Reinkarnasi : Mengubah Takdir

Reinkarnasi : Mengubah Takdir
Episode 7 Menyuruh Bimo


__ADS_3

Vino yang kesal dengan apa yang dilakukan istrinya langsung pergi dari ruangannya, ia memilih untuk pulang sebentar untuk menyiapkan semua kebutuhan sang istri, hal ini juga ia lakukan agar menarik perhatian Riri.


Sedangkan Tian yang merasa kesal karena Rara di suapi oleh Bimo langsung pergi ke kantin untuk membeli minum. Sementara diruangan itu hanya ada Bimo dan Rara.


" Bolehkan aku bertanya sesuatu padamu " Tanya Bimo yang masih penasaran, ia bersahabat dengan Rara sudah lama, semenjak mereka kuliah bersama, ia juga tahu sifat Rara.


" Katakan!! " ucap Rara yang menduga jika Bimo akan mencurigainya tapi untuk sekarang Bimo satu-satunya orang yang bisa menolong semua rencananya.


" Kamu Rara kan?? tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur " ucap Bimo mantap wajah Rara dengan penuh arti, ia berharap jika Wanita yang dihadapannya itu adalah Rara sahabatnya yang dulu.


" Maafkan aku Bimo,, aku belum bisa mejelaskan semuanya padamu, Aku hanya beharap jika kamu menyadari diriku tanpa mengatakan apapun" batin Rara dengan wajah sedihnya


" Aku bukan Rara, nama ku adalah Riri.. kenapa semua orang menggangap ku sebagai Rara, siapa Rara " ucap Rara berpura-pura jadi Riri di depan Bimo agar ia tidak ketahuan.


" Maafkan aku sebenarnya wajahmu mirip dengan Rara Temanku, tapi karena kamu bukan Rara baiklah aku akan mengangapmu sebagai Riri " ucap Bimo mengalah setidaknya ia bisa dekat dengan sosok wanita yang mirip dengan sahabatnya itu.


" Kamu bisa menganggap ku sebagai sahabatmu jika kau mau, aku tidak keberatan " ucap Rara sambil tersenyum


" Benarkah "


" Tentu saja, tapi ada syaratnya jika ingin menjadi sahabatku " ucap Rara tersenyum licik


" Katakan "


" Tolong kamu cari wanita ini, aku tahu Tian bukan orang yang menabrak ku, tapi dia lah wanita yang sudah mendorongku hingga aku jatuh tepat di depan mobil Tian " ucap Rara memberikan Handphonenya

__ADS_1


" Namanya Riska.. " ucap Rara


Bimo melihat foto sosok wanita cantik dan seksi, ia heran kenapa Riri bisa berurusan dengan wanita itu tapi ia tidak banyak bertanya, ia langsung menyerahkan semua anak buahnya untuk mencari orang yang dimaksud Riri.


Tian yang baru datang kembali ke ruangan itu merasakan wajahnya kesal kembali, terutama ketika melihat Bimo memegang Handphone milik wanita yang ia anggap Rara.


" Kalian ngapain?? " ucap Tian sinis pada Bimo, ia memberikan tatapan tajam pada asistennya itu, ia tidak rela jika wanita yang ia anggap Rara bisa dekat dengan orang lain.


" Bukan urusanmu " ucap Rara dengan jawaban cuek, sebenarnya ia masih kesal karena sikap Tian tadi, kenapa harus meladeni Vino dengan hal yang tidak penting.


" Apa yang menjadi urusanmu adalah urusanku juga, apalagi dia juga asisten ku " ucap Tian dengan wajah kesal merebut Handphone milik Rara.


Rara yang kaget saat Handphonenya di rebut oleh Tian, mulai kesal dan meminta Tian untuk mengembalikan handphone miliknya. Namun Tian dengan cueknya malah membuka-buka Handphone Rara.


