
Sebelum jam setengah tujuh, Mahira sudah bangun. Ia tak melihat Edmond ada di atas ranjang. Tempat tidur itu bahkan sudah rapi dan bersih. Mahira pun bergegas mandi dan berusaha menutupi wajahnya yang kusam karena kurang tidur dengan riasan. Ia keluar dari kamar dan menemukan bahwa Juminten dan Lita sudah sibuk di dapur.
"Maaf ya, bi, aku terlambat bangun." Ujar Mahira.
"Nggak masalah, Nyonya. Bibi tahu kalau nyonya masuk kamar saat hari sudah pagi." ujar Juminten setengah berbisik. Untung saja Lita sudah ke ruang makan dan menyiapkan alat makan di sana.
Mahira menatap Juminten. "Bibi tahu?"
"Bibi ingin sekali mendekati nyonya. Namun pertama ada tuan Eduardo. Kedua kali bibi akan mendekat, bibi melihat tuan Edmond yang memperhatikan nyonya dari ruang tamu. Nyonya menangis di teras dan tuan Edmond menangis di ruang tamu. Bibi kasihan melihat kalian berdua. Entah apa masalahnya namun Nyonya dan tuan terlihat terluka."
"Akan ku ceritakan nanti jika hatiku sudah membaik, bi." Ujar Mahira sambil bertanya dalam hatinya. Kenapa Edmond semalam hanya memperhatikan dia tanpa mendekatinya?
Saat sarapan, baik Mahira dan Edmond berusaha untuk bersikap biasa. Mahira mengambil nasi dan lauk lalu meletakkannya di atas piring Edmond.
Eduardo sendiri pun tak ingin mengangkat pembicaraan menyangkut hal itu. Ia tak mau mommy Rahel terlihat sedih.
Selesai sarapan, Edmond mengantarkan Eduardo ke bandara sedangkan Mahira menemani Edewina ke sekolah. Sebenarnya ia tak ingin Edewina ke sekolah namun putri kecilnya itu sangat rajin bersekolah. Makanya Mahira berusaha menemaninya sambil menjaganya dari serangan Monalisa.
Ketika mereka akan memasuki gerbang sekolah, Mahira terkejut melihat Teddy yang berdiri di samping sebuah mobil. Mahira mengantarkan Edewina sampai ke kelasnya, lalu ia keluar kembali dan menemui Teddy yang memang masih menunggunya di sana.
"Ada apa kamu di sini, Teddy?"
Teddy menatap Mahira dengan senyum manisnya. "Aku rindu saja ingin melihat anakku."
"Anakmu?" Mahira pura-pura terkejut walaupun ia merasakan kalau jantungnya hampir saja berhenti berdetak mendengar kata anakku yang keluar dari mulut Teddy.
"Ya. Aku sangat yakin kalau Edewina adalah anakku. Dari Maya aku tahu kalau ceritamu kepada keluarganya tentang hubunganmu dengan Edmond yang sudah terjalin selama beberapa bulan adalah sebuah kebohongan. Kau sengaja mengajarang cerita itu supaya keluargamu tak akan curiga dengan pernikahan kalian yang akan dilaksanakan secepat itu."
"Sudah ku katakan kalau pernikahan kami terjadi karena aku tahu kalau Edmond mencintaiku dan menerima ku apa adanya. Untuk apa ditunda lagi sementara Oma Yohana saat itu sedang sakit."
"Menurut Maya kalau Oma Yohana saat itu baik-baik saja."
"Apa yang mereka tahu tentang Oma Yohana? Aku yang paling tahu kondisi Oma." Mahira akan terpancing dengan rasa marah namun ia tak ingin membuat orang-orang memperhatikan dirinya yang sedang bertengkar dengan pria yang mereka tahu bukan ayahnya Wina.
"Ayo kita bicara baik-baik, Ira. Kau harus bisa meyakinkan aku kalau Edewina memang adalah anak Teddy."
"Mau dijelaskan bagaimana lagi?"
Teddy membuka pintu mobilnya. "Kita bicara di tempat lain."
"Tapi Wina...."
__ADS_1
"Sekarang jam 8 pagi dan Wina akan selesai jam 10 pagi. Kita punya waktu 2 jam untuk bicara."
