RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Berkerja Bersama


__ADS_3

Edmond yang sedang bermain dengan Wina di ruang tamu, terkejut saat melihat Mahira yang keluar dari kamar dengan dandanan yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia menggunakan rok berwarna coklat di atas lutut yang sangat pas membungkus pinggang rampingnya, kemeja berwarna putih yang juga sangat pas membungkus tubuh bagian atasnya. Sepatu fantovel dengan tinggi hak dengan make up natural.


"Mami sangat cantik. Aku suka." Wina langsung memenuhi Mahira dan berlari ke arah maminya.


"Wina sayang." Mahira sedikit menunduk dan mencium putrinya. Saat itu Edmond bisa melihat belahan dada istrinya.


"Sayang, jangan berani kau menunduk jika memakai kemeja itu.


"Memangnya kenapa?" tanya Mahira bingung.


"Bajunya terlalu seksi."


"Seksi apanya?" Mahira jadi bingung. Ia mengingat dengan jelas bagaimana cara berpakaian Angel sang sekretaris, Sofia dan juga Monalisa.


"Mami cantik." puji Wina lagi membuat Mahira kembali menatap putrinya. "Papi nggak setuju kayaknya."


"Papi, mami cantik." ujar Wina.


"Iya sayang. Mami sangat cantik sampai papi jadi takut mami dilirik cowok lain." ujar Edmond lalu ia mencium putrinya. "Papi dan mami pergi kerja dulu ya?"


Wina mengangguk. Tika langsung mendekatinya. Tika diajak untuk datang ke mess supaya Wina tak kesepian karena Mahira bekerja. Namun Mahira janji kalau ia akan pulang cepat.


Pagi ini juga karena ada rapat pemegang saham sehingga Mahira datang ke perusahaan bersama Edmond. Namun di hari-hari selanjutnya, Ia berjanji akan ke perusahaan di atas jam 10 pagi sehingga Wina sudah selesai makan dan mandi pagi.


Saat keduanya memasuki pintu lobby perusahaan, Mahira dengan sengaja menggandeng tangan Edmond. Edmond sendiri terlihat senang saat Mahira menggandeng tangannya.


"Selamat pagi tuan dan nyonya Moreno." sapa Dewi si gadis penjaga meja resepsionis. Dia memang awalnya tak menyukai Mahira seperti para pegawai yang lain. Namun kini, setelah dekat dengan Mahira, Dewi dapat merasakan bahwa apa yang dikatakan orang tentang Mahira tidaklah benar.


Keduanya naik lift bersama dan saat mereka tiba di lantai 3, pasangan itu secara tak sengaja mendengar pertengkaran Lerry dan Sofia.


"Kamu lupa, ***? Untuk urusan penerimaan pegawai, aku yang seharusnya menangani itu. Jangan seenaknya mengambil keputusan tanpa bertanya padaku sekalipun kau adalah direkturnya."


"Sayang, Mahira sangat pintar di bagian keuangan. Aku suka dengan cara kerjanya."


Langkah Edmond dan Mahira terhenti saat mereka mendengar nama Mahira.


"Kalau Mahira harus kerja di sini, laku bagaimana Ica? Kamu nggak memperhitungkan perasaan Ica?"


Mahira tiba-tiba mendorong pintu ruangan Lerry yang memang tak tertutup semua.


"Mengapa harus memikirkan perasaan Ica pada hal aku adalah istri sah Edmond? Aku tahu kalau kamu tak suka denganku. Namun Edmond sudah menceritakan tentang pernikahan pura-pura antara dia dan Ica. Jadi aku bukan pelakor seperti gosip yang beredar selama ini." Kata Mahira sambil menatap Sofia dengan tajam. Lerry terlihat sock saat melihat Mahira yang masuk bersama Edmond.


"Kamu bersama dengan pria yang sama sekali tak kau kenal masa lalunya." Sofia terlihat memandang Mahira dengan tatapan yang mengejek.

__ADS_1


"Sofia!" Sentak Lerry sambil menarik lengan kekasihnya itu.


Mahira tersenyum. "Masa lalu biarkanlah berlalu. Yang pasti sekarang akulah yang bersama dengan Edmond. Ayo sayang ke ruangan mu!" Mahira kembali melingkarkan tangannya di lengan Edmond.


"Berhentilah mengusik istriku, Sofia! Kita memang bersahabat namun bukan berarti kau harus mencampuri urusan kami. Istriku ada di perusahaan ini itu juga atas ijinku. Jangan lupa, aku adalah pemegang saham tertinggi di perusahaan ini. Ayo sayang." Edmond pun melangkah bersama Mahira meninggalkan ruangan Lerry.


"Kamu memang keterlaluan, Sofia. Kamu bisa merusak hubungan persahabatan ku dengan Ed. kamu memang adalah kekasihku, namun bukan berarti kamu dapat mencampuri urusan perusahaan." Lerry mengusap wajahnya kasar lalu melangkah menuju ke meja kerjanya.


"Lerry!" Sofia mengejarnya.


"Please, aku ingin sendiri."


"Tapi....."


"Tolong keluar dan katakan pada Angel untuk memanggilku jika semua pemilik saham sudah datang."


Sofia terlihat kesal. Lerry tak lagi takluk padanya. Ia pun meninggalkan ruangan Lerry sambil membanting pintunya. Lerry langsung mengusap dadanya. Ya Tuhan, lama-lama aku menjadi bosan padanya. Ia semakin ingin menguasai ku. Aku tak suka!


Di dalam ruangan Edmond.....


