
Mereka sudah sampai di toko perhiasan, Vino langsung memperlihatkan Satu set perhiasan yang ia bawa.
" Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu " ucapnya pelayan toko perhiasan itu
" Ini Mba, saya mau menjual perhiasan ini " ucap Vino memberikan kotak perhiasan itu
" Sebentar ya Tuan, saya cek dulu " ucapnya
" Silahkan Mba " ucap Vino
Mereka pun menunggu sang pelayan yang sedang mengecek perhiasan itu. Riska berharap jika Perhiasan yang Vino bawa semuanya di jual agar dia punya banyak uang.
" Setalah aku banyak uang, aku akan meninggalkan Riska dan mencari Riri.. aku ga mau jatuh miskin lagi " batin Vino
" Setelah Vino banyak uang, aku akan mencuri uangnya, akan ku pakai untuk membeli tas yang kemarin aku inginkan " batin Riska
Pelayan itu langsung menghampiri mereka bertiga sambil membawa perhiasan milik Vino.
" Bagaimana Mba, pasti laku tinggi kan.. ini berlian asli " ucap Vino
" Ia Mba.. tolong kasih harga tinggi " ucap Riska
" Maaf Nona dan Tuan, ini hanya aksesoris tidak ada kadar emas apalagi berlian di dalamnya " ucapnya
" Apa.. " ucap mereka benar-benar kaget
" Mana mungkin bisa, Mbaknya pasti salah nih " ucap Bu Reni dengan wajah marah pada pelayan itu
" Saya sudah tiga kali mengeceknya Nyoya.. " ucap sang pelayan
" Sayang, bagaimana ini " ucap Riska
" Masa ini palsu " ucap Vino bingung
" Vino, kamu tunjukan perhiasan yang lainnya.. kamu kan bawa banyak perhiasan " ucap Bu Reni
" Baik Bu " ucap Vino
" Mba, tolong yang ini di cek " ucap Vino
" Saya Cek duli Tuan permisi " ucapnya pergi menuju ruang pengecekan
Untuk kali ini Vino yakin jika kali ini adalah berlian asli.. bagaimana tidak semua perhiasan ini milik Riri yang di curi oleh Bu Popi.
" Bagaimana kalau perhiasannya palsu semua.. aku ga mau jatuh miskin " batin Riska
" Sial, kenapa perhiasannya palsu.. akh aku tidak bisa makan mahal dong " batin Bu Reni
__ADS_1
" Vino Sebenarnya perhiasan itu milik siapa.. kenapa palsu " ucap Bu Reni
" Punya ibuku " ucap Vino singkat dengan wajah sinis
" Bu sudahlah, siapa tahu yang sekarang perhiasan asli " ucap Riska terlihat menenangkan sang ibu
Bu Reni kembali diam ketika sang putri memenangkannya. Sang pelayan itu kembali menghampiri mereka dan memberikan kembali perhiasan Punya Vino.
" Bagaimana... " tanya Vino dengan perasaan harap-harap cemas
" Maaf Tuan yang ini juga bisa di pastikan sama seperti yang pertama.. saya sudah cek beberapa kali " ucap pelayan itu dengan wajah serius
" Kenapa malah palsu juga sih " ucap Bu Reni dengan wajah emosi
" Bu tenangkan dirimu " ucap Riska
" Coba yang ini ya mba.. saya mohon " ucap Vino
" Baik Tuan, tapi jika perhiasan ini hasilnya sama.. mohon tuan segera meninggalkan tempat ini " ucapnya
" Baik Mba " ucap Vino mengganggukan kepalanya
Pelayan itu pergi kembali ke tempat pengecekan kembali. Baginya ini yang terakhir ia meladeni keinginan Vino.
Sementara di sisi lain Bu Reni tidak bisa menahan emosinya, ia bagaikan di berikan harapan namun sekian detik kemudian ia di hancurkan oleh Harapan itu.
" Jangan pernah menjelekan ibu ku " ucap Vino
" Ibu.. sudahlah... " ucap Riska tidak mau ribut
" Lah kenapa sayang, memang kenyataannya benar.. laki-laki yang sekarang menjadi suamimu itu tidak punya apa-apa.. dia sekarang jatuh miskin " ucap Bu Reni
" Ibu... jangan menambah masalah.. kita harusnya berpikir bagaimana caranya kita dapat uang " ucap Riska
" Benar yang di katakan Riska " ucapnya Vino tersenyum meledek Bu Reni
" Diam kamu " ucap Bu Reni kesal
Pelayan itu kembali menghampiri mereka dengan wajah yang datar memberikan perhiasan itu pada Vino.
" Maaf Tuan dan Nona silahkan kalian pergi dari toko ini " ucapnya
" Apa.. " ucap Bu Reni kaget
" Kenapa kita harus pergi " ucap Riska
" Apa karena perhiasan itu palsu juga " ucap Vino dengan wajah kagetnya
__ADS_1
" Sesuai dengan dugaan anda Tuan, perhiasan yang ketiga juga sama seperti perhiasan anda sebelumnya.. kami mohon Maf untuk meminta anda pergi dari sini karena anda hanya membuang-buang waktu kami saja " ucapnya
" Sial, perhiasan itu benar-benar palsu " batin Bu Reni
" Kenapa bisa sih, perhiasan itu palsu.. padahal itu kan perhiasan punya Riri " batin Vino heran
" Aduh bagaimana ini, aku lapar dan juga tubuhku sangat lelah " batin Riska
Mereka bertiga tampak keluar dari toko perhiasan itu ,berharap jika Sang pelayan yang tadi mengecek perhiasan itu salah. Mereka memutuskan untuk mencari toko perhiasan yang lainnya.
Mereka berjalan menuju toko perhiasan yang tak jauh dari sana, mereka berharap jika perhiasan itu bisa di jual dan uangnya bisa di pakai untuk menyambung hidup mereka.
Mereka bangkrut tanpa persiapan, bahkan Riska sendiri tidak bisa menggunakan kartu ATM dan kartu kreditnya karena kebetulan semua fasilitas Pa Mail ambil, itu sebagai hukum untuk Riska karena mengambil keputusan menikah dengan kakak iparnya sendiri.
Sedangkan hal yang sama pun Bu Reni alami, Pa mail dengan tega memblokir semua ATM dan kartu kreditnya. mereka tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.
Ada rasa sesal dihari keduanya namun harus bagaimana lagi, mereka tidak tahu keberadaan Riri, Pa mail pun hanya terbaring di rumah sakit.
Begitu pun dengan hati Vino, ia merasa jika kebodohan Riska yang terus menekannya untuk menikah menjadi awal ini bisa terjadi.
Penyesalan Kini menghantui Vino, Andai dulu ia bisa menahan Riri lebih lama lagi ini semua tidak akan pernah terjadi, apalagi hidupnya berbaring terbalik dengan dulu saat ia masih bersama dengan Riri.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mampir yuk,, di karya baru aku ya teman-teman yang berjudul : " Bilang pada Tuhanmu " karya ini menceritakan tentang Kisah Asmara antara Nicholas dengan Rania yang berbeda agama,, akan kah mereka bisa bersatu atau mereka harus berpisah karena beda keyakinan.
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz
,, Minal aidzin Walfaidin mohon maaf lahir batin ya teman-teman, selamat hari raya idul Fitri,,
__ADS_1