
Jun membuka pintu apartemennya. Ia tersenyum melihat siapa yang datang.
"Selamat malam, tuan Moreno."
"Boleh aku masuk?"
"Silahkan!"
Edmond melangkah masuk ke dalam apartemen mewah milik Jun. Ia memperhatikan isi apartemen itu lalu tanpa dipersilahkan oleh Jun, Edmond duduk di sofa putih.
"Kau ternyata sangat menyukai warna putih." ujar Edmond ketika Jun duduk di depannya.
"Ya. Putih melambangkan kesucian. Seperti rasa yang kumiliki untuk Mahira."
Edmond merasakan kalau hatinya sakit namun ia tak menunjukannya. Ia hanya tersenyum sambil menatap Jun dengan tatapan mengejek. "Jangan menyukai yang bukan milikmu. Itu akan menjadi malapetaka bagimu."
Jun membalas tatapan Edmond dengan tatapan mengejek pula. "Aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Termasuk menghalalkan segala cara?"
"Kenapa tidak?"
Edmond terkekeh. "Mahira adalah milikku. Hati, jiwa dan raganya semuanya milikku. Kau mengatakan bahwa kau sudah mengalahkan aku 3 lawan satu. Aku sempat bingung kenapa bisa 3? Ternyata kau menggunakan cara licik untuk membuat aku terlambat menjemput istriku. Sayangnya, anak buahmu terlalu takut untuk tak mengakui kalau dia memang suruhan mu. Karena kau sudah memulainya dengan cara yang licik, aku datang untuk memperingatkan mu. Jangan nanti kau menyesal. Karena aku bisa lebih licik darimu."
Jun tertawa mendengar perkataan Edmond. "Kau tidak tahu siapa aku, Edmond! Aku sanggup melakukan apa saja bahkan yang tak pernah terpikirkan olehmu."
"Coba saja kalau kau berani. Dan jangan menyesal karena aku sudah memperingati mu." kata Edmond. Ia kemudian berdiri dan menatap Jun sekali lagi. "Aku sangat posesif dengan apa yang kumiliki."
"Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Moreno."
Edmond melangkah. Namun sebelum tangannya memegang gagang pintu, Edmond menoleh sekali lagi. "Kau mungkin terbiasa mendapatkan apa yang kau inginkan sekalipun itu bukan milikmu. Namun kau tak akan pernah mendapatkan apa yang menjadi milik Edmond Moreno. Karena apa yang sudah menjadi milikku, tak akan pernah direbut oleh orang lain."
Saat tangan Edmond memegang gagang pintu, ia melihat ada kode khusus untuk membuka pintu itu. Ia mengambil pistolnya yang diselipkan di celana bagian belakangnya. Lalu dengan cepat ia menembak lubang kunci yang ada di pintu itu.
Jun bertepuk tangan saat melihat pintunya di rusak oleh Edmond.
Edmond berjalan menarik pintu itu dan segera pergi meninggalkan apartemen Jun tanpa menoleh.
Jun mengepalkan tangannya. Kau belum tahu siapa aku, Edmond Moreno.
***********
Mahira membaringkan kepalanya di atas dada Edmond. Mereka baru saja melewati pergulatan yang panas malam ini tanpa ada gangguan dari Edewina yang sudah tertidur nyenyak di kamarnya.
"Sayang, besok aku harus berangkat ke Samarinda. Ada rapat rutin pemegang saham. Lerry sedang berada di Jakarta untuk urusan pribadinya, jadi harus aku yang menangani." kata Edmond sambil membelai kepala Mahira dan sesekali ia memberikan kecupan di puncak kepala istrinya itu.
"Ok. Berapa lama ada di sana?"
"Mungkin 3 hari. Tapi bisa juga lebih. Tergantung jika Lerry sudah kembali. Kenapa?"
__ADS_1
"Nggak." Mahira menggeleng.
"Sudah m rasa merindukan aku ya?"
"Ih...., kamu ini...!"'Mahira mencubit perut Edmond membuat suaminya itu sedikit meringis.
"Sakit, sayang."
"Segitu aja, sakit." Mahira mencium perut Edmond yang dicubitnya.
"Ciumnya kebawa dikit lagi."
"Ih..... Edmond. Mesum ah...."
Edmond tertawa. Ia bahagia malam ini. Mahira begitu manis padanya. Bersikap pasrah namun tak pasif saat diajak bergumul bersama untuk meraih puncak kenikmatan. Tentu saja Edmond yang harus mengendalikan dirinya sehingga tak menyakiti bayi yang ada dalam kandungannya.
"Sayang, kenapa sih kamu nggak mau mengetahui jenis kelamin anak kita? Aku penasaran sekali." Tanya Edmond.
Mahira yang masih berbaring di dada Edmond, perlahan bangun lalu duduk sambil menarik selimut dan menutup tubuhnya yang polos.
"Waktu hamil Edewina, kamu pernah bilang ingin anak perempuan dan menamainya Edewina seperti nama kakakmu. Waktu itu, Tuhan mengambulkan doa kita. Sekarang, aku ingin ini menjadi surprise bagi kita nanti. Karena baik anak perempuan, maupun anak laki-laki, bagiku sama saja. Anak ini hadir dan menjadi pengikat hubungan kita sampai akhirnya kita tak bercerai. Kecuali kalau memang kamu menginginkan anak laki-laki karena kita sudah punya anak perempuan."
