RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Dua lelaki yang mencintai Mahira


__ADS_3

Ingin rasanya Edmond berteriak saat tak menemukan Mahira ada di dalam mobil.


"Mahira pikir kalau Ica adalah perempuan gila. Ia tak menyangka kalau Ira adalah perempuan berarah dingin." ujar Edmond dengan pikiran yang sudah tidak tenang.


"Kita jangan gegabah. Mari kita atur strategi. Aku akan melumpuhkan 3 penjaga yang ada di bagian depan dan kalian berdua di bagian belakang. Aku takut Ica akan lari dari arah belakang." ujar Lerry.


3 bodyguard Edmond yang lain di bagi dua. 2 akan bersama Lerry dan yang satu melumpuhkan para penjaga yang ada di bagian balkon lantai dua.


Di saat mereka sedang mengatur strategi, Mahira sudah berada di dekat pagar rumah itu. Pakaian yang dikenakannya sudah menjadi kotor karena ia merayap untuk bisa sampai di pagar bagian belakang.


Monalisa keluar dari pintu belakang. Ia menelepon seseorang menggunakan bahasa Spanyol. Untungnya Mahira sudah belajar bahasa Spanyol selama 2 tahun belakangan ini. Dan ia mengerti kalau Monalisa memerintah para pekerjanya untuk menyiapkan tiket untuk keberangkatannya ke Singapura.


Mata Mahira menatap ke lantai dua rumah itu. Wina sayang, apakah kamu ada di atas sana? Sabar nak, mami akan segera menjemputmu.


Monalisa sudah masuk kembali ke dalam rumah. Saat Mahira akan melangkah masuk dari pagar belakang, ia terkejut melihat seorang penjaga rebah ke tanah tanpa ada suara letusan senjata. Mahira melihat ke arah belakang, ia melihat kalau Edmond sudah ada di belakangnya.


Satu penjaga jatuh kembali. Setelah itu Ifan dan bodyguard satunya mendekati Mahira dan Edmond. Mahira dengan cepat melangkah masuk tanpa bisa di cegah oleh Edmond.


Seorang penjaga tiba-tiba datang dari arah samping kanan rumah dan langsung menangkap Mahira.


Edmond tak bisa mencegahnya. Mahira masuk tanpa melihat keadaan sekeliling. Untungnya Ifan dan satu bodyguard langsung bersembunyi.


Monalisa keluar sambil bertepuk tangan. Ia kelihatan begitu senang karena Mahira berhasil ditangkap.


"Selamat datang nyonya Mahira Moreno. Aku sudah tak tahan ingin menguliti wajahmu yang sok cantik itu." Monalisa mendekati Mahira yang sudah ditahan oleh salah satu penjaga.


"Kamu belum mengenal siapa aku, sayang!" Monalisa memegang sebuah pisau di tangannya. Ia menempelkan pisau itu di pipi Mahira. Namun Mahira sama sekali tak menunjukan rasa sakit. Ia menatap Monalisa dengan wajah dinginnya membuat Monalisa merasa sedikit kesal. Karena ia berharap kalau Mahira akan menangis ketakutan.


"Jangan sakiti dia, Ica !" Mohon Edmond.


"Masuk!" Monalisa memerintahkan mereka untuk masuk. Saat Edmond akan ikut masuk, pistol yang dipegangnya langsung direbut oleh salah satu penjaga. Edmond tak melawan namun ia memberi isyarat kepada Ifan dan bodyguard lain yang bersembunyi agar jangan dulu bergerak.


Di dalam ruang tamu, Mahira diikat di sebuah kursi. Edmond jadi tak tega melihatnya. Ia tahu Mahira takut namun istrinya itu terlihat kuat. Mahira sama sekali tak menangis.


"Akhirnya, aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan." Monalisa menatap beberapa penjaga yang ada di sana. "Keluar dan perketat penjagaan. Aku ingin bermain-main sebentar di sini sebelum kita pergi!" ujar Monalisa. Hanya ada dua penjaga wanita yang dimintanya untuk berjaga di ruang tamu itu. Ia kemudian mendekati Edmond yang sedang berdiri tak jauh dari Mahira.

__ADS_1


"Ed, aku tak meminta banyak. Hanya cinta dan perhatianmu. Namun kau mengabaikan aku. Sekarang, aku ingin membuktikan apa yang pernah kau ucapkan padaku, bahwa hanya aku yang bisa memuaskan mu di ranjang." ujar Monalisa yang berusaha memeluk Edmond namun Edmond justru mendorongnya.


"Kenapa, Ed? Kau malu? Biarkan istrimu itu tahu kalau memang kau sangat memuja tubuhku."


"Kau sudah gila, Ica! Lepaskan Mahira!"


Monalisa mendekati Mahira. Pisau yang tadi disimpannya di keluarkan nya kembali. Ia memegang rambut Mahira dan memotongnya sedikit. "Kau berani menolak ku, Ed? Bukan hanya rambut Mahira yang bisa ku potong. Tapi juga semua bagian tubuhnya."


