
"Tolong......!" teriak seseorang.
Edmond yang baru saja turun dari mobilnya mendengar teriakan itu. Ia akan menuju ke sebuah club' di mana Lerry sudah menunggunya. Namun teriakan itu mengusiknya.
"Tolong aku.....!"
Edmond merasa kalau teriakan itu berasal dari sebuah gedung yang tak jauh dari klub itu. Perlahan Edmond mendekat dan melihat seorang pria yang sedang memukul seorang perempuan. Edmond tak tahan melihat perempuan disakiti oleh laki-laki. Makanya dengan cepat Edmond menyerang lelaki itu. Edmond menarik laki-laki dan melemparkannya ke dinding.
"Terima kasih."
Edmond terkejut melihat perempuan itu. Ia mengenalnya. "Monalisa?"
"Edmond!" Monalisa langsung memeluk Edmond sambil menangis. "Terima kasih karena sudah menolongku."
Edmond mengenal Monalisa sebagai teman satu kampusnya. Ia sudah tahu kalau Monalisa sering mengalami masalah dengan mantan suaminya yang belum mau meninggalkannya. Monalisa pernah menolong Edmond saat ia dikejar oleh kawanan mafia yang mengira kalau Edmond adalah musuh yang mereka cari. Dari situlah Edmond dan Monalisa menjadi dekat.
"Apakah dia mati?" Edmond terkejut saat ia melihat lelaki itu sudah tak bergerak. Perlahan Edmond mendekat dan memegang leher pria itu. Tak ada lagi denyut nadinya.
"Ya, Tuhan, dia mati. Pada hal aku tak kuat mendorongnya." Edmond menjadi takut.
"Jangan takut, Ed. Dia memang sudah sepantasnya mati. Dia terus mengejar dan menteror ku."
"Tapi bagaimana jika polisi menyelidiki ini semua? Aku tak mau di penjara." Edmond jadi takut.
"Tenang. Biar aku yang menangani ini semua. Kau pergilah!"
Edmond terkejut. "Maksudnya? Mereka nanti akan menyalahkan mu."
"Pergilah, Ed. Kamu telah menyelamatkanku dari pria jahat ini. Kalau kamu tak datang, aku pasti sudah mati. Tapi, aku ingin kau berjanji satu hal padaku, Ed. Jangan tinggalkan aku saat mereka semua akan memusuhiku."
"Tentu saja aku tak akan meninggalkanmu."
"Terima kasih....!"
Monalisa memeluk Edmond lalu meminta agar pria itu pergi meninggalkannya.
2 Minggu kemudian, berita tentang kematian anak dari kepala mafia yang terkenal di kota itu menggegerkan dunia. Pria itu ditemukan tewas di sebuah gedung tua. Polisi tak dapat menemukan siapa pembunuhnya karena mayat nya sudah sangat sulit dikenali dengan tubuh yang sangat rusak.
Edmond kemudian bertemu dengan Monalisa. Keluarga mantan suaminya selalu menuduh kalau Monalisa ada dibalik kematian mantan suaminya. Mereka juga menawarkan hadiah uang yang sangat banyak kalau ada yang bisa menemukan siapa pembunuhnya.
Hubungan Monalisa dan Edmond juga menjadi dekat karena Monalisa sangat tertekan akibat keluarganya sendiri juga memarahi Monalisa. Perempuan itu sering mengalami serangan panik dan ketakutan dan hanya Edmond yang bisa menenangkan nya. Edmond pun berjanji tak akan pernah meninggalkan Monalisa agar gadis itu tahu bahwa masih ada orang yang menyayangi dan memperhatikannya. Edmond menjadikan Monalisa seperti adiknya. Namun entah bagaimana caranya, di suatu pagi, Edmond menemukan dirinya ada di kamar Monalisa dalam keadaan tanpa busana.
