Reinkarnasi : Mengubah Takdir

Reinkarnasi : Mengubah Takdir
Episode 44 Merebut Kembali


__ADS_3

Rara duduk di samping dengan Dimas, ia disuguhkan dengan minuman makanan ringan disana.


" Mana pesanan ku " tanya Rara sambil tersenyum


" Sebentar, anak buah ku sedang membawakannya kemari " ucapnya


" Aku punya satu permintaan untukmu " ucap Rara


" Katakanlah, jangan sungkan kita kan teman " ucap Dimas sambil tersenyum


" Aku mau jika kedatangan ku kesini tidak di ketahui oleh Tian.. " ucap Rara sambil meneguk minumannya


" Kenapa " tanya Dimas


" Pokoknya begitu, jangan sampai Tian tahu.. kamu harus merahasiakan masalah ini " ucap Rara


" Baiklah, yang harus kamu tahu jika Tian tidak pernah lelah setiap hari kesini, tapi sudah sebulan ini dia tidak main kesini " Ucapnya Dimas


" Aku sudah menikah " ucap Rara membuat Dimas kaget bukan main


" Menikah dengan siapa, kenapa kamu tidak mengatakannya.. astaga kamu tega tidak mengundang ku ke pernikahan mu " ucap Dimas dengan berwajah kesal


" Bukan begitu, aku menikah juga karena terpaksa " ucap Rara


" Apa maksudmu.. kamu haru menceritakan semua padaku.. kita kan teman " ucapnya


Tiba-tiba suara ketukan pintu ruangan tersebut terdengar. Ternyata anak buah Dimas membawakan pesanan yang Rara minta.


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


" Bos, ini pesanan yang bos minta " ucapnya


" Ok terima kasih " ucap Dimas


Rara langsung melihat perhiasan yang sudah ia pesan kini ada di hadapannya dengan ukiran dan desain yang sama persis membuatnya senang.


" Bagaimana kamu suka " ucap Dimas sambil tersenyum


" Lumayan.. ini sama persis dengan apa yang aku minta " ucapnya Rara


" Sebenarnya kamu kenapa pesan perhiasan palsu, jangan-jangan kamu tukang tipu " ucap Dimas kaget dengan pemikirannya sendiri


" Sembarangan kalau bicara... aku akan menipu orang jahat saja " ucap Rara


" Kalau begitu aku setuju " ucap Dimas


" Berapa harganya, nanti aku transfer uangnya " ucap Rara sambil melihat perhiasan satu persatu


" Tidak usah, untuk mu aku gratiskan " ucap Dimas


" Aku jadi tidak enak " ucap Rara sambil tersenyum


" Kita kan teman.. " ucap Dimas

__ADS_1


Rara langsung pamit pada Dimas karena ia hari ini sibuk, apalagi niatnya ingin menukarkan perhiasan itu.


" Maf aku harus segera pergi sekarang " ucap Rara


" Kenapa buru-buru, kita kan belum selesai mengobrol " ucap Dimas


" Kita atur lain waktu saja.. maaf aku benar-benar harus pergi, aku ada urusan " ucap Rara


" Baiklah kalau begitu, ingat kalau kamu butuh bantuan apapun langsung hubungi saja aku " ucap Dimas


" Ok, terimakasih " ucap Rara langsung membawa paper bag yang sudah di bereskan oleh sang pelayan


Rara langsung pergi dari sana menuju mobil Rio, ia melihat jika Rio tampak sedang menunggunya.


" Ayo jalan... " ucap Rara


" Baik Nona " ucap dengan wajah terkejut


Mereka segera pergi dari sana, Rio langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rio mengantarkan Rara ke rumahnya. Setelah itu ia kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara Rara langsung masuk kedalam Rumah, disana ia langsung di sambut oleh Meti.


" Siang Nona " ucapnya


" Bagaimana dengan apa yang aku tugaskan " tanya Rara dengan wajah tersenyum


" Saya sudah menggeledah kamar Bu Popi, tapi saya tidak menemukan apapun lagi Nona " jawabnya


" Kamu ambilkan semua perhiasan yang kemarin kamu temukan " ucap Rara


Rara melihat Meti sedang mengeluarkan perhiasan satu persatu dari tempat penyimpanan perhiasan yang selalu Bu Popi simpan. Rara tampak tersenyum licik ketika melihat semua perhiasan asli itu.


