
Vino Terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan hasratnya naik kembali, apalagi ia melihat wanita di sampingnya adalah Riska, Wanita yang selalu menemaninya setiap malam ketika ia beralasan lembut pada sang istri.
Ia tidak apapun tentang kemarin malam, ia mulai melakukan hal yang sama seperti semalam.
Tenaganya sungguh kuat, bahkan Riska saja hanya bisa pasrah saat ini karena kemarin malam ia sudah menghabiskan banyak tenaganya.
" Sayang aku sudah leleh " ucap Riska sambil tersenyum menikmati permainan yang Vino berikan
" Sebentar lagi sayang.. " ucap Vino dengan senyuman menggoda pada Riska
Tanpa mereka sadari disana sudah di pasang alat perekam oleh Bimo yang sebelumnya di suruh Rara.
Tak lama kemudian Rara menghubungi Bimo untuk mengatakan jika dirinya akan segera menemui Vino dan Riska, Bimo hanya mengatakan jika keduanya pasti sudah bangun.
Rara tersenyum senang lalu ia segera melanjutkan rencangnya untuk menggerebek kegiatan panas Vino dan Riska di hadapan sang ayah.
Riska Langsung pergi ke ruang tamu, ia melihat jika sang ayah belum bangun, ia pun langsung menuju kamar sang ayah dengan air mata yang berlinang dan raut wajah sudah menangis.
Tok... Tok... Tok...
" Ayah.. hiks.. hiks.. " ucap Rara sambil menangis
Pa Mail dan Bu Reni Langsung terbangun dari tidurnya lalu membuka pintunya agar mereka bisa lihat ada apa sebenarnya pagi-pagi sekali sudah ribut.
Ceklek,,
" Riri " ucap Bu Rena kaget melihat sosok Riri menangis
" Riri " ucap Pa Mail kaget karena melihat putrinya sedang menangis lalu memeluknya
Pa Mail benar-benar kaget ketika melihat sosok sang putri menangis pagi-pagi sekali, ia juga melihat wajah Riri berlinang air mata membuatnya tak tega
" Ada apa nak, katakan " ucap Pa Mail mencoba menenangkan Rara
" Vino semalaman tidak pulang ayah, aku khawatir dia sama Riska lagi " ucap Rara sambil menangis kembali membuat sang ayah merasa sangat kasihan
" Sungguh malang nak nasibmu " batin Pa Mail sedih
__ADS_1
" Apa serius Riska dengan Vino masih bersama katanya mau jaga jarak, bisa gawat jika mereka ketahuan lagi " batin Bu Reni
" Kamu tenang ya nak, kamu jangan berpikiran negatif seperti itu, kamu harus berpikir positif pada suamimu " ucap Pa Mail
" Ia benar yang di katakan ayahmu RI, ibu yakin jika Riska tidak bersama dengan Vino, ibu kemarin lihat Riska pulang malam hari " ucap Bu Reni berbohong
" Sialan, nenek lampir ini beraninya membela Riska, kita lihat kamu masih bisa bohong di depan ayah atau tidak " ucap Rara dalam hatinya
" Kalau begitu aku mau lihat ke kamar Riska " ucap Rara melepaskan pelukan sang ayah lalu menghapus air matanya
" Bisa gawat jika Riska tidak ada di kamarnya " batin Bu Reni
" Ayah mau temani aku kan " tanya Riri sambil tersenyum licik.
" Baiklah nak, ayo " ucapnya Pa mail menemani Rara pergi ke kamar Riska
Sementara Bu Reni membuntuti mereka dengan perasaan resah dan gelisah takut putri kesayangannya tidak ada disana dan akan ketahuan oleh Pa Mail.
Mereka sudah sampai di kamar Riska, Rara tampak mengetuk pintu kamar Riska beberapa kali namun tidak ada jawaban, hingga akhirnya Rara membuka pintu tersebut lalu ketika mereka masuk kedalam tidak ada tanda-tanda Riska disana, bahkan Ranjang tempat tidur Riska masih Rapi seperti tidak ada yang menempati.
" Dimana Riska Bu " tanya Rara merasa menang karena pa mail langsung memberikan tatapan tajam pada Bu Reni.
