RAHASIA CINTA EDMOND

RAHASIA CINTA EDMOND
Menyakiti


__ADS_3

POV Edmond


Aku menatap Monalisa yang keluar dari kamar mandi. Di tangannya ada alat tes kehamilan.


"Bagaimana hasilnya?" tanyaku penasaran.


"Negatif, Ed." jawab Monalisa dengan wajah sedih. Aku langsung memeluknya. Aku tak mau sampai Monalisa menjadi tegang, panik dan serangan terhadap dirinya akan datang.


"Ed, aku ingin sekali memenuhi keinginan mommy untuk memiliki anak. Namun mau bagaimana lagi? Kita sudah berkali-kali mencobanya namun aku tak juga hamil."


Aku melepaskan pelukanku. Lalu membelai wajah Monalisa dengan lembut. "Kita akan berusaha lagi. Kamu jangan sedih ya?"


"Aku mencintaimu, Ed."


Aku tersenyum lalu memberikan satu kecupan di dahi Monalisa. "Cepatlah ganti pakaian. Nanti kamu terlambat ke acara."


Monalisa mengangguk lalu segera membuka lemari pakaian dan mempersiapkan dirinya untuk mengikuti rapat.


Saat ini, kami memang berada di Jakarta. Mommy sakit dan dia begitu ingin melihat aku menikah dengan Monalisa serta memiliki anak. Sayangnya, aku tak bisa menikah dengan Monalisa secara resmi karena dia sendiri yang tak menginginkan. Monalisa trauma dengan perceraian orang tuanya juga perceraiannya dulu dan menyebabkan ia harus mengalami keguguran. Monalisa dulu menikah diusia 18 tahun. Namun pernikahan itu hanya berjalan selama 2 tahun karena suami Monalisa sangat kasar dan seorang pemabuk yang selalu memukulnya.


Setelah Ica pergi, aku pun bergegas ke sebuah klinik kesehatan. Aku ingin memeriksakan diriku karena curiga mengapa Ica tak bisa hamil pada hal sebelumnya ia sempat hamil dengan suaminya.


Setelah melalui serangkaian tes, aku pun me dapatkan hasil yang sangat mengejutkanku. Aku termasuk pria yang kurang subur. kualitas benih milikku dianggap kurang mampu membuahi indung telur sehingga kemungkinan untuk mendapatkan keturunan sangatlah kecil.


Kenyataan ini sungguh membuat aku terpuruk. Selama beberapa hari aku bahkan tak semangat bekerja. Dokter memang menyarankan aku untuk melakukan pengobatan dan serangkaian tes berikutnya. Namun aku menolaknya. Aku jadi ingat dengan adik papaku yang tak memiliki anak juga. Mungkinkah ini gen dari keluarga Moreno?


Ku simpan dalam hati semua hasil ini. Bahkan kepada Ica, aku tak sanggup mengatakannya. Aku sangat menyayangi mama dan kenyataan ini membuat aku terluka karena tak bisa mewujudkan keinginannya untuk memiliki cucu disaat ia sedang mengalami sakit parah dan mungkin saja akan segera meninggal.


***********


"Tuan, tindakan aborsi terhadap nyonya sudah selesai. Saya mau pulang dulu ke rumah. Tika menelpon dan mengatakan kalau nona Edewina menangis terus." Kata Juminten.


Edmond menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Wina pasti sudah mengantuk.


"Bibi di sini saja menjaga Mahira. Biar saya yang pulang." Edmond segera melangkah tanpa menunggu perkataan Juminten. Hatinya terlanjur luka. Sakit, merasa dikhianati. Anak siapa yang dikandung oleh Mahira? Pasti anak Teddy. Dan itu yang membuat Edmond ingin menumpahkan kemarahannya pada Mahira. Tapi ia harus bersabar. Mahira masih lemah. Itulah sebabnya Edmond memilih pulang dari pada harus melihat wajah Mahira dan membuat ia ingin menumpahkan seluruh rasa marahnya.


Setelah Edmond pergi, Juminten pun menuju ke kamar tempat Mahira di rawat. Saat ia masuk, Mahira nampak sedang berbaring sambil menangis.


"Nyonya......!" Juminten langsung mendekat dan memegang tangan Mahira.


"Bi, aku sungguh tak tahu kalau aku sedang hamil. Kalau aku tahu, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Wina begitu ingin memiliki adik."


"Sabar Nyonya. Nanti pasti akan diberikan lagi oleh Tuhan. Nyonya masih muda. Begitu juga dengan tuan Edmond. Kalian bisa memberikan adik untuk non Wina, 2 atau 3 orang anak."