Edmond juga ikutan bangun. Ia duduk di samping istrinya lalu meraih tangan Mahira. "Jujur, sebenarnya aku memang ingin anak laki-laki. Tapi, kalaupun Tuhan memberikan kita anak perempuan, aku akan tetap meyayanginya seperti aku menyayangi Edewina. Karena bagiku, anak kita memang adalah anugerah yang menyatukan kembali cinta kita." Edmond mencium tangan Mahira, kanan dan kiri secara bergantian. Setelah itu memeluk istrinya dengan perasaan yang meluap dengan kebahagiaan.
"Aku senang jika kau berpikir seperti itu, Ed."
Mahira merasakan kalau pelukan Edmond sudah agak lain. "Sayang, aku kembali ke kamar Wina, ya? Nanti dia bangun dan mencari aku." ujar Mahira lalu melepaskan pelukannya.
"Ih...satu kali lagi..." Edmond merengek membuat Mahira menatapnya tak percaya.
"Masih mau lagi?"'
"Aku akan meninggalkan kamu dan Wina selama 3 hari. Mungkin juga lebih. Anggaplah ini bonus." ujar Edmond dengan wajah sok polosnya membuat Mahira jadi tertawa. Namun akhirnya ia mengangguk juga dan Edmond langsung bersorak gembira lalu mendorong istrinya untuk kembali tidur.
**********
Hari ini Edewina ikut dengan Mahira ke tempat kerja. Sekolahnya sedang libur selama 2 hari karena para guru sedang mengikuti kegiatan.
Untungnya Edewina bukanlah anak yang rewel. Ia sama sekali tak menganggu Mahira saat bekerja. Ia bahkan menjadi perhatian para karyawan yang lain dan mengajaknya main bersama.
Edmond sudah 3 hari berada di Samarinda. Semalam ia menelpon dan mengatakan belum bisa pulang karena ada pekerjaan penting yang harus ia lakukan.
"Hallo Wina....!" Sapa Jun saat melihat Edewina yang sedang bermain di lobby.
"Hallo om Jun."
"Nggak ke sekolah?"
"Nggak. Sedang libur 2 hari. Jadi ikut mami ke kantor. Om Edmond juga nggak ada."
__ADS_1
Jun jadi tertarik. "Om Edmond ke mana?"
"Ke Samarinda. Katanya ada pekerjaan. Wina jadi kangen sama om Edmond."
Jun tersenyum senang. "Mau makan es cream?" tanya Jun.
"Tapi Wina belum makan siang. Nanti mami marah. Wina harus makan siang dulu baru bisa minum es."
Jun mengangguk. "Mau makan Macdonald?"'
"Asal ada kentang gorengnya."
"Sebentar ya, om pesankan."
Sementara itu, Mahira yang masih tenggelam dengan pekerjaannya, akhirnya merasakan kalau perutnya sudah keroncongan. Ia menutup laptopnya dan bermaksud akan mengajak Mahira makan di sebuah rumah makan kecil yang letaknya tak jauh dari tempat kerja mereka.
Ia keluar ruangan dan mendengar suara tawa Edewina dari lobby kantor. Dan ia menukan Wina sedang menikmati es cream bersama Jun. Wina tertawa melihat wajah Jun yang belepotan terkena es cream yang disuapinya.
"Mami, ayo makan! Makan siang mami sudah dipesan oleh om Jun." Edewina melihat kedatangan Mahira dan segera dipanggilnya.
Mahira mendekat. "Wina sudah makan?"
"Sudah. Disuapi om Jun. Jadi Wina sudah boleh minum es."
Mahira menatap Jun. "Terima kasih ya?"
"Aku pesan ikan bakar kesukaanmu. Ayo di makan. Pasti dede bayinya sudah lapar di perut."
Mahira sebenarnya tak terlalu suka dengan perhatian Jun. Ia tahu kalau Edmond akan cemburu saat tahu ia makan siang yang disiapkan oleh Jun. Namun menolak juga rasanya tak enak. Karena Jun sudah bersikap baik padanya selama ini. Tak lagi mengungkapkan dengan isi hatinya saat tahu kalau ia dan Edmond sudah baikan.
Mahira pun akhirnya makan sambil memperhatikan Edewina yang masih asyik bercengkrama dengan Jun.
Saat Mahira sudah selesai makan, ia mengucapkan terima kasih dan membawa Edewina ke ruangannya untuk istirahat. Akhirnya Edewina tidur si sofa sambil memeluk boneka barbie pemberian Edmond padanya.
Di ruangannya Jun mengirim pesan pada seseorang.
Edmond tak ada. Ini saat yang tepat. Segera siapkan semuanya seperti yang sudah kuatur. Jangan sampai gagal.
*********
*Mafia VS Mafia
Siapakah yang akan menang?
Selamat siang guys
semoga suka dengan bab ini
dukung emak terus ya*
__ADS_1