
Hati Mahira menjadi bergetar melihat rumah yang sudah lama tak pernah didatangani nya ini. Ia bahkan belum turun dari mobil saat Edmond sudah membukakan pintu baginya.
"Sayang, kamu nggak turun?" tanya Edmond.
"Aku di mobil saja, Ed. Kamu nggak akan lama kan?"
"Memangnya kamu nggak kangen dengan rumah ini?"
Mahira pun akhirnya turun. Ia merasa kalau hatinya semakin bergetar memasuki rumah ini.
Tadi dalam perjalanan Edmond sudah menjelaskan bahwa Susi masih bekerja di sini namun karena ia baru saja melahirkan maka Edmond memberikan dia ijin selama 2 bulan dan untuk sementara saudara Susi yang bekerja untuk membersihkan rumah.
Tak banyak yang berubah dengan rumah ini. Saat memasuki rumah, ada foto keluarga Edmond dimana Edewina ada dalam foto itu. Di sana juga ada ada foto pernikahan dirinya dan Edmond dan foto Edewina ketika ia berusia 1 tahun.
Edmond menunjukan ruangan yang nantinya akan menjadi kamar Edewina. Ia juga meminta Mahira untuk memberikan beberapa masukan agar kamar itu nantinya terlihat indah.
"Memangnya kamu akan berhenti bekerja di Samarinda?" hanya Mahira.
"Tidak. Aku akan tetap menjadi wakil direktur perusahaan itu. 2 Minggu sekali atau sebulan sekali aku akan ke Samarinda. Lerry juga memahami dengan kondisiku. Namun aku juga tak bisa membiarkan perusahaan Daddy di sini jadi tak terurus. Eduardo lebih suka bekerja di Madrid karena pacarnya juga orang Madrid. Bulan depan mereka akan menikah."
"Oh ya?"
Edmond meraih tangan Mahira. "Aku ingin kita pergi ke pernikahan Eduardo. Pasti ini akan menjadi kejutan bagi Mommy. Dia sangat marah padaku dan tak mau bicara denganku lagi karena tahu tentang masa laluku. Dia juga sangat marah saat tahu Edewina kena tembak dan kehilangan ingatannya."
"Aku bingung, Ed."
"Kenapa juga harus bingung. Memangnya apa yang kita lalui tadi pagi tak ada kesannya sama sekali bagimu?"
"Bukan begitu, Ed. Edewina kan belum menemukan ingatannya. Dokter sudah berpesan agar kita jangan terlalu memaksa dia untuk mengingat masa lalunya karena itu akan membawa dampak tak baik baginya. Edewina harus menemukan ingatannya secara perlahan sehingga itu tak akan menganggu pertumbuhannya. Jika kita tinggal di sini dan Edewina melihat semua foto ini, ia pasti akan bertanya banyak hal dan membuatnya bingung. Makanya, aku berpikir, biar saja kami tinggal di rumah kontrakan itu sampai Edewina berhasil mengingat segalanya."
Edmond memeluk Mahira. "Baiklah sayang. Aku akan setuju denganmu. Namun aku akan ikut tinggal dengan kalian di rumah itu."
"Memangnya kamu sanggup tinggal di rumah kecil itu?" tanya Mahira sambil melepaskan pelukannya.
"Tentu saja aku bisa. Aku tak mau berpisah lagi kayak kemarin-kemarin. Rindu itu berat. Sangat menyiksa dan membuat aku gelisah sepanjang hari. Apalagi saat tahu kalau si Jin itu mengejar mu."
"Bukan Jin. Tapi Jun."
"Biar saja aku menyebutnya Jin karena dia memang seperti Jin yang bisa muncul kapan saja dan menganggu kita berdua."
Mahira tertawa. Dan Edmond merasa semakin mencintai wanita itu. "Jangan ada Jun diantara kita sayang. Jika dia terus mengejar mu, aku akan kembali menjadi mafia dan siap untuk menghancurkan dia."
Mahira mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Edmond. "Ed, aku nggak mau kamu menjadi jahat."
"Kadang seorang pria perlu menjadi jahat untuk melindungi apa yang menjadi miliknya." Kata Edmond pelan namun tegas.
__ADS_1
"Aku tak akan melirik pria lain, Ed."
Edmond kembali membawa Mahira kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu."
Mahira tahu kalau Edmond memang sangat posesif. Semua itu karena Edmond sangat mencintainya. Namun tanpa Mahira tahu kalau apa yang Edmond katakan tadi adalah sebuah kebenaran. Ia akan kembali menjadi jahat, jika Mahira meninggalkannya.
Setelah Edmond berbicara dengan tukang yang akan merenovasi ruangan khusus untuk Edewina, mereka pun berangkat ke salah satu mall untuk menonton sebuah film yang sangat Mahira sukai yang diperankan oleh aktor kesukaannya.
Merasa bagaikan ABG yang sedang pacaran, Mahira menikmati waktu nonton berdua itu. Walaupun kadang diselingi dengan kejahilan Edmond yang mencium dan membelai bagian tubuh Mahira yang sensitif.
"Berikut kalau kita menonton bioskop, ajak Edewina ya?" ujar Mahira dalam perjalanan pulang.
"Kenapa? Nggak suka nonton berdua. Kan enak, kayak orang pacaran aja."
