Reinkarnasi : Mengubah Takdir

Reinkarnasi : Mengubah Takdir
Episode 32 Menang lagi


__ADS_3

Hari ini Rara sengaja pulang lebih awal, ia diantara Rio menuju rumah keluarganya. Ia sengaja pergi kesana untuk membicarakan hal mengenai kehamilan Riska pada Sang ayah.


" Rio,, kalau Vino telepon kamu dan bertanya tentang keberadaan saya kamu jangan bilang apa-apa " ucap Rara


" Baik Nona " ucapnya


" Oh ia, Bagaimana tentang kehamilan Riska, Apakah benar dia hamil " tanya Rara


" Nona Riska memang hamil, namun itu belum bisa di pastikan anak milik siapa... karena dari informasi yang Saya tahu jika Nona Riska akhir-akhir ini sering datang ke Club " ucap Rio


" Club.. ?? " ucap Rara terlihat bingung


" Semoga saja ini tidak ada hubungannya dengan Candra " batin Rara


" Club malam Love yang sedang terkenal akhir-akhir ini " Ucap Rio


" Sial, itu kan Club yang Candra punya,, " batin Rara


" Kamu selidiki tentang siapa yang menghamili Riska.. laki-laki itu Vino atau bukan " ucap Rara pada Rio


" Baik Nona kalau masalah itu saya akan selidiki secepatnya " ucap Rio


" Kamu punya kenalan seorang Dokter kandungan tidak " ucap Rara


" Ada Nona, dia bekerja di rumah sakit kasih bunda " ucap Rio dengan wajah herannya


" Bagus, kamu bantu saya untuk bertemu dengannya sekarang.. tepatnya nanti malam " ucap Rara


" Sebentar saya telepon dulu teman saya " ucap Rio meminta ijin mengendarai mobil sambil menelepon temannya yang berprofesi sebagai dokter.


" Ok silahkan " ucap Rara senyum


Rio langsung menepikan mobilnya dan menelepon temannya itu, tadinya ia ingin menelepon sambil menyetir namun ia juga takut membahayakan dirinya dengan sang majikan.


Ia mengajak temannya itu bertemu dengannya di sebuah Cafe, mereka akan bertemu di Cafe pada waktu malam hari sesuai dengan permintaan Rara.


Setelah pembicaraan itu selesai barulah Rio menutup teleponnya dan mengendarai mobilnya kembali menuju alamat yang di diberikan Sang majikan.


" Nona sesuai dengan keinginan nona, dia mau bertemu dengan Nona nanti malam " ucap Rio sambil tersenyum


" Bagus, nanti malam kamu jemput saya disini " ucap Rara yang kini sudah sampai di rumah keluarganya


" Baik nona " ucap Rio


" Ingat!!, Pakai pakaian santai mu saja, jangan pakai baju seperti ini, itu akan membuat orang lain mencurigai kita " ucap Rara


" Saya mengerti Nona " ucapnya


Rara keluar dari mobil lalu segera masuk kedalam Rumah keluarganya tentunya dengan air mata yang berlinang agar terlihat sangat sedih di mata ayah dan ibu tirinya.


Rara masuk kedalam lalu menghampiri sang ayah yang sedang membaca koran di halaman belakang.


" Ayah " ucap Rara sambil menangis membuat sang ayah

__ADS_1


" Kamu kenapa nak " tanya sang Ayah


" Riska.. ayah " ucap Rara memeluk sang ayah


Ibu tirinya yang mendengar nama anaknya di sebut langsung menghampiri suaminya dan Anak tirinya itu.


" Kenapa lagi dia menangis.. mau fitnah Riska lagi " batin Bu Reni


" Riri kenapa lagi.. " batin Pa Mail


" Sekarang kamu tenangkan dirimu dahulu,, ini coba minum jus jeruk " ucap Pa Mail


" Tapi Mas itu jus untukmu " ucapnya Bu Reni dengan wajah kesalnya


" Diam kamu... " ucap Pa mail membentak Bu Reni


" Kenapa aku yang di bentak " ucapnya Bu Reni pelan kesal dengan sikap suaminya itu


Rara meneguk minuman yang sudah di buatkan Bu Reni, ia mencoba menghabiskan minuman itu karena kebetulan dia juga sednag haus. Menangis juga menguras tenaga pikirannya.


