
Flashback
Mahira tak pernah membayangkan akan kehilangan Edewina dalam hidupnya. Edewina adalah hidupnya sendiri. Berarti kehilangan Edewina, Mahira akan mati.
"Selamatkan anakku, dokter!" teriak Mahira sekalipun tubuhnya menjadi lemah karena ketakutan tentang kematian yang akan memisahkan mereka.
Tim medis bekerja sangat cepat.
"Kami membutuhkan darah. Mungkin 2 atau 3 kantong." ujar salah satu perawat. "Golongan darah anak ini adalah A negatif."
"Itu darahku!" ujar Teddy dan Edmond secara bersama. Mahira ajak kaget juga saat menyadari bahwa Edmond dan Teddy memiliki golongan darah yang sama.
Di ruangan tempat darah mereka diambil, Teddy dan Edmond saling berpandangan. Bukan tentang pandangan saling dendam diantara dua lelaki yang memperebutkan Mahira melainkan apakah darah mereka bisa menyelamatkan Edewina atau tidak.
Bibi Juminten datang membawakan baju ganti untuk Edmond dan Mahira karena baju mereka semua penuh dengan darah.
Saat Edmond dan Teddy sudah selesai transfusi darah, Edmond pun ke toilet untuk mengganti pakaiannya.
"Aku punya kaos bersih. Pakailah. Bajumu juga berlumuran darah." Edmond menyerahkan sebuah kaos kepada Teddy. Agak ragu, pria itu pun mengambilnya. Ia ke toilet untuk membersihkan dirinya dan membuka kemejanya yang penuh dengan darah Edewina.
Operasi berjalan selama hampir 3 jam. Dokter Elton akhirnya keluar dari ruangan operasi.
"Peluru itu mengenai perut bagian bawahnya dan di paha sebelah kiri. Untung saja tak mengenai organ penting dalam tubuhnya. Ia kehilangan banyak sekali darah. Untungnya dua kantong darah yang tersedia membuat ia bisa bertahan walaupun masih dalam keadaan koma. Kita berdoa saja mujizat Tuhan dinyatakan pada anak ini. Karena ia anak yang kuat." ujar dokter Elton membuat Mahira sedikit bernapas lega. Ia menangis di pelukan bibi Juminten.
"Nona kecil pasti bisa bertahan. Dia anak yang pintar dan kuat. Nona kecil tak akan meninggalkan kita semua." ujar Juminten sambil mengusap punggung Mahira.
Edmond menarik napas lega. Tak lama kemudian, polisi datang. Edmond dan Teddy memberikan keterangan bahwa Mahira diculik dan Monalisa menembaknya. Tak ada cerita tentang mafia karena semua penjaga di sana sudah diamankan. Polisi pun memburu Monalisa.
"Monalisa akan lolos begitu saja jika polisi menangkapnya. Dia harus dihentikan. Tolong temani Mahira, aku harus mengerjakan sesuatu." kata Edmond kepada Teddy. Pria itu mengangguk.
Edmond mendekati Mahira. "Sayang, aku pergi dulu sebentar ya?"
Mahira yang masih duduk bersama Juminten hanya menatap Edmond tanpa ekspresi. Keadaan Wina yang masih koma, masih membuatnya takut.
Edmond mengerti kalau Mahira marah padanya. Kejadian ini menimpa Edewina karena hubungan masa lalu Edmond dan Monalisa yang terus membayangi pernikahan mereka. Edmond pun pergi untuk membuat perhitungan dengan Monalisa yang sudah dikurung oleh Lerry dan Ifan sebelum polisi menemukan mereka.
***********
Hari sudah pagi saat Edmond kembali ke rumah sakit. Mahira nampak tertidur di bahu Juminten sedangkan Teddy duduk tak jauh dari mereka. Ia sepertinya hanya tidur sebentar sebab matanya terlihat merah dan wajahnya lelah.
Edmond yang sama sekali belum tidur pun terlihat lelah.
