RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Cinta Pertama Edmond


__ADS_3

"Ada apa, nak? Kok kelihatannya sedih sekali?"


Aku menatap mommy yang berdiri di depan pintu balkon. "Anakmu patah hati, mom."


"Oh ya? Bukankah Edmond Moreno itu seorang Casanova? Kok bisa ya patah hati. Gadis mana sih yang tega membuat anak mommy ini patah hati?" Mommy mendekatiku. Ia langsung memegang wajahku dan menepuknya lembut. "Jangan kecewa. Patah satu tumbuh seribu."


"Tapi dia gadis istimewa, mom."


Mommy menatapku dengan dahi yang berkerut. "Berarti anak mommy beneran jatuh cinta?"


"Cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan." kataku dengan nada sedih


"Cantik?"


"Cantik itu relatif, mom. Sering aku bilang cantik tapi orang lain bilang biasa saja. Namun dia salah satu gadis idola di kampus. Walaupun penampilannya sangat sederhana, namun banyak pria yang kagum padanya. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam dan panjang, dan dia suka sekali tersenyum. Aku saja langsung suka padanya hanya dengan melihat fotonya."


Mommy tersenyum padaku. "Jadi anak mommy patah hati nih?"


"Sepertinya."


"Kenapa nggak kejar terus sih? Masa segitu aja menyerah."


"Dia sudah empat kali menolak ku, mom."


Mommy terkejut mendengar pengakuan. "Oh sayang. Jangan bersedih ya? Kalau memang kau berjodoh dengannya pasti suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan kalian kembali."


"Ok, mom."


"Apakah karena dia sampai kau ingin melanjutkan kuliah mu di Amerika?"


"Itu salah satu alasannya. Hatiku sakit setiap kali melihat dia bersama pacarnya."


"Jadi dia sudah punya pacar? Sebaiknya memang kamu menjauh, Ed. Jangan jadi perebut pacar orang. Nggak baik."


"Bagaimana jika aku terus memikirkannya?"


"Maka kau harus berusaha mendapatkannya ketika ada kesempatan. Bahkan mungkin dengan sedikit licik."


"Benarkah?"


"Itu yang daddy mu lakukan saat mendapatkan mommy. Waktu itu mommy punya pacar. Namun Daddy tak pernah berhenti untuk mengejar mommy. Tahu kan bule, jika mereka sudah suka maka apapun akan mereka lakukan. Daddy meminta menyewa seorang perempuan untuk menjebak pacar mommy. Ternyata pacar mommy itu tergoda dengan perempuan itu dan mereka tidur bersama. Akhirnya mommy pun jadian dengan daddy mu."


"Apakah mommy nggak marah sama daddy saat tahu kejadiannya?"


"Awalnya iya. Daddy jujur sebelum kami menikah. Namun, saat mommy berpikir lagi, sekalipun perempuan itu dengan sengaja menggoda pacar mommy namun jika pacar mommy tak tergoda hubungan kami akan baik-baik saja. Mommy memaafkan Daddy dan kami menikah. Mommy bahagia karena Daddy bisa memberikan seluruh cintanya untuk mommy. Memang kalau jodoh, tak akan kemana."


Aku mengangguk. Lalu memeluk mommy. Aku sangat menyayangi mommy dan selalu berusaha untuk menyenangkan mommy apapun yang terjadi.

__ADS_1


Kepergian ku ke Amerika membuat aku sejenak melupakan Mahira. Aku tenggelam dalam tugas kuliahku dan akhirnya aku mengenal Monalisa. Peristiwa pembunuhan itu membuat aku harus dekat dengan perempuan itu. Monalisa memang cantik. Anak salah satu konglomerat di New York walaupun papanya sendiri adalah orang Spanyol. Kenal dengan Monalisa membuat aku kenal juga dengan dunia hitam mafia. Entah sudah berapa kali aku melakukan bisnis kotor seperti perdagangan senjata dan narkoba. Sampai akhirnya Lerry mengajak aku untuk membuka usaha di Kalimantan. Perlahan ku tinggalkan dunia hitam itu dan menjalankan bisnisku sendiri walaupun aku ternyata tak bisa lepas sepenuhnya dari dunia mafia. Kakak Monica selalu mengajakku untuk kembali berbisnis senjata dan narkoba. Itulah sebabnya aku memiliki ponsel dengan nomor yang tak pernah kukatakan pada Mahira. Hanya Monica saja yang tahu karena nomor itu terhubung dengan semua jaringan mafia yang ada. Dengan nomor itu pula para anak buah menghubungi aku.