"Di mana Edmond?"


"Tuan baru saja pulang. Non Wina menangis terus."


"Aku juga ingin pulang, bi."


"Sabar Nyonya. Kata dokter nanti besok baru bisa pulang."


Mahira sedih karena mengalami keguguran. Ia juga sedih karena Edmond tak melihatnya. Namun semua hanya dipendamnya dalam hati. Mahira semakin yakin kalau Edmond memang tak mencintainya.


***********


Jam 10 pagi dokter sudah mengijinkan Mahira pulang. Dan lagi-lagi Mahira harus memendam kekecewaan karena Edmond sama sekali tak datang menjemputnya.


Begitu mereka tiba di rumah, Wina langsung memeluk maminya dengan penuh kerinduan. Selama ini mereka memang tak pernah berpisah.

__ADS_1


"Mana papi, sayang?" tanya Mahira. Ia tahu kalau Edmond tak bekerja hari ini karena ini hari minggu.


"Papi keluar sebentar. Katanya mau ketemu om Lerry."


Mahira hanya mengangguk dengan perasaan sedih. Apakah benar Edmond menemui Teddy? Ataukah ia justru bersama Monalisa?


"Apakah Edmond sudah lama perginya?"


Lita mengangguk. "Selesai sarapan, tuan sudah pergi, nyonya. Sudah hampir 2 jam"


Mahira segera ke kamar dan mencari ponselnya. Ia menemukan benda itu ada di atas nakas. Ia pun menghubungi Lerry.


"Hallo Lerry."


"Hallo juga, Ra. Tumben kamu menghubungi aku lebih dulu."


"Ada di mana?"


"Ada di kota. Aku akan bersiap untuk makan siang. Ada apa?"


"Ada pertemuan khusus?"


"Nggak. Aku memang memiliki apartemen di sini."


"Bersama Sofia?"


"Nggak. Hubungan kami sudah berakhir. Aku sendiri saja. Lagi jomblo." Lerry tertawa.


"Mau makan siang di rumah kami?"


"Wah, siapa yang bisa menolak undangan ini? Baiklah, 1 jam lagi aku ke sana ya?"


Mahira meletakan hp nya di atas nakas kembali. Edmond memang tak bertemu dengan Lerry. Edmond pasti bersama Monalisa.


Dia lebih memilih untuk pergi menemui perempuan itu dari pada menemaniku yang baru saja keguguran. Apakah dia berpikir bahwa aku dengan sengaja menyembunyikan kehamilan ini? Ah, Ed. Kamu sangat menyakiti hatiku. Aku ingin pergi jauh darimu. Namun bagaimana dengan Wina?


Mahira mengusap wajahnya. Ia pun ke luar kamar untuk meminta bi Juminten agar menyiapkan makan siang.


**********.


Lerry datang sambil membawa buah-buahan. Ia terkejut saat tahu kalau Edmond tak ada. Ia juga sangat terkejut saat tahu kalau Mahira baru saja keguguran.


Ketika mereka selesai makan siang, Mahira mengajak Lerry untuk berbicara di teras samping.


"Lerry, aku mohon padamu untuk bicara jujur padaku. Apakah Edmond dan Ica masih sering bertemu?" tanya Mahira.


"Aku nggak tahu, Ra. Kami memang berteman baik sejak dari Amerika. Aku juga sedikit terkejut karena Ed sudah jadian dengan Ica. Hubungan mereka dekat, mereka bahkan sudah tinggal bersama sejak dari Amerika. Mereka memiliki foto pernikahan namun aku tahu kalau itu hanyalah sebuah foto karena Ica adalah orang yang tak mau menikah. Karena sebelumnya Ica sudah pernah menikah. Namun suami Ica yang kudengar adalah seorang mafia yang usianya hampir sama dengan papanya Ica. Ica sering dipukul dan Edmond menyelamatkan dia. Soal mereka masih ketemu atau tidak, aku juga tak tahu. Karena selama ini aku tak pernah melihatnya."


"Kamu tak bohong kan?"


Lerry menatap Mahira dengan tatapan penuh rasa iba. "Mahira, aku tak mungkin akan membohongi kamu. Aku juga akan marah jika Edmond menyakitimu."


"Terima kasih, Lerry. Aku mohon jangan katakan pada Edmond tentang apa yang kita bicarakan ini."


"Baik, Ra. Ini hanya akan jadi percakapan diantara kita."


Lerry pun pamit pulang.


