
Tak terasa satu bulan sudah Mahira menikah dengan Edmond. Ia berusaha kuat menjalani kehidupannya sekalipun Oma Yohana tak ada lagi bersamanya.
Yang membuat Mahira sedikit merasa lega adalah, jika perempuan lain mengalami mual dan muntah di pagi hari saat hamil, Mahira justru akan mengalaminya di malam hari. Sehingga saat di kantor, ia masih bisa bersikap biasa sehingga teman-temannya nggak akan curiga kalau Mahira sudah hamil lebih dulu sebelum menikah. Walaupun terkadang Mahira harus menahan rasa kantuk karena kurangnya jam tidur malam.
Pemeriksaan ke dokter sudah dilaksanakan minggu yang lalu. Kata dokter kandungannya baik dan janinnya juga baik.
Kesedihan terdalam Mahira adalah kamar tempat omanya tinggal sudah dibongkar dan dijadikan kamar para pelayan, disatukan dengan kamar Mahira yang memang bersebelahan dengan kamar oma. Menurut tante Wulan, barang-barang Oma sudah dibuang. Namun Mahira sangat yakin, tantenya yang matre itu sengaja telah menjual barang-barang milik oma di pasar loak.
Hari ini adalah hari Sabtu. Mahira merasa agak pusing ketika bangun. Makanya ia memilih untuk ada di tempat tidur saja. Sepanjang malam Mahira muntah terus sampai badannya terasa agak lemah.
Susi mengetuk pintu kamar Mahira. "Nyonya, ingin sarapan apa?"
Mahira menggeleng. "Aku tak mau makan."
"Nyonya harus makan. Nyonya terlihat sangat lemah. Apakah perlu aku panggilkan dokter?"
"Tidak. Aku hanya ingin tidur lebih lama. Maukah kau buatkan aku es jeruk?"
"Baik, nyonya. Tadi tuan menelepon tante Rina dan mengatakan kalau nyonya ternyata sudah positif hamil. Selamat ya nyonya. Tuan mengatakan kalau kami harus mengurus semua keperluan nyonya."
"Terima kasih."
"Saya akan segera membawa es jeruknya ke sini."
Saat Susi pergi, Mahira langsung berpikir. Edmond bisa menelepon para pelayan? Sedangkan dirinya? Sudah berapa hari Edmond tak meneleponnya? Apakah alasan karena di sana jaringannya kurang baik?
**********
Mahira menatap perutnya yang nampak masih rata sekalipun kehamilannya sudah memasuki bulan ketiga. Ia masih saja mengalami mual dan muntah di malam hari. Mahira bahkan harus cuti selama 3 hari dari bank tempatnya bekerja karena ia harus dirawat di rumah sakit. Susi dan Rina dengan setia menjaga Mahira. Putri pun setiap pulang kerja selalu menemani sahabatnya itu.
Namun pagi ini, Mahira berada di puncak kesabarannya. Ia merasa sangat membutuhkan Edmond namun sampai ia keluar rumah sakit, Edmond hanya sekali menghubunginya. Itu saat Mahira sedang tidur sehingga hanya bicara dengan Rina.
"Aku nggak sabar lagi, Put. Aku hamil dan butuh perhatian. Edmond itu sebenarnya cinta nggak sih sama aku? Kamu tahu, yang lebih banyak menanyakan kabarku adalah ibu mertuaku. Sedangkan Edmond dalam seminggu kadang hanya dua kali. Aku kok curiga kalau di sana ia punya seseorang."
"Sabar, Ra. Kamu kan tahu kalau pekerjaan Edmond ada di pedalaman Kalimantan. Jaringannya kadang sulit." Putri datang pagi ini karena memang sekarang hari Sabtu dan ia tak masuk kantor.
Mahira mengambil ponselnya. Ia menghubungi Edmond. Selama ini, ponsel Edmond memang jarak aktif. Tapi pagi ini, panggilannya tersambung dan dalam deringan yang ketiga, Edmond sudah mengangkatnya.
"Hallo, sayang....!' Sapa Edmond dari seberang.
"Aku mau cerai! Aku nggak mau pernikahan kayak gini. Kamu janji akan pulang setiap bulan. Namun kenyataannya, sudah dua bulan dan kamu nggak pernah datang."
Putri terkejut mendengar perkataan Mahira.
"Sayang, aku kan sudah bilang padamu kalau perusahaan kami mengalami masalah. Ini saja aku ada di Jakarta untuk mengurus masa ijin yang mengalami kendala."
"Kamu di Jakarta dan tidak menghubungiku? Memangnya di Jakarta kekurangan jaringan untuk menelepon? Aku butuh kamu sekarang! Jika kamu tak datang sekarang, jangan pernah hubungi aku lagi. Aku akan pergi dari rumah ini!"