"Kamu nakal, Ed. Selama hampir 2 jam penayangan film, kamu mencium tanganku sebanyak 10 Kali. Mencium bibirku sebanyak 5 kali, menyentuh perutku sebanyak 6 kali, dan menyentuh dadaku sebanyak 4 kali."
"Kau menghitungnya?" Edmond kaget.
"Tentu saja. Untuk membuktikan bahwa kau memang mesum. Berarti dulu saat kamu pacaran, dan mengajak pacarmu ke bioskop, hal seperti itu sudah biasa kau lakukan."
"Kamu wanita pertama yang ku ajak nonton bioskop." kata Edmond pelan lalu meraih tangan Mahira dan menciumnya lembut.
"Wanita pertama?"
"Ya, sayang. Bukankah sudah pernah ku katakan padamu, para gadis yang dekat denganku di kampus dulu tak ada satu pun yang menjadi pacarku? Mereka saja yang mengaku pacaran denganku. Aku memang pernah nonton bioskop beberapa kali. Namun itu kulakukan dengan teman-teman, dengan kakakku Edewina dan juga pernah menemani mommy dan daddy menonton drama komedi yang dibintangi oleh Jenifer Lopes yang merupakan aktris favorit mommy. Namun menonton bioskop hanya berdua dengan seorang cewek, baru kali ini."
"Kamu yang pertama dan akan menjadi satu-satunya. Mungkin berikut aku akan menemani Edewina, atau anak kita yang lain. Ah, rasanya tak sabar melihat Edewina tumbuh menjadi besar dan ia akan menjadi kakak bagi adik-adiknya."
"Adik-adik?" Mahira menatap Edmond tak mengerti.
Edmond memegang perut Mahira. "Setelah yang kedua ini lahir, aku ingin juga yang ketiga, keempat atau kalau perlu yang kelima. Supaya rumah kita ramai."
"Ih...., Ed. Aku nggak mau. Kamu pikir enak jika hamil."
"Aku akan menemanimu sayang. Jangan takut."
"Pokoknya nggak mau. Dua saja. Sesuai program pemerintah." ujar Mahira sambil memasang wajah cemberut membuat Edmond langsung tertawa keras-keras. Inilah yang ia rindukan. Menikmati kebersamaan dengan Mahira walaupun istrinya itu terkadang suka cemberut.
*************
Dokter Rani selesai memeriksa Edewina. Setelah itu ia meminta Mahira untuk membawa Edewina keluar ruangan karena ada sesuatu yang akan ia bicarakan dengan Edmond.
"Sakit kepala yang sering Edewina rasakan itu adalah hal yang biasa dialami oleh orang yang mengalami amnesia. Ia akan mulai menemukan ingatannya. Hanya saja kalian jangan memaksa dia untuk mengingatnya. Dia masih kecil. Biarkan semuanya terjadi secara alami. Edewina anak yang cerdas, ia pasti akan bisa melewatinya." kata dokter Rani.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?"
__ADS_1
"Teruslah bersamanya. Bukankah kamu dulunya adalah orang yang paling dekat dengan Edewina? Tanpa harus mengatakan kalau kamu adalah papinya, Edewina pasti akan mengingatmu lagi sebagai papinya. Aku sangat yakin itu." ujar dokter Rani membuat Edmond mengangguk. Ia harus belajar bersabar sampai Edewina kembali menemukan ingatannya.
Sepulang dari tempat praktek dokter Rani, mereka pun mampir di sebuah restoran untuk menikmati makan malam.
Edewina nampak senang.
"Mommy, om Ed tinggal bersama kita saja ya? Supaya teman-teman sekolah Wina percaya bahwa om Ed adalah papinya Wina." ujar Wina saat mereka sudah tiba di rumah.
"Mulai sekarang om Ed akan tinggal di sini." ujar Edmond.
"Hore ..!" Edewina bersorak gembira lalu memeluk Edmond sambil mencium pipi pria itu.
Mahira menjadi haru. Ia tahu kalau keputusannya ini sudah tepat. Ia akan membuka hatinya untuk Edmond.
***********
"Jadi, bagaimana keputusan kalian?" tanya hakim.
Edmond yang duduk di samping Mahira meraih tangan istrinya itu lalu berkata," Kami tak ingin berpisah, Pak. Kami memutuskan untuk kembali bersama, demi anak kami Edewina dan anak yang sementara dikandung oleh istriku."
Hakim menatap Mahira. "Benarkah?"
"Ya. Ini adalah keputusan bersama kami." ujar Mahira lalu menatap suaminya dengan senyum manis.
Gugatan perceraian itu pun dicabut oleh Mahira dan mereka tak jadi bercerai.
Di kantornya, Mahira memutuskan untuk berbicara dengan Jun.
"Aku kembali pada suamiku, Jun. Maaf kalau membuatmu kecewa. Namun aku masih mencintainya. Aku tak mau berpisah darinya."
Jun mengangguk walaupun wajahnya terlihat kecewa.
Sementara itu, Edmond yang baru saja tiba di kantor mendapatkan laporan dari satpam.
"Pak, orang yang tertangkap kamera CCTV sedang mengempeskan ban mobilmu sudah kami selidiki. Dia adalah anak buah Kim Jun So."
Edmond mengepalkan tangannya. ia tersenyum penuh misteri. Kamu belum tahu siapa aku, Jun.
*************
Selamat malam....
semoga suka dengan part ini
terima kasih sudah membacanya
__ADS_1
Mendekati episode-episode akhir ya guys