Monalisa sendiri yang akhirnya mengungkapkan kalau mereka berdua resmi ada hubungan. Monalisa awalnya adalah gadis yang cerdas dan manis. Banyak orang yang menganggap mereka adalah pasangan yang cocok namun tidak dengan Lerry. Ia sebenarnya kurang setuju Edmond membangun hubungan dengan Monalisa karena Edmond akhir nya terlibat dengan kelompok mafia karena selalu membela Monalisa..
Setiap kali Edmond berusaha lepas dari Monalisa, selalu saja Monalisa mengancam akan membeberkan kasus pembunuhan itu. Edmond tak ingin keluarganya mendapatkan masalah dengan para mafia itu. Edmond bertahan bersama Monalisa demi keselamatan keluarganya.
************
Edmond bangun saat hari sudah menjelang subuh. Matanya langsung tertuju pada Mahira yang tidur di sampingnya. Jarak mereka terasa begitu jauh karena Mahira tidur di paling pinggir ranjang itu. Ia bahkan terlihat akan jatuh.
Perlahan Edmond bangun dan hendak minum. Namun tubuhnya yang sakit membuat ia sedikit kesulitan dan menimbulkan suara. Mahira bangun dengan kaget.
__ADS_1
"Ed, kau butuh sesuatu?"
"Aku hanya haus."
"Tunggulah di situ. Kau tak perlu untuk turun." Mahira bangun lalu mengambil air putih yang memang selalu tersedia di kamar. Ia memberikannya pada Edmond. Pria itu meminumnya sampai habis.
"Tambah lagi?" tanya Mahira.
"Tidak. Terima kasih."
Edmond menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia menarik selimut sambil lalu memejamkan matanya.
"Kenapa tak berbaring?" tanya Mahira lalu naik ke atas ranjang.
"Punggung ku agak sakit. Lebih enak seperti ini."
"Ya, sudah. Aku mau tidur lagi." Mahira pun membaringkan tubuhnya.
Edmond memandang Mahira yang sudah tidur lagi. Terbayang kejadian yang menimpah dirinya tadi.
Edmond POV .........
"Lerry, aku pergi dulu ya?" pamit ku pada Lerry sambil membereskan barang-barang ku dan memasukannya pada tas kerjaku.
"Ok. Kamu mau pulang ke mess?"
"Tidak. Aku mau ke kota. Aku sudah janji pada Wina untuk menemaninya ke pasar malam."
"Itu namanya sayang anak. Nanti kalau kamu sudah memiliki anak, maka kamu pasti akan mengerti. Duh, ponselku hampir mati lagi." Segera ku tinggalkan Lerry yang masih ada di ruang rapat karena waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Begitu sampai di tempat parkir, aku langsung memasukan tas kerjaku di jok belakang setelah itu ke bangku pengemudi. Alangkah terkejutnya aku saat melihat Monalisa sudah duduk di sebelahku."
"Kamu mau apa, Ica? Ayo turun!"
"Aku nggak mau turun. Aku akan ikut denganmu ke kota. Bolehkan?"
"Ayolah, Ica. Kamu tahu kalau aku sedang buru-buru."
"Untuk Mahira, untuk anakmu, kau selalu memiliki waktu yang banyak. Bagaimana dengan aku? Aku adalah wanita pertamamu. Kita bahagia bersama sampai kau akhirnya harus terjebak dengan wanita perebut suami orang."
"Kau tahu kalau kita tak pernah menikah secara resmi, Ca." Aku mulai menjalankan mobilku karena tak ingin semakin terlambat untuk bersama Wina.
"Tapi aku adalah wanita mu. Kau pernah berjanji untuk terus menjagaku." Monalisa mulai menangis.
"Jangan menangis, Ca. Aku tak mau sampai kamu terserang panik lagi. Aku mohon mengertilah kalau aku harus menemani anakku."
"Bukan. Kau sudah tak sabar ingin menemui Mahira kan?" Tangis Monalisa semakin kuat. Ia bahkan mulai meremas rambutnya sendiri.
"Ica, aku mohon! Jangan seperti ini."
