Sepertinya istri anda kurang tidur akhir-akhir ini. Lambungnya juga sedikit bermasalah. Apakah makannya tak teratur?" tanya dokter Dian.
"Eh,...." Teddy terlihat bingung.
"Kalian pengantin baru ya?" tebak dokter Dian.
Teddy pura-pura menggaruk kepalanya dan terlihat malu.
Dokter Dian tersenyum penuh arti. "Saya maklum. Namun jangan terlalu menguras tenaga istri anda dan makanlah jika sudah jam makan. Aku hanya bisa memberikan resep vitamin dan obat maag yang aman untuk ibu hamil."
"Maksud dokter?"
"Kalian sudah berapa lama menikah?"
"1 bulan." Teddy menjawab asal.
"Jika istri anda masih sering merasa pusing apalagi mual dan muntah, beli saja testpack untuk memastikan kehamilannya. Ini resepnya."
Teddy menerima kertas itu dan membayar jasa dokter Dian.
"Kapan istri saya akan siuman, dok?" tanya Teddy saat mengantar dokter Dian ke pintu.
"Mungkin sedikit lagi. Dia tak lagi pingsan namun sedang tertidur karena kelelahan. Jadi usahakan malam ini jangan dulu menganggunya. Biarkan istrimu istirahat." ujar dokter Dian dengan nada menggoda lalu segera keluar dari kamar.
__ADS_1
Teddy menatap Mahira yang masih terlelap. Rasanya aku tak ingin memulangkan kamu lagi kepada Edmond. Kamu telah menyakitiku saat menikah dengan keluarga Moreno. Namun kali ini aku akan mendapatkan kamu kembali secara benar. Aku yakin jauh di lubuk hatimu, masih ada cinta yang tersimpan untukku.
Teddy menelepon pihak hotel dan meminta ada pelayan yang bisa menebus obat untuk Mahira.
************
Mahira membuka matanya. Ia terkejut mendapatkan dirinya ada di sebuah ranjang dan bajunya sudah diganti.
"Kau sudah bangun?" tanya Teddy yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apa yang aku lakukan di sini?" Mahira bangun dengan cepat namun ia merasakan kalau kepalanya masih sakit.
"Bangun secara perlahan. Kata dokter tekanan darahmu sangat rendah dan ada masalah di lambung mu. Makanlah." Teddy menunjuk makanan yang sudah tersedia di atas meja.
Mahira menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Apa yang terjadi denganku? Bagaimana kau mengganti pakaianku?"
"Kamu pingsan, Ira. Gaun mu kotor karena saat kamu jatuh pingsan, tanganmu membalikan gelas kopi sehingga mengotori gaun mu."
"Tapi gaun siapa ini?"
"Aku meminta pelayan hotel untuk membelinya."
"Kamu membuka bajuku sendiri?"
"Tentu saja. Aku tak mau tubuhmu dilihat oleh orang lain sekalipun itu seorang wanita."
"Brengsek kamu, Teddy!" Mahira melemparkan bantal ke arah Teddy. Perlahan ia turun dari ranjang. "Mana dompetku?"
"Makan dulu dan minum obatmu baru aku akan membiarkan kamu pergi."
"Teddy!" Mahira mulai emosi.
Teddy menatap Mahira dengan tajam. "Kamu tahu siapa aku, Mahira. Kalau aku katakan tak akan membiarkanmu pergi, maka itu akan kulakukan."
"Aku membencimu, Teddy!" Mahira terpaksa melakukan apa yang Teddy mau. Ia makan walaupun hanya beberapa suap. Ia melihat obat yang diletakan di sana dan membacanya. Saat tahu kalau itu vitamin penambah darah dan obat lambung, Mahira tanpa ragu meminumnya.
"Mana dompetku?" tanya Mahira.
Teddy membuka lemari dan mengeluarkan dompet serta belanjaan Mahira.
"Aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu."
"Aku bawa mobil sendiri."
"Kamu masih pucat, Ira."
Mahira dengan tak sabar langsung menyambar dompetnya yang ada di tangan Teddy dan dengan langkah cepat meninggalkan kamar itu.
"Ira...., belanjaan mu!"
Prang!!!
Mahira membanting pintu kamar.
*********
Terima kasih sudah membaca part ini.
Semoga suka ya?
__ADS_1
Komentarnya untuk part ini, apa?
Emak tunggu ya?