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Edmond sambil menyerahkan segelas air putih untuk istrinya.


Mahira menerima gelas itu dari tangan Edmond dan meminumnya sampai setengah. "Aku baik-baik saja, Ed. Apa yang Sofia katakan tak akan membuat aku patah semangat untuk bekerja sampai aku bisa menemukan siapa yang telah mengambil semua uang perusahaan ini."


Mahira tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sakit. Ia harus bersikap seperti ini agar Edmond tak curiga dengan tujuannya ada di perusahaan ini. Mahira memang mencintai Edmond. Ia memuja laki-laki ini karena sudah menerima dirinya dan Wina. Namun Mahira tak ingin menjadi wanita bodoh yang selalu dikhianati. Walaupun mungkin ia akan sakit menerima kenyataan yang sebenarnya, namun ia akan pergi dari Edmond jika apa yang selama ini Edmond rahasiakan terbongkar.


***********


2 jam kemudian, di ruangan rapat.....


"Ini adalah hasil laporan keuangan terbaik yang boleh saya dapatkan dari perusahaan ini. Terima kasih nyonya Moreno." puji David Wang.


"Terima kasih tuan. Saya hanya ingin membantu suami saya." Kata Mahira sambil menatap Edmond dengan mesra.


Sesuai dengan kesepakatan mereka, Mahira belum akan membongkar kehilangan dana perusahaan yang hampir 1 miliard itu. Walaupun sebenarnya Mahira sudah curiga siapa yang bekerja sama dengan kepala devisi keuangan itu, namun Mahira masih menyimpannya agar memperoleh bukti yang kuat.


Monalisa menatap Mahira dengan tatapan tak suka. Ia kesal dengan Mahira yang dipuja-puja saat ini.


"Oh, ya. Maaf sebelumnya jika aku lancang. Namun aku pikir ini adalah waktu yang tepat karena semua ada di sini." Ujar Mahira.


"Ada apa nyonya Moreno?" tanya Lerry sambil tersenyum manis membuat darah Sofia bagaikan mendidih rasanya.


"Aku menghitung jumlah anak-anak para pekerja di perusahaan ini yang berusia 3-5 tahun lumayan banyak. Mereka seharusnya mendapatkan pendidikan usia dini. Namun karena jarak sekolah dari tempat tinggal mereka sangat jauh makanya mereka memilih tak menyekolahkan anak-anak. Aku mengusulkan, demi kesejahteraan dan masa depan anak para pekerja, bolehkah kita membangun Paud atau TK di kompleks rumah susun? Aku pikir jika para pemegang saham ini mau menyisihkan satu persen saja dari keuntungannya, maka kita akan membangun sekolah itu dengan cepat."

__ADS_1


"Ide yang luar biasa. Aku memberikan keuntungan 10 persen untuk membangun sekolah TK di lingkungan pabrik dan perusahaan ini." ujar David Wang lagi.


"Aku 20 persen." sambung Lerry.


Dan akhirnya semua pemilik saham memberikan keuntungannya. Tak terkecuali Monalisa.


Mahira tersenyum bahagia. Ia memang ingin membantu para karyawan dengan membangun sekolah bagi anak-anak mereka. Namun tujuan utamanya memang ingin membuat Sofia dan Monalisa kesal padanya karena menjadi pusat perhatian. Mahira sengaja akan membangkitkan amarah mereka karena dengan sendirinya mereka pasti akan mengungkapkan hal yang sebenarnya.


Lerry menatap Mahira dengan rasa kagum. "Kau sangat beruntung mendapatkan Mahira, Ed." bisik Lerry.


"Ya. Aku memang sangat beruntung." kata Edmond sambil menatap istrinya dengan rasa bangga. Namun saat ia menatap Monalisa, Perempuan itu memberikan isyarat agar Edmond melihat hp nya.


Edmond membuka layar ponselnya yang ada di dalam tas. Aku kangen. Temui aku setelah ini ya? Demikianlah pesan Monalisa.


Mahira yang sedang membereskan kertas-kertas di atas meja, melirik sekilas ke arah Edmond yang sedang memasukan tangannya ke dalam tas kerjanya.


Apa yang perempuan itu kirimkan padamu, Ed?


"Sayang, kita makan siang, yuk! Lapar." Mahira mendekati Edmond lalu menyentuh pipinya. Ia sengaja bersikap mesra pada Edmond.


"Ok."Edmond melingkarkan tangannya di bahu Mahira. "***, aku pulang makan siang dulu, ya? Tadi pagi Mahira masak enak."


"Aku ikut ya?" ujar Lerry tanpa memperdulikan tatapan tatapan protes dari Sofia.


"Tentu saja." Mahira yang menjawab sambil tersenyum manis. Mereka bertiga meninggalkan ruang rapat.


"Dasar pelakor!" seru Monalisa sambil membanting map yang ada di tangannya ke atas meja.


"Sabar, Ica." Sofia mengusap bahu Monalisa.


"Aku tak sabar lagi! Aku benci Ed mengacukan diriku!"


"Katakan saja yang sebenarnya."


"Aku takut dengan ancaman Ed. Lagi pula aku tak ingin Edmond membenciku. Aku sangat mencintainya. Mungkin sebaiknya, aku mulai mendatangkan Teddy ke tempat ini." ujar Monalisa dengan tatapan penuh kebencian.


***********


Selamat pagi


semangat terus membacanya


semangat juga kuasanya.

__ADS_1


Ada yang kesal dengan Ed dan Ica ? 😂😂


__ADS_2