"Aku....." Mahira menjadi ragu namun demi meyakinkan Teddy bahwa Edewina bukanlah anaknya, Mahira pun masuk ke dalam mobil. Saat mobil itu perlahan meninggalkan sekolah Edewina, tanpa Mahira ketahui bahwa Monalisa ada di sana, sedang merekam semua dari jarak tertentu.
Teddy pun sebenarnya merasa tak enak. Namun demi mendapatkan Mahira kembali, ia pun terpaksa bekerja sama dengan Monalisa. Maaf Edmond. Kamu telah menggunakan cara yang licik dengan menculik aku sehingga aku tak bisa menyelamatkan Mahira di hari pernikahan kalian. Saat ini pun aku akan menggunakan cara yang licik untuk memisahkan dirimu dengan Mahira.
Mobil yang dibawa Teddy berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari sekolah Edewina. Mahira sengaja tak mau turun karena ia tak ingin ada yang melihat mereka dan menjadi salah sangka. Mobil Teddy berhenti di bagian taman yang sepi, diantara pepohonan besar yang tumbuh di sana.
"Katakan apa yang kamu inginkan, Ted?" tanya Mahira tak mau membuang waktu karena ia merasa tak nyaman pergi berdua dengan Teddy sementara orang rumah tahu kalau ia sedang berada di sekolah dan menjaga Edewina.
"Matikan dulu ponselmu agar tak ada yang menganggu kita."
Mahira memasang mode pesawat terbang. "Sekarang katakan."
"Aku ingin melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa Edewina memang bukan anakku."
"Kamu sudah gila? Aku tak ingin menyeret Edwina dalam kecurugaanmu yang tak beralasan. Edewina bukan anakmu. Dia dilahirkan secara prematur. Kalau kamu tak percaya silahkan datangi rumah sakit tempat aku melahirkan. Aku kan sudah pernah bilang padamu kalau Edewina harus dirawat di dalam inkubator selama beberapa waktu karena berat badannya belum cukup saat dilahirkan. Kamu mau bukti apa lagi?"
Teddy menatap Mahira. "4 tahun aku bersamamu. Aku sangat mengenal pribadimu. Jika bukan karena terdesak oleh sesuatu, kau tak akan mungkin menikah secepat itu dengan Edmond. Kamu kan menolak Edmond berkali-kali."
"Sebenarnya waktu itu, aku mencintai Edmond. Aku menerima mu agar Edmond menjauh dariku. Aku merasa tak pantas bersama Edmond karena ia terlalu tampan, terlalu kaya dan ingin sekali menunjukan pada semua orang bahwa cowok yang dikenal tak pernah ditolak wanita itu, akhirnya ditolak juga."
Teddy memegang wajah Mahira dengan kedua tangannya. "Kau bohong, Mahira! Saat aku menyatakan cinta padamu, aku melihat cinta itu juga ada di matamu. Kau tak mungkin menerima aku kalau kau tak mencintaiku. Kau bukan tipe perempuan seperti itu."
"Jangan menipu aku,Ira! Kau bahkan sangat menjaga dirimu dan martabat mu. Kalau aku tak memberi obat perangsang di dalam minumanmu saat itu, bagaimana mungkin kau akan menyerahkan dirimu padaku hari itu? Kau tahu, aku sudah menghitung hari suburmu. Aku bahkan minum obat untuk meningkatkan kualitas benihku. Aku sangat yakin kalau kau akan hamil walaupun kita hanya sekali melakukannya."
"Brengsek kau, Teddy!" Mahira menyerang Teddy dengan membabi buta sehingga mobil itu ikut terguncang. "Kamu sungguh licik!" Mahira menjadi histeris.
"Hanya itu caranya agar kamu mau ikut denganku ke Singapura. Jika kamu hamil, kamu pasti akan menyusul ku ke sana."
Tangan Mahira menghapus air matanya dengan kasar. Satu tamparan ia berikan kepada Teddy. Rambutnya sudah berantakan bahkan bajunya menjadi kusut karena saat ia menyerang Teddy tadi, Teddy menangkisnya dan menahan tangannya. Kemeja yang dipakai Teddy pun kancingnya ada beberapa yang lepas. Rambut Teddy sendiri nampak berantakan karena sempat ditarik oleh Mahira.