"Sayang, kok kamu bicaranya seperti itu?"
"Kamu punya perempuan lain kan di sana?"
__ADS_1
"Mahira! Jangan bicara seperti itu!"
"Aku benci kamu, Edmond!" Mahira segera mengahiri percakapan mereka. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
"Mahira!" Putri berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Lepaskan, Put. Andai saja waktu itu kamu tak mendorong aku untuk menikah dengan Edmond, keadaannya pasti tak akan seperti ini. Edmond hanya mengirimi aku uang yang banyak setiap bulannya namun aku merasa kalau dia tak perhatian padaku. Semua kata manisnya saat kami menikah dulu rasanya tak berarti lagi sekarang." Mahira menangis. Ia sendiri tak tahu mengapa sampai ia begitu emosi dan sangat menginginkan Edmond untuk ada bersamanya sekarang.
"Mahira, sabar. Ingat kau sedang hamil. Dokter kan sudah mengatakan agar kamu jangan terlalu stres berlebihan. Itu nggak baik untuk pertumbuhan janin mu."
Mahira berusaha menguatkan hatinya. Ia kemudian menghapus air matanya. Perlahan ia duduk di pinggir ranjang. Putri segera mengambil air putih untuk sahabatnya itu.
Mahira meneguk air itu sampai habis lalu ia membaringkan tubuhnya karena ia merasa pusing lagi. Putri tahu bahwa sahabatnya itu butuh perhatian dari Edmond. Ia juga heran mengapa Edmond begitu sibuk sampai terkadang tak bisa dihubungi.
************
Rumah sudah sepi saat Mahira keluar dari kamarnya. Karena ini hari sabtu, maka Susi yang biasa menemani Mahira, akan pulang ke rumahnya.
Inilah yang membuat Mahira selalu merasa kesepian. Ia juga tak bisa meminta Putri untuk selalu menemaninya karena sahabatnya itu punya kehidupan pribadinya sendiri.
Mahira juga heran dengan keadaan dirinya. Kebanyakan orang bilang kalau kandungan sudah memasuki bulan ketiga maka rasa mual dan muntah akan hilang. Namun tidak dengan Mahira. Ia justru masih sering merasakan itu dan berat badannya pun turun dengan sangat drastis.
Susi sudah membuat makanan sampai hari esok. Karena Susi biasanya akan datang kembali hari minggu sore.
Dengan sedikit menahan mual, Mahira memasukan makanan di microwave. Ia butuh makanan untuk memberikan kekuatan kepadanya. Sambil bergandengan menunggu makanan panas, Mahira membuat segelas susu hamil.
Ia pun makan sambil menahan tangis di hatinya. Ia ingat dengan Oma Yohana. Andai saja oma masih hidup, Mahira pasti tak akan merasakan kesepian seperti ini. Selesai makan, Mahira memutuskan untuk menonton TV. Ketika itulah ia mendengar bunyi bel yang ada di depan pagar. Mahira heran. Siapa tamu yang datang di tengah malam seperti ini? Satpam sepertinya tertidur dan tak mendengarkan bel itu.
Mahira melihat ke arah layar TV yang terhubung dengan semua CCTV. Ia terkejut melihat Edmond yang sedang berdiri di sana.
Edmond langsung melangkah masuk, membalas permohonan maaf sang satpam dengan senyum tipis lalu terus menuju ke arah pintu depan. Ia mengetuk pintu.
Mahira yang masih berdiri di dekat pintu segera membukanya.
Melihat Mahira yang membuka pintu, Edmond pun langsung memeluknya. "Sayang....!"
"Lepaskan!" Mahira mendorong Edmond dan segera melangkah pergi.
Edmond terkejut. Ia tak menyangka kalau Mahira akan bersikap kasar seperti itu. Bukankah selama ini Mahira selalu baik dan lembut?
"Sayang, ada apa?" tanya Edmond sambil mengejar langkah Mahira. Ia berhasil menahan tangan istrinya itu.
"Kamu mau tanya ada apa?" teriak Mahira menumpahkan kekesalannya selama ini. "Kamu nggak merasa bahwa selama dua bulan ini kita tak seperti orang yang baru menikah?"
"Aku minta maaf, Ra. Perusahaan ku memang sedang ada masalah. Aku hanya meminta pengertian mu."
"Pengertian ku? Aku mengalami dukacita saat kematian Oma. Kau hanya sekali meneleponku untuk memberikan aku kekuatan. Aku hamil, sering mual dan muntah. Aku butuh seseorang untuk menumpahkan semua rasa sakit ku. Aku bahkan sampai masuk rumah sakit. Dan apa yang kamu lakukan? Sibuk dengan perusahaan mu. Memangnya aku tak penting bagimu?"
