
Tian segera meninggalkan ruangan Rara dengan Bimo, Tian pergi menuju kantornya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan kembali.
Sementara diruangan Rara hanya ada Rio disana. Rara bingung ia harus mulai dari mana untuk memimpin perusahaan ini.
" Rio, kuharap kamu bisa di percaya seperti yang di katakan Tian barusan " ucap Rara mantap wajah Rio
" Nona tenang saja, saya orangnya bisa di percaya " ucap Rio dengan wajah dinginnya
" Menurutmu kita harus bagaimana agar semua karyawan mendukung kita, aku ingin segera mengusir Vino di kantor ini " tanya Rara bingung
" Kalau begitu saya akan mengamati bagaimana karyawan disini, setelah saya dapatkan informasi tentang mereka saya akan segera melaporkannya pada Nyoya " ucap Rio
" Ok bagus,, kalau begitu apa jadwal sekarang sibuk " tanya Rara pada Rio
" Hari ini nona tidak ada Meting " ucap Rio melihat jadwal yang diberikan asisten Vino sebelumnya
Vino sengaja membawa Lulu menjadi Asistennya karena ia ingin jika istrinya itu bingung lalu mengundurkan diri dan dia akan naik kembali ke posisinya menjadi direktur.
Tapi tanpa di duga Lulu melaporkan jika Nona Riri sudah punya asisten yang baru, ia juga melaporkan jika asisten yang barunya itu sudah memiliki jadwal pekerjaan yang akan di lakukan Direktur batu itu.
Vino merasa marah karena Riri sebelumnya tidak bicara jika ia punya seseorang yang ia percayai untuk menjadi Asistennya. bahkan tidak di diskusikan pada Vino.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk " ucap Rara sambil tersenyum karena ia sudah yakin jika yang mengetuk pintu ruangannya adalah Vino
" Sayang, kenapa kamu tidak... " ucap Vino terpotong saat asisten istrinya yang bernama Rio ada didalam terlihat sedang duduk berhadapan dengan istrinya itu
" Ada apa, apa ada hal yang penting " tanya Rara melihat wajah Vino terdiam
" Aku mau bicara penting dengan mu " ucap Vino masih melihat wajah Rio
Rio yang merasa jika Vino tidak menyukainya pun langsung pamit undur diri dari sana, ia tahu jika Vino akan berbicara tentang dirinya.
" Kalau begitu saya pamit Nona " ucap Rio segera pergi saat Rara menganggukkan kepalanya tanda setuju jika Rio pergi dari sana.
Vino duduk di hadapan istrinya itu dengan wajah yang kesal dan marah.
" Jawab pertanyaan ku dengan jujur siapa laki-laki itu " tanya Vino membuat Rara bingung
" Sejak kapan Vino bersikap seperti orang yang cemburu.. lihat lah ka Riri,, apa pernah Vino bersikap seperti ini sebelumnya " batin Rara tersenyum licik
" Dia asisten baruku " ucap Rara dengan wajah cueknya
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak mendiskusikan hal ini denganku, apa dia bisa di percaya jadi asisten mu " tanya Vino
" Kenapa tidak, nilai akademiknya bagus dia juga orangnya baik .. " ucap Rara menanggapi ucapan Vino dengan tenang
" Tapi dia seorang laki-laki " tanya Vino dengan menahan amarahnya
" Kalau dia seorang laki-laki kenapa, kita profesional dalam bekerja " ucap Rara
" Kenapa mengambil orang lain, di perusahaan ini masih banyak karyawan yang bisa menjadi asisten mu " ucap Vino
" Ok mereka memang bisa menjadi asisten ku, tapi apa mereka memiliki kemampuan menjadi seorang asisten.. " ucap Rara membuat Vino terdiam
" Jagan karena dia tampan lalu kamu menerimanya " ucap Vino
" Ada apa denganmu,, kamu seperti orang yang sedang cemburu " sindir Rara
" Apa-apaan ini, kenapa Riri menganggap ku cemburu,, tapi memang sih semenjak Riri menjadi cantik aku seperti tidak rela jika dia dekat-dekat dengan lelaki lain.. apa memang aku cemburu,, tapi bagaimana bisa aku kan tidak mencintai Riri dari dulu juga " batin Vino
" Tenang ia, mulai sekarang aku akan membuat Vino bertekuk lutut padamu, agar dia tahu bagaimana mencintai dengan sepenuh hati tapi orang yang ia cintai malah mempermainkannya " batin Rara senang
" Ya wajar kalau aku cemburu padamu, aku suamimu apa salahnya " ucap Vino dengan nada marahnya
" Enak juga ya kalau pembicaraan ini bisa di dengar oleh Riska, aku mau tahu bagaimana sikapnya nanti " batin Rara dengan rencana liciknya.
