
Edewina menatap Edmond yang duduk di teras rumah mereka. Tadi, Mahira menelepon bahwa ia akan pulang terlambat pulang karena akan mampir ke dokter kandungan, makanya Melly membawa Edewina pulang untuk mandi dan akan kembali ke rumahnya.
"Hallo Wina....!" Edmond melambaikan tangannya. Ada rasa bahagia di hatinya saat melihat Wina memeluk boneka yang kemarin ia berikan.
Edewina memegang tangan Melly dengan kuat.
"Jangan takut Wina. Om Edmond orang baik. Wina ingat kan? Boneka ini om Edmond yang berikan." Ujar Melly.
Wina menatap Edmond sekali lagi. Dia berusaha tersenyum walaupun terlihat masih agak ragu. "Hallo....!"
Hati Edmond tersentuh oleh sapaan Wina.
"Wina mau mandi dulu!" Ujar Wina lalu masuk ke dalam saat Melly sudah membuka pintunya.
"Pak Edmond, saya mau memandikan Wina dulu. Mari masuk!" ajak Melly dengan sopan. Edmond mengangguk senang.
Saat Edewina mandi, Edmond memilih untuk kembali ke mobil dan mengambil boneka barbie yang tadi dibelinya. Ia juga membawa kue keju kering kesukaan Wina yang biasa mereka beli saat masih di Samarinda.
Tak lama kemudian, Wina pun selesai mandi. Ia mengenakan piyama bercorak Miki mouse. Rambutnya yang indah dan tebal, dikepang dua.
"Wina duduk dengan om Edmond ya? Tante Melly mau buatkan kopi dulu." ujar Melly lalu segera ke dapur. Ia memang sengaja ingin memberikan ruang bagi papi dan anak itu untuk semakin dekat. Melly tahu dari Putri kalau Mahira trauma dengan kehidupan masa lalu Edmond. Namun Melly dapat merasakan ketulusan hati Edmond untuk Mahira dan Edewina.
Edewina awalnya terlihat ragu. Ia duduk agak jauh dari Edmond namun matanya menatap kantong plastik dengan merk toko mainan anak yang ada di atas meja. Ia terlihat begitu penasaran.
"Apakah boneka yang kemarin sudah Wina berikan nama?" tanya Edmond karena dia ingat, semua boneka Edewina di Samarinda, ada namanya.
Edewina menggeleng.
"Berikan nama ya? Supaya Wina bisa menyebut mereka dengan nama-nama yang Wina berikan. Nih, om belikan dua lagi untuk Wina."
Edewina menatap boneka itu. Ia mulai tersenyum.
Edmond dengan cepat mengeluarkan kedua boneka itu dari kardus pembungkusnya. "Ini, ambil!"
Masih dengan gaya ragu-ragu, Wina mendekat dan mengambil boneka itu.
__ADS_1
"Wah, cantiknya! Boneka Wina jadi bertambah. Ayo, bilang apa sama om Edmond?" ujar Melly yang datang sambil membawa kopi untuk Edmond.
"Terima kasih om Edmond." ujar Edewina lalu mendekap boneka itu ke dadanya.
"Sama-sama, sayang." Perasaan Edmond begitu terharu sampai matanya menjadi panas karena ingin menangis. Apalagi ketika ia bisa mengusap kepala Wina dengan lembut, ia merasakan hatinya bergetar.
Melly yang melihat itu pun merasa senang. "Pak Edmond, silahkan di minum kopinya. Saya mau menyiapkan makan malam."
'Oh, ya. Terima kasih." Edmond senang karena Melly sepertinya memahami pikirannya. Ia bisa memiliki waktu lebih banyak bersama Wina.
"Mahira belum pulang?" tanya Edmond membuat langkah Melly terhenti.
"Mahira akan pulang terlambat. Ia ada urusan sedikit." ujar Melly karena ia tak mau mengatakan tentang kehamilan Mahira. Itu adalah kewajiban Mahira untuk mengatakannya sendiri.
"Oh...begitu ya? Aku boleh bermain lebih lama dengan Wina kan?"
"Tentu saja. Aku tahu siapa pak Edmond." ujar Melly lalu kembali ke dapur.
Edewina sudah mendudukan keempat boneka barbie nya di atas sofa. Ia mulai berbicara dengan mereka. Terkadang ia menggantikan baju, sepatu atau tas mereka dan Edmond membantunya.
Edmond tersenyum. "Nggak apa-apa. Om Edmond hanya menemani Wina main saja. Kan nggak enak main sendiri."
