
Hari pun minggu tiba. Pagi - pagi sekali Arga dan Salwa sudah tampak sibuk memindahkan barang-barang. Hal itu mereka lakukan demi menjalankan rencana Arga yakni, dengan memindahkan semua barang-barang Salwa ke kamar Arga, supaya nanti saat mama Rania dan papa Ramdan datang mereka tidak curiga. "Arga bantuin dong!" Salwa yang merasa kerepotan membawa barang-barang dari kamarnya minta Arga membantunya.
"Sini - sini!" Arga merebut koper milik Salwa itu untuk kemudian dibawa ke kamarnya.
Salwa meletakkan barang-barang koleksi miliknya di kamar Arga, dan kebetulan di kamar Arga sendiri banyak space yang masih kosong.
"Eh apa-apaan?" Arga yang baru keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil langsung protes, melihat pigura warna pink milik Salwa bertengger di atas lemari nakasnya. Arga langsung menghampiri Salwa, "Eh ini apa maksudnya hiasan warna pink?" ujar Arga sambil menunjuk pigura pink milik istrinya itu.
"Kenapa emangnya? Itukan punya aku, ya nggak masalah dong. Lagian kita kan hari ini lagi pura-puranya sekamar, jadi bebas kan aku mau taruh barang aku disini."
"Ya tapi enggak warna pink gini! Emang kamar aku kamar cewek!" Arga mengambil pigura itu.
"Ih kok diambil? Balikin nggak?"
"Ogah!" Arga meledek. Ia sengaja mengangkat tinggi-tinggi pigura itu supaya Salwa tak bisa megambilnya. Maklum saja jarak tinggi badan Salwa dengan Arga terpaut lumayan, yakni hampir 20 sentimeter.
"Arga balikin sini!" Salwa mengejar-ngejar Arga. Bahkan dirinya sampai harus naik ke atas ranjang, berusaha agar bisa meraih pigura itu dari tangan Arga.
"Arga balikin nggak, atau akuー"
"Atau aku apa?" balas Arga menantang Salwa dan malah meledeknya. Sepertinya Arga memang sengaja mengusili Salwa.
Diledek begitu oleh Arga, tentu saja Salwa semakin jengkel dibuatnya. Ingin sekali rasanya Salwa membalas perbuatan laki-laki yang kini menjahilinya itu. Gue harus apa biar si Arga balikin pigura gue? Oh gue tau! Ternyata Salwa tidak kehabisan akal. Ia tau apa yang harus dirinya lakukan. Salwa jadi ingat obrolannya dengan mbok Darmi waktu itu yang mengatakan, kalau Arga sangat menyayangi replika mobil klasik pemberian mendingan kakeknya. Dan replika itu, kini terpampang di atas meja khusus di sudut kamar Arga. Salwa pun langsung bergegas turun dari atas ranjang.
"Eh lo mau kemana?" Pandangan mata Arga langsung mengikuti kemana Salwa bergerak. Benar saja, Salwa langsung mengambil replika mobil klasik kesayangan Arga itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi seolah mengancam Arga. "Eh kamu mau ngapain itu? Taro lagi nggak? Itu replika mobil klasik kesayangan aku!" Arga memperingatkan Salwa agar meletakan kembali replika mobil klasik yang dipengangnya itu. "Aku nggak akan taruh sebelum kamu balikin pigura aku!" Emang lo doang apa yang bisa ngancem? Tatapan Salwa nampak jumawa.
Arga pun pada akhirny tidak bisa berkutik dibuatnya. Akhirnya dengan raut wajah menahan kesal, Arga mengembalikan pigura merah jambu milik Salwa ke tempat tadi. "Udah ya, ini aku udah taruh lagi, sekarang kamu taruh lagi replika itu, cepet!"
__ADS_1
"Iya iya santai aja sih, aku juga nggak bakal pegang ini kalau bukan karena kamu yang usil duluan." Dengan hati-hati Salwa meletakan kembali replika mobil klasik itu. Arga cepat-cepat menghampiri replika miliknya itu, memastikan jika tidak tergores atau sebagainya. "Yaelah, nggak aku apa-apain kali. Nggak ada yang rusak juga," ujar Salwa pada Arga yang tengah memastikan keadaan mobil replika miliknya itu. "Iya untung nggak apa-apa, kalau sampe rusak kamu nggak makan setahun!"
