
Berusaha untuk sabar dan tak terpancing emosi, itulah yang Edmond lakukan sekarang. Sikap Mahira yang sangat dingin padanya sangat menyakiti hatinya. Namun Edmond juga sadar kalau ia punya kesalahan karena telah menuduh Mahira melakukan sesuatu dengan Teddy di dalam mobil serta memaksakan hubungan intim yang tentu saja bukan hanya menyakiti raga Mahira melainkan juga hatinya.
Seorang perawat datang membawakan bubur untuk Mahira dan meminta perempuan itu untuk menghabiskannya.
Mahira menolak ketika akan disuapi oleh Edmond. Ia memilih untuk makan sendiri. Mahira memang ingin cepat sehat.
Sementara Mahira makan, hp Edmond berbunyi.
"Hallo mommy. Maaf aku lupa menelepon. Mahira sekarang ada di sebuah klinik. Lambungnya sedikit bermasalah, mom. Tapi dia sudah membaik. Mommy jangan khawatir ya? Besok kami akan segera pulang. Wina juga ada di sini. Dia nggak mau pulang. Ok, mom. Nanti aku sampaikan salamnya untuk Mahira. Mommy tidur saja ya? Jangan banyak berpikir. Ok. Bye...."
Hati Mahira menjadi sedih mengingat mommy Rahel. Bagaimana reaksi wanita itu jika tahu kalau pernikahannya dengan Edmond sedang tidak baik-baik saja? Mahira sudah menyayangi mommy Rahel sebesar rasa sayangnya untuk Oma Yohana. Mahira tak ingin menyakitinya. Namun bagaimana dengan Edmond? Rasanya Mahira ingin menjauh sementara waktu. Atau mungkin pergi selamanya dari hidup Edmond. Entahlah, Mahira merasa sangat bingung..
"Kamu sudah selesai makan?" tanya Edmond lembut. Mahira tak menjawab. Ia langsung meletakan piring berisi bubur yang hampir habis isinya di atas nakas. Ia kemudian membaringkan tubuhnya dan membelakangi Edmond sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai ke batas leher.
"Maafkan aku yang telah menyakitimu tadi sore. Aku benar-benar telah dibutakan oleh rasa cemburu yang sangat dalam. Aku menyesal telah mengikuti emosiku dan menuduh mu berselingkuh dengan Teddy. Aku juga tak tahu mengapa rasa cemburu ini bisa begitu kuat menguasai diriku. Semua ini karena aku terlalu mencintaimu, Ra." Edmond berdiri di pinggir tempat tidur. Memandang punggung Mahira. Berharap agar istrinya itu akan berbalik dan memeluknya. Edmond rindu Mahira yang lembut, yang selalu menatapnya dengan tatapan mata yang teduh dan membuat Edmond bahagia.
"Aku mohon padamu, Ra. Jangan meminta aku untuk menjauh darimu dan juga Wina. Hidupku akan hancur tanpa ada kalian. Bantu aku untuk keluar dari masa laluku yang kelam. Aku ingin hidup baru bersama kalian berdua. Aku sungguh-sungguh, Ra."
Mahira memejamkan matanya mendengar pengakuan Edmond itu. Hatinya yang lembut rasanya ingin menyerah dan memeluk Edmond. Namun Mahira menguatkan hatinya. Rasanya ia menjadi takut untuk bersama Edmond lagi walaupun ia mencintai lelaki itu.
Malam berlalu tanpa ada tanggapan apapun dari Mahira. Edmond hanya tidur sebentar karena ia sesekali harus memeriksa Mahira dan juga menjaga Edewina yang tertidur di sofa.
Ketika pagi datang menyapa, Edewina bangun dan langsung bermanja-manja di pelukan Edmond.
"Papi, kalau mami sudah sembuh, kita pergi ke Madrid lagi ya? Oma kan akan pulang beberapa hari lagi." ujar Edewina yang baru saja menghabiskan susunya. Bibi Juminten datang ke rumah sakit pagi ini membawakan sarapan untuk Wina dan baju ganti.
"Tentu saja, sayang. Kita tunggu mami sehat ya?" ujar Edmond sambil membelai rambut Wina yang duduk di pangkuannya.