"Ica, lepaskan Mahira dan Edewina. Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan."


Monalisa tertawa sangat keras. "Aku akan melepaskan mereka. Asalkan.....!" Kalimat Monalisa terhenti melihat seorang penjaga membawa Teddy.


"Ah, Teddy datang. Aku punya ide yang lain." Monalisa berdiri di tengah-tengah ruangan. "Teddy, aku yakin kalau kamu tak ingin melihat Mahira terluka, kan? Aku tahu kalau Mahira sangat berarti bagimu. Karena itu, aku akan memberikan kau kesenangan malam ini. Aku mempersilahkan kamu untuk bercinta dengan Mahira dan aku akan bercinta dengan Edmond."


"Kamu sakit, Monalisa!" ujar Teddy dan tanpa ia duga, pisau yang ada di tangan Monalisa justru melayang dan menggores tangannya.


"Ah....!" Teddy meringis sambil memegang tangannya yang berdarah.


"Aku memang sakit, Teddy. Sakit karena Mahira merebut Edmond dariku. Memangnya kamu nggak sakit saat Edmond mengambil wanita kesukaanmu?" tanya Monalisa. Ia mendekati Mahira. Mencengkeram wajah Mahira dengan kuat membuat Mahira sedikit meringis karena merasa sakit.


"Jangan......!" teriak Mahira, Edmond dan Teddy secara spontan.


Monalisa tertawa kesenangan. "Buka baju mu, Ed. Begitu juga dengan kamu Teddy."


Edmond nampak ragu membuka bajunya sehingga membuat Monalisa tak tahan dan menampar wajah Mahira.


"Jangan sakiti Mahira!" secara spontan Edmond dan Teddy berteriak.


"Oh..., Mahira sayang, kau beruntung sekali dicintai oleh dua lelaki ini."


Edmond membuka kemeja yang dipakainya, tubuh bagian atasnya langsung polos. Begitu juga dengan Teddy membuka kemeja yang dipakainya.


"Aow......aow.....tubuh kalian begitu seksi pria-pria tampan." Monalisa bersorak gembira. "Teddy, ayo cium Mahira! Cepat!"


Teddy mendekati Mahira. "Maafkan aku, Ira." ujarnya lalu mencium bibir Mahira sekilas.

__ADS_1


Edmond menahan sakit di dadanya. Ia merasakan hatinya tak rela saat Mahira dicium oleh Teddy.


"Cium secara mendalam, dong." kata Monalisa.


Teddy menatap mata Mahira yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian. "Maafkan aku, Ira. Aku tahu kalau kamu tak menginginkan ini." Lalu Teddy menunduk dan mencium Mahira. Kali ini lebih lama karena ciumannya agak dalam. Mahira ingin sekali meludahi wajah Teddy namun ia dapat melihat kalau Teddy melakukan ini dengan terpaksa.


"Bagus.....!" Monalisa mendekati Edmond. Tangannya langsung melingkar di leher Edmond. "Mari kita berciuman sayang....!"


"Kamu sudah gila, Ica." Edmond menolak.


"Lukai wajah Mahira!" kata Monalisa pada penjaga wanita itu.


"Baiklah." Edmond nampak sangat kesal karena ia tak bisa melakuka. apa-apa. Dia bisa saja melumpuhkan Monalisa saat ini namun, bagaimana dengan keselamatan Edewina?


Edmond menengok ke arah Mahira saat Monalisa mencium bibirnya. Mahira langsung membuang muka. Jujur, ia juga cemburu melihat Edmond dan Monalisa berciuman.


"Ed, sayang..., aku sangat merindukan bibirmu." kata Monalisa saat ciuman mereka terlepas. Ia kemudian mencium Edmond kembali. Kali ini lebih dalam dan penuh gairah.


"Bos, anak kecil itu tak ada di kamarnya!" teriak Dela sambil menuruni tangga.


Mendengar hal itu, Edmond langsung memutar tangan Monalisa dan melumpuhkannya. "Jangan mendekat, atau aku akan membunuh bos kalian!" Edmond meletakan satu tangannya di leher Monalisa.


Penjaga yang ada di dalam tak bisa berbuat apa-apa. Mereka melepaskan senjata yang mereka pegang sesuai perintah Edmond. Pintu depan pun terbuka, nampak Lerry dan bodyguard Edmond yang lain masuk.


Namun tanpa di duga oleh Edmond, Monalisa mengambil pisau lain yang ia sembunyikan. Di tusuknya paha Edmond dengan pisau itu lalu ia melompat, mengambil pistol Edmond yang tadi dijatuhkannya di lantai. Monalisa mengarahkan nya pada Mahira.


dor......dor......dor.....


***********


Selamat pagi....


selamat Jumat Barokah


jangan lupa dukung emak ya guys

__ADS_1


__ADS_2