Tak lama kemudian Edmond pulang. Ia nampak sedikit mabuk saat pulang. Mahira meminta agar Juminten dan Tika membawa Wina untuk bermain di taman kompleks perumahan agar ia bisa berbicara secara baik dengan Edmond dan Wina tak akan mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Kamu mabuk, Ed?" tanya Mahira saat memasuki kamar. Edmond baru keluar dari kamar mandi dan ia nampaknya baru selesai mandi karena rambutnya basah.


"Apa peduli mu kalau aku mabuk?" tanya Edmond lalu membuang handuk yang ada di tangannya ke sembarangan tempat. Mahira mengambil handuk itu dan membawanya ke keranjang baju kotor.


"Ed, aku tak pernah tahu kalau aku hamil. Kalau aku tahu, tentu aku akan menjaganya." kata Mahira sambil duduk di samping Edmond.


"Bagus kan kalau anak itu tak jadi berkembang di perutmu."


"Ed....!"


Edmond mendekati Mahira dan menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi. Mahira sambil menggeser tempat duduknya namun Edmond semakin mendekat lalu ia mencengkram dagu Mahira. "Kau selingkuh, Mahira! Namun jangan berpikir kalau aku akan melepaskan mu. Aku akan menahan mu di sisiku sampai salah satu diantara kita ada yang mati. Karena aku tak akan pernah membiarkan Teddy kembali bersamamu!"


"Maksud kamu apa, Ed? Siapa yang berselingkuh?" Mahira menarik tangan Edmond yang masih memegang dagunya dengan kuat.


"Lalu bagaimana kamu bisa hamil?" tanya Edmond tajam dan menusuk.


"Karena aku selama 3 bulan terakhir ini tak lagi mengkonsumsi pil anti hamilku. Wina selalu bilang ingin punya adik."


"Boolshit!" Edmond berdiri lalu menghadap Mahira sambil berkacak pinggang. "Bagaimana mungkin kau bisa hamil?"


"Tentu saja aku bisa hamil. Kau hampir setiap malam menyentuhku. Kau tidak pernah memakai pengamanan."


"Itu bukan anakku!" teriak Edmond.


Mahira terkejut. Ia berdiri sambil menatap Edmond dengan tatapan kecewa. "Jadi kamu pikir aku tidur dengan lelaki lain? Sejak kapan aku keluar rumah tanpa memberitahu mu? Siapa lelaki yang dekat denganku sekarang ini? Kamu pikir aku perempuan murahan?" Mahira tak takut pada Edmond. Ia dengan berani menatap suaminya itu.


"Ya. Kamu murahan Mahira!"


Satu tamparan melayang ke pipi Edmond. "Kamu sungguh keterlaluan, Ed! Bagaimana mungkin kamu menuduh aku melakukan hal itu? Aku tidak berselingkuh. Aku hamil anakmu!"


Edmond membuka lemari pakaian, lalu ia membuka brangkas yang ada di dalamnya. Ia mengambil sebuah map file lalu melemparkannya ke arah Mahira. "Baca isinya."


Mahira membuka map file itu dan membacanya. "Maksudnya apa ini?"


"Aku memiliki kelemahan sebagai seorang laki-laki. Benihku tak cukup kuat untuk membuahi indung telur perempuan. Jadi aku tak bisa membuatmu hamil."


"Ed......!" Mahira bingung harus bilang apa. "Aku tak pernah mengkhianati mu. Jangan balikan fakta bahwa kau yang sebenarnya berselingkuh dengan Monalisa."


"Lalu bagaimana kamu bisa hamil Mahira? Jangan bilang kalau itu adalah benihku."


"Tapi itu memang milikmu, Ed. Aku tak pernah bersama dengan Teddy atau pria manapun."


"Cukup Mahira! Aku tak ingin bersikap kasar padamu!" Ujar Edmond terlihat menahan amarahnya.


"Aku tak akan diam, Ed. Aku tak akan pernah diam saat kau menuduh aku melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tidak seperti kamu yang terus mengkhianati aku di belakangku. Kemana kamu hari ini?"


"Bersama Lerry!"


"Teruslah berbohong, Ed! Mungkin itu sudah sifat mu. Aku hanya minta, lepaskan aku dan biarkan aku pergi dengan anakku. Karena aku tak akan pernah kembali padamu!" Mahira segera meninggalkan kamar. Ia ingin menyusul Wina yang sedang bermain bersama Juminten dan Lita di taman.


Namun, saat Mahira tiba di sana, jantungnya langsung berdetak sangat cepat saat melihat Wina sedang bermain bersama Teddy.


***********


Selamat siang.....


semoga suka dengan part ini


jangan lupa dukung emak ya?

__ADS_1


__ADS_2