" Sudah Nona " ucapnya


Rara langsung memberikan Paper bag berisi perhiasan yang palsu pada Meti, awalnya Meti bingung namun akhirnya ia menuruti semua perintah sang majikan.


" Kamu simpan semua perhiasan ini sesuai dengan tempat yang tadi kamu ambil " ucap Rara


" Nona kenapa semua perhiasan ini tampak mirip dengan perhiasan yang di pegang Nona " tanya Meti


" Sudah jangan banyak bicara, cepat kamu simpan perhiasan itu ke tempatnya " ucap Rara


" Baik Nona " jawabnya langsung mengerjakan perintah Majikannya


Sedangkan Rara tampak membawa semua perhiasan itu dari sana, ia takut jika Vino akan mencurigainya. Ia pergi kekamarnya untuk menemukan tempat yang cocok untuk menyimpan perhiasan ini semua.


" Dimana aku harus menyimpan semua ini " ucap Rara tampak berpikir keras


Ia membuka beberapa lemari, niat awalanya ingin menyembunyikan semua perhiasan ini dari tangan Vino namun ketika ia ingin membuka satu lemari ternyata di kunci, ia mulai curiga akan hal itu.


Bukan Rara namanya jika tidak punya ide untuk melihat rasa penasarannya. Ia langsung mencari jarum atau jepit rambut untuk membuka lemari itu.


" Kenapa ini agak susah " ucap Rara yang sedang berusaha membuka lemari itu


Rara ingat jika lemari itu tidak pernah di buka, karena lemari itu milik Vino, karena dulu sang kakak takut dan tidak berani menanyakan apapun pada suaminya itu.

__ADS_1


Setelah bersusah payah, akhirnya ia dapat membuka lemari itu, senyum pun terlihat di raut wajahnya.


Ia langsung membuka lemari itu, ternyata didalamnya tidak ada satu baju pun, yang ada hanya berkas-berkas dan beberapa perhiasan.


" Waw, ini sepertinya berharga " ucap Rara sambil tersenyum licik


Ia mengambil beberapa foto perhiasan yang ada disana untuk dikirimkan kepada Dimas, ia tak akan membiarkan Vino m ngambil sepeserpun dari harta milik sang kakak.


Setelah berhasil memfoto semua perhiasan yang ada disana, ia mulai membaca berkas-berkas yang ada disana. Betapa senangnya ia saat melihat berkas yang ia cari.


Ia melihat sertifikat rumah miliknya ada disana, namun sudah berganti nama menjadi nama Vino, meskipun begitu ia tetap mengambilnya. Lalu ia mulai mencari kembali berkas perusahaan.


Tak lama juga ia mendapatkan, Rara hari ini benar-benar senang di buatnya, tapi bukan hanya itu ia juga melihat beberapa berkas rumah dan juga restoran atas nama Sang Kaka ada disana.


" Apa-apaan Vino, ini kan properti milik Ka Riri, kenapa dia dengan seenaknya mengambilnya, aku harus bikin perhitungan padanya " ucap Rara kesal


Rara langsung menelepon Dimas untuk segera menemuinya di rumahnya. Ia akan menyuruh Dimas untuk menyembunyikan semua perhiasan yang ia tadi ambil dari kamar Bu Popi.


Sementara Itu ia mengambil alat Foto copy yang kebetulan ada di ruang kerja Vino, untuk memalsukan data-data yang ia dapatkan barusan.


" Meti " panggil Rara


" Ia Nona " ucapnya langsung menghampiri Rara yang berada di kamarnya


Tok... Tok.. Tok...


" Masuk " ucapnya Rara


" Ada apa, nona memanggil saya " tanyanya heran


" Kamu tolong ambilkan mesin fotocopy yang ada di ruang kerja Vino, sekarang juga " ucapnya Rara


Meti yang mendapatkan perintah seperti itu langsung bergegas ke ruang kerja Vino dengan Buru-buru.


.


.


.


.


Bersambung...


Halo semuanya, menyambut Bulan Ramadhan aku punya novel baru cocok untuk mengisi waktu ngabuburit kalian...


Mampir yuk,, di karya baru aku ya teman-teman yang berjudul : " Bilang pada Tuhanmu " karya ini menceritakan tentang Kisah Asmara antara Nicholas dengan Rania yang berbeda agama,, akan kah mereka bisa bersatu atau mereka harus berpisah karena beda keyakinan.


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz

__ADS_1


,,Selamat menjalankan ibadah Puasa,,


__ADS_2