RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Selamat Jalan Oma


__ADS_3

Hari Selasa sore, Mahira dan Edmond kembali lagi ke kota. Mereka langsung menuju ke rumah Edmond. Orang tua Edmond sendiri sudah kembali ke Spanyol karena jadwal pemeriksaan kesehatan mama Edmond.


Rumah besar itu kelihatan sepi saat mereka tiba.


"Di mana Leon?" tanya Mahira.


"Leon sudah pindah ke apartemen nya. Katanya ia nggak mau menganggu kita di sini."


"Kok pindah sih? Kita kan bisa tinggal bersama."


"Leon orangnya agak pemalu." Edmond mengajak Mahira ke sebuah kamar yang ada di lantai satu.


"Karena kamu sedang hamil, aku merenovasi kamarku ini agar menjadi lebih besar dan luas. Aku juga mengganti semua perabotannya. Kau suka?"


Mahira kagum melihat nuansa kamar ini yang berwarna putih di campur sedikit warna biru muda.


"Aku suka."


Edmond memeluk Mahira dari belakang. "Aku ingin kau merasa memiliki rumah ini. Para pelayan hanya datang jam 7 pagi dan akan pulang jam 5 sore. Namun jika kamu ingin mereka ada di sini, mereka akan tinggal. Hanya perawat yang akan menjaga oma, dia memang akan tinggal di sini. Bagaimana menurutmu?"


Mahira hanya mengangguk saja.


"Mandi dan beristirahatlah. Biar aku yang membawa semua pakaian kotor ini ke belakang. Lalu kita akan menyiapkan makan malam bersama. Kau suka masak kan?"


"Baik." Mahira melepaskan diri pelukan Edmond. Ia akan membiasakan dirinya untuk menjalani perannya sebagai istri dari Edmond Moreno sekalipun mereka akan menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan Edmond.


***********


Keesokan harinya, Edmond pun harus kembali ke Kalimantan. Saat pagi hari ia menyiapkan diri, ia terlihat tak bersemangat. Ia bahkan berniat untuk menunda kepulangannya namun sekretarisnya sudah menelepon dia sejak pagi untuk mengingatkan Edmond bahwa besok pagi ia ada rapat penting.


"Kamu nggak membawa koper?" tanya Mahira saat ia masuk ke kamar dan melihat kalau Edmond sudah selesai ganti pakaian.


"Nggak. Biar saja pakaianku di sini. Aku akan berusaha pulang setiap bulan." Ujar Edmond. Ia mendekati Mahira lalu memeluk istrinya. "Rasanya sangat malas untuk pergi dan meninggalkanmu."


"Aku akan baik-baik saja."


Edmond berlutut lalu mencium perut Mahira. "Daddy minta maaf ya, sayang? Nggak bisa menemani mommy mu untuk pemeriksaan pertamamu ke dokter. Jangan buat mommy sulit ya. Kasihan mommy sendiri."


Kembali hati Mahira menjadi hangat melihat perhatian Edmond untuknya.


Setelah mencium perut Mahira beberapa kali, Edmond pun berdiri. "Berikan nomor rekening mu kepadaku."


"Untuk apa?" .


"Tentu saja untuk memenuhi tanggung jawabku kepadamu. Sekarang kau adalah istriku, jadi seluruh kebutuhanmu harus ku nafkahi. Kau kan juga akan mengurus rumah ini. Gaji para pelayan, listrik dan air semuanya dibayar secara langsung oleh orang tuaku."


Mahira memberikan nomor rekeningnya pada Edmond dan tak sampai 2 menit, sudah ada pemberitahuan SMS banking tentang saldo yang masuk ke rekeningnya. Mata Mahira langsung terbelalak melihat jumlah saldo yang dikirimkan Edmond untuknya. Dua ratus juta? Apakah ia tidak salah?


"Ed, apakah ini tidak terlalu banyak?" tanya Mahira.


"Kamu kan harus mengurus kebutuhan oma juga. Aku akan mengirim uang ke rekening mu setiap bulan."


Edmond mengambil dompet dan ponselnya. "Aku akan ke bandara sekarang. Nanti aku terlambat." ujar Edmond.


"Aku akan mengantarmu."


"Kau bisa bawa mobil?"


"Iya. Aku sudah punya SIM." Mahira ingat, Teddy lah yang mengajarinya menyetir. Teddy juga yang mendorongnya untuk memiliki SIM.


