Reinkarnasi : Mengubah Takdir

Reinkarnasi : Mengubah Takdir
Episode 57 Bu Popi Meninggal


__ADS_3

Rara hanya mendengar ucapan Vino meskipun dalam hatinya ia heran dengan sikap panik Vino .


Kring... Kring... Kring...


" Halo sayang " ucap Rara sambil melihat wajah Riska dengan sinis


" Sayang, kamu dimana.. " ucap Vino dengan nada panik


" Aku di Kantin,, ada apa " tanya Rara


" Cepat kamu kesini.. ibu.. ibu .. " ucap Vino sambil menangis


" Kenapa kamu menangis, cepat katakan.. ibu kenapa " tanya Rara semakin penasaran


" Ibu.. ada apa dengan Bu popi " batin Riska mendengarkan pembicaraan kakaknya itu


" Cepat ke ruangan ibu " ucap Vino


Setelah mendapatkan telepon dari Vino, apalagi terdengar suara Vino yang cemas dan menangis, Rara langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi dari kantin menuju ruangan Bu Popi.


Terlihat Bu Reni, Riska dan Pa mail heran dengan sikap Rara, Namun Riska mendesak kedua orang tuanya untuk mengikuti Rara pergi ke ruangan Bu Popi.


Pa Mail dan Bu Reni pun mengikuti keinginannya Riska bukan tanpa alasan, mereka juga takut terjadi sesuatu pada Bu Popi.


Rara melihat dari kejauhan jika Vino sedang menangis berbicara dengan dokter didepan ruangan Bu Popi, ia langsung menghampirinya.


" Dok, tolong selamatkan ibu saya.. berapapun biayanya saya akan berikan " ucap Vino


" Tuan maaf, Kami sudah melakukan yang terbaik untuk menangani Bu Popi namun takdir berkehendak lain.. ini sudah takdir Tuhan " ucap Sang dokter dengan wajah sedihnya


" Apa,, maksud dokter Bu.. Popi " ucap Rara kaget dan meneteskan air matanya


" Sayang.. bilang kalau ini tidak benar.. ibu tidak mungkin tega meninggalkan aku " ucap Vino mengguncang tubuh sang dokter


" Maafkan saya Pa " ucap Sang dokter


" Dokter jangan bohong, ibu saya kuat.. dia tidak mungkin meninggalkan " ucap Vino tidak terima dengan kenyataan di hadapannya


" Vino sudah " ucap Rara mencoba menenangkan Vino


" Sayang,,, ini tidak mungkin kan sayang " ucap Vino memeluk tubuh Rara


" Aku melihat Vino merasa tak tega.. tapi mungkin ini sudah takdir Tuhan, jalan ku membalas Vino semakin mudah " batin Rara


" Ikhlas semuanya " ucap Rara


" Ikhlas.. maksud mu.. aku harus mengikhlaskan semuanya,, tidak ini tidak mungkin " ucap Vino dengan wajah marah bahkan mendorong tubuh Rara


" Ini sudah jadi Takdir Tuhan.. ibu sudah merasa kesakitan lagi " ucap Rara sambil menangis

__ADS_1


" Tapi.. aku.. bagaimana tanpa ibu " ucap Vino menangis kembali dan duduk di lantai, ia meratapi hidupnya yang harus tanpa sosok seorang ibu


" Kamu tenang saja.. ada aku " ucapnya Riska yang tiba-tiba datang dan memeluk Vino


" Diam kamu... minggir dari hadapan ku " ucap Vino mendorong tubuh Riska


" Vino, Riska sedang hamil.. kamu gila apa,, kalau terjadi apa-apa sama kandungan gimana " ucapnya Bu Reni


" Bu aku tidak apa-apa " ucap Pa Riska


Vino bangun ketika melihat pintu ruangan itu terbuka, ia melihat sosok sang ibu yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit.


Wajah pucat dengan mata terpejam, tubuhnya sudah kaku membuat Vino semakin sedih, bahkan tubuhnya lemas melihat tubuh sang ibu yang sudah tidak bernyawa lagi.