"Asyik. Wina suka kalau kita pergi sama-sama. Nggak kayak kemarin hanya ada mommy dan Wina. Oh ya, teman sekelas Wina menangis kemarin. Katanya papi dan maminya berpisah. Ia tinggal bersama papinya dan tak diijinkan ketemu maminya. Wina juga ikut sedih melihatnya. Wina nggak mau papi sama mami berpisah."
Mahira yang baru keluar dari kamar mandi, langsung merasakan jantungnya bagaikan ditusuk benda tajam saat mendengar perkataan anaknya itu.
"Nggak sayang. Papi sama mami nggak akan berpisah. Papi janji."
Edmond mengangkat jari kelingkingnya dan Wina langsung menautkan jari kelingking di jari Edmond itu. Mahira menjadi semakin galau. Haruskah ia menyakiti Edewina jika nanti ia tak tahan lagi berada di sisi Edmond? Akankah Edewina mengerti ketika ia dewasa dan Mahira menceritakan alasan dirinya meninggalkan Edmond?
"Mommy, sudah sehat?" tanya Edewina.
__ADS_1
"Sudah sayang."
"Ayo kita pulang! Kasihan Oma sendiri di rumah."
"Tunggu dokter periksa mami duku ya, nak? Setelah itu kita akan pulang." Ujar Mahira. Selang infus di tangannya memang sudah dibuka.
Tak lama kemudian, dokter masuk dan membawa hasil pemeriksaan darah. Mahira sudah diijinkan pulang sambil dokter berpesan agar Mahira jangan terlalu stres dan harus banyak istirahat.
Mereka pun kembali ke rumah. Rahel menyambut mereka dengan senang hati. Ia langsung meminta Mahira untuk istirahat di kamar sedangkan Edmond segera mandi untuk ke perusahaan. Ia meminta Ifan menjemputnya karena memang badannya tak terlalu fit untuk membawa mobil sendiri.
"Sayang, aku ke perusahaan dulu ya? Ada rapat bulanan hari ini. Aku mungkin pulangnya agak malam" Kata Edmond ketika ia sudah selesai ganti pakaian dan Mahira sedang berbaring di atas ranjang.
Mahira memandang Edmond sekilas, lalu memalingkan wajahnya. Ia tak merespon apa yang dikatakan Edmond padanya.
"Aku janji padamu kalau aku akan terus menjauhi Monalisa. Dia mungkin akan hadir dalam rapat hari in. Aku mohon, jika kamu ingin keluar rumah, tunggulah aku. Jangan keluar sendiri. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu dengan Wina." Edmond pun segera berangkat ke tempat kerja. Ia meminta Ifan untuk segera mencari orang kepercayaan yang akan mengawasi istri dan anaknya. Namun tanpa sepengetahuan Monalisa lagi.
************
Lerry dan Edmond terkejut saat Monalisa memperkenalkan mitra kerja mereka di perusahaan batu bara.
"Teddy sialan!" umpat Edmond saat melihat Teddy yang tersenyum manis diikuti tepuk tangan penyambutan dari petinggi perusahaan yang lain.
"Bukankah aku punya hak penuh untuk mengajak seseorang bergabung dengan kita?" tanya Monalisa sambil membereskan lap top dan file yang dibawahnya.
"Tapi ini Teddy!"
Monalisa menatap Edmond. "Kenapa memangnya Teddy? Kau takut kalau lelaki dari masa lalu Mahira merebutnya kembali? Sekarang aku tahu, alasanmu untuk menikahi Mahira bukan karena kau telah memperkosanya melainkan karena kau memang menginginkannya sejak lama. Dan demi mendapatkan Mahira, kau akhirnya menyingkirkan aku. Tak semudah itu, Ed."
"Berhenti mengancam aku, Ica!"
Monalisa melangkah meninggalkan Edmond namun baru beberapa langkah ia berbalik. "Jangan menjauh dariku! Aku masih berpikir waras sekarang ini! Jangan sampai otakku tak waras lagi. Kau tahu apa akibatnya. Aku bukannya mengancam mu. Aku hanya ingin mendapatkan kembali apa yang menjadi milikku." Lalu ia membuka pintu ruangan rapat dan menutupnya kembali dengan keras.