"Aku membencimu, Teddy!"
**************
Edmond kembali masuk ke dalam mobilnya ketika pesawat yang membawa adiknya tinggal landas. Ia melihat kalau ada pesan masuk di ponselnya yang tadi ia tinggalkan di dalam mobil. Sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalnya.
Mata Edmond langsung terbelalak melihat sebuah video yang menayangkan Teddy yang sedang membuka pintu mobil dan Mahira yang masuk ke dalamnya.
Edmond langsung menelepon Mahira namun ponsel istrinya itu tak aktif. Kepala Edmond langsung panas begitu juga hatinya. Ia menelepon orang rumah.
__ADS_1
"Hallo, bi. Apakah nyonya ada di rumah?"
"Nyonya sedang ke sekolah menemani nona kecil. Sebenarnya tadi Lita sudah bersiap namun nyonya memaksa ingin mengantar nona kecil sendiri."
"Brengsek!" Edmond langsung melempar ponselnya ke tempat duduk yang ada di sampingnya. Ia memasang sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya. Tangannya beberapa kali memukul stir mobilnya untuk menumpahkan rasa marahnya. Ia berusaha menenangkan hatinya. Ia tak mau kecelakaan lagi karena kurang hati-hati. Ia berusaha berpikir positif. Mungkin saja Mahira ikut dengan Teddy karena ada sesuatu yang akan mereka bicarakan. Tenang Edmond!
Mobil Edmond berhenti di depan sekolah Edewina. Ia tak melihat mobil hitam yang tadi dinaiki oleh Mahira dan Teddy.
Ponselnya berbunyi. Ada pesan video yang masuk. Edmond pun melihat video itu. Mobil yang tadi dinaiki Mahira akhirnya berhenti. Namun Mahira dan Teddy tak turun. Sampai akhirnya Edmond melihat bahwa mobil itu bergoyang. Jantung Edmond rasanya bagaikan diramas sehingga lepas dari tempatnya. Ia dan Monalisa pernah beberapa kali bercinta dalam mobil. Apakah Teddy dan Mahira melakukannya di mobil?
Dalam video itu, tak lama kemudian Teddy keluar. Ia nampak berkeringat dengan rambut yang berantakan dan kemeja yang nampak tak terpasang rapih.
"What the fu*ck!" Edmond bertambah Emosi. Ia mengenal lokasi tempat mobil itu berhenti. Ia pun segera menuju ke sana namun mobil itu sudah tak ada.
"Ah......!" Edmond berteriak sambil memukul-mukul stir mobilnya. Darahnya sungguh telah mendidih oleh rasa cemburu dan kemarahan yang besar.
Edmond berkeliling tempat itu dan akhirnya ia kembali ke sekolah. Anak-anak sudah pulang dan tak lama kemudian, Mahira keluar bersama Wina.
"Papi....!" Wina berteriak senang melihat Edmond sedang menunggu di sana dengan mobil yang biasa dipakai Mahira. Edmond berusaha tersenyum walaupun kepalanya sudah dipenuhi oleh berjuta pertanyaan untuk Mahira.
"Hallo sayang." Edmond turun dari mobil dan langsung memeluk Wina.
"Kamu cantik memakai jepit rambut ini. Baru ya?"
Edewina mengangguk. "Di berikan oleh papa Teddy."
Edmond menatap Mahira dengan tajam. Namun Mahira sendiri terlihat kaget juga.
"Papa Teddy?" tanya Edmond sambil melangkah menuju ke mobil mereka.
"Iya. Itu paman Teddy yang ketemu dengan kami di taman. Hari ini dia datang ke sekolah. Lalu menghadiahkan jepit rambut ini. Papa Teddy bilang mulai hari ini, jangan memanggilnya paman Teddy tapi harus papa Teddy."
Mahira tak menyangka kalau Teddy akan datang ke sekolah Wina.
************
Good morning
semangat weekend
semoga terhibur saat baca ini
__ADS_1
jangan lupa dukung emak terus ya?