"Dih kok sewot, makanya jangan suka usilin barang milik orang lain," balas Salwa dengan nada kesal.
"Yaelah cuma pigura gitu doang, di taman puring juga banyak kali!"
Salwa mendadak emosi mendengar ucapan Arga barusan. "Sorry ya, bukan masalah dijual di taman puring banyak, tapi pigura itu punya nilai lebih, dan berharga banget buat gue!"
"Emang seberharga apa sih! Lebay banget," ucap Arga dengan tampang meremehkan.
Salwa langsung terdiam.
"Kok malah diem sih?" Tutur Arga.
Salwa menatap Arga dengan tatapan marah bercampur sedih. "Asal kamu tau ya, pigura itu adalah hadiah terakhir yang aku terima dari kak Salma!"
Salwa hanya terdiam, dirinya seketika teringat akan mendiang kakaknya itu, sampai tak sadar kalau matanya sudah berkaca-kaca. Arga yang melihatnya pun jadi canggung dan tidak tahu harus berbuat apa melihat gadis dihadapannya itu bersedih. "Salwa, ka- kamuー" Arga memegang pundak Salwa untuk menenangkannya, tapi seketika tangan Arga langsung dihempas oleh gerakan memutar pundak Salwa. "Aku nggak apa-apa kok!" Salwa langsung mengusap air matanya cepat-cepat.
*Ting tung! Suara bel berbunyi. Baik Arga dan Salwa reflek langsung saling beradu pandangan dan berkata, "Mama sama Papa udah dateng?" Keduanya pun langsung bergegas merapikan tampilan mereka dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Pintu pun dibuka. "Hai Ma, Pa...," ucap Salwa sumrigah sambil merangkul lengan Arga layaknya pasangan yang sedang kasmaran.
"Hai!" balas Rania yang terlihat bahagia sekali melihat anak dan menantunya itu menyambut kedatanganya dengan penuh suka cita.
"Silakan masuk Ma, Pa," kata Arga mempersilakan kedua mertuanya itu masuk.
"Rania dan Ramdan duduk di ruang tengah. "Oh iya biar Salwa buatin minum dulu ya, Mama sama Papa ngobrol aja dulu sama Arga." Selagi Salwa membuatkan minum, Arga mencoba membuka obrolan. "Oh iya gimana Mama sama Papa sehat kan?"
__ADS_1
"Papa sama Mama sehat kok, kamu sama Salwa juga sehat kan?" balas Ramdani.
"ーOh ya jelas sehat dong!" Ucap Arga dengan semangat sambil membusungkan dada, seolah menujukkan kalau dirinya sehat dan bugar.
"Wah bagus dong kalau kalian sehat, itu tandanya kamu sama Salwa bakal bisa cepet kasih mama sama papa cucu, iyakan pa?" Ucap Rania menoleh ke arah suaminya. "Betul sekali Ma, papa juga udah nggak sabar mau cepet-cepet gendong cucu." Mendengar perkataan mertuanya itu mimik wajah Arga pun berubah jadi kikuk. Buset dah cucu darimana, tidur aja kita beda kamar, gimana cara buatnya. Arga hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar keinginan mertuanya tersebut.
"Minuman datang...," ujar Salwa yang membawa nampan berisi minuman dan makanan. Setelah menyajikan minuman tersebut Salwa pun ikut duduk di sebelah Arga. "Lagi ngomongin apa sih?" tanya Salwa ingin tahu.
"Ini, Mamaー"
"Eh iya Papa sama Mama ayo silakan diminum." Arga sengaja memotong pembicaraan sang ibu mertua agar tidak menerusakan pembahasan soal cucu. Rania dan Ramdan pun minum teh buatan Salwa. "Gimana enak kan tehnya?" tanya Salwa.
"Hem... perfect!" Puji sang Ayah. "Enak sekali sayang," imbuh Rania.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya kamu juga minum dong teh buatan aku," pinta Salwa pada Arga.
"Iー Iya ini aku baru mau minum."
"Oh iya ngomong-ngomong, kalau Papa dan Mama nginep disini hari ini bisa nggak?"
"Apaー Uhuk! uhuk!" Arga yang tengah menyeruput tehnya tiba-tiba tersedak.
🌹🌹🌹
**Jangan lupa di vote, like dan kasih komentar ya temen-temen... follow juga IG aku @chrysalisha98
Love -C**
__ADS_1