
"Iya yakin, emang kenapa? Itu kaus kaki awalnya mau aku kasih papaku jadi masih baru, bagus kan?"
Arga memandangi kaus kaki itu dengan wajah bingung, ia tampak menghela napas, menandakan dirinya sedang mencoba untuk mengontrol diri dari emosi. Arga yang awalnya duduk pun langsung bediri dan memandangi Salwa. "Kenapa ngelihatin aku gitu?
"Nggak apa-apa, cuma mastiin kalau kamu itu lagi ngelindur apa gimana?"
"Loh emang kenapa sih?"
"Pake nanya lagi! Ini maksud kamu kasih aku kaus kaki warna gini itu apa?"
"Emang warnanya kenapa, kan itu bagus warna polkadot ungu!"
Arga memijat pelipisnya, "Sumpah kamu itu ya, kamu itu bener-bener aneh, dan beda! Beda... banget samaー"
"Sama kak Salma? Iya emang aku beda kok, Kak Salma itu kan emang selalu lebih baik dari aku daridulu." Salwa kemudian langsung meminta kembali kaus kaki polkadot itu. "Yaudah kalau kamu nggak suka, aku juga nggak maksa kok!" Raut wajah Salwa langsung terlihat sendu. Tidak bisa dipungkiri kalau memang sebenarnya dirinya agak sedih mendengarkan perkataan Arga yang membandingkan dirinya dengan mendiang Salma.
Kok dia jadi sedih gitu ya? Duh apa gue salah ngomong ya? "Em ma-maksud gue, eh maksud aku itu, ya kamu tuh harusnya kan ngerti dong, aku itu kerja dikantor bareng orang dewasa ketemu banyak client bukan mau pagelaran festival. Masa kamu suruh aku pake kaus kaki polkadot gini. Kan nggak lucu!"
"Iya makanya sini balikin, kamu ke kantor nggak usah pake kaus kaki aja, daripada malu!" terang Salwa dengan raut wajah murung dan sambil mencoba mengambil kembali kaus kaki tersebut dari tangan Arga. Tapi, oleh Arga justru kaus kaki itu malah dijauhkan dari jangkauan tangan Salwa. "Loh kenapa, sini kaus kakinya kembaliin ke aku!"
"Udah nggak usah! Biar aku pake, lagian ketutup juga kok sama celana!" Arga pun segera memakaikan kaus kaki itu ke kakinya. Sedangkan Salwa malah dibuat bingung melihat Arga yang tiba-tiba mau mengenakan kaus kaki itu, padahal awalnya Arga terlihat sangat menolak memakainya. "Dah! Aku mau siap-siap ke kantor!" Kata Arga yang kemudian berdiri, dan ternyata benar kaus kakinya tertutup oleh celananya. Melihatnya Salwapun tampak senang. "Ngapain masih ngelihatin, nggak pernah lihat orang ganteng?" tegur Arga kepada Salwa yang masih memperhatikan dirinya
"Idih enggak kok siapa juga ngelihatin! Udah ah, aku mau lanjut sarapan!" Salwa pun melenggang pergi untuk meneruskan sarapannya yang tertunda.
~~
Salwa berniat meneruskan sarapannya, tapi lagi-lagi ia harus menundanya karena dirinya baru ingat, jika harus segera mencabut kabel charger dari ponselnya. Dan Salwa pun ke kamarnya untuk mencabut hp-nya yang sudah sejak lama di charge.
~~
Sekembalinya dari kamar, Salwa sudah membawa hp lengkap dengan tas jinjingnya. Salwa berniat langsung berangkat setelah menyelesaikan sarapannya. Namun apa yang terjadi, saat Salwa yang sudah mau menghabiskan roti buatannya justru yang terjadi malah ia melihat jika roti buatannya sudah raib dan malah yang terlihat di atas piring adalah selembar kertas yang bertuliskan ;
Aku laper belum sarapan, jadi rotinya buat aku ya kamu buat lagi aja, thank you!
__ADS_1
^^^-Arga^^^
-
P.S : Oh iya orange jusnya juga aku minum sorry ya...
Setelah membaca note itu Salwa pun mengerucutkan bibirnya lalu berseru kesal, "Arganata Yudhistira jadi manusia ngeselin banget sih!"
~~
Di perjalanan menuju ke kantor, Arga yang disupiri oleh supirnya Mang Dirman tampak sibuk dikursi belakang memandangi layar tabletnya. Sesekali ia teringat akan apa yang dia lakukan pada Salwa tadi yakni mengambil sarapannya. Salwa kayaknya marah deh sarapannya gue ambil, ah tapi nggak apa-apa kalau cuma sekali-sekali mah. Lagipula gue kan suaminya, ya nggak apa-apa dong kalau gue makan sarapan buatan dia. Tapi kasian juga itu anak pasti dia kaget rotinya ilang karena gue ambil. Arga terkekeh kecil.
