
Rara langsung berbicara pada sang ayah tentang rencana yang akan ia lakukan pada perusahaan yang mulai goyah, namun ia akan melakukannya setelah ia benar-benar sembuh.
" Aku punya rencana agar kita semua aman, Aku akan mulai bekerja di perusahaan untuk mendapatkan kepercayaan dari semua investor dan membantah gosip tersebut.. bagaimana?? " tanya Rara dengan tersenyum senang karena rencananya akan berjalan lancar
" Aku tidak setuju sayang, Aku takut kamu kecapean dan jatuh sakit lagi, biarkan aku saja yang membanting tulang untuk menghidupi mu " ucap Vino yang terdengar manis namun sebenarnya ia tidak mau jika sang istri bekerja di perusahaan.
" Aku harus mendukung apapun keputusan putriku,, karena sebentar lagi perusahaan akan aku serahkan padanya " batin Pa Mail
" Ayah rasa ide mu bagus nak,, kamu harus segera sembuh dan pulih agar perusahaan kita bangkit kembali " ucap sang ayah sambil tersenyum
" Mas... sepertinya Riri tidak cocok masuk kedalam perusahaan,, mungkin dia tidak akan bisa mengelola perusahaan dengan baik " ucap Bu Reni yang tidak rela jika perusahaan di pegang oleh Riri
" Sial ini nenek lampir malah berbicara begitu,, aku tahu alasannya berkata seperti itu pada ayah, agar aku tidak bisa menguasai perusahaan, lihat saja aku akan membuat kamu menyesal berkata begitu padaku " batin Rara dengan wajah tidak senang pada ibu tirinya
" Ibu tenang saja, aku melakukan ini juga gara-gara anak kesayangannya ibu " ucap Rara sinis pada Bu Reni yang menatap Rara dengan tatapan kesal.
" Apa salahnya Riri bekerja di perusahaan, toh dulu juga Riri bekerja disana, lagian ini semua gara-gara anak kesayangan mu itu.. lihat saja aku akan mencarinya sampai ke lubang semut sekalipun " ucap Pa mail mulai terpancing lagi emosinya
Vino dan Bu Reni terdiam ketika melihat Pa mail mulai marah kembali, mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk kali ini.
__ADS_1
" Kamu jangan khawatir, ayah akan mendukung mu.. " ucap Pa Mail pada Rara
" Ayah, Aku mau jadi direktur disana ayah apa boleh, sedangkan Vino dia akan menjadi wakil ku saja, aku masih kecewa padanya " ucap Rara dengan wajah sedihnya, berpura-pura tidak berdaya di depan sang ayah.
" Sial, kenapa aku bukan lagi direktur,, benar-benar kacau ini.. tapi aku tidak boleh melawan, untuk sementara aku iyakan saja perkataannya Riri agar aku aman, kalau masalah nanti bisa aku bujuk Riri kembali " batin Vino tersenyum lebar
" Baiklah jika itu mau mu, ayah akan segera kabulkan keinginan mu dan mulai hari ini aku akan memecat Riska agar kamu bisa tenang dan tidak di ganggu oleh dia lagi " ucap Pa Mail menatap sinis pada Bu Reni
" Tapi mas.. " ucap Bu Reni berusaha membela Riska
" Keputusan ku sudah matang dan tidak ada satu orang pun yang membantah " ucap Pa Mail
" Tidak mungkin sayang, aku kan sudah bilang jika aku akan berubah, aku sangat mencintaimu sayang " ucap Vino
" Baiklah nak,, kamu memang sangat pintar,, ayah pasti akan mendukung semua yang kamu lakukan " ucap Pa Mail sambil tersenyum, ia sekarang lebih lega mendengar ucapan Riri putrinya.
" Ini sudah siang sebaiknya kamu pergi ke kantor " ucap Rara melihat wajah Vino
" Baiklah " ucap Vino sambil tersenyum
__ADS_1
" Sebelum kamu pergi ke kantor, kamu Antarkan dulu Ibu mertuamu ke mansion " ucap Pa Mail
" Baik ayah " ucap Vino
Rara melihat wajah Vino, ia pun menyuruh Vino untuk pergi ke kantor karena ia ingin bersama dengan sang ayah sementara Bu Reni pulang bersama dengan Vino yang mengantarkannya ke rumahnya sebelum pergi ke kantor.
Disana hanya ada mereka berdua, Rara memang sengaja ingin menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama mereka tidak bertemu dengan ayah.
Sang dokter dan beberapa suster masuk kedalam kamar Riri untuk mengecek kondisi keadaan Riri dengan teliti.
" Bagaimana Dok keadaan Putri saya " tanya Pa mail dengan wajah khawatir yang sangat terlihat
" Kondisi Keadaan Nona Riri baik-baik saja, tidak ada luka yang serius perban dai kaki dan tangannya juga bisa di buka sekarang,, kemungkinan besok juga bisa pulang " ucap sang dokter sambil tersenyum melihat wajah Rara
Rara dan Pa mail tersenyum mendengar kabar bagus itu terutama Pa Mail, ia sedikit lebih tenang dari pertama dia melihat putrinya.
Namun sang dokter pun menyarankan jika pergelangan tangan dan kaki Riri harus terus digerakkan agar tidak kaku. lalu dokter dan suster pun keluar dari kamar Riri setelah melakukan pemeriksaan.
Sang ayah memeluk kembali putrinya itu, ia berharap tidak ada lagi yang berani menyakiti Riri baik itu vino sebagai suaminya ataupun orang lain.
__ADS_1
Rara sangat senang karena ia bisa memeluk ayahnya kapanpun, ia berharap jika masalahnya kakaknya selesai ia akan mencari ayah tirinya lalu membuat perhitungan dengan apa yang sudah ia dapatkan selama ini.