"Kau bilang padaku, kau hanya menikahi wanita itu karena ia terlanjur hamil anakmu. Kau bilang hanya akan menikah dengannya sampai anakmu lahir. Namun ternyata ini sudah 4 tahun lebih. Aku tak terima kalau kau semakin dekat dengannya." Monalisa mulai memukul-mukul dirinya sendiri. Begitulah ia. Saat serangan panik datang padanya, ia lebih suka menyakiti dirinya sendiri.
"Ica! Tolong jangan seperti ini."
__ADS_1
"Aku membenci Mahira! Aku membenci Edewina!" Monalisa semakin histeris. Aku terpaksa menghentikan mobilku. Kalau tidak Ica akan semakin menjadi.
"Ica, aku mohon, jangan seperti ini." Aku memegang tangan Ica.
"Aku sudah meninggalkan semua keluargaku demi kamu, Ed. Hanya kamu yang aku punya."
"Hubungan kita sudah berakhir, Ca. Terimalah kenyataan. Aku melihatmu di kamar bersama pria itu dan kau sudah menyakitiku."
"Aku juga nggak tahu bagaimana aku bisa bersama pria itu. Aku sudah minta maaf padamu namun kau justru pergi dengan Mahira."
Aku membuka tas Monalisa dan mencari obat penenang nya. "Ayo minum!"
"Aku nggak mau!"
"Minum, Ica !"
Monalisa akhirnya mau meminum obatnya. Aku pun menjalankan mobilku kembali. Namun saat mobil mulai memasuki perkotaan, Monalisa tiba-tiba saja menarik stir mobil. "Tak akan ku ijinkan kamu bersama Mahira. Kamu harus ikut denganku ke hotel, Ed. Ayo kita bercinta dan menghabiskan malam bersama. Kau pernah bilang kalau hanya aku yang bisa memuaskan mu di atas ranjang. Ayo, Ed."
"Ica, jangan seperti ini. Ica....!" Aku jadi panik karena Monalisa menarik stir mobil sangat kuat dan akhirnya mobilku menabrak pembatas jalan lalu terbalik karena hantaman itu sangat keras. Air bag nya memang langsung terbuka untuk melindungi kami. Kejadian yang sangat cepat dan tak bisa ku hindari.
**************
"Aku mengalami kecelakaan bersama Monalisa, Ra." Kata Edmond. Ia memutuskan untuk menceritakan kejadian kecelakaan itu.
Mahira membuka kembali matanya. Ada sesuatu yang menusuk hatinya. "Ternyata kalian memang masih bersama."
"Aku tak pulang bersamanya. Dialah yang memaksa untuk ikut denganku. Kami..."
"Aku tak ingin mendengar ceritamu, Ed." Mahira memejamkan kembali matanya.
"Ica yang berulah di dalam mobil makanya kami kecelakaan. Ra, aku tak sengaja bersamanya. Aku sungguh-sungguh ingin pulang cepat agar bisa bersama Wina."
Mahira membalikan badannya dan tidur membelakangi Edmond.
"Ra, aku mohon percaya padaku!" Edmond mendekat dan memegang punggung Mahira. Ia terlihat menahan sakit di tubuhnya.
"Menjauh, Ed. Kalau tidak aku akan ke kamar Wina dan tidur dengannya." Ancam Mahira.
Edmond pun menjauh.
Mahira menahan sakit di dadanya. Mendengar nama Monalisa bagaikan seribu jarum yang menusuk hatinya. Mahira membenci dirinya yang masih saja merasakan cinta untuk Edmond sehingga tak tega melihat keadaan Edmond yang mengalami luka. Ia rasanya sulit mempercayai Edmond lagi walaupun di sisi hatinya yang lain, ia merasa senang karena Edmond mau jujur padanya.
Ya Tuhan, bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari Edmond?
*************
Hallo selamat pagi
semangat terus yang masih puasa.
Jangan lupa dukung emak ya?????
__ADS_1