Di kursi depan, Mang Dirman yang tengah mengemudikan mobil sempat mengintip bosnya lewat kaca spion depan. Ia pun membantin aneh melihat sang majikan tiba-tiba terkekeh geli. Si bos teh abis nikah kok malah jadi aneh pisan, masa nggak ada apa-apa seketika cekikikan sendiri hiyy... apa mungkin inget selamem sama non Salwa dikasur ya? Hehehe..
"Kenapa Mamang lihatin saya? Mamang pikir saya nggak tau kalau dari tadi mang Dirman ngintipin saya lewat spion?"
"Eh enggak kok bos, saya mah cuma nggak sengaja aja lihat si bos atulah." Mang Dirman pun kikuk dibuatnya, alhasil mang Dirman pun langsung kembali fokus menyetir.
~~
Para pelayanpun tampak menyambut salam kedatangan Salwa dengan antusias. "Selamat bergabung di kafe Lorena Bu Salwa," ucap para pegawai. Salwa sendiri, melihat diriya disambut baik oleh para karyawan lain langsung tampak bahagia dan hampir lupa dengan kemarahan dirinya terhadap Arga soal tadi.
Di ruangannya Salwa benar-benar mengawasi dan mempelajari restoran tersebut, ia pun menyempatkan diri untuk membaca seluruh profil para pekerja lain agar dirinya bisa lebih akrab dan tahu tentang latar belakang mereka. Akan tetapi, saat Salwa tengah sibuk membaca profil para pegawai dan pelayan kafe, seketika perut Salwa berbunyi, ia pun memegangi perutnya. Salwa lalu mengecek jam dilayar ponselnya. "Wah ternyata udah jam sebelas aja, gue laper banget nih. Mana tadi cuma minum jus doang tanpa sarapan lagi! Huh! Ini semua gara-gara Arga ngambil roti sarapan gue, jadi nggak sarapan deh gue!" Salwa kembali melihat jam, "Tapi ini baru jam sebelas kalau makan siang ya kepagian, tapi masalahanya gue beneran laper banget..." Salwa pun memutuskan menutup laptop dan berdiri dari singgasana duduknya. "Dah lah biarin aja kepagian makan siang, daripada gue malah kena maag."
~~
__ADS_1
Setelah Salwa bilang pada karyawan lain kalau dirinya ingin mencari makan diluar karena sejak pagi belum sarapan, Salwa yang seorang pecinta soto akhirnya memutuskan untuk membeli soto mie di sebuah warung makan yang letaknya tidak jauh dari kafe tempat Salwa bekerja. Ia masuk ke warung tersebut dan langsung memesan *take away* seporsi soto mie yang menjadi salah satu makanan favoritnya itu. Sambil menunggu soto pesanannya jadi, Salwa pun menyibukkan diri dengan mengecek ponselnya. Hingga tak terasa pelayan sudah memanggilnya karena pesanan Salwa sudah jadi. Setelah menerima pasanannya Salwa pun langsung berjalan menuju kasir untuk membayar sotonya.
~~
Salwa yang sudah mengantri pun membayar sotonya. Setelah meninggalkan kasir ternyata ada laki-laki yang mengantri dibelakang Salwa tadi sepertinya tengah bingung, karena lupa membawa uang maupun alat pembayar lain untuk membayar. Alhasil Salwa yang belum pergi dan melihatnya pun berinisiatif untuk membantu lelaki yang kebingungan tersebut dengan meminjamkannya uangnya.
"Nih mas pake uang saya aja," ucap Salwa kepada lelaki itu.
"Huh? Serius nih mbak?" ujar lelaki yang berpakaian cukup formal itu.
"Iya serius pakai aja, soalnya saya dengar tadi mas katanya lupa bawa dompet, sebagai sesama manusia kan harus saling bantu, makanya mas bisa pakai uang ini buat bayar." Salwa menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.
Lelaki yang tubuhnya lebih tinggi dari Salwa itupun akhirnya menerima bantuan dari Salwa dan langsung membayar makanannya. Sayangnya... saat lelaki itu bermaksud berterima kasih kepada Salwa, diri Salwa malah sudah pergi duluan. "Wah tuh cewek udah ilang aja, padahal baru mau bilang terima kasih."
🌹🌹🌹
Hai jangan lupa LIKE, COMMENT, VOTE YA...
__ADS_1
Love -C