"Bagaimana keadaan Wina?" tanya Edmond pada Teddy.
__ADS_1
"Masih koma."
Edmond duduk di samping Teddy. Ia mengusap wajahnya dengan tangannya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya lurus menatap Mahira. Perempuan itu terlihat lelah dan berbeban namun tak mengurangi kecantikannya di mata Edmond.
Edmond kemudian menceritakan tentang kematian kakaknya yang ternyata bukan karena bunuh diri melainkan karena perbuatan Monalisa. Teddy jadi sedih mendengarnya. Ia memang tak suka dengan kakak Edmond itu namun ia juga baru tahu beberapa hari ini mengapa papa dan mamanya tak akur. Ternyata mamanya dulu pernah selingkuh. Teddy pun mengijinkan papanya untuk bercerai dari mamanya. Teddy tahu kalau papanya berhak bahagia dengan yang lain.
Setelah Edmond menceritakan itu, keduanya saling minta maaf karena telah menyimpan dendam satu dengan yang lain. Fokus mereka sekarang hanya satu. Kesembuhan Edewina.
"Keluarga Edewina Moreno."
"Ada apa, dok?" tanya Mahira sambil membuka matanya.
"Pasien sudah sadar dan ia mencari maminya. Jadi nyonya saja yang bisa masuk."
Mahira mengangguk senang sedangkan Teddy dan Edmond nampak bernapas lega.
Setelah Mahira mengenakan baju hijau dan masker, dia diijinkan masuk.
Edewina terbaring dengan beberapa alat penunjang kehidupan. Pandangannya lemah.
"Wina sayang.....!" Mahira memegang tangan putrinya lalu menciumnya lembut tanpa bisa menahan air matanya.
"Mami....!"
"Wina takut....!"
"Jangan takut. Kita semua baik-baik saja. Wina harus berani ya? Wina kan anak hebat. Mami akan ada di sini menjaga Wina sampai Wina sembuh."
Edewina mengangguk. Ia mengusap punggung tangan maminya lalu matanya tertutup lagi. Mahira menatap perawat yang masih ada di sana. "Mengapa matanya terpejam lagi?"
"Pasien masih dalam pengaruh obat bius. Dia akan tidur dan terbangun lagi, begitu seterusnya sampai kondisinya stabil."
Mahira mengangguk. Ia berdoa semoga Tuhan menolong anaknya agar cepat pulih.
Di rawat Selama 5 hari di ruang intensif, Edewina pun dipindahkan ke ruangan biasa. Tak ada lagi selang oksigen dan Infus yang menempel di tubuhnya karena Edewina sudah makan dengan lahap.
Selama berada di ruangan intensif, Teddy dan Edmond hanya bisa melihat dari kaca karena Edewina menunjukan reaksi yang kurang nyaman saat melihat mereka.
"Edewina mengalami trauma yang sangat dalam. Di pikirannya saat ini hanyalah maminya. Sewaktu ia jatuh saat tertembak, kepalanya mengalami benturan yang cukup keras. Hilang ingatan ini hanya bersifat sementara. Itu akan sembuh seiring dengan menjalani pengobatan dan trauma akibat kecelakaan itu hilang. Untuk sekarang yang ada di pikiran Edewina hanyalah maminya. Jadi yang lain harap bersabar. Jangan dulu mendekat jika Edewina belum siap."
Penjelasan dokter membuat hati Edmond hancur. Edewina tak mengenalinya. Gadis kecil itu bahkan bersembunyi di balik punggung Mahira setiap kali Edmond masuk ke ruangannya.
"Aku harap kalian berdua menjauh dari anakku. Mahira jadi begini karena kalian. Kau Ed, dengan semua rahasia dirimu yang menyebabkan Monalisa dendam kepada aku dan Wina. Kau juga Teddy karena keegoisan mu untuk mendapatkan Edewina, kau akhirnya bekerja sama dengan si iblis Monalisa itu. Karena itu, jangan dekati anakku! Edewina adalah milikku sendiri." ujar Mahira sambil mengusir kedua lelaki itu yang setiap hari duduk di depan ruangan perawatan Edewina.