" Coba sekarang kamu katakan, kamu kenapa nangis " ucap Pa Mail


" Riska ayah... hiks... hiks... " ucap Rara menangis kembali


" Riska kenapa... " ucap Pa mail masih penasaran


" Kalau bicara itu yang jelas... jangan fitnah-fitnah Riska kembali " ucap Bu Reni


" Aku tidak pernah memfitnah Riska dari dulu juga " ucap Rara


" Sial, terus saja Riri yang bela.. ini sungguh tidak adil.. lihat saja Riri pembalasan ku " batin Bu Reni


" Coba cerita ke ayah, siapa tahu ayah bisa membantumu " ucap Sang ayah sambil tersenyum


" Riska hamil ayah " ucap Rara membuat Pa Mail dan Bu Reni kaget di buatnya.


" Apa " ucap sang Ayah diam seperti patung karena kagetnya


" Ini tidak mungkin.. kamu pasti fitnah lagi Riska,, belum cukup kamu membuat dia terkurung seharian ini " ucap Bu Reni sambil menangis ia tidak mau menerima kenyataan jika anaknya itu berbuat seperti itu memalukan Keluarga.


" Ibu bilang seharian di kamar, tadi dia pergi ke kantor dan meminta pertanggungjawaban Vino " ucap Rara masih menangis


" Cukup Riri jangan kamu menjelek-jelekan adikmu sendiri.. " Bentak Bu Reni


Plak,,


Pa mail langsung menampar Bu Reni, ia tidak suka jika putri kesayangannya di bentak oleh orang lain termasuk ibu tirinya itu. Ia tidak akan membiarkan putrinya itu di sakiti oleh orang lain.


" Mas.. kamu kenapa nampar aku " ucap Bu Reni meneteskan air matanya


" Kamu masih membela putri mu itu... " cibir Pa Mail


" Aku percaya jika Riska tidak seperti yang di katakan Riri.. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu, memalukan keluarga " ucap Bu Reni sambil menangis

__ADS_1


" Kalau ibu tidak percaya ayo kita ke kamar Riska, aku yakin dia tidak ada dikamarnya " ucap Rara dengan penuh keyakinan


" Baik, aku akan membuktikan semua ini pada mu.. " ucap Bu Reni dengan wajah menahan amarahnya.


" Ayo kita ke kamar Riska " ucap Pa mail


Mereka pun segera menuju kamar Riska, sebenarnya Rara juga tidak tahu jika Riska sudah pulang atau tidak tapi ia yakin kalau hari ini Riska dan Vino menghabiskan waktu berdua.


Sedangkan Bu Reni tampak harap-harap cemas ia takut jika Riska memang tidak ada disana.


" Bagaimana kalau Riska tidak ada di kamarnya, bisa gawat ini " batin Bu Reni


" Semoga Riska memang tidak ada di kamar sehingga aku bisa menang di hadapan Bu Reni.. " batin Rara


" Awas saja jika Riska memang tidak ada di kamarnya.. " batin Pa Mail


Pa Mail menyuruh pelayan membawa kunci kamar Riska dan membuka kamar tersebut, pelayan yang diperintahkan seperti itu langsung membuka kamar Riska.


Ceklek,,


Mereka tidak melihat sosok Riska, mereka hanya melihat jika di jendela kamar itu terbuka, dan terdapat ada kain seprai yang di jadikan tali untuk Riska keluar dari sana, karena kamar Riska ada di lantai dua.


Rara merasa senang dengan situasi yang menguntungkan dirinya sementara Bu Reni tampak berwajah pucat.


" Aku menang lagi.. pasti Bu Reni sedang khawatir pada Riska " batin Rara


" Ayah lihatkan aku tidak pernah berbohong pada kalian.. aku yang jadi korban kenapa kalian tidak percaya padaku.. aku sangat lelah akan hidup ini " ucap Rara menangis kembali


" Jangan berkata seperti itu, ada ayah disini yang akan melindungi mu.. kamu tenang saja ayah akan mencari jalan keluar untuk masalah mu " ucap Pa Mail memeluk Putrinya itu


" Ayah janji.. " ucap Rara menghapus air mataku dan melepaskan pelukan sang ayah


" Ayah janji.. kamu tidak boleh menanggung semua penderita ini sendirian.. " ucap Pa mail


" Terima kasih ayah " ucap Rara memeluk kembali sang ayah


" Ayah,, aku merasa bahagia sangat disayangi oleh mu Meskipun aku harus menjadi Ka Riri.. aku rindukan pelukan mu Yang seperti ini dari dulu " batin Rara bahagia


" Kenapa Riska bisa hamil, bagaimana ini pasti Mas Mail sangat marah apalagi Dia sangat menyayangi Riri " ucap Bu Reni dalam hatinya


" Ayah akan melindungi mu dan memperjuangkan kebahagiaan mu nak,, bagi ayah kebahagiaan kamu hal yang berharga " batin Pa mail


.


.


.


Bersambung...


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...

__ADS_1


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz


__ADS_2