"Kalau begitu, kau bisa menggunakan mobil yang ada di garasi. Ada dua mobil di sana. Ayo !" Edmond langsung menarik tangan Mahira dan keluar dari kamar.


Keduanya berangkat ke bandara secara bersama.


"Aku pergi ya, sayang? Ingat, jaga kesehatan mu dan anak kita." Edmond memeluk Mahira lalu mencium dahinya. Setelah itu ia masuk ke ruangan khusus penumpang. Mahira melambaikan tangannya. Ia merasa hatinya tiba-tiba saja menjadi sepi.


************

__ADS_1


Putri datang menemui Mahira sore itu setelah ia pulang dari bank.


"Kapan cuti mu selesai?" tanya Putri.


"Jumat. Jadi aku masuk kerja nanti Senin. Besok aku akan menjemput Oma untuk tinggal di sini. Rumah ini terlalu besar."


"Iya. Sebaiknya para pelayan tinggal saja di dalam."


"Mungkin hanya satu orang saja. Susi usianya 26 tahun dan ia belum menikah. Dia saja yang tinggal di sini. Kalau tante Rina, dia punya keluarga yang harus diurusnya jadi dia bisa langsung pulang. Besok aku akan bicara dengan mereka."


Mahira tiba-tiba memegang dadanya.


"Ada apa? Kau merasa pusing?" tanya Putri khawatir.


"Nggak. Perasaanku tiba-tiba saja merasa tak enak. Kenapa ya?"


"Mungkin kau merindukan Edmond." goda Putri.


"Bukan. Edmond setengah jam yang lalu baru saja menelepon dan mengabarkan bahwa ia sudah tiba di Samarinda."


Putri baru akan bicara namun terhenti melihat ponsel Mahira yang berdering. Ternyata itu panggilan dari perawat yang menjaga Oma. Namanya Afika.


"Hallo Afika." Sapa Mahira.


"Nyonya, Oma Yohana tiba-tiba saja pingsan."


"Ya, Tuhan! Aku akan segera ke sana."


"Kami sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Untung saja tuan Frans ada di rumah."


"Aku segera ke rumah sakit sekarang." Mahira menatap Putri. "Oma ku sakit, Put."


"Ayo, ku antar kau ke rumah sakit sekarang."


Keduanya pun langsung ke rumah sakit dengan mobil Putri. Sepanjang perjalanan Mahira terus berdoa dan bermohon agar omanya cepat sembuh.


Saat mereka tiba di rumah sakit, Afika, om Frans, Tante Wulan, Merry dan juga Maya, sudah ada di sana.


"Oma masih di dalam. Dokter sedang menanganinya. Tadi aku baru saja memandikan Oma. Beliau meminta untuk di bawa ke teras lalu ingin menelpon nyonya Mahira. Aku ke dalam rumah untuk mengambil ponsel Oma dan saat aku kembali, Oma sudah jatuh dari kursi rodanya." Kata Afika sambil menangis.


"Tenanglah. Aku tak menyalahkan mu." ujar Mahira sambil menepuk bahu Afika.


Tak lama kemudian, dokter Vera keluar. Ia adalah dokter ahli jantung yang selama ini menangani oma Yohana.


"Oma Yohana ingin bertemu dengan Mahira." Kata dokter Vera.


Mahira langsung masuk ke dalam ruang iccu. Ia berusaha tegar melihat keadaan oma yang sudah dipasang berbagai alat penunjang kehidupan di tubuhnya.


"Oma....!" Mahira memegang tangan omanya.


"Cucuku sayang...." Oma memegang wajah Mahira. Suaranya sangat lemah.


"Oma harus kuat, ya?"


Oma Yohana memaksakan sebuah senyum. "Jangan menangis jika oma meninggalkanmu. Kau kini sudah punya seseorang yang akan menjagamu."


"Aku tak bisa tanpa Oma."


"Oma sudah tua, sayang. Sudah saatnya kau belajar menerima kenyataan bahwa kau harus berjalan sendiri tanpa oma lagi."


Mahira mencium tangan omanya. Ia sungguh merasakan kesedihan yang mendalam. Pandangan mata oma nampak meredup walaupun ia terlihat tenang. Mahira sungguh tak mampu jika harus kehilangan omanya.


*************


3 jam kemudian.......


Mahira tertidur di depan ruang ICCU sambil bersandar di sandaran kursi tunggu yang ada. Di sampingnya ada om Frans. Hanya tinggal mereka berdua yang tertinggal sementara yang lain sudah pulang. Perawat oma sedang ke kantin rumah sakit untuk membelikan kopi bagi Mahira dan om Frans.