Edewina diam sejenak. Lalu ia menatap Edmond. "Kalau begitu, ayo kita berikan nama untuk mereka."
"Wina saja yang sebutkan namanya, nanti om Edmond akan menilai apakah nama itu cocok untuknya atau tidak."
Wina mengangguk. "Yang rambut hitam ini namanya......., Nensi. Yang rambut merah ini namanya Rossi. Yang rambut kuning ini namanya, Chloe. Dan rambut coklat ini namanya....." Wina nampak kehabisan nama untuk disebut. Ia meletakan jari telunjuknya di ujung keningnya. Edmond tahu, itu memang kebiasaan Wina jika dia diajak berpikir.
"Alisia." ujar Edmond. Karena semua nama yang Wina sebutkan tadi adalah nama-nama bonekanya yang ada di Samarinda. Alisia juga adalah nama salah satu boneka Wina di sana. Edmond bahkan diharuskan oleh Wina untuk menghafal semua nama yang ia berikan pada boneka Barbie nya waktu itu.
"Ya. Alisia. Tapi kan Alisia adalah nama yang sudah Wina berikan untuk boneka Wina." ucap gadis kecil itu secara spontan membuat Edmond nampak bersemangat. Mungkinkah Edewina mengingat sesuatu?
"Iya. itu nama boneka Wina di Samarinda."
Edewina nampak mengerutkan dahinya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Wina lupa"
__ADS_1
"Suatu saat Wina pasti akan ingat." ujar Edmond sambil mengusap kepala Edewina dengan penuh kasih. Edewina terlihat kurang nyaman saat Edmond melakukan itu. Ia langsung menjauhkan kepalanya dan kembali asyik berbicara dengan keempat boneka barbienya.
Melly selesai menyiapkan makan malam saat Wina masih asyik bermain boneka. Edmond hanya bisa melihatnya tanpa banyak berinteraksi dengan Wina karena gadis kecil itu kelihatannya lebih suka bicara dengan para boneka.
"Wina sayang, ayo makan!" ajak Melly.
Wina menatap Edmond. "Om Edmond ayo makan!" Wina menarik tangan Edmond. Tentu saja Edmond merasa senang. Ia mengikuti langkah Wina ke ruang makan.
"Kata Oma, sebelum makan kita harus berdoa." ujar Wina.
"Oma siapa, sayang?" tanya Edmond.
"Oma siapa ya? Wina juga lupa. Sekarang Wina berdoa saja sendiri." Wina langsung melipat tangannya dan menundukkan kepalanya. "Tuhan yang baik, terima kasih untuk berkatMu. Sekarang kami mau makan dan minum, Tuhan kudus kan agar menjadi berkat bagi tubuh kami. Amin."
Edmond sangat yakin kalau ingatan Edewina akan kembali. Doa.yamg baru saja diucapkannya tadi adalah doa yang biasa ia ucapkan sebelum ia lupa ingatan. Mereka berdua pun makan tanpa banyak bicara.
"Om Edmond pulang dulu ya, sayang. Nanti kalau besok tak banyak kerja, om Edmond akan balik lagi." pamit Edmond.
Wina mengangguk. Ia mengantarkan Edmond sampai di depan pintu. Saat Edmond masuk ke dalam mobilnya, ia melihat sebuah angkot berhenti. Mahira nampak turun dari angkot itu. Mahira hanya menoleh sekilas ke arah mobil Edmond lalu segera melangkah masuk.
Wina Wina menyambut maminya dengan senang hati. Edmond tersenyum miris saat mengingat kalau Wina dulu juga menyambutnya seperti itu. Bahkan jika Edmond terlambat pulang, Wina akan menunggunya di teras depan.
Wina sayang, kapan ya semua itu akan kembali? Papi kangen.
Edmond akan menjalankan mobilnya namun satu gerakan Wina membuat ia kembali menengok ke arah istri dan anaknya itu. Wina mengusap perut Mahira dengan lembut dan menciumnya berulang kali. Edmond juga baru sadar kalau ia tak pernah melihat Mahira menggunakan rok atau celana ketat yang m membungkus tubuh ramping istrinya itu. Mahira selalu menggunakan gaun yang berbentuk A dan tak ketat.
Apakah Mahira hamil? Tapi bagaimana bisa? Bukankah sudah lama kami tak pernah berhubungan intim?
**************
Kecurigaan Edmond benarkah?
bagaimana saat tahu Mahira hamil?
dukung emak terus ya guys
__ADS_1