Edmond sebenarnya sangat lelah. Ia harus berburu waktu mengejar pesawat agar dapat datang ke Manado setelah Mahira meneleponnya tadi pagi.
"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku ....!" hanya itu yang Edmond dapat katakan. Ia menarik napas panjang beberapa kali agar tubuhnya menjadi kuat.
__ADS_1
Mahira menghapus air matanya dengan kasar. Sebenarnya ia juga dapat melihat wajah Edmond yang nampak sangat lelah. Wajah pria itu bahkan sedikit pucat dan nampak berkeringat.
Edmond mendekat, lalu kembali meraih tangan Mahira. "Ayo kita duduk sambil bicara. Jujur, aku merasa sedikit pusing."
Mendengar perkataan Edmond, Mahira akhirnya mengalah. Ia mengikuti langkah Edmond dan keduanya duduk di sofa.
"Sayang, aku bukannya nggak peduli padamu, kamu kan tahu kalau aku orangnya gila kerja. Aku ingin membuktikan diri pada Daddy bahwa aku bisa membangun usahaku sendiri tanpa.bantuan apapun darinya." Edmond meraih tangannya. "Saat kamu menelpon ku tadi dan mengatakan kata cerai, aku sungguh takut mendengarnya. Aku harus meminta sekretaris ku untuk mencari penerbangan ke Manado hari ini juga. Aku baru selesai rapat jam 8 malam tadi. Aku tak sempat makan malam dan langsung menuju ke bandara. Aku lapar, lelah dan sedikit pusing. Namun aku senang karena bisa bertemu denganmu." Edmond mencium punggung tangan Mahira. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tangannya memijat kepalanya.
"A...ada apa?" tanya Mahira.
"Aku sedikit pusing." Edmond memejamkan matanya.
"Kau lapar?"
"Tentu saja, sayang. Aku lapar."
"Tunggu sebentar." Mahira langsung berdiri dan memanaskan makanan. Ia juga membuatkan segelas teh manis dan membawanya kepada Edmond.
"Ed, sambil menunggu makanannya panas, minumlah dulu teh hangat ini."
"Sayang, kamu tahu kalau aku tak suka teh manis."
"Maaf, aku lupa."
"Berikan saja aku air mineral dingin."
Mahira mengambil apa yang Edmond minta. Ia juga mengambil tissue untuk menyeka keringat di wajah Edmond.
"Terima kasih, sayang." saat Mahira memijat kepalanya.
Edmond pun akhirnya makan dan mendapatkan kembali kekuatannya. Saat Mahira mencuci peralatan makan, Edmond memilih untuk mandi karena ia merasa sangat gerah setelah seharian beraktivitas.
Mahira menyiapkan baju Edmond di atas kasur setelah itu ia memilih keluar kamar. Ia bingung dengan dirinya. Saat tadi ia selesai menumpahkan segala kemarahannya pada Edmond, kini perasaanya merasa lega. Mahira bahkan tak merasa muntah. Biasanya ia akan mual dan muntah saat tengah malam dan akan berhenti jam 3 atau 4 pagi.
"Mahira....!" Edmond yang sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Ia kekuatan lebih segar. "Kenapa duduk di luar? Memangnya kamu tidak mengantuk?"
"Aku memang seperti ini. Kadang tidurnya sudah pagi karena seringnya mual dan muntah."
Edmond menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari. "Ayo ke kamar! Setidaknya kamu harus membaringkan tubuhmu." Edmond memegang tangan Mahira.
"Baiklah!" Mahira pun menurut. Keduanya memasuki kamar sambil bergandengan tangan. Mahira naik ke atas ranjang dan Edmond ikut berbaring di sampingnya setelah mematikan lampu utama.
Mahira tidur miring, membelakangi Edmond. Suaminya itu kemudian memeluk Mahira dari belakang sambil tangannya mengusap perut Mahira. "Maafkan Daddy ya, sayang. Daddy mengabaikan kamu dan mommy selama dua bulan ini. Namun kita sekarang tak akan terpisah lagi. Kita akan tinggal bersama lagi."
Mahira membalikan badannya. Ia menatap Edmond. "Kau akan tinggal di Manado?"
"Tidak! Kau yang akan ikut denganku ke Kalimantan."
Mahira terkejut. Ke Kalimantan?
*************
__ADS_1
Bagaimana selanjutnya? Kira-kira Mahira ikut nggak ya????
Jangan lupa dukung emak terus ya guys