Ia melihat Foto wanita seksi itu, meskipun sekarang tubuh Rara gendut dan kulitnya hitam tapi bukan alasan dia untuk menjauhi Rara. karena cintanya untuk Rara tidak akan berubah hanya karena penampilannya, Entah mengapa meskipun namanya Riri ia masih menanggap jika Riri adalah Rara.


" Bukan urusanmu, cepat kembalikan handphone ku " ucap Rara dengan wajah kesalnya


Tian melihat satu Vidio tanpa di ketahui oleh Rara, ternyata Vidio itu ia kirimkan pada Handphonenya agar ia bisa leluasa melihatnya, Tian mengira jika Vidio itu adalah Vidio Rara padahal itu adalah Vidio kebusukan Vino dan Riska.


" Nih aku kembalikan " ucap Tian dengan senyum liciknya, lalu mengajak Bimo Segera pulang karena besok mereka akan sibuk dengan pekerjaannya.


" Kalau begitu kami pamit " ucap Bimo sambil tersenyum


" Nanti aku akan kembali lagi kesini " ucap Tian

__ADS_1


" Terserah " ucap Rara yang malas meladeni perkataan Tian


Bimo dan Tian pamit pada Riri, setelah Rara meminum obat yang di berikan oleh suster, Rara mulai menutup matanya dan tidur setelah reaksi obat itu bekerja pada tubuhnya.


Sementara Vino sudah datang ke rumah sakit, ia segera menuju kamar dimana sang istri dirawat, ketika ia membuka ruangan itu tampak tidak ada lelaki yang akan menjadi saingannya itu.


" Tidak ada siapa-siapa, Riri juga sudah tidur " ucapnya tampak memperhatikan ruangan itu


Ia meletakkan tas yang berisi barang-barang Riri diatas meja. Sedangkan ia duduk di sofa karena tidak mau menganggu sang istri yang sedang tidur.


Tiba-tiba Handphonenya berdering tanda seseorang menghubunginya, orang itu adalah Riska, Vino tidak berani mengangkat teleponnya ia langsung memberikan pesan pada Riska jika ia sedang bersama dengan Riri di rumah sakit.


Riska mengabari Vino jika ia sudah berada di kita yang lumayan jauh dari Vino, lalu Riska dibuat kesal ketika mendengar jika Riri selamat dan hanya mengalami luka kecil saja, ia berniat ingin kembali lagi ke kota namun Vino melarangnya dengan ancaman polisi akan menangkapnya.


Riska hanya menuruti keinginan Vino untuk beberapa waktu, tapi jika dia ada kesempatan pasti ia akan kembali ke kota dimana Riri berada untuk membalas dendamnya.


Vino terlihat senyum-senyum sendiri ketika memainkan Handphonenya, untung sikapnya tidak terlihat oleh Riri bisa gawat pikirannya.


" Untung Riska bisa aku bodohi sama halnya dengan Riri, kalian memang adik kakak yang bodoh " batinnya senang


Vino membaringkan tubuhnya di sofa, ia sudah memberitahukan ayah Riri tentang keadaan Riri, mertuanya itu mengatakan jika besok pagi-pagi sekali akan menjenguk putrinya, itu sebenarnya alasan kedua Vino berada di rumah sakit.


" Aku harus tidur sekarang, karena besok pagi Pak Mail akan kesini menjenguk Riri,, jadi aku harus bersikap baik pada Riri besok dan harus terlihat seperti suami yang sangat menyayangi istrinya " ucap Vino sambil memejamkan matanya


Alasan pertamanya Vino rela menginap di rumah sakit adalah ingin mendapatkan kepercayaan Riri kembali, ia ingin menunjukan pada Riri jika ia sangat mencintainya.

__ADS_1


Padahal dalam pikirannya hanya ingin harta dan tidak mau hidup dalam kemiskinan seperti dahulu ketika ia belum mengenal Riri.


Bersambung...


__ADS_2