__ADS_1


2 jam yang lalu, om Frans baru saja dipanggil Oma untuk berbicara. Namun hanya bisa 5 menit seperti juga Mahira yang tak diberi banyak waktu untuk berbicara dengan Oma.


Dokter Vera keluar dari ruangan ICCU. Wajahnya terlihat sedih.


"Oma Yohana baru saja meninggal." kata dokter itu membuat Mahira langsung menjerit menangis sambil memeluk om Frans. Pria berusia 50an itu pun terlihat sangat sedih.


***********


Prosesi pemakaman Oma Yohana di laksanakan besok harinya. Mahira terlihat sangat terpukul bahkan ia sempat pingsan. Putri berulang kali memeluk sahabatnya itu dan membisikkan agar Mahira harus kuat karena ia sedang hamil.


Malam harinya, Mahira memilih untuk tidur di kamar oma. Hatinya masih sedih. Oma justru pergi disaat Mahira sudah memenuhi keinginan Oma untuk menikah.


Tangan Mahira memeluk foto Oma Yohana. "Oma, kenapa secepat ini harus pergi?" tangisnya pedih.


Pintu kamar Oma terbuka. Ternyata om Frans yang masuk.


"Mahira, kamu belum makan? Ayo makan, nak!"


"Bagaimana aku bisa makan sedangkan oma sudah nggak ada?"


Frans duduk di tepi ranjang. "Mahira, batas usia Oma memang sudah ditentukan. Kita manusia tak akan bisa menentang kehendak yang Kuasa. Kau sudah mengurus oma selama ini dengan sangat baik. Om tahu kalau tante Wulan dan kedua anak om tak pernah mengurus Oma dengan baik."


"Aku nggak pernah keberatan mengurus oma, om. Aku sangat menyayangi Oma."


"Om tahu kalau kamu mengurus oma dengan penuh kasih. Tuhan pasti akan memberkati tangan mu yang telah melakukan banyak kebaikan."


Mahira hanya bisa menangis.


"Jangan lupa makan, ya? Om mau istirahat dulu. Rasanya sangat lelah."


"Iya, om."


Frans meninggalkan kamar itu. Sementara Mahira berusaha menguatkan hatinya saat ia ingat bahwa ia sedang hamil.


Ponsel aku dimana ya?


Mahira membuka tas nya. Ternyata ponselnya kehabisan daya. Entah sejak kapan. Mahira pun mengambil charger dan menghubungkannya dengan colokan listrik. Setelah itu ia keluar kamar untuk mengisi perutnya.


Ruang makan sangat sepi. Mungkin juga semua penghuni rumah sudah tidur karena ini sudah hampir jam 11 malam.


Mahira hanya makan sedikit lalu kembali ke kamar Oma. Ia kemudian menghidupkan kembali ponselnya. Ternyata Edmond menghubunginya sampai 26 kali tadi siang.


Sayang, aku baru tahu kalau Oma meninggal .


Maaf, aku tak bisa mendampingi mu di saat


kamu sangat membutuhkan dukungan. Aku


juga menelepon mu tapi kamu nggak mengangkatnya. Kata Putri, kamu sangat sedih atas kepergian oma. Tapi, jangan lupa juga kalau kamu sedang hamil. Tetap jaga kesehatan ya?


Love you


Mahira menghubungi Edmond namun ponsel suaminya itu tak aktif. Entah mengapa Mahira merasa kesal. Ia memang merasa sangat membutuhkan Edmond saat ini.


***********


2 hari Mahira tidur di kamar Oma, akhirnya ia memilih kembali ke rumah orang tua Edmond. Mahira harus menguatkan hatinya karena memang kehidupan akan terus berlanjut sekalipun Oma sudah tak ada.


Sebelum pergi, Mahira memutuskan untuk mengambil beberapa barang oma untuk dijadikannya kenangan baginya. Termasuk foto Oma dengan kedua orang tuanya.


Sesampai nya di rumah, Mahira mencoba menyibukan diri dengan bekerja membersihkan rumah karena kedua pelayan belum tahu kalau Mahira akan pulang hari ini.


Selama 2 hari ini pun, Edmond tak pernah menghubunginya lagi. Mahira pun akhirnya bertanya dalam hatinya, *Mengapa Ed tak pernah menghubungi ku? Apakah aku telah dilupakan olehnya?


**********


Hallo semua....

__ADS_1


Apakah misterinya mulai tersingkap?


dukung emak terus ya guys*


__ADS_2