Menjauh dari Amerika tak membuat hubunganku dengan Monalisa menjadi renggang. Ia justru menjadi penopang Bisnisku dengan Lerry karena memang Monalisa anak orang kaya. Aku mulai berpikir untuk serius dengan Ica namun ia sendiri tak mau menikah. Makanya kami membuat status pernikahan palsu agar orang-orang di perusahaan tak mencela kami sebagai pasangan yang kumpul kebo. Di luar negeri mungkin tak masalah namun di sini sungguh akan menjadi masalah.


Semakin lama hidup bersama Monalisa, aku semakin tak tahan dengan sikapnya yang terlalu posesif dan sangat cemburuan. Aku sudah mencoba putus dengannya namun Monalisa selalu mengancam aku dengan peristiwa kematian mantan suaminya. Aku takut kelompok mafia itu akan menyakiti keluargaku.


Sampai akhirnya, aku tak sengaja bertemu dengan Putri di bandara Jakarta. Pertemuan itu membuat aku ingat dengan cinta pertamaku. Kami pun saling bertukar nomor telepon.


Setahun telah berlalu sejak pertemuan kami itu. Aku kembali disibukan dengan pekerjaanku. Ada beban yang terasa menekan kepalaku saat tahu kalau mommy mengidap penyakit kanker. Ini menjadi rahasia aku dan daddy karena kami tahu kalau mommy orangnya kadang tak kuat menerima sesuatu yang berat. Apalagi setelah Edewina kakakku meninggal karena gantung diri, mommy jadi bertambah sedih dan seakan tak memiliki kekuatan apapun.


Sampai akhirnya, di suatu sore Putri menelpon aku.


" Hallo kak Edmond!" sapa Putri.


"Siapa ya?" tanyaku pura-pura tak kenal pada hal aku tahu nomor siapa ini.


"Kakak nggak menyimpan nomor aku? Aku Putri." terdengar Putri sedikit kecewa


"Putri yang mana ya?" Aku ingin mengerjai Putri.


"Putri sahabatnya Mahira Amalia Hamarung."


"Oh....aku ingat. Apa kabar nya Mahira?" Aku langsung bertanya tentang Mahira. Entah mengapa dia yang aku ingat saat Putri meneleponku.


"Mahira lagi nggak baik. Sedang patah semangat. Kayaknya ia mau bunuh diri."


"Dia putus dengan Teddy."


"Kenapa bisa putus?" aku jadi penasaran. Bukankah hubungan mereka sudah lama. Aku bahkan berpikir kalau mereka akan menikah.


"Teddy mengajak Mahira tinggal di Singapura. Namun Mahira tak bisa meninggalkan omanya. Kakak tahu kan latar belakang Mahira seperti apa. Teddy kayaknya nggak mau punya hubungan jarak jauh. Akhirnya Teddy pergi meninggalkan Mahira sendiri."


"Apakah dia terlihat sangat sedih? Andai aku bisa ada di sana untuk menolongnya." Aku berkata jujur saat mengucapkan kalimat itu. Bagaimana pun, aku belum benar-benar move on dari Mahira.


"Kakak dapat menolongnya."


"Caranya?"


"Menikahinya untuk menyelamatkan dia."


"Maksudnya?"


"Mahira mungkin hamil."


"Kenapa mungkin?"


"Ia belum melakukan test. Namun ia merasa bahwa ia pasti hamil karena saat Teddy menyentuhnya, ia dalam masa subur. Dan jika dia memang hamil, maka habislah ia."

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Jadi hubungan Mahira dan Teddy sudah sedalam itu? Dan jika Mahira benar hamil, bukankah aku harus membesarkan anak dari keluarga yang sudah menghancurkan kakakku? Tapi kehamilan Mahira bukankah bisa mewujudkan keinginan mommy untuk segera memiliki cucu? Duh, bagaimana ini?


"Kak Ed, kamu masih di sana kan?" tanya Putri khawatir karena suara ku tak terdengar lagi.


