
Riska yang sudah dapat lampu hijau dari sang ibu dan kekasihnya itu langsung membereskan semua barang-barang dan membeli tiket pesawat sekarang untuk segera pulang ke rumah.
Ia merasa senang karena pada akhirnya ia bisa pulang ke rumahnya dan sang ayah tidak akan memarahinya karena sang kakak terlalu bodoh dan bisa kelabui.
Ia pun mulai berdandan cantik dan mencari keberadaan Handphonenya, ia memberitahukan sang Kekasih jika hari ini ia sudah membeli tiket pesawat dan akan segera pulang kedua orangtuanya.
" Aku pulang sekarang "
" Ok "
Vino hanya membalas singkat padanya, membuat ia kesal setengah mati karena tidak biasanya Vino secuek itu padanya.
Riska segara meninggalkan rumah kontrakan itu, dengan wajah senangnya ia membawa kopernya kedalam sebuah taksi yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia menggunakan pesawat ekspres agar cepat sampai ke Mansion.
Riska sudah tiba di bandara ketika sore hari, sebelum ia pergi ke Mansion. ia terlebih dahulu membelikan kue kesukaan sang ayah, itu sogokan agar sang ayah tidak memarahinya dan ia bisa mengarang alasan yang bisa di percaya oleh ayah tirinya tersebut.
" Untung aku sudah membelikan kue untuk ayah,, setidaknya ayah tidak akan marah sekali padaku " batin Riska
Kini ia sudah sampai di rumah, ia langsung masuk kedalam, tampak suasana sepi namun tiba-tiba ia dikaget ketika sang ayah sedang duduk di ruang tamu sambil meminum kopi, seperti ia tahu jika Riska akan pulang hari ini.
" Ayah " ucap Riska kaget
" Riska " ucap sang ibu langsung menghampiri sang putrinya dan memeluknya
" Ibu " ucap Riska langsung memeluk erat sang ibu untuk menghilangkan kegugupannya
" Semoga ayah sudah memaafkan aku " batin Riska
__ADS_1
" Aku harap Mas Mail tidak marah lagi kepada Riska " batin Bu Reni dengan penuh harap
" Duduk " ucap Sang ayah dengan nada tegas membuat keduanya ketakutan.
" Ayah aku bawakan kue kesukaan ayah, pasti enak " ucap Riska
Mereka melepaskan pelukannya, Riska langsung duduk berhadapan dengan sang ayah dan menyimpan kue tersebut tepat di depan mereka, sementara sang ibu duduk di samping sang ayah. ia akan merayu suaminya itu agar tidak marah pada Riska.
" Ayah,, Riska itu tidak bersalah,, ibu percaya padanya " ucap sang ibu sambil mendekati tempat duduk sang suami.
" Diam " Bentak Pa Mail yang sudah tidak percaya pada ucapan sang istri.
" Mati aku,, sekarang ibu juga tidak membelaku,, bagaimana ini ?? apa yang harus aku katakan coba?? " batin Riska sambil mencengkram lututnya
" Ayah,, aku.. " ucap Riska terpotong karena sang ayah langsung menamparnya dengan keras, Sang ibu pun langsung menghampiri Riska dan memeluknya
" Nak,, " ucap Sang ibu
" Ayah,, percaya padaku.. aku mohon,, " ucap Riska langsung berlutut pada sang ayah
" Mas,, aku yakin Riska tidak seperti itu " ucap sang istri
" Tidak bersalah,, kenapa Kamu yakin sekali jika anakmu tidak bersalah,, apa kamu tidak melihat semua berita di televisi,, apa kamu tidak mikir apa,, semua investor kini ingin menarik sahamnya,, kita akan bangkrut kalau begini caranya,, ini semua gara-gara anak mu ini " ucap Pa Mail membentak Riska.
" Apa " ucap mereka
" Tidak aku tidak mau jatuh miskin " batin Bu Reni
__ADS_1
" Aku tidak boleh bangkrut,, bagaimana ini " batin Riska
Riska dan Bu Reni sangat ketakutan, tidak pernah ia lihat Pa mail semarah ini, sebelumnya Pa Mail pasti akan mendengarkan ucapan Bu Reni ataupun Riska tapi kali ini mereka bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan pada Pa mail.
" Ayah,, itu bukan aku " ucap Riska menyakinkan sang ayah
" Tutup mulutmu,, aku sudah tidak mau lagi mendengar semua penjelasan mu, anak tidak tahu diri.. " ucap Sang ayah membuat Riska menangis
" Ayah,, hiks... hiks hiks.. " Riska menangis di depan sang ayah agar sang ayah simpati padanya
" Mas " ucap Bu Reni
Hal yang selama tadi ia takutkan adalah ini,, ia tidak mungkin jika harus keluar dari perusahaan, otak semua kejahatan Vino adalah dirinya, jika mereka jauh apa yang akan terjadi bisa-bisa rencana mereka gagal.
" Ayah,, jangan usir aku dari perusahaan,, aku janji akan mengikuti semua keinginan mu asalkan Tidak keluar dari perusahaan,, aku rela jika aku harus pindah ke departemen lain asalkan aku masih disana aku tidak keberatan " ucap Riska sambil berlutut pada sang ayah membujuknya agar tidak di keluarkan dari perusahaan
" Mas... aku mohon jangan keluarkan Riska dari perusahaan, Kita bisa bicara ini baik-baik, kasian Riska " ucap sang istri berlutut pada sang suami sama seperti yang di lakukan Riska.
" Baik, aku akan memberimu satu kesempatan, Kamu urus anak mu yang memalukan itu, aku tidak mau hal ini terjadi lagi, jika Kamu kembali lagi mengkhianati kakakmu lagi aku akan membuatmu menderita dan mencoret dari daftar kartu keluarga, " ucap Pa Mail dengan wajah marahnya
" Sial, Riska anak bodoh bisa-bisanya dia ketahuan, lihat semuanya jadi berantakan karena dia " batin Bu Reni kesal
" Baik ayah, aku janji tidak akan mengkhianati Kakak, aku akan patuh padamu " ucap Riska sambil menangis memohon pengampunan
" Mulai besok kamu tinggal kembali disini, kamu tidak di ijinkan kemana-mana kecuali bekerja, selain bekerja kamu harus minta ijin padaku dulu " Pa mail langsung pergi dari sana.
" Sial,, Sial,, kenapa harus sih ayah marah sampai segitunya padaku hanya hal kecil seperti ini,, tapi aku tidak boleh menyerah lihat saja Riri aku akan menghancurkan hidupmu " batin Riska dengan wajah kesalnya
__ADS_1
Bu Reni tampak membantu Riska berdiri, mereka pergi kekamar Riska sambil membawa koper. Untuk sekarang Bu Reni tidak bisa membantu hukuman yang sang suami berikan tapi kedepannya ia pasti akan melindungi putri kesayangannya itu.
" Awas saja kalau dia berani macam-macam pada Riri,, aku tidak akan diam, aku akan terus mengawasinya " batin Pa Mail