" Ibu... " ucap Vino memandangi wajah sang ibu


" Tuan, mohon maaf kami akan segera memandikan jenazah Bu Popi, mohon kerjasamanya " ucap sang suster


" Tapi dia ibuku " ucapnya Vino menatap sedih pada wajah yang selama ini menjaganya dan menyayanginya


" Kami tahu, tapi kami juga harus segera menjalankan prosedur yang ada di rumah sakit ini " ucapnya sang suster


" Vino... sudah.. biarkan mereka menjadikan ibu terlebih dahulu " ucap Rara


" Sial, kenapa Ka Riri seperti pahlawan di depan Vino,, harusnya itu aku.. bukan dia " batin Riska


" Ayah kenapa harus kita repot-repot " ucap Bu Reni


" Ayo cepat ikut " ucap Pa Mail menarik tangan istrinya itu


" Ayah terimakasih " ucap Vino


" Sama-sama, kamu yang kuat dan ikhlas ya " ucap Pa Mail


" Ia ayah " ucap Vino


" Ayah, ibu.. aku mau menemani Vino saja " ucap Riska


" Ya sudah jaga kandungau " ucapnya Bu Reni


" Ia Ibu... " ucap Riska sambil tersenyum


Pa Mail dan Bu Reni segera meninggalkan rumah sakit menuju rumah yang ditinggali Vino dan Riri, mereka juga menyiapkan pemakaman untuk Bu Popi.


Sementara di rumah sakit tepatnya di depan ruangan jenazah, Vino, Rara dan Riska berada. Mereka tampak duduk menunggu jenasah selesai di mandikan dan di masukan kedalam peti.


" Jalan ku mendapatkan Vino akan semakin mulus apalagi Nenek tua itu sudah mati.. syukurlah meringankan beban ku saja.. untung tadi aku pintar mencabut satu alat yang ia pasang ketika di ruangannya tidak ada siapa-siapa " batin Riska


" Bu.. semoga tenang di sana " batin Rara

__ADS_1


" Apa jadinya aku tanpa ibu.. aku benar-benar bingung sekarang harus bagaimana tanpa ibu " ucap Vino dalam hatinya


" Sayang " ucap Riska meneteskan air matanya menatap wajah Vino


" Kamu jangan dekat-dekat " ucap Vino


" Aku cuma ingin menenangkan kamu sayang.. aku tidak mau kamu larut dalam kesedihan " ucap Riska


Kini Vino hanya diam ketika Riska memeluknya dari belakang, Vino benar-benar terpukul dengan kematian ibunya sendiri, entah mengapa Rara jadi ingat pada ibunya.


Ia pernah berada di posisi Vino hari ini, yang lebih menyakitkannya lagi Rara bangun setelah di operasi ginjal namun ibunya tidak tertolong karena uang hasil jual ginjalnya malah di bawa kabur ayah tirinya.


" Lihat saja.. nanti akan ku balas ayah tiri ku.. aku janji setelah urusan Ka Riri dengan Vino selesai " batin Rara


" Kenapa aku melihat Ka Riri sedih beneran.. apa Memang ka Riri sedih melihat kematian Bu Popi.. " batin Riska


" Ibu,, aku rindu ibu.. aku akan segera mencari informasi tentang keberadaan makan ibu nanti dan tubuhku.. " batin Rara


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya jenazah Bu Popi boleh di bawa pulang untuk di makamkan. Dengan menggunakan Ambulan jenazah Bu Popi di bawa, didalam ambulan sudah ada Vino, Rara dan Riska yang sudah siap membawa jenazah Bu Popi.


Sepanjang perjalanan tampak Vino terus menangis, sedangkan Rara juga tampak sedih yang sebenarnya membuat Rara sedih bukan Bu Popi tapi teringat akan sosok ibunya.


Riska hanya bisa diam, dia mau nangis juga tidak bisa karena air mata juga tidak bisa di paksakan ketika seseorang tidak sedih.


" Kenapa mereka malah sedih, sementara aku tidak bisa.. mau aku paksakan juga tetap ini air mata tak mau mengalir " batin Riska


.


.


.


.


.


Bersambung...


Mampir yuk,, di karya baru aku ya teman-teman yang berjudul : " Bilang pada Tuhanmu " karya ini menceritakan tentang Kisah Asmara antara Nicholas dengan Rania yang berbeda agama,, akan kah mereka bisa bersatu atau mereka harus berpisah karena beda keyakinan.


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz


,, Minal aidzin Walfaidin mohon maaf lahir batin ya teman-teman, selamat hari raya idul Fitri,,

__ADS_1


__ADS_2