"Putri, memangnya Mahira mau menikah sama aku?" tanya ku sambil terus berpikir bagaimana jika Mahira tak mencintaiku? Bagaimana jika Teddy datang dan merebut dia kembali dariku?


"Sekarang aku yang tanya sama kakak, apakah kakak mau menikah dengan Mahira seandainya dia hamil?"


"Asalkan dia mau menjadi istriku yang sesungguhnya dan belajar melupakan Teddy, aku mau. Kamu kan tahu, dari dulu aku memang mencintainya." Aku terkejut karena kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulutku.


"Dan anaknya."


"Akan ku sayangi seperti anakku sendiri." Lagi-lagi aku mengeluarkan kalimat yang tak sesuai dengan isi hatiku.


"Kakak sungguh-sungguh, kan?"


"Kalau memang Mahira siap untuk menikah denganku, besok aku datang ke Manado." Ah, entah kegilaan apa yang ada di kepalaku, aku sudah memutuskan untuk menemui Mahira.


"Ok. Aku akan bicara dengan Mahira. Malam ini, aku kasih kabar ke kakak."


"Aku akan menunggu dengan senang hati. Katakan pada Mahira, rasa yang dulu masih tetap sama." Kali ini aku memang tak bohong. Mendengar nama Mahira saja hatiku bergetar. Entah bagaimana nanti pertemuan kami, aku rasa sangat ingin melihat gadis itu sekarang.


Persoalannya, bagaimana dengan Monalisa? Bagaimana caraku putus dengan dia?


Aku terus berpikir sampai akhirnya aku menelepon salah satu anak buah ku untuk mengikuti Monalisa. Kebetulan sudah seminggu ini aku dan Monalisa selalu bertengkar karena sifat posesif Monalisa dan emosinya yang semakin tak terkontrol. Monalisa bahkan pernah memukul seorang karyawan perempuan hanya karena selesai rapat ia pulang bersama ku karena sudah sangat larut.


Menjelang malam, mereka memberitahuku kalau Monalisa ada di salah satu klub. Dia sedang minum di sana. Itulah kebiasaan Monalisa. Lewat salah satu anak buah ku yang bekerja sama dengan salah satu bar tender, minuman Monalisa ku masukan obat perangsang. Sebenarnya aku ingin memasukan obat tidur namun aku yakin Monalisa orangnya sangat cerdik sehingga ia bisa tahu apa yang terjadi.


Setelah Monalisa mulai on, pelayan bar tender itu membawa Monalisa di salah satu hotel. Di sana aku membiarkan Monalisa bercinta dengan bar tender itu. Kejam? Ya, aku memang kejam. Namun hanya ini cara yang bisa kulakukan agar bisa melepaskan diri dari Monalisa dan bersama Mahira.


Pagi harinya, aku berlagak memergoki mereka di kamar hotel itu. Monalisa menangis dan meminta maaf padaku. Namun aku pura-pura marah dan meninggalkan dia. Aku berangkat ke Manado untuk membuktikan pada Mahira bahwa aku serius ingin menikah dengannya. Aku mengikuti cara papiku, sedikit berlaku licik untuk melepaskan Monalisa dan mendapatkan Mahira. Cinta pertama dalam hidupku.


Saat pertama melihat Mahira. Aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Ia semakin cantik dengan seragam karyawan bank itu. Sungguh, aku tak bisa memungkiri kata hatiku, gadis itu masih ada dalam hatiku walaupun 4 tahun telah berlalu.


Aku berusaha meyakinkan Mahira bahwa aku serius untuk menikah dengannya. Aku bahkan langsung menelpon orang tuaku untuk mengatakan bahwa aku akan menikah. Aku justru tak sabar menunggu hari itu datang. Aku bahkan berharap Mahira akan hamil. Akan ku jadikan anak Teddy itu sebagai anakku. Aku yakin akan menerima Mahira dengan segenap cintaku tanpa memandang masa lalunya. Biar saja Teddy sakit hati saat tahu kalau kami menikah. Setidaknya, aku bisa membalas semua yang telah ia lakukan pada kakakku.


*************


Hallo semua ...


itu sebagian dari POV Edmond....


Akan ada lagi POV selanjutnya


Menurut kalian, apakah Edmond jahat????


Komentar yang banyak ya guys. Jangan lupa untuk like dan vote juga.

__ADS_1


__ADS_2