
Keesokan harinya,,
Rara sengaja bangun pagi-pagi, ia juga hari ini harus ke kantor karena pekerjaannya yang ia tinggalkan sudah menumpuk. Ketika ia membuka mata ia heran karena tidak mendapati Vino tidak tidur di sampingnya.
Ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, semalam Bu Reni, Pa mail dan Riska Memang menginap di ruang tamu yang ada disana.
" Nona sudah bangun pagi-pagi sekali " ucap Meti menyapa majikannya
" Ia, Meti.. Aku lelah sekali kemarin jadi aku tidur lebih awal " ucap Rara sambil tersenyum
" Nona, maf saya mau melaporkan pada Nona kalau Tuan Vino semalam saya lihat menuju Kamar Bu Popi " ucap Meti
" Tidak apa-apa Meti, Dia memang belum terima akan kepergian Bu Popi " ucap Rara
" Memang tidak ada pernah ada orang siap kehilangan seseorang yang paling kita sayang " ucap Meti
" Kamu harus maafkan kesalahan Bu Popi selama ini padamu ya " ucap Rara
" Nona tenang saja, aku sudah memaafkan semua kesalahan Bu Popi " ucap Meti
" Syukurlah kalau begitu " ucap Rara tersenyum
" Oh ia Nona, biar saya saya yang masak nasi gorengnya, Lebih baik Nona bersiap-siap saja, lagian nona pasti masih lelah " ucap Meti
" Kamu benar, hari ini aku sepertinya akan sibuk di kantor.. beberapa hari ini pekerjaan ku banyak yang tertunda " ucap Rara hendak meninggalkan Meti di dapur.
" Nona.. saya mau lapor kalau tuan Vino... " ucap Meti terhenti
" Nanti saja bicaranya.. biarkan Vino menyendiri " ucap Rara langsung meninggalkan Meti
Rara langsung menuju kamarnya, ia langsung mandi dan berdandan rapi untuk pergi ke kantor. Ia harus kembali bersemangat apalagi sekarang ia sudah punya tanggung jawab untuk mengurusi urusan kantor.
Setelah rapi ia langsung mengambil tas kerja dan segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama, disana sudah lengkap tinggal menunggu kehadiran Rara disana.
" Pagi semuanya " ucap Rara menyapa mereka
" Pagi juga " ucap mereka
" Kenapa aku merasa Vino lebih bersemangat dari hari kemarin.. tapi aku tidak boleh berpikiran buruk pada Vino " ucap Rara dalam hatinya
" Sebentar lagi akan ada kejutan untukmu kakak ku tersayang " batin Riska
Mereka duduk di sana, Tampak masih seperti biasanya Vino memakan makanan yang Rara sudah berikan. Namun suasana disana tampak tegang.
" Ada apa ini ko aku merasa suasananya canggung dan tegang " batin Rara
" Uwek... uwek.. " ucap Riska pura-pura mual
__ADS_1
" Kenapa Kamu " tanya Vino dengan nada khawatir
" Drama apa lagi yang akan mereka buat " batin Rara
" Kamu lihat kan Ka Riri, jika Vino masih perhatian sama aku.. itu tandanya dia masih sayang sama aku " ucap Riska dalam hatinya
" Kamu kenapa nak... " ucap Bu Reni tampak khawatir
" Aku hanya merasa mual saja " ucap Riska
" Kamu harus sering periksa ke dokter di temani Vino " ucap Bu Reni sambil tersenyum
" Kenapa harus aku " ucap Vino kaget
" Karena kamu ayah dari anak dalam kandungan Riska " ucap Bu Reni
" Kata siapa Bu.. kita tidak pernah tahu jika anak itu anak vino atau bukan " ucap Rara
" Ka Riri jahat, Kaka tahu kan kalau selama ini aku berpacarannya sama vino bukan sama yang lain " ucap Riska pura-pura sedih
" Riri cukup " bentak Vino tampak membela Riska
" Kamu ini aneh mas, istrinya belain kamu.. kamu malah membela selingkuh mu itu "
" Bukan begitu sayang " ucap Vino dengan nada gugupnya, ia takut jika Riri akan marah dan meninggalkannya
" Sayang.. kamu jangan marah.. aku hanya ga suka kita bertengkar di meja makan " ucap Vino membujuk Rara
" Oh ia Vino, kemarin Ibu Popi menitipkan surat ini padaku.. aku belum berani baca " ucap Riska
" Kamu bohong kan " ucap Vino
" Astaga Kamu ga percaya sama aku.. aku punya Vidio ketika aku bicara dengan Bu Popi.. aku takut kamu ga percaya sama aku jadi aku rekam " ucapnya Riska sambil tersenyum
Mereka tampak percaya tak percaya dengan Ucapannya Riska apalagi Vino dan Rara. Namun mereka juga penasaran dengan surat dan Vidio itu.
" Sudah kamu putar dulu saja Vidionya " ucap Rara
" Kamu yakin sayang " ucap Vino meminta persetujuan sang istri
" Ia.. " ucap Rara
Riska langsung memberikan handphonenya pada Vino, disana ada rekaman pembicaraan antara Riska dan Bu Popi.
Semua tampak mendengarkan apa yang keduanya bicarakan, dan memang Bu Popi memberikan sebuah surat pada Vino.
" Aku ga bohong kan " ucap Riska
__ADS_1
" Kapan kamu bicara dengan Bu Popi, kenapa aku tidak tahu " tanya Rara
" Ia waktu itu.. yang jelas aku tidak bohong kenapa pada kalian " ucap Riska
" Kenapa aku merasa ada yang janggal dengan sikap dan ucapan Riska " batin Rara
" Kalian pasti akan percaya padaku " batin Riska
" Mana suratnya " ucap Vino
Riska langsung memberikan surat yang memang di tulis Bu Popi sendiri sebelum meninggal.
" Nich Sayang " ucap Riska dengan senyum penuh kemenangan
Vino langsung membuka isi surat itu, ia membaca surat yang tulisannya hanya " Jangan pernah tinggalkan Vino "
" Kenapa ibu malah memberikan surat ini pada Riska, apa benar ini untuk Riska.. apa ini rencana Riska " batin Vino
" Apa Isinya " ucapnya Bu Reni Yang sama penasarannya dengan Rara
Mereka melihat isi dari surat itu, Riska tersenyum dengan lebar merasa dirinya sudah menang hari ini. kesempatan ini juga tak di sia-siakan oleh Bu Reni untuk membuat Riska semakin bahagia.
" Wah ternyata ibu Popi sadar jika Riska wanita yang baik untuk Vino.. lihat lah wasiat ini Vino.. itu tandanya Ibumu merestui hubungan mu dengan Riska " ucap Bu Reni sambil tersenyum senang
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mampir yuk,, di karya baru aku ya teman-teman yang berjudul : " Bilang pada Tuhanmu " karya ini menceritakan tentang Kisah Asmara antara Nicholas dengan Rania yang berbeda agama,, akan kah mereka bisa bersatu atau mereka harus berpisah karena beda keyakinan.
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz
,, Minal aidzin Walfaidin mohon maaf lahir batin ya teman-teman, selamat hari raya idul Fitri,,
__ADS_1