__ADS_1
Saat dokter mengijinkan Edewina untuk pulang, Mahira memang membawa Edewina ke rumah. Gadis itu tak mau dengan siapapun. Ia lebih suka bersama dengan Mahira. Melihat Edmond, Juminten bahkan Lita yang dulunya sangat dekat dengan Wina, gadis kecil itu selalu ketakutan. Baginya tak ada tempat yang paling nyaman selain bersama maminya.
Sampai di suatu pagi, Mahira yang sekarang tidur terus di kamar Edewina merasakan kalau ia merasa mual. Ia melihat kalender dan terkejut saat menyadari bahwa ia sudah terlambat datang bulan selama 10 hari.
Mahira ingat, peristiwa sore itu, ketika Edmond termakan cemburu karena menuduhnya selingkuh dengan Teddy. Ternyata penyatuan itu menumbuhkan benih di rahimnya. Mahira menggeleng. ia tak berharap hamil di saat kondisi Edewina belum juga stabil. Namun Mahira juga tak mau keguguran seperti waktu itu.
"Aku harus menjauh dari Edmond. Dia pasti akan mengira juga kalau anak ini adalah anak hasil perselingkuhan ku dengan Teddy. Sebaiknya aku kembali ke Manado. Aku akan berjuang sendiri demi anak-anakku. Edmond dan Teddy adalah dua lelaki yang telah menyakitiku dan membuat aku hampir kehilangan Edewina."
Saat Edmond berangkat kerja. Saat itu juga Mahira pamit kepada Juminten dan Lita. Ia meminta mereka untuk tak mengatakan apapun pada Edmond. Biar saja Edmond tahu disaat pesawatnya sudah mendarat di Manado.
Juminten dan Lita menangis sedih. Bagaimana pun mereka sudah menyayangi keluarga itu. Apalagi Edewina.
Saat Edmond pulang kerja, ia menemukan secarik kertas yang ditinggalkan Mahira untuknya.
Jangan cari aku. Karena aku ke Manado. Aku hanya butuh sendiri bersama anakku. jangan susul kami karena aku akan membencimu. Aku butuh ketenangan bersama Wina.
Walaupun sakit membaca pesan itu, Edmond berusaha memahami keinginan Mahira. Ia juga merasa tenang karena Teddy ada di Singapura. Teddy sudah berjanji tak akan menganggu ketenangan Edewina kecuali ingatan Edewina sudah kembali dan Mahira mengijinkan dia menengok Edewina.
*************
Saat kesadarannya datang, Mahira dengan cepat mendorong tubuh Edmond. "Lepaskan!"
Edmond hanya mundur selangkah. Memberi jarak baginya untuk menatap Mahira. "Aku tahu kalau kamu juga merindukan aku, Ra."
"Kalau aku merindukan kamu, aku tak mungkin akan meminta cerai padamu. Aku...." Kalimat Mahira terhenti saat mendengar panggilan dari pintu depan.
"Mami...!" Edewina masuk bersama pengasuhnya.
Mahira membalikan badannya lalu tersenyum dan menyambut anaknya. "Wina sayang....!"
Edewina berlari dan langsung memeluk pinggang mamninya.
Edmond ingin menangis melihat Edewina. Ingin rasanya ia menggendong dan bermain dengan gadis itu.
Edewina menyadari kalau maminya tak sendiri. Ia melihat Edmond dari balik tubuh maminya. "Mami, kenapa om ini ada di sini?"
Edmond tak bisa menahan air matanya saat Edewina menatapnya dengan dingin dan menyebut dirinya om.
***************
Selamat pagi.....
apakah pagi-pagi emak sudah buat baper?
__ADS_1
dukung emak terus ya guys