Edmond menampar meja yang ada di hadapannya. Lerry yang baru keluar dari toilet menatap sahabatnya. "Ed, cari jalan untuk bisa lepas dari Ica. Mahira adalah sumber kebahagiaanmu. Jangan sampai Ica berhasil memisahkan kalian."
Edmond mengangguk. "Apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan istri dan anakku. Ica bahkan sudah mengajak Teddy untuk bekerja sama dengannya."
"Teddy itu mantan pacar Mahira kan?":
__ADS_1
"Iya. Dan dia punya niat untuk merebut Mahira kembali."
"Wajarlah. Mahira cantik dan baik hati. Siapapun ingin memiliki istri seperti itu." Kata Lerry sambil menyembunyikan isi hatinya. Lerry pernah begitu bersimpati pada Mahira sampai tak sadar bahwa ada benih cinta yang mulai tumbuh di sana. Itulah sebabnya Lerry berusaha membunuh semua perasaan nya yang tak wajar itu agar ia tak merusak persahabatannya dengan Edmond.
**************
Mommy Rahel harus kembali ke Madrid untuk melanjutkan pengobatan nya. Ia terlihat sedih harus berpisah dengan Edewina.
"Ed, mengapa kamu tak mengurus perusahaan Daddy saja? Jika kalian sudah tinggal kembali di Manado, maka mommy akan pulang dari Madrid. Mommy akan menghabiskan masa tua mommy dengan mengurus Wina dan anak-anak kalian lainnya." Kata Rahel saat Edmond mengantarnya ke bandara.
"Aku memang rindu ingin pindah ke sana. Mommy tenang saja, ya, jika aku sudah mendapatkan orang kepercayaan ku, maka aku bisa tenang meninggalkan Lerry sendiri. Minyak produksi perusahaan kami adalah yang paling laris di negara ini bahkan di beberapa negara tetangga. Tambang batu baranya juga sedang menghasilkan produksi terbaiknya."
Rahel memeluk putranya saat terdengar panggilan untuk memasuki pesawat.
"Mommy tahu kalau kau dan Mahira sedang ada masalah. Mommy harap agar semuanya boleh selesai dengan baik."
"Iya, mom. Aku sangat menyayangi istri dan anakku."
Mommy Rahel lun akhirnya pergi. Edmond merasa sedih karena harus berpisah dengan mommy nya. Ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan menelepon Lerry kalau ia tak akan kembali ke perusahaan.
Saat ia memarkir mobilnya di halaman parkir, di lihatnya Mahira sedang menelepon seseorang. Edmond mendekat. Ia rindu sekali memeluk Mahira namun semenjak peristiwa sore itu, ketika ia memaksa Mahira untuk berhubungan intim dengannya, Mahira nampak menjauhi dirinya. Istrinya itu kadang tidur di sofa.
Sudah berulang kali Edmond meminta maaf namun Mahira tetap saja dingin. Bahkan jika mereka hanya berdua di kamar, Mahira tak pernah membalas apapun yang ditanyakan Edmond padanya.
"Ok, Putri. Sampai jumpa lagi, ya? Aku usahakan minggu depan akan pulang ke sana. Bye...." Mahira mengahiri percakapannya. Ia memasukan kembali ponsel nya ke saku celana kain yang di pakainya. Saat ia berbalik, ia nampak terkejut Edmond sudah berada di belakangnya. Mahira bermaksud akan pergi namun Edmond menghadang langkahnya.
"Ra, tak dapatkah kamu berbicara denganku? Aku rindu dengan kebersamaan kita. Sampai kapan kau harus menghukum aku?"'
Mahira tak bicara. Ia hanya menatap Edmond dengan dingin lalu hendak berputar arah untuk menjauh dari Edmond, namun langkahnya terhenti melihat Lita yang mengantarkan Wina ke sekolah menjadi panik.
"Nyonya, Non Wina tak ada di sekolahnya. Tadi saya ke toilet saat jam istirahat. Namun saat saya kembali, Wina sudah tak ada. Kata teman-temannya, Wina pergi dengan seorang perempuan setengah bule." lapor Lita
"Monalisa!" Edmond langsung bisa menebak sedangkan Mahira langsung pingsan mendengar kabar itu.
***********
Hallo semua
__ADS_1
jangan lupa dukung emak terus ya.....