Tut... Tut... Tut...
" Halo " ucap Riska dengan nada malasnya karena gara-gara kemarin saja ayahnya sampai menyiksanya dan mengurungnya di kamarnya.
Rara mulai memainkan aktingnya untuk menghancurkan hubungan Riska dan Vino.
" Kamu yakin cemburu padaku,, bukannya kata Riska kamu tidak pernah mencintai ku " ucap Rara sambil tersenyum
" Itu Ka Riri sedang bicara dengan siapa.. tunggu cemburu.. siapa yang cemburu " batin Riska mendengarkan ucapan Sang kakak di telepon.
" Kamu percaya saja ucapan dengan ucapan Riska, dia hanya omong kosong.. Dari dulu aku hanya mencintai mu sayang " ucap menggenggam tangan Rara
" Apa maksud dari ucapan Vino, kenapa vino tega berkata seperti itu " ucap Riska dengan wajah marah di kamarnya
" Kalau kamu benar-benar mencintai ku lalu kenapa kamu berselingkuh terus dengan Riska " tanya Rara membuat Vino terdiam, ia merasa memang sikapnya keterlaluan pada Riri.
" Riri tolong maafkan aku,, aku janji tidak akan mengkhianati kamu lagi.. aku akan melepaskan Riska mulai sekarang karena aku sudah sadar jika Riska wanita jahat aku sudah salah menyia-nyiakan kamu sayang " ucap Vino dengan wajah memelas pada Rara
" Jangan kamu pikir dengan sikap dan ucapanmu yang seperti ini aku akan luluh begitu saja padamu... jangan mimpi " batin Rara. tersenyum licik
__ADS_1
" Apa kamu bilang Vino, enak saja kamu mau lepas dariku dan memilih Ka Riri setelah apa yang sudah aku lakukan padamu,, tidak itu tidak bisa terjadi.. " ucapnya Riska dengan nada marah
Riska langsung menutup teleponnya dan segera bersiap-siap pergi ke kantor untuk menemui Vino dengan wajah marahnya.
Ia bahkan kabur lewat jendela dengan dan rela menaiki pagar beton demi keluar dari rumahnya, ia juga tak lupa pergi dengan mengendap-endap takut ketahuan oleh sang ayah. Ia naik taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Sementara di ruangan Rara ia tampak diam ketika Vino berkata seperti itu, ia yakin jika Riska sudah mendengarnya pembicaraan antara dirinya dan Vino. Sebentar lagi Riska akan datang kesini Ia yakin.
" Sebentar lagi bakal ada yang ngamuk-ngamuk nih, rasain kamu Vino emang enak aku jebak,, siapa suruh jadi laki-laki brengsek amat " batin Rara senang
" Vino.. aku tidak mau janji-janji kamu, aku hanya ingin bukti.. bukan sekedar ucapan " ucap Rara dengan wajah sedihnya
" Riri.. aku mohon beri aku kesempatan agar aku memperbaiki hubungan kita, aku pasti akan membuktikannya padamu " ucap Vino sambil tersenyum menyakinkan istrinya itu.
" Kamu yakin.. bisa membuktikannya padaku " tanya Rara
" Aku yakin " ucap Vino tersebut senang
" Kalau begitu tolong belikan aku makanan kesukaan ku lengkap dengan Minumannya " ucap Rara sambil tersenyum
" Baik, aku mengingat semua yang kamu sukai.. aku akan pergi memberikannya sekarang juga " ucap Vino dengan wajah senangnya karena sudah di berikan kesempatan oleh istrinya itu
" Aku tunggu sampai jam makan siang " ucap Rara
" Baiklah sayang, aku pamit " ucap Vino langsung meninggalkan ruangan Rara dan segera pergi ke tempat makanan yang di sukai Riri istrinya itu.
Sementara Rara hanya bisa terdiam saja ketika Vino pergi, ini Memeng rencananya membuat Vino pergi dan memancing Riska untuk datang ke kantornya.
.
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz
__ADS_1