" Bu mau sampai kapan ibu membela Riska, jelas-jelas Riska tidak pulang, tadi aku sudah bertanya pada pelayan disini, aku juga pulang kesini tengah malam ingin melihat pukul berapa Riska pulang namun dia tidak pulang " ucap Rara sambil menangis di hadapan sang ayah
Plak,,
Pa Mail Langsung menampar Bu Reni dengan keras, ia merasa kesal kepada istrinya itu karena selalu membela putrinya yang salah itu.
" Jangan pernah membela lagi anakmu.. sudah cukup aku sabar padanya " ucap Pa mail dengan nada kesal
" Mas,, maafkan aku bukan maksudku membohongi mu,, maafkan aku mas " ucap Bu Reni sambil menangis
" Kena kau, untuk sekarang ayah tidak akan membelamu lagi, bahkan kepercayaan ayah pada Riska akan hilang karena hal ini " ucap Rara dalam hatinya
" Ayah, ini bukan waktu yang pas untuk berdebat dengan ibu Reni, aku dapat kabar jika Riska dan Vino ada disebuah hotel " ucap Rara dengan wajah sedih yang ia tunjukan pada sang ayah
" Apa.. " ucap Pa Mail
__ADS_1
" Itu tidak mungkin " ucap Bu Reni pura-pura kaget
" Kenapa tidak mungkin Bu, mereka beberapa hari juga sudah berselingkuh di belakang ku,, " ucap Rara meneteskan air matanya
" Sudah nak, jangan menangis " ucap Pa mail menenangkan putrinya
" Diam kamu, jangan banyak bicara lagi,, jika terbukti putrimu berselingkuh dengan Vino, maka tidak ada ampun lagi untukmu dan dia " ucapnya Pa mail dengan nada bicara marah pada Bu Reni
" Ayah aku pergi dulu ke hotel untuk melihat keberadaan mereka " ucap Rara dengan wajah pura-pura panik
"Kalau begitu ayah ikut, ayah juga tidak mau terjadi sesuatu padamu " ucap Pa mail dengan nada khawatir pada sang putrinya
" Baiklah ayah " ucap Rara Langsung pergi dengan pa Mail ke hotel untuk memastikan keberadaan Vino dan Riska disana.
" Apa,, bagaimana ini aku harus memberitahukan Riska agar dia sembunyi dan segera pulang ke rumah " batin Bu Reni
Kini Pa mail dan Rara sudah sampai di hotel dimana Vino dan Riska disana. Mereka segera masuk kedalam menuju Resepsionis dan menanyakan kamar yang Vino pesan.
Resepsionis itu mengatakan jika Vino berada di kamar 200 di lantai empat, sesuai dengan rencana Rara sebelumnya dengan Bimo dan Tian.
Pa Mail dan Rara segera menaiki lift tersebut menuju kamar yang Vino pesan. Dengan perasaan Marah yang terlihat dari wajah Pa mail. Sementara Rara berwajah sedih yang ia tunjukan di hadapan sang ayah.
" Lihat saja Vino, jika sampai kamu memang benar bersama dengan Riska aku Takan mengampuni mu lagi, akan ku hajar kau " batin Pa mail
" Maafkan aku Riska karena hari ini adalah hari kesialan bagimu... " batin Rara senang
Pintu Lift terbuka lalu Rara dan Pa mail segera keluar dari sana dan mencari-cari nomber pintu kamar Vino yang tadi di beritahukan oleh resepsionis.
Mereka sudah sampai di kamar nomor 200, Riri tampak menangis kembali sementara sang ayah sangat penasaran dan kini menenangkan dahulu putrinya.
" Sayang kamu tenang ya, ada ayah disini " ucap apa mail memeluk putrinya sebentar lalu kini Rara m ngetik pintu kamar Vino, tapi seseorang pelayan memberikan kunci kamar tersebut pada Rara.
Pa mail menyuruh pelayan memberikan kunci kamar 200 dengan imbalan uang pada mereka, pelayan pun tergiur lalu memberikan kunci tersebut.
" Ini nona,, silahkan.. " ucapnya pelayan itu
" Baiklah, terimakasih sebelumnya " ucapnya Rara
__ADS_1
Rara segera membuka kamar tersebut, ia dan sang ayah segera masuk kedalam kamar itu, ia mendengar ada suara aneh yang sebelumnya ia pernah dengar di ruangan Vino beberapa waktu lalu.